
Yuri langsung terperanjat kemudian berbalik membelakangi Bisma sembari menutup mata dengan kedua tangannya.
"Ah Ma...Maafkan aku Pak, aku sungguh tidak sengaja melihatnya" Ucap Yuri kaget.
Bisma berjalan perlahan mendekati Yuri "Memang apa yang kau lihat?".
"Itu...Aku...Aku permisi keluar dulu Pak, jangan lupa di makan sarapannya" Ujar Yuri sembari setengah berlari meninggalkan Bisma dengan tergesa-gesa.
Namun bukan Yuri namanya kalau tidak ceroboh, ketika Yuri setengah berlari dan hendak membuka pintu kamar dengan heboh saking gugupnya, tiba-tiba Yuri ambruk terjatuh karena tersandung oleh kakinya sendiri dengan hidung yang duluan menyentuh lantai.
Sontak Bisma kaget melihat Yuri yang langsung ambruk di hadapannya, kemudian dengan cepat Bisma langsung menghampiri Yuri untuk menolongnya.
Tetapi saat Bisma hendak ingin membantu membangunkan Yuri yang masih dengan posisi tengkurap, mendadak tangan Yuri terangkat lalu tak lama dia bangkit dengan posisi masih membelakangi Bisma.
"Ja...Jangan mendekat, sa saya bisa bangun sendiri!" Tegas Yuri sambil sedikit memegang bagian hidungnya karena merasa sangat sakit.
"Ka...Kamu tidak apa-apa?!" Tanya Bisma yang khawatir sekaligus aneh melihat tingkah Yuri pagi ini.
Yuri menganggukkan kepalanya perlahan "I...Iya aku baik-baik saja kok, kalau begitu aku pergi dulu Pak".
Saat Yuri hendak melangkahkan kakinya, Tiba-tiba tangan Bisma langsung meraih tangan Yuri " Tunggu...Kau baik-baik saja?".
"I... Iya Pak aku baik-baik saja kok" Ujar Yuri singkat.
"Kalau kau baik-baik saja, lantas darah apa yang ada di tanganmu ini?" Sahut Bisma
Yuri melihat sedikit ke arah tangannya dan langsung melotot tak kala mendapati darah yang sudah menempel di tangannya.
"Astaga darah apa ini?" Ucap Yuri sedikit berteriak dengan badan yang mendadak berbalik ke arah Bisma.
Melihat Yuri yang langsung berbalik ke arahnya dengan keadaan wajah yang sudah sedikit tak karuan, Bisma langsung mengerutkan kedua alisnya sambil menunjuk ke arah hidung Yuri "Itu...Hi...Hidungmu...".
"Kenapa? Ada apa dengan hidungku?" Sahut Yuri terperanjat sambil menyentuh hidungnya yang sudah mengeluarkan darah.
Ah benar-benar memalukan sekali, kenapa juga aku harus terjatuh di hadapan Pak Bisma sih? Gumam Yuri yang langsung berlari ke arah kamarnya.
Melihat darah yang cukup banyak keluar dari hidungnya, tanpa pikir panjang lagi Yuri kemudian berlari begitu saja meninggalkan Bisma yang masih terpaku melihat wajah abstrak Yuri dengan hidung yang masih mengucurkan darah segar.
__ADS_1
Apa itu barusan? dia mimisan?! Gumam Bisma sembari menggelengkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian ketika Bisma hendak keluar kamar sembari membawakan piring yang sudah kosong, mata Bisma langsung terkunci tak kala melihat Yuri yang sedang duduk di ruang keluarga sembari memasukan sobekan tisu ke lubang hidungnya yang masih mengeluarkan darah.
Setelah piring kosong yang dia bawa langsung di ambil oleh Bi Asih, Bisma kemudian berjalan ke arah Yuri lalu duduk di sampingnya dengan mata yang masih melihat ke arah Yuri.
"Hidungmu masih mengeluarkan darah?" Tanya Bisma.
Yuri sedikit terperanjat dan langsung memalingkan wajahnya ke arah TV yang sedang menyala "I...Iya tapi sudah tidak sebanyak tadi kok".
"Perlukah aku panggilkan dokter ke sini?" Sambung Bisma yang masih memperhatikan Yuri.
"Ti...Tidak usah Pak, aku sudah tidak apa-apa kok" Balas Yuri yang langsung membalikan wajahnya ke arah Bisma.
Saat Yuri membalikan badannya ke arah Bisma, tatapan mereka saling beradu dengan jarak yang cukup dekat sehingga membuat debaran di jantung Yuri terasa lebih kencang dari biasanya.
