Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 44 : Sebuah Jawaban


__ADS_3

Ganis membuka pintu, dia mematung di mulut pintu. Tepat di samping meja kerja Saga, Anaya memeluk Saga erat, sementara Saga terdiam, tangannya menggantung.


“Ganis…” Saga melihat gadis itu mematung di pintu, tangan kanan Ganis memegang rantang putih, mungkin itu adalah makan siang pesanannya. Anaya melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah Ganis. Pipinya masih dipenuhi dengan lelehan air matanya.


“Maaf…maaf Tuan” Ganis meletakkan rantang putih tersebut di meja yang terdekat dari posisinya berdiri, lalu menganggukkan kepalanya dan meninggalkan ruangan tersebut dengan tergesa.


Ganis segera menutup pintu ruangan Saga dan berjalan dengan cepat menuju lift. Hatinya tak karuan, apa yang baru saja dilihatnya terasa sangat menyesakkan.


Harusnya aku tidak boleh merasakan ini, bukankah mereka memang serasi dari awal, aku hanya pengantin pengganti, dan semua ini hanya sandiwara? Mengapa sesakit ini? Apakah aku sedang cemburu?Ganis merenung, dia sedang berada di dalam lift, menuju lantai bawah.


Tiiing…


Pintu lift terbuka, Ganis perjalan pelan keluar dari dalam lift, ada beberapa karyawan yang menatapnya heran. Ganis tidak peduli, dia masih belum bisa menerjemahkan apa yang sedang terjadi dalam hatinya, perasaannya tidak karuan.


HPnya berdering, Ganis membuka tasnya dan mencari HPnya, tertera nomer asing di sana.


“Hallo…”


            Ganis menuju tempat yang diarahkan oleh seseorang melalui sambungan telepon. Kini dia sedang berhadapan dengan Anaya, mereka berada di kantin perusahaan.


“Ehm…Nona apa kabar?” Ganis membuka pembicaraan, setelah sekian lama sejak hari menjelang pernikahan Anaya dengan Saga waktu itu, Anaya nampak terdiam dan memandang Ganis.


“Apa kamu mencintai dia?” tanya Anaya kemudian, dia sudah tidak tahan lagi dengan gejolak hatinya. “Aku ingin mengubah rencanaku” ujar Anaya dingin.


“Nona…”


“Aku ingin mengembalikan semua dari awal, jadi tolong lepaskan Saga mulai sekarang” imbuhnya dengan enteng.


“Maksudnya?”


“Jangan pura-pura bodoh! Atau kamu memang sudah mulai tidak bisa melepas dia? Kamu mencintai dia?” Anaya menahan emosinya, Ganis menggeleng pelan.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan perjanjian Nona tempo hari?” Ganis bertanya polos.


“Aku sudah bilang, aku ingin mengubahnya, perjanjian itu tidak berlaku, tinggalkan dia mulai sekarang dan aku anggap lunas semua hutangmu” perkataan Anaya sungguh angkuh, Ganis merasa seperti boneka yang bisa dia suruh dan dia mainkan sesuka hatinya.


“Tapi Nona, mengapa aku harus melakukan hal yang sama sekali tidak aku mengerti?” Ganis mencoba protes.


“Sudah berani kamu sekarang sama aku ya?”


Ganis kembali menggeleng, dari awal dia mengenal Anaya, dia sangat menghormati Nona_nya itu, bahkan apapun dia lakukan agar Anaya bahagia.


“Apa kamu sudah kehilangan hal yang berharga dari diri kamu? Sehingga kamu berat meninggalkan dia?” Anaya mencoba mengorek. Lagi-lagi Ganis menggeleng, dia tahu maksud pertanyaan Anaya, bahkan berciuman pun tidak pernah dia lakukan. Ganis semakin bingung dengan apa yang sebenarnya Anaya inginkan, dari awal dia sangat ingin Ganis untuk bisa membuat Saga jatuh cinta, tapi sekarang berbeda lagi.


“Kamu sudah terlanjur masuk ke dalam masalah hidupku, jadi sudah saatnya kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi” Anaya menatap Ganis tajam, Ganis membalas tatapan Anaya, namun dengan tatapan heran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Kamu hanya alatku untuk balas dendam ke keluarga Saga” ujarnya enteng, Ganis menahan rasa terkejutnya.


“Kamu tahu aku tidak punya orang tua sejak kecil karena mereka meninggal kecelakaan, awalnya aku mengira Papa dan Mama sengaja dibunuh oleh keluarga Saga, namun….ternyata selama ini aku salah, salah besar” mata Anaya berkaca-kaca. Ingin rasanya dia mengumpat.


