
Salwa memelankan laju kendaraan saat melihat sebuah kendaraan terhenti di tepi jalan. Salwa memperhatikan dua orang yang sedang berbicara di depan. Nampak seorang laki-laki yang mungkin sopirnya, dan yang perempuan, nampak tidak asing.
Salwa berhenti di depan mobil yang terhenti tersebut, Salwa turun dari mobil dan menghampiri dua orang tersebut. Benar saja jika perempuan tersebut adalah Ganis, istri dari bosnya yaitu Saga. Salwa seolah melupakan permintaan Saga untuk lekas sampai di kantor.
Setelah berbincang dan mengajak Ganis untuk ikut bersama dengan mobilnya, dia melihat sosok yang merangsek ke arah Ganis. Ganis yang tidak menyadari kehadiran orang tersebut pun diam saja, sementara Salwa yang berdiri di depan Ganis, dengan jelas melihat kedatangan tiba-tiba laki-laki dari belakang Ganis. Tidak sempat dia berkata, dia berlari mendekati Ganis memutar tubuh Ganis dan memeluknya. Alhasil tusukan pisau itu mengenai tubuhnya bagian belakang.
"AAAkkh" ucap Salwa menahan rasa sakitnya. Alex tahu dia salah sasaran, dia mencabut pisau lipatnya yang sudah melukai bagiann tubuh Salwa. Dia berlari ke arah mobilnya.
"Aaaaaaaa!!!" teriak Ganis panik.
Isnan mencoba mengejar Alex, namun dia cukup lihai untuk kabur.
"Sial!" umpat Isnan sambil menendang udara dengan kakinya. Tahu jika usahanya sia-sia, dia berlari kembali ke arah Ganis yang sedang duduk di tanah memeluk Salwa yang memejamkan mata.
"Mang...panggil ambulan...!" teriak Ganis panik.
Dia memeluk Salwa erat di pangkuannya, darah membasahi gaunnya. Namun tak dia hiraukan, dia menepuk-nepuk pipi Salwa agar gadis itu sadar.
"Bangun...Nona Salwa bangun..." Ganis mencoba menyadarkan Salwa. Air matanya meleleh, sama sekali kejadian ini di luar dugaannya. Senja yang kelam.
Isnan menghubungi ambulans, selanjutnya dia menghubungi Saga.
Hanya butuh waktu 10 menit, Saga dan sekertaris Li sampai di sana. Keadaan sudah ramai, ada beberapa pengemudi lain yang kebetulan lewat ikut berhenti.
Saga begitu panik melihat baju Ganis yang penuh dengan darah bercucuran, ambulans juga sudah datang dan langsung membawa Salwa menuju rumah sakit untuk mendapat tindakan.
"Aku..." Ganis panik bukan main, Saga memeluknya dan menenangkannya.
"Sayang....aku di sini, lihat aku...kamu baik-baik saja" Saga melepas pelukannya dan memegang kedua pipi Ganis yang dipenuhi air mata. Ganis masih memejamkan matanya, kejadian tadi masih memenuhi pandangannya. Tidak banyak yang bisa Saga tanyakan, hal pertama yang harus dia lakukan adalah menenangkan istrinya.
Saga menggandeng Ganis menuju mobil yang dikemudikan sekertaris Li, begitu juga Isnan.
"Rumah sakit Pak Li" titah Saga.
"Baik Tuan" jawab sekertaris Li.
Tangis Ganis masih belum reda, dia nampak sangat terkejut, trauma, dan ketakutan. Kedua tangannya masih bergetar. Saga mengambil sebotol air lalu membantu Ganis untuk minum.
__ADS_1
Saga terus saja memeluk istrinya, tidak ada kalimat yang terlontar dari mulutnya.
Mobil sudah masuk pelataran rumah sakit, Saga segera turun dan meminta bantuan perawat membawa kursi roda untuk Ganis.
"Pak Li, tolong urus Salwa, Isnan, tolong beli baju untuk Ganis" perintahnya sesaat setelah turun.
"Baik Tuan" jawab mereka serempak. Saga mendorong Ganis menggunakan kursi roda, segera dia meminta dokter memeriksa istrinya yang nampak sangat shock dengan kejadian tadi.
Saga terlihat setia mendampingi istrinya saat diperikasa, dia tidak ingin terjadi apa-apa pada istrinya.
"Dia nampak sangat shock dengan kejadian yang dialami, Tuan"
Saga mengusap wajahnya, dia melihat ke arah Ganis yang terbaring di ranjang. Ganis lebih tenang sekarang, dia diam dan mencoba mengatur nafasnya.