Mata Bisma memandang wajah Yuri dengan lekat dan sangat mendalam seperti tidak ingin memalingkan tatapannya ke arah lain, berbeda dengan Yuri, wajahnya perlahan memerah dan seakan sangat susah ketika pandangannya ingin di alihkan ke arah lain.
"Yuri?" Suara Bisma mulai terdengar di telinga Yuri.
Yuri menatap lekat ke arah Bisma dengan wajah yang sudah memerah "I...Iya Pak?".
"Apa Pak?" Ujar Yuri sembari menelan saliva nya.
Perlahan Bisma mendekatkan wajahnya ke arah Yuri "Kau..".
Melihat wajah Bisma yang mulai mendekat ke arahnya, jantung Yuri berdebar semakin kencang seperti susah untuk di kontrol oleh dirinya sendiri "Kau apa?".
Bisma semakin mendekat dan terus mendekat hingga akhirnya jarak di antara wajah mereka hanya tersisa beberapa senti saja, tiba-tiba dengan refleknya Yuri langsung menutup matanya seakan pasrah ketika wajah Bisma hendak mendekat ke arahnya tanpa ada penolakan yang seperti biasanya dia lakukan.
Saat Yuri menutup matanya tangan Bisma perlahan terangkat dan hendak menyentuh bagian wajah Yuri, lalu beberapa saat setelahnya tangannya semakin terangkat lalu berhenti saat tangannya menyentuh bagian kening Yuri kemudian tak butuh waktu lama, Bisma mendorong kening Yuri ke belakang hingga Yuri terkulai lemas bersandar di kursi.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau menutup mata?" Ucap Bisma yang tak kuat menahan tawanya.
Yuri membuka matanya dan langsung terbangun memposisikan duduknya seperti semula sambil menutup wajahnya rapat-rapat "A..Aku tidak apa-apa".
"Kalau tidak apa-apa kenapa kau menutup wajahmu?" Ujar Bisma sambil menggoda Yuri.
__ADS_1
"Memang harus ada alasan ya kalau menutup wajahku?" Teriak Yuri sambil melihat ke arah Bisma dengan perasaan malu yang luar biasa.
Hah lagian kenapa juga aku pake acara tutup mata segala?
Memangnya aku berharap Pak Bisma akan melakukan apa padaku? Ah bikin malu saja!! Gumam Yuri kesal.
"Tentu saja, setiap orang ketika sedang melakukan suatu tindakan pastilah ada alasannya" Tegas Bisma yang masih saja tertawa kecil.
"Aku tau...Tapi untuk yang barusan aku tak perlu alasan apapun untuk memberi tahukannya padamu" Yuri mulai terlihat kesal.
"Tak perlu alasan katamu? Berarti maksudmu kau melakukan hal tadi karena reflek ?" Bisma sedikit memicingkan matanya.
"Kalau iya memang kenapa?" Sahut Yuri.
"Kalau begitu...Kau memang sedang menungguku untuk bisa..." Bisma kembali menatap Yuri.
Yuri membelalakkan matanya "Bisa apa maksudmu?".
"Bisa melakukan apapun yang ada di pikiranmu" Ujar Bisma masih menggoda Yuri.
Yuri merasa sudah tersudutkan oleh ucapannya sendiri sehingga pada akhirnya Yuri tak Bisa membalas perkataan Bisma dan lebih memilih untuk pergi meninggalkan Bisma.
Saat melihat Yuri meninggalkan dirinya sendirian di ruang keluarga, Bisma langsung menyandarkan badannya pada kursi sembari memijat kecil kepalanya dan sesekali terlihat senyuman kecil di sudut bibirnya.
"Anak itu selalu saja membuatku gila!!" Bisik Bisma.
.
.
.
\=\=\=> Hai teman teman... Jangan lupa untuk klik favorit , like , vote, dan komen di karya aku ya , biar karya ku bisa menjadi no 1 hehe🥰👋.
Mohon maaf untuk semua teman-teman pembaca setia saat ini aku belum bisa update banyak di karenakan kondisi badan yang masih belum fit🥺🙏, minta doanya ya buat teman-teman pembaca semua agar aku selalu di berikan kesehatan sehingga bisa terus melanjutkan novelku ini dengan lebih baik☺.
Aku juga berdoa untuk kalian semua khususnya buat teman-teman pembaca setia "Pak Dosen I love You" agar terus di berikan kesehatan dan juga di berikan kemudahan dalam menggapai semua yang kalian inginkan aamiin🤲
__ADS_1
Terimakasih juga untuk semua teman teman pembaca yang sudah setia membaca karya ku sampai detik ini dan memberikan supportnya🙏🙏 , dukungan kalian akan sangat berarti untuk perkembangan karya ku, jangan bosan untuk menunggu kelanjutan kisah Yuri ya☺☺see you🤗.