Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 86 : Selamat Jalan...


__ADS_3

Hampir tengah malam Saga baru tiba di rumah, Ganis masih terjaga menunggu kedatangan Saga. Lampu kamar masih menyala, sedari tadi Ganis menonton televisi.


Pintu kamar terbuka, Ganis segera melihat ke arah pintu, dilihatnya suaminya dengan wajah yang lelah.


Ganis segera beranjak dari tempatnya dan mendekat ke arah Saga, Ganis mengambil jas yang ada di lengan Saga. Mengusap pipi Saga lembut.


“Makan?” tanya Ganis. Saga menggeleng pelas.


“Aku sudah makan tadi di kantor” ucapnya, lalu membuka kancing kemejanya.


“Oh, ya sudah Mas mandi saja dulu” ucap Ganis membantu melepaskan kancing kemeja Saga.


“Iya aku mandi bentar ya” pamit Saga, kemejanya sudah terlepas, Ganis membawanya ke tempat cucian kotor di luar kamar.


“Iya Mas”


Ganis kembali menonton televisi, sementara Saga membersihkan diri. Beberapa hari ini Saga menampakkan wajah yang lelah setiap pulang dari kantor, mungkin masih ada kaitannya dengan masalah tempo hari.


Saga keluar dari kamar mandi, kaos pendek dan celana pendek menjadi pilihannya kali ini, bukan piyama. Ganis menepuk sofa di sebelahnya, meminta Saga duduk. Saga meletakkan handuk di tempatnya, lalu duduk di samping Ganis dengan rambut masih berantakan.


Ganis menyisir rambut Saga dengan jemarinya, lalu memijit pelan areha bahu Saga.


“Terima kasih sayang” ucap Saga mendapatkan perlakukan dari Ganis.


“Ceritalah” ucap Ganis.


Saga mengangkat kedua alisnya.


“Kamu selalu tahu jika aku sedang tidak baik-baik saja” Saga memuji istrinya. “Hah…entahlah itu anak cabang perusahaan masih bisa aku pertahankan atau tidak” ucapnya pasrah.


Ganis mengerutkan kening, tangannya masih memijat pundak Saga.


“Gimana kelanjutannya, Mas?”


“Alex, laki-laki itu ternyata anaknya Barata, sahabat Papa” ujar Saga, Ganis menghentikan aktivitasnya, menengok ke arah wajah Saga.


“Iya kah Mas?” Ganis terkejut.


Saga mengangguk pelan, Ganis kembali melanjutkan memijit Saga.


“Mungkin dia sengaja ingin menghancurkan perusahaan” Saga berprasangka.


“Sabar Mas, semoga bukan karena itu” Ganis masih mencoba berpikiran positif.


“Aku harap juga begitu, tapi entahlah aku merasa buruk saja tentang dia”


            Ganis menghentikan aktivitasnya karena Saga mengubah posisinya, kini dia menghadap Ganis.


“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Saga lembut, rasa lelah yang dia bawa dari kantor seolah sirna dengan melihat keberadaan Ganis di dekatnya.


“Menunggu kamu pulang, Mas” jawabnya.

__ADS_1


“Kalau kamu mengantuk, tidurlah dulu tidak apa”


Ganis menggeleng.


“Oh ya, bagaimana keadaan istri Radian?” tanya Saga teringat jika tadi pagi Ganis meminta izin untuk pergi menengok istri Radian di rumah sakit.


Ganis menggeleng, “Kasihan Mas, bayinya meninggal, sekarang Mbak Aziza koma” jawab Ganis dengan raut wajah sedih.


“Duh…ikut sedih mendengarnya” jawab Saga bersimpati. Ganis mengangguk.


“Semoga mbak Aziza lekas sadar” harap Ganis, Saga mengamini.


“Sudah malam, jika kamu besok ingin menengoknya lagi kamu boleh pergi, asal harus dengan sopir ya”


“Iya Mas, terima kasih”


“Sudah malam, ayo kita tidur”


Ganis memencet tombol off pada remote, kini dia menyusul Saga ke atas ranjang, laki-laki itu menepuk bantal di sebelahnya, meminta Ganis segera merebahkan dirinya.


***


Masih terlalu pagi, bahkan matahari saja belum menampakkan diri. Ganis mengucek matanya, ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Dia melihat ke samping, Saga masih terlelap. Tangan kiri Saga berada di atas perut Ganis memeluk. Dengan lembut, Ganis menurunkan tangan Saga. Dia mengubah posisinya menjadi duduk, merapikan rambut panjangnya dan menguncirnya.


Tangannya mencari HP di atas nakas, Ganis membuka-buka pesan yang masuk ke HPnya. Betapa terkejutnya mendapatkan sebuah pesan dari Radian beberapa menit yang lalu. Mengabarkan jika Aziza, istri Radian meninggal dunia.


