
Flashback
Sejenak Ayah Bisma terdiam sambil menatap sekitaran rumah Bisma dengan raut wajah yang sulit di artikan sambil menyentuh sebagian buku-buku Bisma yang masih tersusun rapih di rak buku tak jauh dari hadapannya "Buatkan iklan kalau rumah ini akan di jual!!!".
" Rumah ini tidak akan pernah di jual!!" Teriak Bisma sembari menghampiri Ayah dan Asistennya.
"Ayah ingin kau kembali tinggal di rumah bersama Ayah mulai hari ini juga" Tegas Ayah Bisma.
Bisma menghela nafas "Aku bukan lagi anak kecil yang selalu harus terus dalam pengawasan mu, aku bisa hidup sendiri".
" Bisma kau itu anak laki-laki Ayah satu-satu nya, wajar kalau Ayah bersikap seperti padamu!" Balas Ayah Bisma.
"Kenapa kau baru menyadari itu sekarang Ayah? Dari dulu Ayah kemana saja?!" Sambung Bisma dengan ketus.
Sejenak Ayah Bisma terdiam kemudian perlahan mendekat ke arah Bisma dan memegang pundak Bisma secara perlahan "Ayah minta maaf Bisma karena dulu Ayah sempat menelantarkan mu, Ayah seperti itu karena semata Ayah stres di tinggalkan oleh Ibu mu".
" Apa maksud dari omongan Ayah ini? Ibu meninggalkan mu?" Bisma tampak terkejut.
"Iya Ibu meninggalkan kita Bisma, dia meninggalkan kita demi laki-laki lain karena dulu Ayah tidak semapan seperti sekarang" Jelas Ayah Bisma.
Apa? Benarkah Ibu seperti itu?!
Jadi selama ini aku sudah salah sangka pada Ayahku sendiri?! Batin Bisma menjerit kesakitan.
"Dulu Ayah tak bermaksud untuk meninggalkan mu dan Kakak mu Bisma. Ayah pergi karena Ayah ingin tahu laki-laki macam apa yang bisa membuat Ibu mu tega meninggalkan kita, kita yang amat begitu mencintainya!" Lanjut nya.
Mendengar cerita Ayah nya yang begitu di luar pemikiran Bisma selama ini, sontak saja membuat Bisma syok karena merasa di bohongi oleh sang Ibu yang selama ini di bela habis-habisan olehnya sampai dia berani pergi dari rumah meninggalkan Ayahnya tanpa berfikir panjang dan mendengarkan alasannya terlebih dahulu.
"Benarkah yang Ayah bicarakan ini? Apakah Ibu benar-benar orang seperti yang Ayah ceritakan?!" Tanya Bisma sedih.
Ayah Bisma mengangguk-anggukkan kepalnya "Maafkan Ayah karena harus menceritakan semua ini padamu, sejujurnya Ayah tak ingin kau tahu masalah yang terjadi antara aku dan Ibu mu. Makanya selama ini Ayah lebih memilih untuk diam saja karena Ayah tak ingin melihatmu sedih seperti ini Bisma".
" Apakah Kak Helen tahu soal ini?" Bisma menoleh melihat sang Ayah.
Terdengar suara langkah kaki dari balik pintu "Iya...Aku tahu semua itu Bisma"
"Kau??" Bisma menoleh ke arah Helena.
"Maaf kalau selama ini aku tak pernah membicarakan ini padamu Bisma, apapun alasan yang aku dan Ayah lakukan itu semata untuk kebaikan mu" Jelas Helena.
__ADS_1
Bisma tak mampu berkata apapun lagi dan hanya memilih untuk terduduk diam sambil sesekali memegangi kepalanya yang amat terasa berat karena tak menyangka dengan apa yang telah Ibu nya lakukan pada Ayah, Kakaknya, dan juga dirinya.
Ayah Bisma mencoba duduk di sebelah Bisma dan kembali berkata "Itulah sebabnya Ayah sangat protektif sekali dengan pasangan mu, Ayah tidak mau kau memiliki nasib yang sama seperti Ayah di tinggalkan oleh perempuan yang kita cintai hanya demi laki-laki lain".
" Apa Ayah berfikir Yuri adalah perempuan seperti itu?" Tanya Bisma.
"Sejujurnya iya, awalnya Ayah sempat berfikir dia adalah perempuan yang sama seperti Ibu mu" Sambungnya.
"Ayah...Yuri adalah perempuan baik dan besar dari keluarga yang baik-baik juga".
" Apa kau juga bisa jamin dia adalah yang terbaik untukmu?!" Ayah Bisma balik bertanya.
Bisma menatap Ayahnya dalam-dalam "Iya aku bisa jamin itu".
" Hah...Baiklah kalau menurutmu dia adalah yang terbaik untukmu, bawa dia besok kesini" Lanjut sang Ayah.
Bisma berdiri dari duduknya "Ayah serius?".
