
Saga berkali-kali mengurut keningnya, laporan dari anak cabang divisi transportasi yang dipimpin Alex mengalami masalah yang serius. Di mana banyak komplain yang sedang mereka hadapi, hal tersebut tentu berimbas dengan harga saham Arjuna Group.
“Bagaimana bisa terjadi?” Saga membanting laporan yang ada di atas meja kerjanya.
“Kurang tahu Tuan, menurut para pengamat dari divisi tersebut, banyak aplikasi yang error, selain itu ada juga kenaikan tarif juga. Sehingga para customer kabur, padahal awal-awal peluncuran baik sekali review dari customer.
“Aku ingin bertemu dengan Alex, segera” ujarnya memutar kursinya, membelakangi Farel.
“Maaf Tuan, Pak Alex sedang tidak ada di tempat, ada study banding ke luar negeri” ujar Farel.
“Baaahhh, di saat genting seperti ini” decak Saga kecewa.
Farel sangat memahami isi kepala Saga, dia tidak akan menyelesaikan masalah hanya dengan menelpon seseorang, dia harus bertemu langsung agar masalah lekas selesai.
“Sampai berapa lama?”
“Kabar dari sekertarisnya, sekitar 3 hari Tuan”
Saga berdiri dari kursinya, melepas kancing jasnya, Farel terdiam melihat Saga, dia memahami saat Bosnya sedang marah karena berkaitan dengan nasib salah satu anak cabang perusahaannya.
“Baik, 3 hari, kita langsung bertemu dengan Alex”
“Siap Tuan”
***
Laju mobil yang dikendarai Alex berhenti mendadak saat menabrak sesuatu, terdengar bunyi benda terjatuh. Jalanan sepi, hampir tidak ada lalu lalang orang yang sedang melintas. Melihat situasi aman, tanpa melihat apa yang terjadi, Alex melanjutkan perjalanannya. Sementara seseorang tergeletak di sana penuh dengan darah.
“Sial, bisa-bisanya dia menolakku mentah-mentah, bahkan di saat dia sudah berada di situasi menyebalkan ini pun” umpatnya. Ingatannya kembali pada kejadian tadi, di mana perasaan yang sudah dia pendam sejak sekolah pada Anaya menguap begitu saja. Dia memang seorang player, tapi entah mengapa jika berhadapan dengan Anaya, nyalinya keder. Hingga tadi malam dia mengumpulkan segenap keberanian untuk mengungkapkannya kembali, siap menerima berbagai kondisi yang sedang Anaya alami saat ini.
“Maaf Lex, kamu sudah aku anggap saudara, jika kamu merasa aku sudah membebanimu, maka pergilah, aku tidak butuh kamu jika kamu terus mengharapkan aku menjadi milikmu, pergilah” ujar Anaya enteng tanpa beban.
__ADS_1
Alex tahu jika keadaan Anaya belum sepenuhnya baik-baik saja karena patah hati dengan Saga, dan lagi keadaan Anaya yang sekarang harus berhadapan dengan masa hukumannya, dia berusaha masuk ingin menjadi seseorang yang berarti buat Anaya. Namun penolakan kali ini benar-benar membuatnya kacau.
Dia sengaja bilang sedang melakukan study banding ke luar negeri kepada sekertarisnya, dia ingin waktu menyendiri.
“Aku juga tidak mau mempunyai mertua seperti Papamu yang brengsek itu” umpat Anaya, Alex hanya terpaku mendengar semua itu. dendam yang dulu untuk keluarga Saga kini berbalik untuk Papanya, mungkin juga dirinya.
Alex mendesah kesal, seorang player yang bisa saja mendapatkan banyak wanita hanya hitungan detik, kini dibuat patah hati oleh seorang wanita. Alex tertawa kecut, menertawakan dirinya sendiri.
“Kamu tahu kan, di hatiku masih ada nama lain” ujarnya mantab, membuat Alex semakin ciut, kini laki-laki itu mengeraskan kepalan tangannya. Saga lagi yang harus dia hadapi.
“Aku juga tidak akan menyerah terhadapmu, Ann. Aku akan menunggumu” ujarnya sambil memukul kemudi.
***
Ganis menyunggingkan senyum terbaiknya menyambut kedatangan Saga, dia sengaja menunggu kedatangan Saga di ruang depan. Saat terdengar langkah laki yang dia yakini adalah Saga, dia berdiri dan mendekat ke pintu.
Benar saja, wajah lelah itu nampak di depan matanya. Saga berusaha tetap tersenyum, rasa lelah seharian dengan pekerjaan sedikit berkurang dengan seseorang yang menyambutnya.
