
Ganis sudah bersiap untuk berdandan, malam ini dia akan menghadiri pesta pernikahan Radian. Ganis membuka lemari, memilih baju yang sekiranya cocok dikenakan pesta nanti malam. Matanya menyapu semua isi lemari, tidak ada yang mewah, hanya gaun standart yang dia miliki. Ganis kembali menutup pintu lemari. Memikirkan apakah
dia harus keluar membeli baju baru. Ah tidak, dia tidak mau dianggap menghamburkan uang hanya untuk pergi kondangan. Ini bukan gaya hidupnya, Ganis membuka kembali lemari baju, mengeluarkan gaun warna hitam tanpa lengan.
“Ok, aku harus tampil cantik malam ini” gumamnya, dia meletakkan gaun hitam itu di atas sofa, kini dia memeriksa alat make up nya yang dia simpan di dalam lemari yang sama. “Ok, alat make up juga sudah siap”. Mengambilnya dan meletakkan peralatan tersebut di atas meja.
Ganis melirik jam dinding kamar, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, dia masih memiliki waktu untuk bersantai dan menyiapkan mentalnya untuk pesta nanti malam.
Tok...tok... tok….
Ganis menengok ke arah pintu, dia yakin pasti pelayan yang mengetok pintu kamarnya. Ganis bangun dari rebahan dan berjalan menuju pintu, benar saja seorang pelayan membungkukkan badannya memberikan hormat. Di belakang pelayan itu ada beberapa orang yang memakai seragam warna coklat tua tersenyum ramah, Ganis dapat
melihatnya dengan jelas walaupun berada di belakang pelayan yang mengetuk pintu kamarnya tadi.
“Ada apa mbak?” Ganis heran dengan kedatangan serombongan wanita yang tidak dia kenal.
“Maaf Nona, ini perintah Tuan muda”
“Untuk apa?” Ganis masih terheran. Dia kembali mengamati wanita yang ada di depan pintu kamarnya, tepatnya ada 4 orang dengan seragam yang sama, ada yang memegang kotak besar, ada yang memegang bungkusan warna hitam, mungkin saja sebuah baju, dan yang lainnya memegang tas hitam berukuran sedang.
“Maaf Nona, saya tidak tahu” ujar pelayan itu tadi.
“Selamat sore Nona, kami dari glow beauty sesuai pesanan Tuan Saga”
“Oh” Ganis masih terheran, bukankah itu nama sebuah salon kecantikan?
__ADS_1
“Kami diperintahkan untuk mendandani Nona” imbuh wanita cantik itu sambil tersenyum ramah.
Mengapa Saga harus repot-repot melakukan ini, jelek-jelek begini aku juga bisamake upsendiri. Dikiranya yang mau nikah aku atau bagaimana? Ini terlalu berlebihan.
“Oh…iya iya, silahkan” ujar Ganis ragu, sebenarnya dia tidak ingin didandani orang lain. 4 wanita tadi memasuki kamar Saga dan menata barang bawaannya, sedangkan pelayan tadi kembali turun ke lantai bawah.
Ganis duduk di depan cermin, seorang wanita dengan sigap membersihkan wajahnya sebelum memolesnya dengan foundation, setelahnya wanita itu memoleskan foundation dan kawan-kawannya, hampir 2 jam dia berada di depan meja rias. Kini penampilannya sungguh beda, dia agak pangling dengan dirinya sendiri. Ganis menatap lama wajahnya di cermin. Eye shadow matanya terlihat sangat mewah dengan warna coklat glow, lipstick warna merah gelap menghiasi bibirnya. Kini giliran seorang wanita yang lain menyisir rambutnya, tidak melakukan sentuhan yang berlebihan. Hanya digerai dan sebelah kiri rambut ditarik ke belakang hingga belakang telinga, sedangkan sisi yang lain menutup telinga.
Kini Ganis sudah berganti baju, gaun anggun warna coklat tua dengan panjang di bawah lutut itu menyempurnakan penampilannya. Seseorang yang lain berjongkok dan memasangkan sepasang high heels dengan warna senada. Untuk sentuhan terakhir, seorang wanita membuka kotak yang berisi tas mungil berwarna senada pula. Lalu
menyerahkan untuk Ganis. Mengapa dia dilayani bak ratu hari ini? Apakah benar Saga yang melakukan ini? Ini terlalu berlebihan.
“Sempurna” ujar wanita yang tadi meriasnya, sepertinya dia adalah owner dari beauty glow. Ganis tersipu, dia menganggukkan kepalanya tanda berterima kasih.
