Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 43 : Perang Dimulai


__ADS_3

Tekadnya sudah bulat, bahwa dia harus merebut kembali apa yang sebenarnya menjadi haknya, sejak dia tahu fakta yang sebenarnya, bahwa dialah yang seharusnya menjadi istri Saga. Dia merutuki dirinya sendiri, andai saja dari awal dia sudah tahu maka kesalahan besar ini tidak akan terjadi. Sehingga dia tidak harus melibatkan Ganis dalam masalah ini, yang membuatnya menyesal adalah kini Ganis seolah merebut apa yang menjadi milikinya.


“Selamat siang sayang” Anaya membuka pintu ruangan Saga, Saga mendongak ke arah sumber suara. Suara ketokan hak sepatu Anaya semakin mendekat, gadis itu datang dengan segala pesonanya. Tanpa disuruh, dia duduk di meja dekat dengan posisi Saga duduk di kursinya, persis dengan apa yang dia lakukan saat masih menjadi kekasihnya dulu.


“Ann” Saga menyapa datar.


“Aku benci kamu mengabaikan semua panggilan dan pesan dariku” Anaya mencoba memegang pipi Saga dengan tangan kanannya, tapi ditepis oleh Saga dengan perlahan. Saat dia berada di kampung Ganis, berkali-kali Anaya menelpon dan mengirimkan pesannya, namun dia tidak mempedulikannya. Baginya, tidak ada yang perlu dia bicarakan lagi terkait hubungannya dengan Anaya.


“Ada apa?” tanya Saga, dia meletakkan map di mejanya.


“Aku kangen kamu”


Saga tersenyum tipis, menatap mata gadis itu, mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya. Seharusnya kalimat itu menjadikannya bahagia jika terucap pada beberapa bulan yang lalu saat Saga masih mencari-cari gadis itu, tapi kini berbeda. Kata kangen itu mendadak tidak membuat hatinya bergetar.


“Aku sedang sibuk Ann, ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?”


“Ini kan jam makan siang, bagaimana jika kita keluar makan siang, sudah lama kita tidak makan siang bersama”


Saga terdiam, pagi tadi dia bilang ke Ganis jika dia ingin makan siang dengan menu nasi liwet, seperti yang pernah dibuat Bik Janah tempo hari. Dia meminta Ganis atau asisten rumah tangga yang membuatnya, dan dikirim ke kantornya.


“Tidak Ann, aku ada banyak pekerjaan” Saga menolak tanpa menyebutkan alasan sebenarnya.


"Atau nanti malam kita keluar?" Anaya masih berusaha.


"Sorry Ann, ada yang harus selesaikan dengan pekerjaan yang menumpuk ini" Saga menunjuk tumpukan berkas yang menggunung di mejanya.


“Kenapa kamu berubah? Aku tahu aku salah, aku sudah minta maaf kan?” Anaya menghembuskan nafas sebal, jika dulu semua waktu yang dimiliki Saga bebas untuknya, kini berubah, tidak ada celah untuknya walau sekedar berbicara santai berdua.


“Aku kan sudah memaafkan kamu Ann, lalu apalagi?”


“Aku ingin menjadi istrimu” ucap Anaya, benar-benar tanpa merasa bersalah. Saga menghela nafas panjang, entah apa yang diinginkan gadis yang ada di depannya sekarang. Dulu dia sangat berharap dan benar-benar sudah mempersiapkan semua pernikahan dengannya, tapi dia benar-benar menghilang tanpa kabar. Dan kini, dia datang dengan seenaknya ingin menjadi istrinya. Meskipun kini dia merasa belum benar-benar menikah, akan tetapi di atas kertas, dia sudah menjadi suami dari orang lain.


“Ann…”


“Tolong ceraikan Ganis” imbuhnya, hatinya sudah tidak bisa memendam keinginannya, dia tidak bisa lagi menunggu lebih lama lagi, bahkan 6 bulan sesuai perjanjiannya dengan Ganis. Hatinya sakit saat melihat Saga seolah selalu melindungi gadis itu, selalu dekat dengan gadis itu.


“Ann…kamu tahu kan orang tuaku, terlebih Papa, semua kulakukan demi Papa, dan kini Papa sudah merasa baik-baik saja dengan semua ini, jadi aku tidak mau melukai Papa untuk kedua kalinya”


“Kamu kan tinggal bilang sebenarnya kalian tidak saling mencintai dan…”


“Permainan apa lagi yang harus kumainkan? Aku sudah terlalu lelah dengan apa yang kamu inginkan, sejak awal aku sudah harus bersandiwara berselingkuh dengan Ganis dan menganggap dialah yang sebenarnya aku cintai, sehingga Papa akhirnya merestui. Kini, apa aku harus berulah lagi?” Saga menahan amarahnya.

__ADS_1


“Maafkan aku…” Anaya meneteskan air matanya, semua ini adalah salahnya.


“Ann…tolong, lepaskan aku, biarkan aku menjalani hidupku sesuai inginku” agak berat Saga mengatakannya.


“Aku mencintaimu” Anaya menatap Saga lekat, bulir air matanya kembali menetes.


“Lalu kenapa kamu melakukan semua ini?” tanya Saga, Anaya terdiam, mencari alasan yang bisa diterima oleh Saga.


“Itu…ehm…”


“Karena kamu tidak ingin menikah denganku, kamu lebih memilih karirmu” Saga menyahut sebelum Anaya menjawab. Anaya menggelengkan kepalanya.