" Tentu saja kenapa tidak?" Ujar Ayah Bisma sambil berjalan ke arah luar di ikuti oleh sang Asisten pribadinya.
Helena mendekat ke arah Bisma sambil tersenyum lepas "Ikuti saja apa mau Ayah, aku punya firasat baik tentang ini".
Setelah pertemuan yang terjadi hari ini antara Yuri dan juga keluarga Bisma, dapat di simpulkan bahwa kali ini Ayah Bisma akhirnya sudah merestui hubungan yang terjalin antara dirinya dan Bisma. Tak di pungkiri Yuri merasa sangat lega mendengarnya apalagi dengan niat baik Bisma yang ingin secepatnya menikahi dirinya dalam waktu dekat ini sebelum Ayah Bisma pergi ke luar negeri dalam waktu yang cukup lama untuk urusan Bisnis nya yang sempat tertunda beberapa waktu lalu.
" Kenapa kali ini kau banyak sekali diam?" Tanya Bisma merasa aneh melihat gelagat Yuri yang tidak seperti biasanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya terharu mendengar cerita yang terjadi pada keluargamu Pak. Aku hanya berfikir betapa besarnya rasa sayang Ayahmu sampai-sampai dia begitu selektif memilihkan pasangan hidup untukmu Pak" Ungkap Yuri sambil berjalan bergandengan tangan dengan Bisma ke arah Halaman belakang rumah milik Ayahnya.
Bisma tersenyum kecil melihat Yuri "Sekarang apa kau sudah lega karena Ayah sudah merestui kita?!".
" Heem...Aku lega sekali Pak, tak ku sangka ternyata di balik wajah bengis Ayahmu, dia bisa juga melakukan tindakan manis untuk anaknya"
"Ayah bengis katamu?" Bisma mengerutkan kedua alisnya.
Yuri melihat ke arah Bisma sambil senyum cengengesan "Iya bengis sama kaya kamu Pak hehe".
" Dih sekarang udah bisa bicara lancang juga ya?!" Gelitik Bisma pada Yuri.
"Aduh duh geli Pak" Ucap Yuri sambil sedikit mendorong Bisma.
__ADS_1
Bisma dan Yuri saling mengumbar senyum dan sesekali bercanda sambil saling menggelitik hingga tanpa sengaja Yuri jatuh ke dalam pangkuan Bisma hingga jarak wajah mereka sangat berdekatan.
Bruk
"Aduh maaf Pak aku gak sengaja" Yuri terkejut dan berusaha untuk segera bangkit dari pelukan Bisma.
Belum sempat Yuri terbangun, Bisma langsung menarik tangan Yuri hingga tatapan mereka kembali mendekat "Tunggu dulu kau mau kemana?".
" Pak lepaskan malu nanti kalau di lihat orang" Wajah Yuri mulai memerah dengan jantung yang mulai berdegup kencang.
Bisma tersenyum sinis "Biarin...Kau kan calon istriku jadi aku bebas dong melakukan apa saja padamu".
" Eh enak saja, aku baru calon yah belum sah jadi istri mu tau" Sela Yuri sambil menggeliat mencoba untuk melepaskan diri dari pangkuan Bisma.
"Tapi sebentar lagi kau akan jadi istriku Yuri" Bisik Bisma di telinga Yuri.
Yuri menggelengkan kepalanya "Ih kau ini apa-apaan sih? Lepasin gak?".
" Ck ck....Galak amat sih istriku ini" Bisma terus menggoda Yuri.
Yuri terus berontak mencoba melepaskan diri dari pelukan Bisma "Ih Pak lepasin ah, aku gak nyaman kalau kaya gini".
Cup
" Kalau kaya gini nyaman gak?" Tiba-tiba Bisma menci*m bi**r Yuri dengan lembut.
Yuri langsung terdiam dan menghentikan semua gerakan kasarnya pada Bisma.
"Kenapa diam? Enak yah?" Bisma terus menggoda Yuri.
"Kau selalu saja mencuri kesempatan dalam kesempitan Pak!" Perasaan Yuri semakin tak karuan dan tanpa sengaja mendorong tubuh Bisma dengan lumayan keras.
Bisma sedikit berteriak kesakitan "Aduh....Kenapa kau mendorongku sih?!".
" Itulah akibatnya kalau berani macam-macam padaku, udah ah aku mau pulang saja" Gerutu Yuri sembari berjalan meninggalkan Bisma yang masih terduduk di atas rumput.
Melihat Yuri perlahan menjauh meninggalkan dirinya, Bisma hanya tersenyum masam dan menggelengkan kepalanya karena merasa gemas melihat tingkah Yuri yang malu-malu padanya "Hey tunggu kau mau meninggalkan aku begitu saja?".
Yuri menoleh ke arah belakang " Berdiri aja sendiri sanah, kau kan sudah besar wee".
__ADS_1
"Ih dasar anak satu ini selalu saja membuatku semakin gila" Gumam Bisma sambil beranjak berdiri kemudian setengah berlari mengikuti Yuri dari belakang.