
Saga menghentikan aktifitasnya saat melihat seseorang masuk ke dalam ruangannya, seorang wanita yang mungkin seumuran dengannya, masih muda. Suara hak sepatunya terdengar nyaring seisi ruangan.
Setelah Saga mempersilahkan duduk padanya, wanita itu duduk di kursi di seberang meja dia duduk. Baru kali ini dia bertemu dengan orang yang direkomendasikan Anya kemarin.
“Maaf Tuan, saya datang memenuhi undangan dari pusat” ucapnya ramah, senyum menghiasi bibirnya.
“Iya, saya yang meminta datang, sebelumnya ada di divisi luar kota?” Saga meletakkan bolpoinnya yang sedari tadi dia pegang.
Wanita itu menganggu, “Iya pak, panggil saja saya Salwa”
“Oh iya” Saga mengingat, tadi malam Anya mengirimkan CV dari wanita yang ada di depannya itu, dengan nama Salwa Meita Hadiningrat.
“Terima kasih atas undangan dari Tuan” ucapnya, dia memperhatikan mimik wajah Saga, hidung mancung, tatapan mata tegas, benar-benar masih sama seperti dulu. Hanya bedanya, Saga tidak mengenalnya sekarang.
“Iya, tentu kamu sudah diberi tahu oleh Anya tentang job desk kamu yang baru kan, saya tidak mau ambil pusing dengan menjelaskan ulang, jika Anya bilang kamu mampu, maka saya akan setuju”
“Iya Tuan, saya paham”
“Dan lagi, akan ada percobaan dulu sekitar 1 bulan, jika memang kinerja kamu sesuai dengan visi misi dari divisi transportasi, maka kamu akan berada di sana, jika tidak, maka akan kembali ke cabang semula, atau tidak sama sekali” ujar Saga tegas.
“Baik Tuan, saya siap, dan saya menerima resikonya”
Saga melihat jika sekiranya wanita yang ada di depannya tersebut nampak cerdas, dari catatan yang sudah dia dapatkan dari sekertaris Li, wanita itu tidak ada catatan buruk. Saga benar-benar meminta jika harus dengan seksama megetahui latar belakang pegawainya. Tidak ingin kecolongan seperti kemarin.
“Saya kira kamu sudah tahu masalah yang sedang kita hadapi sekarang”
“Sudah Tuan”
“Bagus, jadi kamu bisa langsung bekerja sesuai dengan kapasitasmu”
“Siap Tuan” wanita itu terus saja mengikuti apa yang diingkan Saga, dia tahu jika salah satu anak cabang perusahaan Saga tengah bergejolak karena kesalahan yang diperbuat oleh Alex. Hal ini merupakan tantangan yang harus dia taklukkan, untuk menunjukkan jika dia mampu dan sesuai dengan harapan Saga selaku pucuk pimpinan.
Saga memperhatikan wanita tersebut dengan seksama, nampak wanita itu begitu antusias berbicara padanya, walau hanya lewat ekspresi wajah.
“Apakah kamu mengenal saya sebelumnya?” tanya Saga. Wanita itu menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, dia tertawa di baliknya.
“Maaf, apakah Tuan lupa?” wanita itu menurunkan tangannya. “Oh maaf Tuan, tentu Tuan akan lupa dengan saya” imbuhnya. Saga mengernyitkan dahinya, tidak tahu maksud dari Salwa.
“Maksudnya?”
__ADS_1
“Saya Salwa, adik tingkat saat SMA dulu, satu organisasi di paduan suara” imbuhnya. Saga terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat.
“Oh ya?” tanya Saga dengan ekspresi datar. Salwa mengangguk. “Aku pelupa” ujar Saga kemudian, dia tidak berhasil mengingat Salwa.
“Oh tidak apa-apa Tuan, saya senang akhirnya bisa bekerja untuk perusahaan Tuan, semoga tidak mengecewakan”
Saga mengangguk.
“Baik Tuan, saya pamit undur diri, saya harus banyak belajar di bidang saya selanjutnya”
“Ok”
Salwa beranjak dari kursinya, terlihat belahan rok yang agak tinggi itu, Saga menggelengkan kepalanya pelan lalu membuang pandangan ke arah lain, ke arah sofa yang ada tidak jauh dari kursinya. Sebelum Salwa menghilang di balik pintu, Saga tak tahan lagi menyuarakan keinginannya.
“Eh…Salwa…” Saga sedikit berteriak. Tangan kanan Salwa yang sudah memegang gagang pintu mendadak menoleh.
“Iya Tuan?”
Saga memegang dahinya, berbicara tanpa melihat ke arah lekuk tubuh Salwa.
