
Ganis masih menatap langit dan belum menjawab pertanyaan Saga, jika ditanya tentang kesedihan, maka hidupnya sudah terlalu banyak berteman dengan kesedihan. Jatuh bangun karena kesedihan, menangis, terluka, bangkit dan sedih lagi.
“Aku menganggap sedih itu adalah teman, kadang dia ada, kadang dia pergi, dan yang aku lakukan adalah menikmati, kita tidak bisa lari dari kesedihan, yang bisa kita lakukan adalah menghadapinya” Ganis berbicara sambil menerawang. “Nikmatilah, seperti Tuan menikmati mie itu, berasa tidak sehat, tapi sesekali boleh lah” Ganis menambahkan. Ternyata mie yang ada di tangan Saga sudah tandas, Saga meletakkan bungkus mie itu di depannya. Ganis menuangkan air ke dalam gelas untuk Saga, tanpa aba-aba, Saga meraih gelas yang berisi air, lalu segera meneguknya. Terasa kenyang, bahkan dia baru ingat jika malam ini dia tidak sempat makan malam.
“Saat sedih, lakukan apa yang ingin Tuan lakukan, asal itu tidak merugikan orang lain, jika ingin bernyanyi, maka bernyanyilah meskipun suara kita sumbang, menangislah tanpa perlu risau memikirkan gender, karena itu akan melegakan”
Saga menoleh ke arah gadis itu, kalimatnya nampak bisa dia cerna dan masuk akal, selama ini dia tidak pernah malakukannya.
“Tuan, aku memang belum pernah merasakan apa yang namanya patah hati, tapi nampaknya itu sangat menyakitkan, mungkin akan menjadi luka yang begitu lama di hati Tuan, tapi percayalah, bahwa luka itu akan sembuh seiring berjalannya waktu”
“Meskipun tanpa obat?” tanya Saga.
“hem hem…, obatnya hanya hati Tuan sendiri”
“Kamu seperti sedang berteori” Saga tersenyum kecut.
“ha..ha...nggak gitu Tuan, aku merasa itu yang memang aku rasakan dan aku lakukan saat aku merasa sedih, kan tadi Tuan tanya, ya aku jawab”
“Ya ya ya” ucap Saga sambil menatap langit. Berbicara dengan gadis ini terasa menyenangkan.
“Percayalah, hati Tuan akan sembuh” Ganis tersenyum menyeringai.
__ADS_1
“Apa aku terlihat sangat terluka dan nampak rapuh?”
Ganis tersenyum kecil, lalu menatap wajah Saga, nampak tidak bergairah, matanya sayu dan nampak memendam sesuatu.
“Apa perlu aku ungkapkan?” Ganis balik bertanya.
“Memangnya kamu tahu?”
“Sedikit banyak, ada beban berat yang ada hati Tuan”
“Kamu sepertinya memang dukun, dan kamu mencoba memberikan jampi-jampi sekarang? Hah?” ucap Saga. Ganis terkekeh, dari kemarin Saga masih saja membahas tentang dukun, bisa-bisanya pikirannya mengarah kesana. “Kamu menakutkan” imbuh Saga.
“Nah itu benar, kalimat terakhir” Saga mengacungkan telunjuknya dekat wajah Ganis.
“Tapi kenapa?” Ganis mengerucutkan bibirnya.
“Masih bertanya kenapa? Kamu datang tiba-tiba ke dalam hidupku, menjadi istriku, dan…membawa makanan ke kamarku, itu pelanggaran” ocehnya.
“Terkadang takdir itu seperti kesedihan, dia datang tiba-tiba tanpa kita inginkan. Begitu juga aku, tidak pernah terpikirkan sama sekali aku akan berada di sini, menjadi istri Tuan” Ganis menjawab diplomatis. Seketika suasana hening, tidak ada percakapan di antara mereka. Mereka sama-sama tidak ada pilihan.
Jika membahas tentang kesedihan, tidak akan habis hanya dengan waktu semalaman bagi Ganis. Hidupnya yang sulit terlalu banyak cerita menyedihkan. Sementara Saga terdiam, diam-diam merenungkan ucapan Ganis tentang kesedihan. Terlalu konyol memang jika dia rapuh hanya gara-gara patah hati.
