Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 97 : Jadilah Dirimu, Aku Mencintaimu…


__ADS_3

Setelah mengambil alih totebag warna hitam dari tangan Saga, dan setelah usai mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang mengantarnya, Ganis segera berlalu meninggalkan Saga dan masuk ke kamar mandi.


Dia meletakkan totebag tersebut di depan cermin kamar mandi, membuka totebag dan mengambil isinya. Sebuah celana hot pants jeans dan tanktop warna abu-abu, senada dengan celananya.


Agak risih Ganis melihatnya, dilebarkannya benda tersebut, dia mengamati dengan seksama.


“Muat nggak ya? Kok kecil amat?” gumamnya.


Ganis membuka baju yang dikenakannya dan menggantinya dengan tanktop dan celana tersebut, agak tidak percaya diri dengan apa yang dikenakannya, namun dia mencoba untuk merasa baik-baik saja.


Mematut dirinya beberapa kali di depan cermin, setelah merasa percaya diri, dia keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekati Saga yang tengah menonton acara olahraga di televisi. Dia berdiri tepat di depan Saga dengan pakaian super minim tersebut.


“Ayo kita jalan-jalan” ujarnya sambil merentangkan kedua tangannya, senyumnya mengembang.


Saga yang semula rebahan, mendadak mengubah posisinya, tak hanya duduk, dia berdiri dan mendekatkan dirinya pada Ganis.


Pandangan matanya menyapu tubuh Ganis, dari ujung rambut yang digerai hingga ujung kaki yang masih telanjang belum mengenakan sandal ataupun sepatu.


Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, sejauh ini dia tidak sekalipun melihat Ganis berpakaian seperti itu, bahkan di rumah pun.


Ganis nampak tersenyum, kali ini dia melipat kedua tangannya di dada, seolah sedang menantang Saga.


“Bukankah kamu suka dengan yang seperti ini?” ujar Ganis seolah memprovokasi.


Saga tidak mengatakan apapun, dia menatap Ganis lekat, hatinya terasa kelu melihat istrinya seperti itu, dia yakin Ganis sedang tidak baik-baik saja sekarang.


“Ayo kita keluar” Ganis menggamit lengan Saga, mencoba menarik laki-laki itu, namun Saga masih berdiam di tempatnya.


Saga menarik tangan Ganis, melihat matanya lekat-lekat, kini senyum Ganis memudar, dilihatnya mata Saga. Nampak berkaca-kaca.


“Kenapa?” tanya Ganis masih melihat mata Saga.


Saga melepas genggaman tangannya, dia berjalan ke arah meja yang ada di samping ranjang. Di sana dia meletakkan jaket denimnya, dia mengambil jaket tersebut dan segera kembali ke arah Ganis yang menoleh ke arah Saga.

__ADS_1


Saga menutupi tubuh Ganis yang hanya dibalut dengan tanktop warna abu-abu tersebut dengan jaket denimnya. Tubuh mulus itu kini terbalut dengan jaketnya. Ganis tidak berkata apapun dan hanya diam mendapatkan perlakuan dari Saga.


“Dengar…dengar…aku tidak akan pernah membiarkan kamu memakai pakaian seperti ini di depan banyak orang” Saga mengucapkan kalimat tersebut dengan penekanan di setiap kata, Ganis dengan seksama mendengarkan, wajahnya mendongak melihat wajah Saga. “Jangan berpikir aku akan tertarik dengan hal begini, sehingga kamu melakukannya, tidak…jangan pernah kamu berpikir demikian” ucapnya sambil memegangi kedua lengan Ganis. “Aku mencintai kamu dengan segala kelebihan dan kekurangan kamu”


“Tapi…” Ganis mencoba memotong.


“Kamu kenapa? Kamu cemburu? Kamu cemburu pada Salwa? Atau siapa? Katakan!” teriak Saga.


Ganis diam saja, dia sedang merenungi dirinya, hal yang membuat hatinya galau. Mengapa dia menjadi menyebalkan seperti ini, bahkan ini bukan masalah yang besar sebenarnya. Ganis menunduk, mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Saga yang berkaca-kaca.


“Bilang sayang…apa yang harus aku lakukan?” tanya Saga, dia menunduk lalu memegang dagu Ganis, mengangkatnya, agar mata mereka kembali beradu.


“Jika kamu merasa Salwa yang menyakiti hatimu, maka aku akan dengan segera memecat dia, sekarang kalau memang itu yang membuat hatimu terluka” ucap Saga tegas.


Ganis buru-buru menggelengkan kepalanya, “Tidak Mas…jangan, bahkan dia tidak salah apa-apa padamu” ujar Ganis dengan segera.


“Tolong katakan aku harus bagaimana?” tanya Saga.


