
Setelah drama tadi malam, hal yang paling ditakutkan oleh Nyonya Rima dan Saga tidaklah terjadi. Tuan Candra hanya diam dan akhirnya menerima kepitusan putranya, meskipun sebenarnya dia juga sangat kecewa. Tuan Candra mengasihani Anaya, dia merasa Saga sudah mempermainkan perasaan Anaya dan lebih memilih menikahi
asistennya.
Terlepas dari itu semua, Nyonya Rima berperan penting sebagai pengendali amarah dari semuanya, dan pernikahan akan segera dihelat beberapa jam lagi.
Nyonya Rima sibuk mondar mandir memastikan semua akan berjalan dengan baik, meskipun hanya ijab saja dan tidak ada pesta mewah setelahnya. Tapi dia tetap saja khawatir kalau-kalau acaranya akana berjalan dengan tidak baik, hal itu tentunya akan berpengaruh terhadap Kesehatan Tuan Candra.
“Semua akan baik-baik saja Pa” Nyonya Candra mengelus pundak suaminya dengan lembut, “Anak kita sudah besar, dan dia bisa menentukan pilihannya” Nyonya Rima menambahkan.
“Andai saja tidak hari ini pernikahannya, aku ingin sekali menampar putramu untuk pertama kalinya” ujar Tuan Candra tenang.
“Pa….” Nyonya Rima Kembali mengelus pundak suaminya, lalu mendorong kursi rodanya menuju ruang keluarga, mereka sudah siap dengan baju setelan pesta. Sanggul yang anggun telah tertata rapi di kepala Nyonya Rima, menambah keanggunan wanita tersebut.
***
Mawar putih menghiasi tempat perhelatan pernikahan, teka-teki itu terjawab sudah. Saat itu Anaya meminta semua yang mengurusi pernikahannya adalah Ganis, Ganis yang disuruh untuk memilih semua hal, mulai dari bunga, cincin pernikahan, hingga baju pernikahan. Apa yang dipilih Ganis selalu disetujui, bahkan Anaya merasa memiliki selera yang sama dengan Ganis. Tidak sedikitpun Ganis menaruh curiga.
MUA (Make Up Artist) sedang merias wajah Ganis, kebaya putih yang dia pilih tempo hari sudah menggantung di tempatnya dan siap dikenakan setelah usai dirias nanti. Cincin yang dia pilih juga telah siap. Beberapa kali Ganis menghela nafas panjang, membuang rasa gugupnya. Pernikahan yang penuh dengan sandiwara ini akan segera berlangsung beberapa jam lagi.
Sementara Saga berada di kamarnya masih duduk di tepi ranjangnya, kepalanya sedikit terasa berat. Semalaman dia tidak bisa sedikitpun memejamkan mata, dia masih berusaha menghubungi Anaya dan
meminta penjelasan, namun nihil. Nomernya tidak dapat dihubungi. Pagi ini dia berniat menyuruh asistennya untuk menemui Anaya di kantornya, semoga ada hasilnya. Tangannya meraih HP yang ada di atas nakas samping ranjangnya, dalam hati berharap ada kabar baik dari Farel, asistennya.
Terdengar suara pintu terbuka, perlahan Saga menoleh. Dilihatnya Nyonya Rima yang sudah tampil menawan mendekatinya.
__ADS_1
“Apakah kamu sudah sarapan? Mama ambilkan ya?” tawar Nyonya Rima sembari duduk di samping putranya.
“Enggak Ma, nanti saja? Bagaimana dengan Papa?” tanya Saga khawatir.
“Papa baik-baik saja, semua sudah terkendali, hanya saja dia kecewa dengan semua ini, tapi…semua baik-baik saja, Mama bersyukur Papa kamu tidak shock dan anfal, Mama tidak bisa membayangkan” ujar Nyonya Rima sambil mengelus dadanya.
“Maaf ya Ma” Saga menghela nafas panjang, dia merasa bersalah dan menyebabkan keruwetan yang harus ditangani oleh Nyonya Rima.
“Bukan salahmu, keadaan” Nyonya Rima berkata bijak, senyum manis tak lupa mengiringi. “Bagaimana dengan Anaya? Apakah bisa dihubungi? Setidaknya dia memberikan penjelasan”
Saga menggeleng pelan, nampaknya putranya sudah terlihat putus asa dengan Anaya saat ini, dalam hati wanita itu, sebenarnya dia merasa sangat dipermainkan oleh gadis cantik itu, hanya saja percuma jika dia harus marah, yang dia inginkan hanya satu, bertemu dengan gadis itu.
“Mama berharap, Ganis akan membantumu dan memulihkan Papamu” Nyonya Rima menambahkan, Saga menoleh Mamanya perlahan, disambut senyum Nyonya Rima.
“Apa kamu bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuamu? Semua adalah takdir, kamu tidak akan tahu apa yang akan terjadi ke depannya” Nyonya Rima berdiri menghadap putranya yang masih duduk di pinggir ranjang, mengusap rambut putranya dengan lembut.
