
Wajah datarnya tetap terlihat tenang, satu per satu harus dia selesaikan. Sudah kepalang basah, apapun akan dia lakukan untuk Ganis. Satu per satu kepingan puzzle tentang kemunculan gadis itu mulai menemukan kepingannya.
Penyesalan yang dia rasakan saat harus bersikap sedikit kasar dan membiarkan gadis itu menangis memenuhi rongga hatinya. Tidak bermaksud menyakiti, hanya saja dia takut. Satu hal yang paling dia takuti, yaitu menerima kenyataan jika nantinya Ganis tidak mencintainya seperti apa yang dia harapkan.
Rasa traumanya menyeruak timbul ke permukaan, saat tahu jika keberadaan Ganis di sisinya adalah karena sebuah perjanjian. Amarahnya langsung meledak, bukan karena merasa dibohongi belaka, hal tersebut muncul karena dia benar-benar takut, jika rasa cintanya pada gadis itu bertepuk sebelah tangan.
Sudah cukup dia merasakan patah hati saat ditinggal Anaya kala itu, kali ini dia tidak mau lagi. Tapi, jika suatu saat nanti Ganis memanglah hanya sebuah pengganti.
Saga menghela nafas panjang, otaknya tengah bekerja keras mencoba menyimpulkan. Apakah Ganis hingga detik ini hanya berpura-pura mencintainya?
Seolah tersadar dengan lamunanannya, tak sekalipun gadis itu mengatakan jika dia mencintai Saga.
Sudah tepat 6 bulan, dia kembali mengingat lembaran surat perjanjian antara Ganis dan Anaya, apakah gadis itu akan meninggalkannya setelah ini? Apakah dia akan meminta cerai darinya dan meninggalkannya begitu saja.
Bahkan membayangkannya dia tidak sanggup, terlalu banyak kenangan yang mereka ciptakan, yang secara tidak sadar membuatnya bahagia dengan hidupnya yang sekarang.
Senyum merekah di bibir Saga saat mengingat segala hal yang berkaitan dengan gadis itu, pertemuan pertama dengan Ganis di kantor Anaya, segala kebenciannya, serta kedekatan, hingga pada suatu saat dia benar-benar tidak mampu menahan perasaan cintanya pada gadis itu.
“Sudah sampai Tuan” suara sekertaris Li membuyarkan lamunannya yang berkelana di masa lalu itu. dilihatnya sekeliling, sebuah halaman luas dengan rumput berwarna hijau. Hari sudah malam, gelap menyelimuti sekitar.
Saga turun dari mobil, dia memastikan jika Anaya ada di rumah saat ini. Seorang asisten rumah tangga mengangguk saat Saga bertanya keberadaan Anaya. Saga dipersilahkan masuk ke dalam rumah.
Wajahnya tetap tenang, amarahnya tersimpan sangat rapi sehingga tak seorang pun tahu jika amarah sedang menguasai dirinya.
Anaya tersenyum manis ke arah Saga, gaun tipis warna biru muda dikenakannya, sapuan make up agak tebal di wajahnya membuatnya terlihat sedikit berbeda.
“Buatkan minuman untuk Tuan Saga” perintah Anaya pada sisten rumah tangganya, disambut anggukan kepala lalu meninggalkan mereka berdua.
“Ada sesuatu kah?” Anaya nampak tenang.
“Jadi…kamu mengirimnya hanya untuk balas dendam kepada keluargaku?” tanpa basa basi Saga mencetuskan kalimatnya. Anaya nampak sangat tenang, seolah sudah menguasai situasi yang akan terjadi.
“Saga…jangan membicarakan masa lalu saat ini” ucapnya dengan wajah tanpa senyum, matanya menatap Saga tajam.
__ADS_1
“Ini bukan masa lalu, karena ini berkaitan dengan hidupku saat ini”
“Bukan…ehm…maksudku, aku sudah selesai dengan dendamku, dan aku ingin memulai dengan yang baru denganmu, nampaknya aku telah jatuh cinta padamu, sungguh” ucapnya enteng.
Saga tersenyum hambar, merasa dipermainkan Anaya sejak awal. Hanya karena dia jatuh cinta padanya, dia tidak tahu jika Anaya dari dulu hanya berpura-pura mencintainya.
“Aku jatuh cinta padamu sekarang, dan aku ingin memulainya kembali”
Langkah kaki mendekat, membawa dua gelas minuman berwarna merah.
“Silahkan Tuan…Nona”
Anaya mengibaskan tangan menyuruh asisten rumah tangga tersebut segera berlalu.