__ADS_1
“Aku tidak tahu seberapa kuat Tuan menanamkan cinta untuk Nona Anaya, tapi aku yakin cinta itu memang kuat, buktinya Tuan berada di ruang patah hati yang hebat. Padahal, ehm…ehm….Tuan punya segalanya, dan bisa saja Tuan mendapatkan banyak gadis, tapi nyatanya nampaknya itu sulit bagi Tuan untuk berada di lain hati”
“Kamu benar-benar seperti sudah sangat mengenalku?”
“Aku hanya menebak Tuan, karena kuatnya luka yang Tuan rasakan, aku merasa aura di sini menjadi suram” Ganis merentangkan kedua tangannya, kali ini dia sedang bercanda. “Atau Tuan cobalah untuk liburan, kali aja setelahnya luka di hati akan sedikit berkurang”
“Hah….kamu memang aneh”
Ganis tertawa renyah, “Bagaimana rasanya mie tadi? Enak kan?” Ganis mengulang pertanyaan. “Sekali-kali Tuan merasakan”
Dalam hati Saga, dia senang karena mendapatkan pengalaman baru makan mie instan, ternyata tidaklah buruk berada di balkon kamarnya tengah malam dan menikmati makan malam mie instan. Bahkan tanpa dia akui, dia menikmatinya. Sejenak, ingatan tentang Anaya terlupakan.
“Sudah malam, aku mau tidur, ingat besok kamu aku izinkan untuk menyiapkan bajuku. Oh ya, hanya karena aku berbicara banyak padamu, lantas kamu jangan merasa aku akan suka dengan kamu!” Saga berlalu meninggalkan Ganis, merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. Ada kelegaan yang dirasakan oleh Saga. Dia tersadar, selama ini dia sibuk dengan dirinya sendiri, tidak ada waktu untuk berteman akrab dengan siapapun. Dan baru kali ini dia benar-benar bisa berbicara akrab layaknya sedang mencurahkan isi hatinya pada seorang teman. Kalimat-kalimat dari Ganis sedikit membuka hatinya, nasehat untuk liburan pun bisa jadi salah satu alternatif yang akan dia rencanakan dalam waktu dekat.
Ganis sibuk membersihkan bekas tempat mie, setelahnya dia menutup balkon kamar dan menutup gordennya, dan segera merebahkan diri di sofa warna krem, tubuhnya ditutup selimut, hawa AC kamar terasa menusuk tulang. Ada kelegaan di mana dia menemukan jalan untuk bisa dekat dengan Saga. Waktu 6 bulan bukanlah waktu yang panjang untuk bisa membuat Saga jatuh cinta padanya, dan jika misi itu tidak berhasil, maka dia harus berurusan dengan Anaya. Jangankan 6 bulan, dengan melihat keangkuhan Saga, waktu 6 tahun pun dirasa tidak akan cukup membuat Saga jatuh cinta padanya. Pengaruh Anaya begitu kuat untuk Saga saat ini, seolah tidak ada celah bagi orang lain untuk membuka hati Saga.
Ganis merasa tidak adil saat Anaya menyuruhnya untuk membuat Saga mencintainya tanpa memberi tahu hal apa yang bisa dilakukannya untuk mendapatkan hati Saga. Apakah dia harus cantik seperti Anaya? Haruskah dia berpakaian seksi agar Saga tertarik?. Kini, dia tahu apa yang harus dilakukan, Saga butuh teman bicara, dan dia akan memanfaatkan keahliannya sebagai pendengar yang baik untuk lebih dekat dengan Saga.
Saat SMA dulu, sebenarnya dia ingin kuliah dan mengambil jurusan psikologi, dia sangat menyukai hal-hal yang berbau kesana. Karena keadaan, terpaksa Ganis menunda untuk tidak melanjutkan kuliahnya.
“Maaf Tuan, tapi aku harus membuat Tuan jatuh hati padaku” bisiknya di balik selimut. Seperti bisikan orang jahat yang memiliki rencana jahat pada seseorang, ada rasa bersalah yang memenuhi hatinya, tapi keadaan ini memang yang harus dia lakukan. Ganis berharap semoga hati Saga lekas pulih dan melihat dunia baru yang lebih menyenangkan.
__ADS_1