Saga mendekat, Ganis menyambut tangan Saga dan menciumnya. Saga mendaratkan ciuman di kening Ganis.
“Kamu sudah makan?” tanya Saga, Ganis menggeleng. Dia sengaja menunggu Saga untuk makan malam bersama.
Saat menikmati makan malam, Saga tidak seceria biasanya. Ganis menyadari jika suaminya sedang banyak pikiran. Saga juga tidak banyak bicara padanya. Setelah makan, Ganis merapikan piring di dapur. Sementara Saga izin ke kamar terlebih dahulu untuk membersihkan diri.
Ganis menyusul ke kamar setelah selesai membersihkan piring kotor, meskipun banyak asisten, kebiasaan untuk mencuci piring yang dilakukan tidak pernah hilang. Selagi dia bisa, maka akan dilakukan olehnya.
Ganis merebahkan diri di atas ranjang, menunggu Saga selesai mandi. Tak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka, nampak wajah Saga jauh lebih segar daripada saat tiba di rumah tadi.
Ganis duduk bersila di atas ranjang, Saga membiarkan rambutnya tanpa disisir lalu ikut duduk di atas ranjang, menatap lekat Ganis lalu menyunggingkan senyum.
“Kamu tahu jika aku sedang lelah?” tanyanya dengan masih menyunggingkan senyum. Ganis mengangguk.
__ADS_1
“Karena kamu mudah ditebak urusan begini” Ganis tersenyum tipis.
“Yaaa…..urusan kerjaan”
“Aku tahu Mas, aku yang tidak tahu menahu tentang pekerjaan yang sedang Mas kerjakan hanya bisa mendoakan semoga bisa berjalan dengan baik dan lancar”
“Salah satu anak cabang mendapat banyak sorotan, dan ini mempengaruhi harga saham” Saga memegang pelipisnya.
“Transportasi kah mas?”
Saga melihat istrinya cepat dan menurunkan tangannya dari pelipisnya.
“Kok tahu?”
“Iya tadi lihat di televisi” Ganis menyadari pekerjaan Saga bukan pekerjaan yang mudah, seorang pemimpin muda yang membawahi berbagai bidang yang vital di negeri ini, di mana jika terjadi kesalahan-kesalahan kecilpun akan menjadi ramai beritanya dan berimbas sangat besar pada kredibilitas perusahaan.
“Bahkan aku tidak tahu jika sudah menyebar begitu cepatnya, padahal cabang itu belum lama berkembang baik, kini semua seolah runyam”
Ganis mengulurkan tangannya, mengelus dada Saga perlahan, “Sabar Mas”
“Aku tahu Mas adalah orang yang pintar, jadi semua akan teratasi dengan baik” imbuh Ganis.
Saga menyunggingkan senyumnya, Ganis menjadi penguatnya saat ini, menjadi teman saat dia butuh curhat. Jika dulu apa-apa dipendam sendiri, kini istrinya adalah tempat curhat yang menyenangkan.
Saga mendekatkan tubuhnya pada Ganis, meraih dagu Ganis dan mengecup kedua pipi Ganis sebelum beranjak tidur. Wanita itu teramat berarti baginya.
Tangan mereka saling mengenggam, dalam hati masing-masing, mereka ingin seperti ini selamanya hingga maut memisahkan. Rasa cinta yang tumbuh antara mereka sudah sangat kuat, hingga tidak bisa mereka utarakan dengan gamblang. Saga beruntung, takdir telah mempertemukannya dengan Ganis meskipun dengan cara yang sama sekali tidak indah. Begitu juga Ganis, dia merasa sangat bersyukur memiliki suami seperti Saga yang nyatanya jauh dari dugaan awal saat mereka bertemu. Saga terlalu baik baginya.
HP Ganis berdering beberapa kali saat dia masih berada di kamar mandi, Ganis sedikit berlari dari arah kamar mandi menuju meja di mana HPnya berada, sementara Saga masih tertidur lelap.
“Iya Halo” sapa Ganis akhirnya setelah menggeser tombol hijau.
__ADS_1
“Iya Mas? Hah? Benarkah?” iya aku segera kesana ya” imbuh Ganis, komunikasi terputus. Berita yang baru saja dia dengar membuatnya seperti disambar petir, nada putus asa itu membuatnya tak tega dan membuatnya trenyuh.
Terima kasih yang sudah emmberikan vote rekomendasinya, yang belum, jangan lupa kasih vote ya...hehe jangan lupa like juga. thank you.....Happy Reading^^