“Semudah itu?” selidik Saga, jarang sekali dia harus berbicara banyak pada orang lain. Namun kali ini dia harus mendapatkan apa yang harus dia dapatkan, yakni jawaban. “Hanya karena sekarang kamu sudah tahu jika keluargaku tidak membunuh orang tuamu, lalu kamu ingin kembali?” cecar Saga sambil tersenyum sinis.
“Kamu salah” Anaya mencoba bertahan.
Anaya menghela nafas berat, Saga sudah tahu semuanya.
“Salahkah aku dengan perasaanku padamu?”
“Cukup Ann!, kini berbeda, sekarang aku sudah tahu, dan…” Saga tidak melanjutkan kalimatnya, dia mengusap hidungnya dengan jarinya. “Dan…aku sudah jatuh cinta dengan pengganti yang kamu kirimkan padaku, terima kasih telah mengirimnya untukku”
Kalimat tersebut benar-benar menghantam hatinya, hancur yang begitu berserakan. Anaya menganggukkan kepala beberapa kali.
“Aku tahu kamu sangat kecewa” ungkap Anaya.
“Iya, aku tidak menyangka akan sejauh ini”
“Bukan salahku, aku juga baru tahu jika kenyataannya seperti ini bahwa orang tuaku meninggal murni kecelakaan” Anaya tercekat. Lagi-lagi dendamnya pada Barata kembali muncul.
Saga menghembuskan nafas lepas, bagaimanapun mereka tidak bisa menghindar dari takdir.
__ADS_1
“Aku mencintaimu, dan aku tidak mau kehilanganmu…aku…aku membenci dia yang ada di sampingmu” ujar Anaya emosional.
Saga menatap gadis itu datar, bagaimanapun dia pernah ada di hatinya.
“Aku minta maaf jika aku sudah kelewatan, tapi aku mencintaimu…Saga, aku…” sakit di tenggorokannya membuat suaranya tercekat.
“Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari hari-hariku, kita bisa menjadi teman, tapi tolong jangan sakiti dia lagi” Saga berdiri, bersiap pergi. "Jika kamu tetap melakukannya, maka kamu akan berhadapan denganku" ucapnya memberi peringatan.
Anaya memegang pergelangan tangan Saga, menahannya pergi.
“Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaikinya” harap Anaya.
Saga masih terdiam, baginya sudah tidak ada lagi harapan. Yang akan dia lakukan adalah mempertahankan dan melindungi Ganis.
Saga melepas tangan Anaya perlahan, lalu dia meninggalkan Anaya yang masih berdiri mematung di tempatnya. Hal terakhir yang dia lakukan tak mampu membuat laki-laki itu goyah.
Langit malam yang gelap, ditambah dengan mendung membuat suasana menjadi semakin pekat. Bagi Anaya, semuanya sudah usai, patah hatinya sudah terpampang nyata dalam pelupuk mata. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, satu hal yang harus dilakukan adalah move on.
Bagi Saga, semua usai dengan Anaya, semoga benar-benar usai. Hanya saja, Saga tetaplah Saga, dia tetap menganggap bahwa Anaya adalah teman. Tapi, baginya saat ini, lebih baik dia tidak menjalin komunikasi dalam waktu dekat. Setidaknya dia butuh waktu untuk menyembuhkan luka-luka dalam dirinya, terlebih rasa penyesalan yang secara tidak langsung dia tuduhkan pada Ganis. its enough!
Dia sudah menyelesaikan semuanya, berharap situasi akan kembali lagi. Hangat dan menyenangkan. Sudah saatnya dia membuat hubungan pernikahan itu lebih nyata dan tidak hanya di atas kertas.
Mobil melaju perlahan, tidak ada percakapan antara Saga dan Sekertaris Li.
Hampir tengah malam mobil tiba di depan rumah Saga, security membukakan pintu gerbang, mobil perlahan masuk ke halaman yang luas itu.
Saga perlahan membuka pintu dan keluar dari mobil, setelan jas sudah dilepas sedari tadi, dia membawanya dengan tangan kiri, rasa lelah menguasai dirinya saat ini. Sekertaris Li segera pamit pulang.
Saga melangkahkan kaki perlahan, matanya menangkap sebuah bayangan yang sangat dia kenal. Gadis itu terperangah melihat dia datang, dia berdiri saat melihat Saga datang. Koper berada di dekatnya, dibiarkan berdiri. Saga menghentikan langkahnya dengan jarak hanya beberapa meter dari gadis itu.
Meskipun gelap, dia bisa melihat sorot mata yang ditunjukkan oleh gadis itu.
Gaaaskeun yuk, like, vote, komen, gift, sebanyak-banyaknya....dan..follow Author...thank you...^^
__ADS_1