
Perbincangan terus terjadi sampai akhirnya Bisma dan juga Shiren berhenti di depan para tamu undangan sampai acara penyambutan selesai dan tiba saatnya dimana acara penyematan cincin di jari manis mereka masing-masing.
Akan tetapi pada saat cincin sudah berada di hadapan Shiren, mendadak Shiren terdiam dan termenung mengingat apa yang Bisma katakan padanya tadi pagi. Batinnya tiba-tiba bergejolak untuk memilah dan memilih apa yang akan di lakukan nya saat ini.
Tatapannya kembali tertuju pada Bisma yang terlihat amat sedih karena Shiren tahu kalau dia tak ingin pertunangan ini terjadi, sekilas dia juga melihat ke arah wajah kedua Orangtuanya karena kalau sampai dia salah dalam memilih tindakan sedikit saja bisa membuat mereka malu.
Setelah terdiam sejenak akhirnya Shiren kembali menyimpan cincin pertunangannya di dalam kotak lalu mundur beberapa langkah sambil memejamkan matanya hingga membuat para tamu kaget dan juga penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Sayang...Ada apa denganmu? Kenapa kau menyimpan kembali cincinnya?" Kedua Orangtua Shiren datang untuk menghampirinya.
Shiren tertunduk lemas lalu menarik nafas dalam-dalam "Mah, Pah Shiren tidak mencintai Bisma, bisakah pertunangan ini di batalkan saja?".
"Kamu ini ngomong apa sih? Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya pada kami?!" Ucap Papah Shiren dengan wajah yang mulai terlihat geram.
"Maaf Pah, hanya aku baru mengatakannya sekarang tapi aku sungguh-sungguh tidak mencintai Bisma" Lanjut Shiren.
Merasa ada yang tidak beres Ayah Bisma beserta Asisten nya datang menghampiri Shiren dan juga kedua Orangtuanya yang tengah terlihat berbincang dengan wajah mereka yang sudah tidak enak di lihat.
"Maaf sebelumnya...Ini ada apa ya? Kenapa kalian berkumpul disini?!" Ayah Bisma terlihat bingung dan juga penasaran.
Shiren menatap canggung ke arah Ayah Bisma lalu berjalan mendekat ke arahnya "Om maafkan aku sebelumnya, aku tahu Om sangat ingin menjadikanku sebagai menantu Om, tapi sejujurnya aku tidak mencintai Bisma Om".
"Apa maksud dari perkataan mu barusan?" Raut wajah Ayah Bisma berubah menjadi masam.
"Aku ingin acara pertunangan ini di batalkan saja Om!!" Tegas Shiren
"Apa?!!!".
"Sekali lagi maafkan aku Om, aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini" Lanjut Shiren.
Ayah Bisma berdecak kesal "Apa kau tahu dengan konsekuensi yang akan kau dapatkan dengan membatalkan pertunangan ini Shiren?".
"Aku tahu Om, dan aku akan menerima setiap konsekuensi yang telah aku buat" Shiren menganggukkan kepalanya.
"Termasuk mempermalukan keluargamu?" Ayah Bisma meyakinkan.
Shiren menatap sekilas pada kedua Orangtuanya yang terlihat murung dan juga kesal dengan keputusan nya "Iya aku bisa menerima semuanya Om".
"Kau tahu Shiren apa yang saya rasakan saat ini? Saya sangat kecewa dengan keputusanmu!!" Balas Ayah Bisma yang kemudian berlalu meninggalkan mereka semua dengan wajah geram hingga membuat para tamu bertanya-tanya karenanya, dan tak lama para petugas suruhan keluarga Shiren datang membubarkan para tamu.
__ADS_1
Melihat wajah kecewa yang terlihat dari Ayahnya dan juga Shiren, ada sedikit rasa tak enak yang Bisma rasakan. Namun tak dapat di pungkiri Bisma sangat bahagia dan juga menghargai apa yang telah Shiren putuskan demi membatalkan pertunangan ini agar dia bisa terus bersama dengan Yuri.
Helena pun tak luput dari perasaan lega karena melihat Bisma bisa terlepas dari pertunangan yang tidak di inginkan nya ini dan bisa kembali menjalin hubungan dengan Yuri tanpa ada gangguan apapun, lalu menghampiri Bisma dengan senyum sumringah untuk membawanya pergi dari acara ini.
"Bis...Ayo kita pulang!" Ajak Helena sambil tersenyum penuh arti menatap Shiren.
"Baik Ka...Tapi bisakah Kaka pergi duluan saja? Aku ingin bicara dengan Shiren berdua saja!" Sahut Bisma pada Helena.
Mengangguk karena mengerti, Helena pun akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Shiren...Terimakasih atas semua yang telah kau lakukan hari ini!" Bisma menatap Shiren sambil tersenyum.
"Aku yang harusnya berterimakasih padamu, karena kau telah membuatku sadar dengan apa yang telah aku lakukan" Balas Shiren.
"Maaf...Karena aku tidak bisa membalas perasaanmu" Bisma mengusap kepala Shiren dengan lembut.