Ganis mendengarkan dengan seksama, mencoba dengan sekuat hati mengendalikan rasa terkejutnya.


Ganis menggeleng pelan, pertanyaan yang selama ini dia  pikirkan juga.


“Aku, akulah orangnya, harusnya aku yang menikah dengannya, tapi aku benar-benar salah mengambil langkah, dan aku benci kamu sekarang!” Anaya berbicara dengan penuh emosi, membuat beberapa orang yang ada di sekitar menoleh ke arah mereka berdua.


“Nona….” Ganis mengambilkan tisu untuk Anaya.


“Pergilah” ucap Anaya dengan frustasi.


“Maafkan aku Nona” Ganis hanya bisa meminta maaf tanpa tahu letak kesalahannya, selama ini dia hanya mengikuti apa yang Anaya perintahkan. Berusaha membuat Saga jatuh cinta padanya dengan caranya, tidak tahu jika harus mengubah rencananya secepat ini.


“Awalnya aku ingin menjadikanmu senjata membunuh Tuan Candra secara perlahan, tapi aku mohon sekarang menjauhlah dengan caramu” Anaya memohon. Ganis terdiam, apa yang harus dia lakukan sekarang?

__ADS_1


“Mengapa Nona tega melakukan ini padaku? Menjadikanku sebagai penjahat yang bahkan aku tidak tahu” Ganis mencoba memberanikan diri untuk mengutarakan hatinya.


“Ciiih…aku tidak peduli dengan orang lain” ungkapnya, Ganis menatapnya tegas, Nona yang dia kenal dulu bukanlah orang yang seperti ini, apakah ini pribadi Anaya yang sesungguhnya? “Pergilah jauh, dan kamu bisa mendapatkan sesuai apa yang aku janjian dulu”.


Terjawab sudah apa yang menjadi pertanyaannya selama ini, mengapa dia harus menggantikan Anaya menjadi istrinya Saga. Tidak sejauh ini pikirannya sebelumnya, dan kini dia merasa menjadi orang yang sangat jahat. Apa yang akan terjadi saat dia harus tiba-tiba meninggalkan Saga? Bukan karena dia tidak mau, akan tetapi yang lebih


dia pikirkan adalah Tuan Candra. Bagaimana dengan Tuan Candra? Apa yang akan terjadi? Dia tidak mungkin bisa menyakiti orang yang sangat baik hati menerimanya dengan label “orang bersalah”.


“Aku akan menganggap kamu tidak tahu apa-apa, maka pergilah jauh dari kehidupan Saga setelah ini, jangan pernah muncul lagi"


“Beri aku waktu Nona”


“Aku tidak suka lama, maka lakukanlah. Dan jangan pernah merasa Saga mencintaimu, aku yakin dia tidak bisa berpaling dariku” Anaya menutup pembicaraan, lalu pergi meninggalkan Ganis yang masih mematung di kursinya.


            Sepanjang perjalanan pulang, Ganis hanya terdiam memikirkan apa yang baru saja terjadi, pelukan Anaya dan Saga. Lalu pembicaraannya dengan Anaya. Kini dia harus berfikir untuk menjauhi Saga. Ganis menghela nafas panjang.


 


***


Sementara itu, selepas Anaya meninggalkan ruangannya, Saga duduk di kursinya. Bukan Anaya yang menjadi beban pikirannya, tapi apa yang sedang dipikirkan Ganis dengan kejadian tadi. Mengapa dia tiba-tiba muncul di ruangannya, mengapa dia sendiri yang mengantar makanan itu?.


Saga mendekati rantang putih yang ada di atas meja dekat dengan pintu, tangannya mengambil rantang tersebut, senyumnya mengembang saat melihat rantang tersebut.


“Dia benar-benar membuatnya”


Saga berjalan ke arah meja dan kursinya, perlahan membuka rantang, aroma nasi liwet yang dia inginkan memenuhi hidungnya, seleranya tergugah untuk segera menyantapnya. Dia makan dengan lahapnya, makan siang hari ini terasa istimewa, hanya saja dia merasa ada yang terasa mengganjal di hatinya, mungkinkah Ganis


baik-baik saja dengan apa yang dia lihat tadi?. Dia terlalu khawatir sekarang dengan gadis itu.


 

__ADS_1


 


Tetap dukung Author dengan memberikan like dan vote. Thanks you and Happy Reading ^^


__ADS_2