Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 75 : Real Wedding Party


__ADS_3

Ballroom sebuah hotel bintang lima disulap menjadi sebuah tempat yang sangat indah, sesuai dengan permintaan Ganis dan Saga. Sebuah karpet merah menghampar siap menyambut kedatangan para tamu undangan. Alunan musik sudah mulai terdengar dari dalam ballroom.


Seperti permintaan Ganis, dominasi bunga mawar benar-benar memenuhi hampir setiap sudut ruangan. Mawar putih terlihat sangat dominan.


Berbagai macam hidangan, baik masakan nusantara maupun western sudah hampir lengkap tersedia di tempat masing-masing.


Para karyawan dari Attrich’s WO yang mengenakan pakaian serba hitam terlihat berlalu lalang, memastikan semuanya baik-baik saja. Acara akan dihelat beberapa jam lagi.


Perhelatan pernikahan yang sangat akbar dan mewah itu juga tak luput dari pantauan para pewarta yang sudah disediakan tempat khusus untuk meliput.


Ganis berada di ruang rias sejak 3 jam yang lalu, MUA terkenal dari negeri ini menjadi salah satu bagian dari perhelatan besar ini. Ganis melihat dirinya dalam pantulan cermin, sungguh menakjubkan, bahkan dia seolah berbeda dari dirinya.


3 jam saja belum cukup untuk menyelesaikan riasannya. Para MUA melakukan tugasnya, jangan sampai ada hal kecil yang membuat tampilan Ganis terlihat gagal.


Beberapa orang sedang mengecek gaun yang akan dikenakan Ganis, memastikan jika gaun tersebut benar-benar sempurna nantinya. Malam ini akan benar-benar menjadi malam yang tak terlupakan buat Ganis.


“Sangat cantik” puji MUA yang sedang mengoleskan lipstick warna nude kecoklatan.


“Ah, bisa aja kak” Ganis tersenyum malu.


“Beneran Nona, aku sampai terkesima” imbuhnya sambil merapikan lipstick Ganis.


“Berkat MUA handal seperti kakak” Ganis balas memuji, MUA wanita tersebut meletakkan lipstick tadi di tempatnya, mendekatnya diri di wajah Ganis, melihat apakah masih ada yang belum rapi di wajah Ganis.


“Suatu kehormatan anda memilih kami sebagai MUA” imbuh wanita tersebut.


“Sama-sama”


Setelah selesai make up, kini giliran hair stylish yang menata rambut Ganis, dengan cepol sederhana akan membuat Ganis lebih elegan. Karena nantinya Ganis akan menggunakan sebuah mahkota yang dipesan khusus oleh salah satu perancang negeri ini yang sudah melanglang buana di luar negeri.


Satu jam cukup untuk menata rambut, hingga kini Ganis harus berganti baju dengan gaun yang ada di dekatnya. Dibantu oleh beberapa orang pegawai wanita, Ganis mengganti bajunya dengan gaun pengantin. Meskipun agak kesulitan karena besarnya gaun, namun akhirnya berhasil terpakai sempurna di badan Ganis. Sebuah gaun panjang dengan lengan panjang transparan itu nampak begitu cantik melekat di tubuhnya.


Untuk sentuhan terakhir, sebuah mahkota berhiaskan berlian berada di kepalanya. Nampak sangat sempurnya. Seseorang mengambil sepatu yang ada di dekat gaun yang tadi, dengan warna senada dan hak setinggi 15 cm, seseorang memakaikannya untuk Ganis. Dengan hati-hati Ganis melangkah, mematut dirinya di depan cermin.


“Seperti bukan aku” gumamnya. Seseorang tertawa melihat Ganis keheranan melihat dirinya sendiri.

__ADS_1


“Sangat sempurna Nona” puji salah satu karyawan WO pada Ganis.


“Terlalu berlebihan, ini berkat kerja keras kalian semua” Ganis melemparkan pujian untuk orang-orang yang membantunya.


“Sama-sama, Nona” balas mereka hampir serempak.


            Saga berada di ruang berbeda, dia sudah berganti baju dengan setelan jas yang dia pilih. Dalaman putih dan jas warna hitam, tidak banyak yang berubah dari dirinya, karena sudah terlalu sering memakai setelan jas. Tapi tetap saja, auranya nampak berbeda dari kebiasaan sehari-hari saat memakai setelan jas di kantor.


Saga mematut dirinya di cermin, hair stylish juga menata rambut Saga, agar penampilannya semakin sempurnya.


Nyonya Rima memasuki ruangan Saga, wanita itu sudah bersiap dengan sebuah gaun brokat yang sangat cantik, sebuah sanggul menghiasai kepalanya, hampir mirip penampilannya saat akad nikah Saga dan Ganis dulu. Hanya saja, aura mereke berbeda sekarang. Mereka sama-sama bahagia dan lega dengan keadaan yang mereka hadapi, karena ini adalah benar-benar pesta yang sesungguhnya.