“Mulai besok, jangan memakai pakaian kerja yang seksi, saya tidak toleran” ujarnya tegas.
Salwa memperhatikan dirinya, mungkin pakaian yang sedang dia pakai sekarang yang dimaksud seksi. Selesai memperhatikan dirinya, Salwa mengangguk.
Saga mengibaskan tangannya agar Salwwa keluar dari ruangannya.
Saga menghembuskan nafasnya saat melihat pintu sudah kembali tertutup, di satu sisi dia yakin jika Salwa akan mampu memulihkan citra dari anak cabang perusahaan yang sedang chaos itu. karena laporan dari Anya tentang Salwa cukup meyakinkan.
Salwa ke luar ruangan Saga denganwajah sedikit merah, bagaimana bisa Saga melarangnya memakai pakaian kerja yang baginya terlihat biasa saja itu.
“Masa sih ini terlalu seksi?” Salwa belok ke toilet dan berkaca di sana. Kemejanya agak ketat, kelihatan lekuk tubuhnya. Salwa membenahi lipstiknya.
“Ya sudah, besok aku ganti yang lebih longgar, daripada nanti malah menimbulkan masalah” ujarnya sambil memasukkan lipstick ke dalam tas mahalnya.
***
“Siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini?” Ganis mengangkat sebuah kertas dengan soal perkalian. Dia berada di tengah anak-anak kecil.
Anak-anak sangat bersemangat menjawab pertanyaan dari Ganis, mereka saling berebut menjawab. Ganis sangat senang berada di tengah anak-anak panti, dia memenuhi janjinya untuk berkunjung.
__ADS_1
“Kak Ganiiiisss….” Ujar Disya setengah berteriak.
“Iya Disya, kenapa?” tanya Ganis sambil menurunkan kertasnya.
“Aku ingin dipangku sama kakak” ujarnya manja.
“Sini…sini” Ganis memberikan isyarat dengan tangan agar Disya mendekat ke arahnya. Disya dengan senang hati berlari ke arah Ganis dan duduk di pangkuan Ganis dengan manja.
“Sudah ya…ayo dibereskan semua kertas dan bolpoinnya, kita selesai belajar, saatnya kita sholat ya anak-anak..setelah itu kita makan siang bersama” ajak Ganis.
“Siap kak” jawab anak-anak serempak.
Disya masih duduk di pangkuan Ganis dengan manjanya, rambut kepang dua, pipi gembul menjadi ciri khasnya.
“Disya nggak sholat?” tanya Ganis sambil melihat wajah gemas Disya, Disya mengangguk.
“Ayok bareng ya…”
“Iya kak”
“Yuk”
Disya berdiri dari pangkuan Ganis, Ganis pun ikut berdiri, Disya menggandeng tangan Ganis menuju mushola yang ada di lingkup panti asuhan tersebut.
Anak-anak sudah mulai ramai dan berceloteh saat mereka antri untuk wudhu, begitu juga di barisan tempat wudhu perempuan.
Tawa riang anak-anak begitu menyenangkan, setidaknya itu yang dirasakan oleh Ganis. Seusai dari mushola, anak-anak makan siang di salah satu ruangan seperti joglo dengan lesehan, salah satu tempat favorit anak-anak, karena rindang dikelilingi oleh tanaman hijau, sehingga udara di sana pun sejuk. Mereka makan dengan rapi dan anteng.
“Kak Ganis kapan kesini lagi?” tanya Habibi menghampiri Ganis yang sudah berdiri di depan gerbang panti, Saga turun dari mobil.
Sebenarnya Ganis ingin pulang sendiri dijemput Isnan, hanya saja Saga bersikeras ingin menjemput istrinya.
“Ehm…kapan-kapan Kakak kesini lagi” Ganis berjongkok di depan anak laki-laki itu”
“Benar ya kak?” tanya Disya. Ganis mengangguk, mengubah arah pandangannya dari Habibi ke wajah Disya.
“Iya, baik-baik ya kalian di sini, jangan lupa rajin belajar dan turuti semua ucapan Bu Fatimah” Ganis memberikan nasehat. Anak-anak mengangguk.
“Pinter semua” Ganis mengangkat kedua jempolnya, Saga tersenyum melihat pemandangan yang ada di depannya. Ganis begitu menguasai keadaan anak-anak tersebut, bahkan dia sangat disukai oleh anak-anak tersebut.
__ADS_1
Ganis melambaikan tangan kepada anak-anak panti setelah mobil yang dikendarai Saga mulai meninggalkan area tersebut.
Ehehehe.....berasa main tebak-tebakan, ikuti terus ya lanjutannya. jangan lupa like, vote, gift...matur suwun...