Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 48 : Ingin Hilang Ingatan


__ADS_3

Ganis menepuk-nepuk pipinya, apakah dia sedang bermimpi dengan kejadian tadi? Hampir semua mata tertuju padanya dan Saga tadi. Andai saja dia bisa berlari, maka dia akan berlari pada saat itu juga. Tapi, apalah daya, badannya terasa kaku. Kejadian itu begitu cepat dan mendadak. Ganis memegang bibirnya, ciuman pertamanya sudah direnggut oleh Saga, memang bukan hal aneh, karena Saga adalah suaminya.


“Ciuman pertama yang sungguh tidak romantis seperti di film-film” celetuknya sambil memainkan busa di bath tub. Ganis sedang berendam di bath tub untuk menenangkan dirinya. Setelah kejadian tadi, rasanya dia ingin menghilang saja dari acara yang belum selesai itu. Karena acara gathering baru akan berakhir esok hari. Dia malu muncul di hadapan semua orang.


Ganis menggosok-gosok lengannya, ingatannya kembali pada momen di mana Saga dengan cepat merampas ciumannya.


“Tidaaaak” Ganis menutup wajahnya, terasa panas. “Aku malu” ucapnya.


Ceklek….


“Ehm…kamu mandi?” Saga membuka pintu kamar mandi, hanya kepalanya saja yang masuk, sementara badannya masih di luar pintu.


“Iya” jawab Ganis enteng lalu kembali memainkan busa.


“Aaaaaaaaaaaaa kenapa Tuan masuk tanpa permisi??” Ganis berteriak kencang, dia baru sadar jika Saga membuka pintu kamar mandi. Saga dengan cepat menutup pintu kamar mandi.


“Kamu yang salah, mengapa mandi tapi tidak mengunci pintu?, aku pikir tidak ada orang, lagian tidak ada suaranya” Saga membela diri.


“Tuuuuuaaaannn!” teriak Ganis lagi. Dia memukul mukul air yang ada di bath tub, bibirnya manyun semanyun-manyunnya, setelah kejadian ciuman dadakan, kini Saga melihatnya sedang mandi, meskipun dia sedang berendam di air penuh busa, tetap saja dia sedang mandi.


“Cepetan mandinya, aku juga mau mandi, sebentar lagi acara makan malam dan masih ada acara lagi di bawah!” Saga berteriak.


“Aku malu, aku nggak mau keluar” sahut Ganis. Saga tersenyum mendengar jawaban gadis itu, dia bertingkah sangat aneh sejak kejadian tadi siang.


“Kenapa harus malu? Lagian aku tidak lihat apa-apa” Saga masih membela diri.


“Tuan lihat aku lagi mandi”


“Haiiiish…apanya…, nggak ada yang bisa dilihat, nggak menarik” Saga tersenyum jahil.


“Apa? Awas ya Tuan!”


Ganis memperhatikan tubuhnya, "Apa benar tidak ada yang menarik dari tubuhku?" kalimat Saga seakan menjadikannya insecure.


“Cepetan!”


"Iya..iya"


Ganis keluar dari kamar mandi, wajahnya cemberut. Saga melihatnya, dia menahan senyum.

__ADS_1


“Mandi saja lama sekali, kan gantian, mandi lama-lama juga sama saja kan?” Saga meledek. Ganis melihat Saga dengan mata sinis, ingin rasanya dia memukul laki-laki itu.


“Apa?” Saga kembali ingin meledek, menjahili Ganis ternyata menyenangkan juga.


“Cepetan mandi, aku sudah lapar” Ganis bergumam.


“Jadi sekarang nunggu aku dulu ya?” Saga kembali berulah.


“Ok, aku mau makan duluan, Tuan silahkan turun sendiri” Ganis menatap gemas.


“Ha..ha..merajuk dia” Saga mendekati Ganis, dekat hampir tidak ada batas. Ganis memundurkan kakinya selangkah, Saga maju selangkah. Tidak ada kalimat yang keluar, tatapan matanya tajam.


“Ma…mau apa Tuan?” Ganis mencoba mendorong Saga.


Tangan Saga meraih lengan tangan Ganis, memeriksa luka gadis itu.


“Apa ini sakit?” ujarnya memperhatikan. Dilihatnya luka itu diplester. Ganis menggeleng pelan, baginya luka itu hanya luka kecil, tapi dalam hatinya dia merasa tersanjung, Saga perhatian juga.


“Kamu harus mengganti plesternya, agar tetap bersih” Saga mendekati laci dan mengambil plester luka, lalu kembali mendekati Ganis. Dibukanya perlahan plester yang menempel di siku tangan Ganis, lalu dia menggantinya dengan yang baru. Ganis hanya terdiam menerima perlakuan yang dia dapatkan. Setelahnya, Saga segera menuju kamar mandi.