“Ya Allah” Ganis memekik sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan.


Saga mengerjab, dilihatnya Ganis duduk di tepi ranjang. Saga mengucek matanya dan mencoba mengubah posisinya menjadi duduk.


“Ada apa sayang masih pagi banget sudah bangun?” tanya Saga melihat mimik wajah Ganis berbeda, tidak seceria biasanya.


“Mbak Aziza mas”


Saga mengerutkan kening, dia mudah lupa dengan seseorang yang tidak akrab dengannya.


“Siapa?” tanya Saga.


“Mbak Aziza istri Mas Radian” Ganis menjelaskan.


“Iya kenapa?”


“Meninggal Mas”


“Innalillahi, kapan?”


“Barusan Mas Radian mengabarkan”


“Padahal baru tadi malam kita membahasnya”


Ganis kembali meletakkan HPnya di nakas, dia berdiri di tepi ranjang, bersiap untuk ke kamar mandi.

__ADS_1


“Kita siap-siap” ujar Saga. Ganis menoleh sebelum dia memasuki pintu kamar mandi.


“Mas bukannya kamu sibuk di kantor?” tanya Ganis.


“Iya tidak apa, aku ingin menemani kamu dan juga mengucapkan belasungkawa secara langsung, kemarin tidak sempat menjenguk” urai Saga. Ganis mengangguk, kemudian tangannya memegang gagang pintu kamar mandi, menarik ke bawah dan  mendorongnya.


Air hangat mengguyur tubuhnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia baca. Ingin rasanya dia menelepon Radian, namun dia tahu di sana pasti Radian sedang sibuk mengurus segalanya.


Selesai mandi, Ganis segera berganti pakaian serba hitam, tak lupa dia memakai kerudung hitam di atas kepala. Saga dengan cepat menyelesaikan mandinya dan berganti pakaian dengan warna senada.


            Mereka berdua melewatkan sarapan, segera mungkin mereka menuju rumah sakit untuk bertemu dengan Radian.


***


Benar sesuai dengan dugaan Ganis, Radian sibuk mengurus segala administrasi rumah sakit untuk kepulangan jenazah Aziza. Nampak wajahnya yang lelah dan sembab.


Saga melepaskan tangannya dari bahu Ganis, memberi kode kepada Ganis untuk menenangkan Radian.


Ganis mendekat ke arah Radian yang baru saja selesai dengan urusannya, kini dia duduk di bangku depan ruang jenazah.


“Mas…” ujar Ganis, Saga berjalan dan berdiri di samping Ganis. Radian mendongak, dilihatnya Ganis dan Saga berada di depannya.


“Tuan Saga…Ganis…” ujarnya. Ganis tersenyum, mengusap pundak laki-laki yang ada di depannya.


“Saya ikut berbela sungkawa atas meninggalnya Aziza” ujar Saga tulus, Radia mengangguk.


“Terima kasih, Tuan” ucap Radian.


“Jam berapa Mas jenazah akan dipulangkan?” tanya Ganis.


“Administrasi baru saja selesai, sebentar lagi kita akan pulang” ucapnya.


“Iya Mas” tidak banyak yang bisa Ganis ucapkan, karena sebanyak apapun dia menghibur, dia tahu Radian sedang kacau, hal terbaik adalah menemaninya, seperti yang sedang dilakukannya sekarang bersama Saga.


Kebetulan kedua orang tua Radian dan mertuanya sudah sepuh, sehingga mereka berada di rumah saja menyiapkan berbagai keperluan untuk pemakaman.


Tepat pukul 7 pagi, mobil ambulans yang membawa jenazah Aziza bersiap meninggalkan rumah sakit dan berangkat ke rumah Radian. Radian memilih untuk bersama dengan mobil ambulans. Sedangkan Ganis dan Saga mengikuti mobil tersebut dari belakang.


Saga menggenggam erat tangan Ganis sambil tangan satunya memegang kemudi.


“Pikiranku kemana-mana” ujar Saga.


“Kenapa Mas?”


“Kemana-mana kamu harus hati-hati, kalau aku tidak bisa mengantar, pergilah bersama sopir” ujar Saga. Ganis tersenyum, nampaknya hal yang menimpa istri Radian membuat Saga khawatir terhadap dirinya.


“Iya Mas” balas Ganis.


Mobil terus melaju mengikuti mobil ambulans yang sudah berada di selisih jarak yang lumayan jauh dari mobil yang ditumpangi Saga dan Ganis untuk menuju ke kediaman Radian.


 

__ADS_1


 


Jangan lupa like dan vote, biar Author tahu jika kelanjutan cerita ini masih dinanti. hehe


__ADS_2