Shiren terkejut dan terlihat mengepalkan tangannya dengan senyum satir "Tak apa Bisma, aku bisa mengerti".
Pada malam harinya setelah di rasa kondisinya membaik, Yuri di nyatakan bisa boleh pulang dengan catatan harus banyak istirahat terlebih dahulu di rumah. Setelah semua barang dan juga administrasi selesai di bereskan. Yuri dan juga Kedua Orangtuanya bersiap untuk meninggalkan rumah sakit. Namun belum juga Yuri keluar dari lobi rumah sakit terlihat dari kejauhan Bisma sudah berjalan ke arahnya kemudian menggenggam tangannya dengan erat.
"Hai...Apa kabar?" Sambut Bisma yang sontak membuat Yuri terharu di buatnya.
"Kau Sedang apa disini? Bukankah seharusnya kau..." Mendadak Yuri menghentikan ucapannya tak kala Bisma mencium kening Yuri.
Yuri terbelalak dan menatap Bisma dengan mata yang perlahan mulai berair "Baiklah, tapi tunggu Mamah dan Papaku dulu ya Pak, mereka lagi ke masjid dulu sebentar".
"Iya sayang...Ayo kita tunggu di mobil saja ya, agar kamu bisa sambil istirahat" Sahut Bisma.
"Iya" Jawab Yuri singkat.
Sesampainya di rumah Yuri, dengan sigap dan juga telaten Bisma membantu Yuri untuk berjalan ke dalam kamarnya lalu menemaninya sejenak.
"Kau tidak pulang?" Tanya Yuri pada Bisma.
"Aku masih ingin di sini" Bisma menyelimuti Yuri lalu duduk di sampingnya.
"Tapi nanti gimana kalau keluargamu mencari mu?!" Yuri terlihat mengerutkan kedua alisnya.
Bisma tersenyum sambil mengelus kepala Yuri dengan lembut
__ADS_1
"Keluargaku ada disini sayang!".
"Di sini?" Yuri terlihat keheranan.
"Sudah jangan di pikirkan lagi, lebih baik sekarang kau istirahat saja aku akan menemanimu di sini sampai kau tertidur" Terang Bisma dengan hangatnya.
Perlahan Yuri tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
***
Keesokan paginya Yuri terbangun terlebih dahulu dengan posisi Bisma yang tertidur pulas duduk di sampingnya sambil masih memegang tangannya dengan erat. Wajah Bisma sangat terlihat tampan walaupun dengan posisi terlelap tidur hingga Yuri yang sedari tadi memperhatikan merasa tidak bosan saat melihatnya.
"Belum puas kau melihat wajah tampan ku?" Tiba-tiba Bisma mengeluarkan suaranya dengan mata masih tertutup rapat.
"Eh ka..Kau sudah bangun?" Yuri terperanjat dan langsung memalingkan wajahnya ke sembarang tempat.
Bisma membuka satu matanya lalu menarik Yuri dan langsung memeluknya dengan erat "Kenapa kau terlihat kaget begitu?".
"Ih..Lepas kau ini apa-apaan sih?!" Yuri terbelalak kaget dengan apa yang sekarang Bisma lakukan padanya.
"Kau tahu kan kalau aku sedang memelukmu? Apa kau tidak suka aku peluk?" Bisma mencoba menggoda Yuri.
"Ini bukan masalah tidak suka atau suka Pak, nanti kalau ada yang masuk gimana?" Yuri mulai gugup.
"Ya bagus dong, kalau ketahuan siapa tahu aja kita besok nikah" Seru Bisma sambil tersenyum.
"Eh Bapak ini ngomong apa sih? Cepat lepaskan aku!!" Yuri mulai sedikit berontak.
Melihat Yuri yang semakin lama semakin berontak sambil sesekali bergumam kesal, Bisma akhirnya menangkap dua tangan Yuri hingga dia tidak bisa lagi bergerak dan memaksa Yuri untuk menatap ke arahnya.
"Pak...Kamu jangan macam-macam loh di sini masih ada Papah sama Mamah" Tegas Yuri.
Bisma tersenyum ketika mendengar ucapan Yuri barusan "Oh jadi kalau tidak ada mereka, aku boleh melakukan hal yang macam-macam padamu ya?!".
" Ti...Tidak bukan itu maksudku Pak!" Wajah Yuri mulai memerah.
"Terus apa maksudmu? Coba jelaskan padaku?" Ucap Bisma sambil terus menggoda Yuri.
"Itu...Maksudku..." Yuri mulai gelagapan.
__ADS_1
"Apa? Coba lanjutkan" Ucap Bisma dengan wajah penasarannya.
Belum sempat menjawab, tatapan mereka langsung beradu dengan pandangan Bisma yang begitu intens menatap Yuri bersamaan dengan jantung mereka yang berdegup semakin kencang. Wajah Yuri perlahan mulai memerah tak kala melihat wajah Bisma yang semakin lama namun pasti bergerak mendekat ke arah Yuri hingga jarak mereka tersisa beberapa senti saja, hingga tanpa di sadarinya b*bir mereka saling beradu satu sama lain tanpa adanya penolakan dari Yuri.