“Anda benar-benar memukai Nona” imbuh lainnya.
“Tuan Saga yang memintanya langsung kepada saya Nona, jadi saya benar-benar tersanjung dan tidak ingin mengecewakan beliau dan Nona, terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya” imbuh wanita pertama tadi.
“Baik Nona, saya dan karyawan pamit undur diri dulu”
“Terima kasih” Ganis mengantar keempat wanita itu hingga depan pintu kamarnya.
Ganis berdiri di depan cermin, memperhatikan dirinya sendiri, nampak seperti orang yang sangat berbeda. Anting panjang menggantung indah di telinganya. Apakah benar Saga yang mempersiapkan semua ini? Jika dia sudah berdandan semewah dan semahal ini, haruskah dia datang menggunakan ojek online? Seperti rencananya tadi sore.
“Dandanan ini terlalu mahal sehingga membuatku tidak percaya diri” gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, Ganis berlari dan meninggalkan cermin. High heels tadi sudah dia tanggalnya sejak para pegawai salon itu pamit undur diri, dia akan memakainya jika nanti berangkat saja. Tangannya mengelus tas warna coklat tua itu, dia sangat hafal ini adalah tas mahal, Anaya sering memakainya kala itu.
Saga melangkah, melewati Ganis. Tidak ada sapaan, dia segera membuka setelan jas dan berjalan ke kamar mandi. Ganis melirik jam dinding, nampaknya dia harus segera berangkat ke pesta pernikahan Radian, dia tidak ingin terlambat.
“Tuan….” Ganis mengetok pintu kamar mandi perlahan. Tidak ada jawaban.
“Tuan…” Ganis mengulangi panggilannya, kali ini dengan suara yang agak keras, terdengar suara gemricik air di dalam. “Aku mau pergi dulu” teriak Ganis. Namun tidak ada jawaban. Ganis masih menunggu jawaban Saga, ini adalah kebiasaannya, kemanapun dia pergi, dia harus meminta izin terlebih dahulu.
Saga keluar kamar mandi, Ganis terkejut dan agak mundur menjauhi pintu. Saga melirik Ganis, memperhatikan tampilan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ganis menunggu Saga mengizinkan dia untuk berangkat, namun belum juga ada jawaban dari laki-laki itu.
Jika dia tidak mengizinkan aku pergi, mengapa dia harus repot-repot mengirimkan salon datang ke rumah?
Saga membuka pintu lemari, mengambil baju bermotif batik warna coklat kombinasi krem.
Tunggu-tunggu, apakah dia akan ikut aku kondangan? Tidak, ini tidak bagus, aku belum siap jika banyak orang akan menanyakan keberadaanku di samping Tuan Saga.
Ganis menggelengkan kepalanya perlahan, Saga sudah berganti baju, dia memakai celana kain warna hitam dan baju batik lengan panjang, nampak sangat berbeda, baru kali ini Ganis melihat Saga memakai batik. Buru-buru dia membuang pandangan ke arah yang lain, Saga masih saja terdiam. Tangannya menyemprotkan parfum ke badannya. Seketika seisi ruangan penuh dengan wangi parfum Saga.
Saga membuka pintu kamar, terdiam di tengah pintu yang terbuka sambil menatap Ganis. Ganis tersadar, jika Saga tengah menunggunya dan memintanya untuk keluar. Ganis segera memakai alas kaki dan mengambil tasnya, dia mengekor. Dengan hati-hati dia menuruni anak tangga, high heels yang dia pakai sungguh melebihi apa yang
biasanya dia pakai, mungkin ini sekitar 10 cm tingginya, atau bahkan lebih.
“Tuan…ehm…mau ikut kondangan?” Ganis memberanikan diri bertanya saat mobil sudah meninggalkan rumah Saga.
“Kenapa?” tanyanya dingin, pandangannya ke arah jalan raya. Ganis menghela nafas panjang, sekiranya Saga sedang kumat, jurus manusia kulkas kembali keluar. Tidak ada pertanyaan lagi yang ingin dia utarakan, terserah Saga mau membawanya kemana. Atau mungkin dia akan dibawa dan diperkenalkan kepada teman-teman bisnisnya. Ganis membuka layar HPnya, sebentar lagi acara resepsi pernikahan Radian akan dimulai.
__ADS_1
Saga tidak berbicara apapun selama perjalanan, dia hanya fokus mengemudi. Ganis menjadi salah tingkah, ingin membuka percakapan, tapi nampaknya laki-laki di sampingnya sedang tidak ingin diganggu.