Ganis menuruni anak tangga dengan pakaian pengantin lengkap beserta tudung di kepalanya. Nampak sangat cantik dan manglingi, beberapa kali Ganis menarik nafas panjang, degup jantungnya semakin
memburu, rasa gugupnya tidak dapat dia kendalikan dengan mudah. Satu per satu anak tangga terlewati, kini Ganis sudah sampai di tempat yang akan digunakanmsebagai tempat ijab qabul. Di sana sudah ada beberapa kerabat dekat dari keluarga Saga, Orang tua Saga, dan juga Saga.
Sejenak semua pandangan mata tertuju pada gadis itu, nampak terpesona dengan apa yang ada di depan mereka. Tak ketinggalan Saga, beberapa detik dia merasa ada aura yang aneh sehingga rasa benci itu mendadak lenyap, meskipun hanya beberapa detik saja. Saga yang selalu tampak keren, kini semakin terlihat auranya dengan setelan jas pengantin berwarna hitam. Beberapa detik kemudian dia tersadar dengan apa yang dia perbuat, Saga membuang pandangan ke arah lain. Sementara Ganis sudah duduk di kursi depan penghulu, Saga segera duduk di samping Ganis.
Semua terlihat tegang saat Saga mulai mengucapkan kalimat sacral yang menandakan dia sudah menjadi suami dari Ganis. Begitu para saksi mengucap kata “SAH” bersamaan itu pula gemuruh hati Ganis semakin tidak karuan.
“Apakah aku sedang bermimpi buruk? Jika aku bangun nanti, aku ingin berlari sekencang-kencangnya dan berkata pada semua orang bahwa yang aku alami adalah mimpi yang sangat buruk” batin Ganis. Tangannya menengadah memanjatkan doa yang dipimpin oleh pak kyai yang telah ditunjuk oleh keluarga Saga, memberikan doa tulus agar mempelai selalu Bahagia dan memiliki keturunan yang baik.
__ADS_1
“Aku sudah menjadi istri orang” batinnya lagi.
Saga mengusapkan dua telapak tangan ke wajahnya, mengamini setiap doa yang dipanjatkan oleh pak Kyai, begitu juga dengan para tamu undangan yang hadir, semua memberikan doa restu.
Para tamu undangan sibuk untuk berfoto dengan pengantin baru, mereka cenderung berbaur dan merasakan kebahagiaan tanpa peduli dengan mempelai wanita yang ternyata berbeda dari apa yang mereka ketahui sebelumnya.
Selepas berfoto, mereka mulai menikmati hidangan yang telah dipersiapkan. Mereka nampak menikmati, Saga berkumpul bersama beberapa sahabat lelakinya dan mereka nampak sangat akrab berada di dalam satu meja. Nyonya Rima dan Tuan Candra berada di meja yang berbeda bersama kerabat dekatnya.
Ganis duduk sendirian di meja yang kosong dan tidak ditempati oleh orang lain, ada rasa tidak percaya diri yang dia rasakan, selain badannya juga merasa tidak sehat karena kehujanan semalam. Nyonya Rima menghampiri Ganis dan mengajaknya bergabung dengan mejanya. Di sana ada beberapa orang yang mungkin saja adalah kerabat dekat Saga. Ganis mencoba memberikan senyum terbaiknya. Ada dari mereka yang bersikap seolah tidak peduli padanya.
“Kok bisa ya tante Saga menikah dengan asisten pacarnya?” celetuk perempuan muda yang duduk di seberang meja dengan entengnya. Ganis refleks menatap perempuan itu tanpa bisa menimpali. Nyonya Rima mencoba tersenyum manis tanpa memberikan tanggapan, sedangkan Tuan Candra seolah tidak peduli, dia sedang sibuk dengan pikirannya.
“Kamu bicara apa sih? Stttt diam” ujar seseorang yang ada di sampingnya.
“Apa sih Ma?” protes perempuan mud aitu. Nampaknya yang duduk di sebelah adalah Mama dari perempuan itu.
“Itu Budhe Sarah dan itu putrinya, Caroline” Nyonya Rima memperkenalkan. Ganis mengangguk sopan, Budhe Sarah membalas anggukan Ganis dengan ramah, tapi tidak dengan perempuan yang bernama Caroline, dia nampak sinis menatap Ganis.
Keadaan canggung ini masih saja berlangsung hingga tamu satu per satu meninggalkan rumah Saga setelah pesta usai. Dan kecanggungan selanjutnya tentu masih baru akan dirasakan oleh Ganis.
*Huft...huft...dapat satu like\, satu favorit dari kalian para readers itu sudah luar biasa senengnya. Apalagi kalau dapat vote. Please....bantu author untuk semangat menulis yak...apalagi jika kalian mau komen. love kalian semua.... :*
Happy Reading ^^
__ADS_1