"Dia sedang hamil dok, apakah dia baik-baik saja?" tanya Saga cemas.
"Oh...baik kita arahkan ke dokter kandungan ya.." ucap dokter laki-laki berkacamata itu.
Saga mengangguk, dia memegang tangan Ganis erat. Seorang perawat datang menghampiri Ganis dan Saga.
Sementara itu sekertaris Li mendampingi Salwa, mengurus segala keperluan yang dibutuhkan, karena dokter harus melakukann tindakan di meja operasi. Luka tusuknya lumayan dalam dan juga Salwa kehilangan banyak darah.
Sekertaris Li menunggu di depan ruang operasi.
Isnan datang tergopoh-gopoh dengan membawa paperbag berisi pakaian ganti untuk Ganis, serba mendadak sehingga dia berharap baju tersebut pas buat Ganis.
Saga mengambil alih paperbag tersebut, melihat pakaian yang ada di dalam. Lalu dia kembali ke dalam ruangan Ganis di rawat, Saga meminta agar Ganis mendapat perawatan.
"Mas aku pulang saja ya..." pinta Ganis.
"Kamu di sini saja dulu sayang, kondisimu sedang tidak bagus" Saga menghela nafas panjang. "Ini si baby butuh ketenangan Ibunya" Saga mengelus perut Ganis. Akhirnya Ganis mengangguk.
Ganis mengelus perutnya, dia sangat bersyukur calon bayinya tidak kenapa-kenapa.
"Salwa....mas Salwa...." Ganis teringat dengan Salwa"
"Salwa baru selesai operasi sayang, dia akan baik-baik saja" Saga duduk di tepi ranjang, tangannya mengelus rambut Ganis lembut. "Kamu tenang ya...nanti kalau semua sudah memungkinkan kita jenguk dia" Saga mencium ujung kepala Ganis. Ganis mengangguk.
__ADS_1
Perasaan bersalah menyerbu hatinya, jika bukan karena Salwa maka entah apa yang akan terjadi padanya hari ini. Ganis menyeka air mata di sudut matanya.
"Kasihan dia Mas...gara-gara aku dia..."
"Ssttttt.....kalian baik-baik saja, kalian akan baik-baik saja" Saga memegang erat kedua tangan Ganis.
Sekertaris Li mengetok pintu ruangan kamar Ganis, Saga mempersilahkan untuk masuk.
"Tuan, Nona Salwa sudah dipindah ke ruang perawatan, kondisinya stabil" lapornya.
"Baik Pak Li"
"Saya akan menjaga Nona Salwa di depan, Tuan"
"Apakah keluarganya belum ada yang datang?"
"Belum Tuan"
"Baik, temani dia dahulu, nanti saya akan kesana"
"Baik, Tuan" sekertaris Li menundukkan kepalanya lalu kembali keluar meninggalkan Saga dan Ganis.
Sekertaris Li masuk ke dalam ruangan Salwa yang tidak jauh dari ruang Ganis dirawat, gadis itu masih terpengaruh obat bius dan terpejam. Sekertaris Li duduk di kursi di sebelah ranjang Salwa.
Terdengar pintu terbuka, nampak Saga masuk ke dalam ruangan tersebut. Dia mendekat ke ranjang Salwa. Sekertaris Li berdiri dan mempersilahkan Saga duduk, tapi Saga memilih untuk berdiri sambil melihat Salwa.
"Kemungkinan sebentar lagi aku terbangun, Tuan" jelas sekertaris Li. Saga mengangguk kecil dan memutuskan untuk keluar kembali. Dia menemui Isnan yang sedang duduk di bangku luar ruangan Ganis.
Saga duduk di samping Isnan. Sejak tadi dia belum sekalipun bertanya mengenai kronologi kejadian sore tadi.
Isnan mulai bercerita tentang kejadian sore tadi, yang dia sesalkan dia tidak berhasil melumpuhkan laki-laki itu, kejadian terjadi dengan sangat cepat.
"Jadi kamu tidak tahu ciri-cirinya?" tanya Saga. Isnan menggeleng kecewa, kecewa pada dirinya sendiri.
Saga memainkan jemarinya, dia nampak berfikir keras. Pasti ada hubungannya dengan dirinya. Sayang dia belum bisa bertanya banyak pada Ganis, istrinya itu masih shock.
Saga berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia yang akan mencari laki-laki itu, entah bagaimanapun caranya.
__ADS_1