Ganis kembali menggeleng, “Tidak Mas, maaf semua ini salahku, aku yang akhir-akhir ini terlalu sensitive dan suka marah tidak jelas kepadamu, maafkan aku” Ganis memeluk Saga, Saga menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, dia merekatkan tangannya ke tubuh Ganis, menenangkan istrinya.


Ganis merasa tenang, dia menangis, mengapa dia melakukan hal itu, pakaian mini yang tadi sekilas dia lihat ada di salah satu butik sekitaran hotel dia menginap, dengan ide gila yang tiba-tiba muncul, dia meminta salah satu pelayan hotel membelikannya untuknya. Berharap agar Saga senang melihatnya, malah sebaliknya, Saga benar-benar melindunginya dan tidak ingin sama sekali Ganis mengenakan pakaian yang serba mini itu.


“Aku mencintai dirimu apa adanya, Ganis. Jadi tolong…jadilah dirimu sendiri”


Ganis mengangguk, dia mengusap air matanya, tangannya masih mendekap tubuh Saga.


Tak ada niat sedikitpun terbersit dalam otak Saga untuk menikmati setiap lekukan tubuh dari wanita manapun yang dia lihat, terutama oleh Salwa, orang yang dia yakini membuat Ganis cemburu.


“Ayo, pakailah piyamamu, kita tidur, sudah malam” ajak Saga, Ganis mengangguk. Dia masih merapatkan jaket denim milik Saga ke tubuhnya. Dia berjalan ke arah lemari, membukanya perlahan dan mencari piyama.


Setelahnya dia kembali ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, setelah berganti pakaian tersebut dengan piyama, Ganis melemparkan baju yang tadi ke tempat sampah yang ada di kamar mandi.


Dia tersenyum, di satu sisi dia malu karena sudah salah sangka terhadap Saga, dia menyangka jika Saga akan menyukai apa yang dia lakukan, di satu sisi dia bahagia karena Saga ternyata menyukai dirinya apa adanya. Tidak harus menjadi orang lain untuk dicintai.

__ADS_1


Ganis keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan piyama warna abu-abu, senada dengan piyama yang dikenakan Saga. Saat Ganis mengganti piyama di kamar mandi, dia berganti piyama di dekat lemari. Kini Saga sudah merebahkan dirinya di ranjang.


Melihat Ganis keluar, Saga menepuk ranjang di sebelahnya, memberikan pesan jika Ganis diminta untuk segera tidur di sampingnya. Ganis tersenyum, dia meletakkan jaket Saga terlebih dahulu sebelum memenuhi keinginan Saga.


Ganis duduk di ranjang, menghadap Saga. Dia tengah duduk bersila, rambutnya sudah dikuncir rapi.


“Sayang…”


“Apa?” sahut Ganis sambil memainkan guling yang dia peluk.


“Ehm…ini tanggal berapa ya?” tanya Saga sambil mencoba mengingat.


“Kenapa memangnya Mas?” Ganis juga mencoba mengingat tanggal. “Tanggal 8 Mas” sahut Ganis kemudian.


“Ehm…kamu tidak sedang libur kan?” tanya Saga sambil senyum-senyum.


 “Eh” Ganis menyipitkan mata.


“Biasanya kamu tanggal tua mendekati pergantian bulan kan datang bulan, sekarang aman kan?” Saga menaik turunkan alisnya.


“Eh iya Mas” Ganis mencoba mencerna.


“Asyiiik” teriak Saga kegirangan, seperti anak kecil yang mendapatkan permen. “Eh tapi kamu sudah tidak pusing kan?” Saga duduk menghadap Ganis sambil memegang kepala Ganis. Ganis menggeleng. “Yeeeesss….” Teriaknya sambil mengepalkan kedua tangannya ke udara, Ganis tertawa melihat ekspresi Saga.


“Apaan sih Mas?” Ganis tertawa melihat tingkah Saga.


“Aku membawamu kesini tanpa perhitungan sayang, tapi aku beruntung, liburan kamu sedang tertunda, sehingga kamu bisa menunaikan tugas mulia” ujarnya sambil tertawa. Ganis nampak ikut tertawa melihat ekspresi Saga, lalu dia memukul Saga dengan guling.


“Aku tidak butuh melihatmu mengenakan pakaian yang serba mini, terserah orang lain, tapi kamu jangan. Aku mencintaimu karena kamu menjadi dirimu sendiri, bukan menjadi orang lain, bagiku itu lebih dari cukup” ujar Saga dalam hati, dia melihat istrinya tersenyum dan tertawa sambil memukulinya dengan guling.


Canda tawa terdengar membahana di dalam kamar, menikmati waktu berdua di malam yang panjang, mencurahkan segala cinta dalam hati mereka berdua.


 

__ADS_1


Yang menunggu kehamilan Ganis, wait ya...tetap ikuti kelanjutan ceritanya...jangan lupa like dan vote...


__ADS_2