“Kamu tidak tahu, bukan…bukan itu” Anaya memeluk Saga sambil berlinang air mata. “Maafkan aku” Anaya kembali terisak. Dia sendiri belum sanggup mengatakan jika ini adalah rencananya. Jika dia mengatakan alasan yang sebenarnya, maka semua rencana baru yang dia susun akan semakin runyam.


***


Sementara itu sejak pagi Ganis sibuk di dapur ditemani Marni, dia sendiri yang harus meracik resep untuk nasi liwet pesanan Saga, dan dia sendiri yang akan mengantarkannya ke kantor Saga. Semua sudah siap, Ganis menatanya ke dalam rantang kecil berwarna putih. Rantang itu telah siap di meja makan, dia kembali ke kamar untuk bersiap-siap, sedikit memoles wajahnya agar terlihat segar.


Ganis berangkat ke kantor Saga dengan sopir pribadi keluarga Saga, sehingga dia tidak perlu repot-repot memesan taksi online seperti biasanya, semenjak kejadian kecelakaan tempo hari, keluarga Saga menjadi seolah posesif dengan apa yang dilakukannya, tapi dia tidak keberatan.


HP Ganis berdering nyaring, dilihatnya sebuah nama tertera di layar HP.


“Hallo…Assalamualaikum Bik” sapa Ganis, rupanya Bik Janah yang menelponnya.


“Ya Bik, kenapa?” Ganis kembali mendekatkan HP di telinganya.


“Kamu kok nggak bilang kalau nak Saga, eh Tuan Saga itu bukan orang sembarangan?” Bik Janah berbicara dengan nada menggebu-gebu.


“Memangnya kenapa Bik?”


“Nah, ini TV baru juga dikirim ke rumah Bibik, maaf Bibik baru sempat mengabari, Bibik ucapkan terima kasih pada Tuan Saga, dan Bibik mohon maaf karena…ehm…kemarin tidak memberikan pelayanan yang baik saat kalian kesini” ucap Bik Janah mulai pelan, tidak menggebu-gebu seperti tadi. “Ya Allah..ternyata dia bukan orang sembarangan”


“Ah Bibik…iya nanti aku sampaikan pada Mas ya” Ganis tersenyum.


“Baik sekali suami kamu, baik-baik ya Nis, saling menjaga” Bik Janah berpesan, Ganis terdiam meresapi nasehat Bik Janah. Apakah dia dan Saga akan saling menjaga? Atau hanya akan benar-benar berakhir sebentar lagi.


“Uum…iya Bik, pasti, doanya ya Bik”


“Iya pasti, lagi apa kamu Nis? Bibik lagi bersantai sambil nonton TV” terdengar suara tertawa renyah Bik Janah.


“Oh ini Bik, perjalanan ke kantor mau mengantar makan siang untuk Mas Saga”

__ADS_1


“Ya sudah, dilanjutkan ya Nis, Bibik malah mengganggu ini”


“Tidak kok Bik, ini aku bawa menu nasi liwet dan ikan goreng seperti menu di rumah bibik tempo hari”


“Oh ya?” Bik Janah nampak senang.


“Iya, tapi mungkin tidak seenak buatan Bibik ini” Ganis merendah, meskipun dia terbiasa memasak menu ini saat di kampung dulu, tapi dia tidak terlalu percaya diri dengan rasanya.


“Kamu bisa saja, pasti enak lah, kamu kan juga pinter masak Nis. Ya sudah, dilanjut ah, Bibik tidak mau mengganggu, jangan lupa salam untuk suamimu ya”


“Iya Bik”


        Tibalah dia di sebuah gedung yang menjulang tinggi, dia membuka pintu mobil dan keluar


sambil menenteng rantang putih di tangan kanannya.


“Semoga Tuan Saga menyukainya” imbuhnya, lalu dia memasuki area kantor. Saat berada di depan meja resepsionis, satpam dan resepsionis menatap Ganis dengan tatapan heran, mungkin karena dia datang dengan membawa rantang. Ganis masih kebingungan, di mana ruangan Saga. Baru saja dia akan bertanya kepada


resepsionis, tiba-tiba sekertaris Li mendekatinya.


“Nona” sekertaris Li menganggukkan badannya.


“Pak Li” Ganis tersenyum senang melihat kedatangan Pak Li yang kebetulan sekali.


“Mari saya antar Nona ke ruangan Tuan muda”


“Terima kasih Pak Li”


Mereka masuk ke dalam lift dan menuju lantai di mana ruangan Saga berada di sana.


“Ini Nona” Pak Li menunjukkan sebuah pintu.


“Terima kasih Pak Li”


            Sekertaris Li kembali menuju lift dan meninggalkan Ganis di depan pintu ruangan Saga. Ganis mengetok pintu perlahan, namun tidak ada jawaban, menunggu beberapa saat dan mengetoknya, namun masih sama. Lalu dia membuka pintu perlahan. Darahnya berdesir dengan apa yang dia lihat, harusnya dia tidak merasa sakit hati, tapi entah mengapa, hatinya merasa terluka dengan apa yang dia lihat.


 


 


 

__ADS_1


Terima kasih para readers yang baik hati, sudah membaca, memberikan like, dan yang sudah memberikan vote rekomendasinya. Author sangat senang....


Ini saya up 2 episode, jangan lupa di like lho ya dua-duanya.... 


__ADS_2