Nyonya Rima memeluk Saga erat.


“Akhirnya, apa yang Mama dan Papa impikan terjadi juga” Nyonya Rima mengusap punggung Saga.


Saga membalas pelukan Nyonya Rima dan mengusap punggung Nyonya Rima.


“Iya Ma, hanya saja Papa tidak bisa melihat ini semua” sesal Saga, mereka melepaskan pelukan mereka.


“Iya Ma”


“Anak Mama yang tampan” Nyonya Rima mengusap pipi Saga sambil tersenyum, matanya berkaca-kaca, terharu.


“Jangan menangis Ma, ini hari bahagia untuk keluarga kita” Saga menguatkan. Nyonya Rima mengangguk.


***


Anaya mematut dirinya di depan cermin, seorang MUA khusus dia panggil ke rumahnya untuk me-make up dirinya, meskipun dia pandai merias diri, kali ini beda. Dia harus tampil cantik dan memukau.


Gaun yang dipilihkan Dera tidak mengecewakannya, sebuah gaun berwarna gold menggantung di tempatnya.


Rambutnya dicurly, dia ingin terlihat fresh dengan rambut tersebut.


Tugas MUA sudah usai, dia pamit kepada Anaya. Anaya melirik jam dinding, masih ada waktu beberapa jam untuk menghadiri acara Ganis dan Saga.

__ADS_1


Anaya berdiri dari kursinya, mendekati gaun yang siap dipakai tersebut. Dia harus datang awal ke acara tersebut.


            Suara beberapa anak-anak panti memenuhi sebuah ruangan, mereka juga bersiap memeriahkan pesta Saga dan Ganis. Disya nampak antusias, dia didapuk menjadi seseorang yang membawa cincin untuk Saga dan Ganis. Sebuah gaun warna putih di bawah lutut membalut tubuh mungilnya. Dia menggenggam erat sebuah box berisi sepasang cincin.


Bu Fatimah berada di ruangan tersebut memantau anak-anak, memastikan mereka semua tenang di tempatnya.


“Disya…kamu duduk dulu sini” pinta Bu Fatimah sambil menepuk sebuah kursi warna biru di sampingnya.


Disya nurut, dia berjalan mendekati Bu Fatimah lalu duduk di samping seseorang yang mereka panggi Ibu itu.


“Baik Bu”


“Apakah kamu senang?” tanya Bu Fatimah melihat mimik wajah Disya yang sangat ceria hari ini. Gadis kecil itu mengangguk senang. Bu Fatimah mengelus kepala gadis itu lembut.


“Sebentar ya, Ibu mau keluar dulu bertemu dengan Nyonya Rima, kalian tetap di sini ya, jangan keluar dulu” pinta Bu Fatimah. Habibi yang ditunjuk sebagai ketua tadi mengangguk sambil mengangkat dua jempolnya ke arah Bu Fatimah.


“Siap Ibu” jawabnya tegas, anak laki-laki yang berumus 10 tahun itu nampak senang.


Bu Fatimah mengangguk dan mempercayakan pada Habibi, lalu dia keluar dari ruangan anak-anak tersebut.


Seseorang masuk ke dalam ruangan, semua mata tertuju pada seseorang yang memasuki ruangan tersebut.


“Kakak siapa?” tanya Habibi, Disya turun dari kursinya mendekati Habibi. Tak sampai lama, beberapa anak yang lain akhirnya tidak memperhatikan seseorang yang baru datang, dan asyik kembali bermain tebak nama dengan jari mereka.


“Halo adik yang manis, ini kakak disuruh bawa minuman untuk Kak Ganis, tapi kakak harus mengerjakan tugas lain, kalian mau membantu?” tanya seseorang itu. Habibi mengangguk.


“Ah pintar sekali” pujinya sambil mendekati Habibi, dia mengelus rambut anak laki-laki tampat itu. “Sebentar ya, nanti ikut kakak”


“Dan kamu” seseorang itu beralih melihat Disya yang masih memegang erat box berisi cincin. “Nama kamu siapa?” tanyanya.


“Disya kak”


“Disya…nah tadi kakak bilang jika kakak ada tugas lain, ini tugas kakak” seseorang itu mengambil box cincin yang dibawa oleh Disya, awalnya Disya tidak memperkenankan box tersebut berpindah tangan darinya.


“Disya, ini perintah dari kak Ganis” umbarnya dengan senyum lebarnya merayu anak-anak tersebut. Akhirnya Disya luluh.

__ADS_1


“Ayo Habibi ikut kakak” ajaknya, Habibi mengangguk dan mengikuti langkahnya keluar dari ruangan.


__ADS_2