
“Aku pulang dulu ya Mas?” Ganis melirik jam tangan yang dia kenakan di pergelangan tangan kiri, sudah hampir jam 2.
“Aku masih kangen” ucap Saga manja, kepalanya masih bersandar di bahu Ganis.
“Nanti kan ketemu lagi Mas”
“Ayo aku antarkan keluar” Saga mengembalikan posisi kepalanya menjadi tegak, Ganis bersiap untuk berdiri.
“Tidak usah, kerjaan kamu masih banyak tuh” Ganis menunjuk map yang ada di atas meja kerja Saga yang menumpuk.
“Hah…biarin”
Ganis mengangguk, mengambil tas selempang warna hitam di atas meja kerja Saga, tak lupa rantang kecil bekas bekal tadi dia bawa pulang sekalian. Saga membuka pintu ruangannya.
“Silahkan tuan puteriku” Saga mempersilahkan dengan tangan kanannya. Ganis tertawa kecil, bagaimana orang seperti Saga bisa bertingkah seperti itu, hampir mustahil.
Mereka berjalan perlahan, tak lupa Saga menggenggam erat jemari Ganis, Ganis menoleh ke arah Saga lalu tersenyum. Mereka menggunakan lift VIP untuk sampai ke bawah.
Pintu lift terbuka, mereka keluar dengan masih bergandengan tangan erat.
“Bukannya itu pak presdir?” bisik seseorang yang berpapasan dengan Saga dan Ganis. Langkah Ganis agak lebih perlahan lagi, memperhatikan dua wanita muda yang berpapasan dengannya, tidak salah lagi, mereka yang tadi ghibah di dalam lift.
“Masa sih?” gumam temannya.
“Siang pak” sapa mereka, namun Saga diam saja, bahkan melihat pun tidak.
“Anak magang?” tanya Ganis, Saga mengedikkan bahu.
“Kenapa?”
“Cantik-cantik ya?” Ganis mengangkat alisnya. Saga menghentikan langkahnya.
“Memangnya kenapa?”
“Ya…tidak apa-apa”
“Cemburu?”
Ganis menggeleng.
“Secantik apapun tidak akan mengalahkan kamu di hatiku” ujar Saga seraya menyentil hidung Ganis, kalimat Saga sukses membuat Ganis tersipu. Mereka kembali berjalan.
“Tadi aku dikira tukang catering” Ganis tertawa kecil. Saga menghentikan langkahnya, badannya menghadap Ganis.
“Kenapa berhenti lagi?”
“Kamu ngobrol sama mereka?” Saga penasaran, Ganis mengangguk.
“Lalu mereka menganggap kamu tukang antar makanan?” Ganis mengangguk lagi. “Lalu bilang apa lagi?”
“Katanya presdirnya cakep” Ganis berbicara jujur, Saga mengusap rambutnya.
“Kalau itu iya” ucapnya lirih. Ganis mencubit perut Saga.
“Ampuuun sayang” teriaknya, membuat dua wanita muda tadi memperhatikan tingkah mereka dari jarak jauh.
“Terus mereka bilang apa lagi?”
“Mau menggodamu” Ganis menatap Saga. Senyum yang tadi mengembang di bibir Saga mendadak sirna. Dia menoleh ke belakang.
“Anak magang!” teriaknya, membuat dua wanita muda tadi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Saga. “Sini!” perintahnya. Mereka mendekat dengan hati was-was.
“Anak magang?” tanya Saga. Ganis menatap dua wanita di depannya, mereka tidak berani menatap Ganis.
__ADS_1
“Siapa yang mau pesan makanan ke istri saya?” tanya Saga memasang wajah dingin. Dua wanita itu saling senggol, nampak nasib mereka sedang tidak baik-baik saja.
“Sudah yuk mas, kita keluar saja” ajak Ganis.
“Dia istriku, istri paling kucinta, kenapa kamu menganggap dia tukang makanan yang bisa kamu suruh-suruh?”
“Maaf Tuan…kita tidak tahu” jawab yang berkemeja biru.
“Dan lagi, pelecehan apa lagi yang kalian lakukan? Mau menggodaku di sini?” wajah dingin Saga membuat dua wanita muda tersebut mengkerut.
“Jangan seenaknya kalau ngomong”
Ganis menarik tangan Saga dan mengajaknya segera keluar.
“Maaf Nona…” ucap mereka hampir bersamaan.
Ganis berhasil menarik Saga untuk masuk ke dalam lift.
“Kan aku sudah bilang, jangan naik lift umum” omelnya.
“Sepi Mas kalau naik lift VIP, jadi aku gimana gitu” Ganis beralasan.
“Hehm….mereka bahkan tidak mengenalmu, baiklah kita segera ke WO”
“Kerjaanmu gimana mas?”
“Sudah gampang itu, semakin lama resepsi, semakin banyak yang tidak kenal kamu bahwa kamu istriku”
Ganis tersenyum malu, Saga menarik tangan Ganis erat.
