Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Tujuh Belas : Arjuna Group


__ADS_3

Siaran berita, baik cetak maupun elektronik tengah dihiasi berita tentang Arjuna Group, bagaimana perusahaan itu akan segera mengumumkan pemimpin baru, secara resmi Tuan Candra akan turun tahta. Selama ini tidak ada skandal yang terkait dengan Arjuna Group, semua berjalan dengan baik. Media pun tidak pernah memberitakan hal buruk terkait Arjuna Group. Meskipun sudah mengetahui siapa pewaris tunggal Arjuna Group, tapi berita itu tetap saja hangat untuk dibahas.


            Saga duduk di kursi kerjanya, memainkan bolpoin warna hitam di tangannya. Sebentar lagi dia akan menjadi presiden direktur di Arjuna Group. Teringat jelas di benaknya, saat dia kecil, Tuan Candra sering sekali mengajaknya di kantor ini. Sama persis di ruangan ini, jejak ingatannya masih jelas merekam. Secepat itu waktu berjalan.


“Mengapa secepat ini pak Li?” Saga merasa dirinya belum mampu menjadi presiden direktur menggantikan Tuan Candra.


“Maaf Tuan muda, Tuan Candra menginginkan hal ini dilakukan secepatnya, apalagi Tuan muda juga sudah menikah” sekertaris Li, orang kepercayaan Tuan Candra sejak merintis perusahaan ini, umurnya hampir sama dengan Tuan Candra, perawakannya kurus tinggi, rambutnya Sebagian juga sudah memutih, sekertaris Li adalah orang yang sangat loyal dengan Arjuna Group.


“Aku merasa ini terlalu cepat, aku merasa belum mampu” Saga menghela nafasnya.


Sekertaris Li tersenyum ke arah Saga, memahami gundah yang dirasakan oleh Saga. Tapi dia percaya jika Saga akan mampu membawa Arjuna Group lebih maju lagi.


“Tiga hari lagi tuan” sekertaris Li menambahkan, kemarin Tuan Candra sengaja mengundang sekertaris Li ke rumah untuk membicarakan masalah ini.


“Pak Li…” panggil Saga


“Ya Tuan?”


“Tolong bantu mengemban tugas Papa”


“Baik Tuan”


“Ada agenda apa hari ini?” tanya Saga, belum sempat dia memeriksa catatan yang diberikan sekertaris Li.


“Ada pertemuan dengan divisi anak cabang Arjuna Group Tuan, disebutkan ada pimpinan baru, dan itu yang akan menjadi bahasan nantinya, terkait Kerjasama dengan perusahaan lain”


“Baik, atur semua”

__ADS_1


“Baik Tuan”


Sekertaris Li keluar ruangan meninggalkan Saga di ruangannya, Saga berdiri dan meninggalkan kursinya, dia berdiri di dekat jendela kaca. Ruangan kerjanya berada di lantai 20, pandangannya menyapu pemandangan yang terlihat kecil di bawah sana.


***


            Pertemuan dengan beberapa pimpinan anak cabang berlangsung di aula kantor berbeda dengan kantor yang ditempati oleh Saga. Saga duduk di dalam mobil yang disopiri oleh sekertaris Li. Beberapa hari ke depan sebelum secara resmi menjadi presdir Arjuna Group, dia akan disibukkan dengan kunjungan-kunjungan dan juga pertemuan penting.


            Hanya butuh waktu 15 menit mereka tiba di tempat yang dimaksud, Saga keluar dari mobil warna hitam tersebut, tangannya dengan sigap melepas kaca mata hitam yang dia kenakan sejak tadi, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya. Saat memasuki Gedung, semua karyawan memberikan hormat kepadanya. Seorang resepsionis mengantarkan Saga menuju aula pertemuan.


            Saga duduk di kursi paling ujung, para pimpinan cabang sudah berada di tempatnya masing-masing, mereka sudah beberapa menit yang lalu menunggu kedatangan Saga. Rapat segera dimulai, Saga memimpin secara langsung hingga selesai. Hampir 2 jam rapat tersebut dihelat.


            Selepas itu, semua anggota rapat satu per satu meninggalkan ruang rapat. Sekertaris Li dan Saga dipersilahkan untuk menuju ruangan lain untuk menemui pimpinan cabang perusahaan yang baru.