Setelah menata rambut dan memakai make up, Ganis segera turun ke bawah untuk makan malam tanpa menunggu Saga terlebih dahulu. Sudah banyak orang yang berada di ruangan tersebut, mereka sedang menikmati makan malam dan menanti acara malam ini. Ganis mengamati sekitar, berusaha percaya diri dan melupakan kejadian tadi siang. Tangannya mengambil menu makanan yang ada di meja, dia sengaja makan bersama orang-orang dan tidak makan di tempat VIP.


“Nadia?” Ganis menoleh ke belakang dan dilihatnya Nadia tersenyum manis.


“Apakah Nona baik-baik saja?” Nadia nampak masih khawatir.


“Eh iya, aku baik-baik saja kok, kamu sudah makan belum?” tanya Ganis ramah. Nadia mengangguk, dia semakin menyukai Ganis melebihi saat Ayahnya bercerita, dia sangat baik.


“Ehm..” suara deheman berada di samping telinga Ganis.


“Eh Nona, permisi, saya kesana dulu ya” Nadia membungkukkan badannya. Ganis sudah snagat hapal dengan suara deheman itu. Dia tidak menyahut. Saga menarik pergelangan tangan gadis itu dan mengajaknya ke dalam ruang makan VIP. Hanya mereka berdua di sana.


“Kamu benar-benar meninggalkanku” gerutu Saga. Ganis menikmati makanan yang dibawanya dari tempat makan yang tadi.


“Kenapa Tuan aneh sekali hari ini?” ucap Ganis tanpa memperhatikan wajah Saga. Saga duduk di samping Ganis, tangannya terlipat di dada. Dia menoleh ke wajah gadis itu, tapi yang dilihat masih saja menikmati hidangan seafood dengan nikmatnya.


“Ambilkan aku makan!” teriak Saga.


“Ehm?” Ganis menoleh, kunyahan makanannya terhenti.

__ADS_1


“Ambilkan aku makan!” ucapnya lagi. “Kamu nggak budek kan?”


Ganis beranjak, meninggalkan piringnya di kursinya. Lalu mengambil piring dan mengambilkan makanan untuk Saga. Saga tersenyum melihat tingkah polah Ganis.


“Kenapa dia sangat aneh hari ini?” gumamnya sambil melirik Saga yang sedang makan.


“Kamu yang aneh, hanya karena sentuhan sekali saja sudah menggila” ujarnya sambil


tersenyum mengejek.


“Hah…Tuan itu adalah ciuman pertamaku dan itu terjadi sama sekali tidak romantis” cerocosnya.


“Ha..ha..ha…jadi kamu menginginkan ciuman yang romantis denganku?” Saga membuat Ganis semakin terpojok.


“Mak..maksudku bu..bukan seperti itu” Ganis salah tingkah.


“Baik, kita lakukan sekarang” Saga meletakkan piring di kursi sebelahnya.


“Tidaaaak” Ganis menggelengkan kepalanya, dia merasa sangat geli melihat Saga semakin ganas menggodanya. Tawa Saga meledak melihat Ganis.


“Ayo cepat keluar, acara malam akan segera dimulai” Saga bangkit dari kursinya, mengambil segelas air dan meneguknya.


“Memangnya ada acara apa lagi, Tuan?”


“Makanya, kalau ada urutan acara itu dibaca, bukan malah mikir romantisnya ciuman” Saga mendorong dahi Ganis dengan jari telunjuknya. Ganis mengikuti Saga, ikut berbaur dengan para peserta gathering yang sudah bersiap di ruang aula lainnya.


“Yuhuuu selamat malam semuanya!” teriak MC yang sama seperti tadi pagi. “Masih semangat semua ya? Apalagi yang tadi siang ehm ehm” ujarnya sambil tertawa. Ganis menoleh ke arah Saga.


“Tidak usah kamu hiraukan, dia memang begitu” ujar Saga seakan tahu apa yang akan diucapkan Ganis.


“Memangnya dia siapa?” Ganis merasa kalau MC itu sudah sangat akrab dengan Saga.


“Richard, temenku dari jaman SMP, memang begitulah pembawaannya, laknat” ujar Saga sekenanya, Ganis tertawa kecil mendengar Saga mengucap laknat pada temannya.


“Yang tadi siang, boleh ya nanti menyumbangkan suara peraknya” imbuh MC tadi. Saga terdiam.


“Terusin aja, kalau mau gaji event kamu nggak aku bayar” gumam Saga, Ganis tertawa mendengarnya. Baru kali ini ada orang yang bisa semena-mena pada Saga. Memang benar-benar teman laknat. Ganis terkekeh melihat wajah Saga.


Acara malam tersebut diisi dengan penyerahan hadiah kepada pemenang lomba permainan hari ini, kemudian diisi dengan hiburan-hiburan musik hingga tengah malam, kemudian esok paginya mereka akan kembali pulang ke tempat masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2