“Mas mau kemana lagi?” tanya Ganis saat arah mereka tidak menuju basement kantor.
“Sebentar” Saga melangkahkan kaki ke sebuah ruangan.
“Hehm” balas Saga.
“Bisa saya bantu, Tuan?” tanyanya ramah. Ganis tersenyum sambil menundukkan kepala memberikan salam.
“Anak magang, siapa namanya?”
“Maaf Tuan, yang mana ya? Kemarin ada sekitar 20 mahasiswa magang di sini” ujar wanita itu memastikan.
“Hehm….yang…” Saga melirik Ganis.
“Yang cantik mbak, ehm…tadi kalau tidak salah pakai kemeja hijau dan biru”
“Ehm…sebentar, saya cek di foto ya Nona”
Wanita itu membuka file mahasiswa yang magang, lalu dengan sopan menunjukkan layar laptopnya kepada Ganis dan Saga.
“Ya itu, Saga menunjuk 2 buah foto”
“Oh ini putrinya Pak Wiyana dan Pak Yudi, Tuan” tunjuknya.
“Mulai besok, tidak usah magang di sini” perintah Saga, Ganis menepuk lengan Saga, tidak percaya akan mendepak dua gadis itu.
“Ba..baik Tuan” ujar wanita tersebut tanpa membantah. Saga berlalu meninggalkan ruangan tersebut, Ganis memberikan senyum pada wanita itu sebelum berlari kecil menyusul Saga.
“Mas…mas…”
“Jangan protes, aku tidak suka ada calon karyawan yang bersikap seperti itu di sini”
“Calon karyawan? Bukankah magang?”
__ADS_1
Saga menghentikan langkahnya, memutar badannya menghadap Ganis, kepalanya agak menunduk agar bisa mensejajarkan wajahnya dengan Ganis.
“Di sini itu jika sudah terpilih magang di sini, maka 90 persen mereka nantinya akan diterima kerja di sini”
“Oh” Ganis mengangguk.
“Berarti sudah seleksi ketat dong mas?” mereka kembali berjalan.
“Iya, begitulah. Tapi pintar saja tidak cukup, attitude juga harus diutamakan. Aku tidak suka mereka berbicara sembarangan tentang kamu”
“Tidak ada yang salah dengan tukang makanan mas”
“Iya tidak ada masalah, bagaimanapun mereka punya pekerjaan yang mulia, hanya saja mereka yang salah menempatkan lidah mereka ke kamu”
Ganis tersenyum mendengar penuturan Saga, laki-laki itu bijak dalam menangani sebuah masalah. Dia merasa terlindungi.
“Kenapa senyum-senyum begitu? Terpesona denganku?” Saga menyunggingkan senyumnya.
“Terlalu percaya diri” Ganis mengulum senyum.
Dua mahasiswa magang yang bernama Devina dan Rennata berada di kanton kantor.
“Bener kan cakep? Jarang-jarang lho bisa bertemu dengan presdir” ujar Devina sambil meminum jus jeruknya.
“Iya, cakep banget, gila sih” balas Rennata.
“Andaikan saja belum punya istri, aku juga mau” Devina mengaduk jus jeruknya.
“Benar katamu, istrinya biasa saja”
“Eh beneran tidak apa-apa tadi? aku takut jika presdir marah, istrinya paling sudah bilang semuanya ke presdir” Devina nampak khawatir.
“Aman lah, kan bokap kita salah satu divisi penting di sini” Rennata meyakinkan.
“Sudah yuk, kembali ke ruangan kita” ajak Devina. Mereka berdua membayar makanan dan minumannya lalu kembali menuju ruangannya, sebelum sampai di ruangan. Sindi memanggilnya, Sindi adalah wanita yang tadi ditemui oleh Saga.
“Ada apa bu?” tanya Devina.
“Silahkan masuk” ajak Sindi, mempersilahkan mereka berdua duduk di ruangannya.
Devina dan Rennata saling menyenggol.
“Devina dan Rennata?”
“Iya Bu” jawab mereka kompak.
“Maaf, besok kalian tidak diperkenankan magang lagi di sini” ujar Sindi tegas.
“Tapi Bu, kenapa?” tanya Devina.
“Iya Bu, apa kesalahan kita?” imbuh Rennata dengan wajah bingung.
“Perintah langsung dari Tuan Saga” jelas Sindi.
Keyakinan yang mereka yakini seketika runtuh, bahkan nama besar Papa mereka tidak bisa menyelamatkan nasib magang mereka.
“Tapi kita sudah susah payah mengikuti seleksi untuk magang di sini Bu” mereka masih berharap.
“Saya tahu, magang di sini cukup sulit untuk lolos seleksi, tapi maaf, ini sudah keputusan Tuan Saga” Sindi tidak mau kalah.
“Baik, Bu” ujar Devina kecewa.
Mereka keluar ruangan Sindi dengan wajah kesal, Rennata melipat kedua tangannya. Devina menariknya untuk segera ke ruangan.
__ADS_1