            Seseorang yang masih muda, seumuran dengannya tengah menunggu Saga di ruangan tersebut. Sekertaris Li menutup pintu ruangan, saat itu pula laki-laki yang sudah menunggu di ruangan tersebut berdiri dan bersalaman dengan Saga.


“Silahkan pak Li sampaikan yang harus saya dengar” ujar Saga tanpa basa basi.


“Beliau adalah pimpinan cabang baru Arjuna Group yang saya ceritakan tadi Tuan, beliau akan memimpin kantor cabang baru kita di bidang transportasi” papar sekertaris Li, memang beberapa waktu lalu Saga mencanangkan akan membuka jaringan transportasi yang dinaungi Arjuna Group dan meminta menyiapkan pimpinan yang sekiranya mampu menghandle bidang tersebut. Menurut prospek yang sudah diprediksi dengan segala resikonya oleh tim ahli perusahaan, bahwa ini akan menjadi salah satu bisnis baru yang akan banyak memberikan keuntungan bagi perusahaan.


“Oh demikian? Bagus, saya kira perusahaan sudah melakukan seleksi ketat terhadap sosok yang saya rasa mampu” Saga memberikan penguatan, nampak wajah laki-laki itu nampak datar, sorot matanya tajam.


“Perkenalkan, saya Alex, senang bisa bekerja sama dengan Anda Tuan, semoga saya bisa memberikan yang terbaik”


“Iya, harus, kita bekerja cepat dan harus menghasilkan yang terbaik, saya percaya anda bisa kami andalkan”


“Siap Tuan” laki-laki bernama Alex itu berdiri, lalu membungkuk memberikan hormat kepada Saga yang segera meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


            Pertemuan singkat tersebut biasa dilakukan oleh Saga, dia ingin tahu kemampuan orang yang benar-benar ingin direkrut oleh perusahaannya. Dia tidak ingin nantinya perusahaan memperkerjakan orang secara asal-asalan.


“Saya butuh rekam jejaknya sedetail mungkin Pak Li, saya tidak ingin mendapatkan resiko besar”


“Baik Tuan”


Saga mengenakan kaca mata hitamnya kembali sesaat setelah keluar dari Gedung tersebut, mereka kembali menuju kantor.


            ***


Tuan Candra duduk di kursi roda, sedangkan Nyonya Rima duduk di kursi teras samping, mereka berdua menikmati pemandangan, sebuah kolam ikan terpampang di dekat mereka. Hampir seharian mereka menghabiskan waktu bersama menonton tayangan televisi yang dipenuhi dengan berita tentang Arjuna Group.


“Apakah Saga sudah mampu menerima estafet kepimimpinan?” Nyonya Rima sedkit khawatir dengan keputusan Tuan Candra.


“Apa kamu mau tiba-tiba perusahaan diambil alih oleh orang lain? Ini aku lakukan sebelum aku meninggal”


“Papa….” Nyonya Rima mengusap lengan kanan suami nya lembut.


“Perusahaan yang aku rintis dari 0, kupersiapkan putraku sebaik mungkin, dan kinilah saatnya dia berdiri di sana. Aku sudah agak tenang melihatnya menikah, dan kini dia harus kulepas untuk mengembangkan perusahaan agar lebih besar lagi”


“Iya Pa, tapi Papa jangan selalu bilang akan meninggal, Mama takut sendirin tanpa Papa” Nyonya Rima merajuk.


“Kan ada anakmu, menantumu, dan juga cucumu” Tuan Candra terkekeh.


“Sudah ah, Papa jangan selalu bilang meninggal” pinta Nyonya Rima.


“Sebenarnya setelah ini Papa ingin mengadakan resepsi, Papa merasa perlu, setelah diberi kesempatan umur, melihat anak kita satu-satunya menikah hanya acara sederhana kemarin. Bagaimana menurut Mama?”

__ADS_1


“Ide bagus Pa, nanti kita bicarakan dengan anak-anak. Yang penting Papa sehat dan Bahagia, kita akan Bahagia juga Pa” Nyonya Rima memeluk Tuan Candra dari belakang, betapa sedihnya saat Tuan Candra selalu mengatakan jika umurnya tak lagi akan panjang. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana jika suaminya akan benar-benar meninggalkannya.


__ADS_2