
Nyonya Rima memanggil Saga setelah makan malam, sementara Ganis berada di ruang keluarga sedang menonton televisi ditemani oleh Dini. Sesekali terdengar canda tawa, mereka sedang menonton acara komedi. Tidak lupa Dini menyiapkan camilan untuk Ganis.
Saga yang tidak biasanya dipanggil oleh Mamanya secara diam-diam, Nyonya Rima nampak kurang ceria hari ini.
"Ada masalah apa Ma? tadi katanya arisan di rumah Budhe Sarah?" Saga menghempaskan tubuhnya di salah satu bantalan sofa.
Nyonya Rima duduk tidak jauh dari Saga, ruangan yang mereka gunakan untuk ngobrol tidak jauh dari ruang keluarga di mana Ganis berada. Namun pembicaraan itu tidak akan terdengar oleh Ganis dan Dini.
"Saga...Budhemu...lagi pusing"
"Budhe Sarah?" Saga mengernyitkan dahinya. Nyonya Rima mengangguk. "Kenapa Ma? sakit?"
Nyonya Rima menggeleng, dia menghela nafas panjang. Meskipun ini bukan urusan inti keluarganya, tapi dia merasa harus ikut membantu menyelesaikannya, begitu juga Saga. Karena tinggal dialah saudara laki-laki yang dipunyai.
"Carolina pulang" cetusnya.
"Memangnya sudah selesai dia kuliah? kan baru jalan belum ada setahun"
"Maka dari itu, dia hamil" ucap Nyonya Rima tanpa basa-basi. Saga terkejut mendengarnya, yang semula wajahnya nampak santai, kini dia agak bengong.
"Iya, dia pulang karena hamil" gumamnya.
Saga mengusap tangannya dengan permukaan tangan kanannya, meskipun Carolina adalah saudara yang menjengkelkan, mendengar masalah ini membuatnya cukup geram, dan juga kasihan.
"Gila tuh anak, bukannya kuliah yang bener, malah bikin malu keluarga, dia tidak pernah mikir jika dia adalah anak yang digadang-gadang menjadi penerus keluarganya" Saga geram dan malah marah-marah meluapkan gundah hatinya.
"Sudah...kamu kok malah marah-marah, Mama ini mengajak diskusi gimana enaknya, bantulah Budhemu" Nyonya Rima menenangkan Saga.
"Suruh dia nikah lah Ma, suruh Bapaknya tanggung jawab!" kesalnya.
"Tadi sebelum pulang, Mama juga sempat bicara sama Budhemu, ya satu-satunya menikahkannya dengan calon Bapaknya"
"Dasar bocah badung!" umpatnya.
"SSttttt...sudah"
"Mama sudah tahu siapa bapaknya?"
Nyonya Rima menggeleng, "Yang pasti dia bukan bule, katanya sih temannya yang kebetulan kuliah di sana juga"
"Sama-sama gila" Saga kembali kesal dibuatnya.
"Masalahnya Carolina takut jika Budhemu menolak"
"Manusia macam Carolina punya rasa takut?" Saga tertawa sinis, setengah mengejek. Dia tahu sebenarnya Carolina adalah tipe gadis yang tidak takut apa-apa, mengapa dia ciut takut dimarahi Mamanya.
"Secara dia salah besar, maklum lah, bagaimanapun dia adalah sepupumu"
"Ya...ya...kalau sudah ada waktu aku kesana, bicara sama Budhe"
__ADS_1
"Jangan lama-lama, keburu besar itu perutnya" Nyonya Rima khawatir. Saga menghela nafas.
Sementara itu Ganis dan Dini masih asyik menonton acara televisi.
"Eh Nona, ini dasternya lucu lho" Dini memperhatikan daster motif patrick warna ungu muda. Ganis melihat permukaan daster yang dia kenakan, lalu dia tertawa.
"Kado dari kakanda" ucapnya sambil nyengir.
"Ha..ha...lucu banget"
"Penggemar sponge bob dia, makanya belinya banyak motif gini ini" Ganis meletakkan toples berisi camilan di atas meja. Dini mengambilkan gelas di atas meja yang agak jauh dari jangkauan Ganis, lalu dia mengulurkan gelas tersebut untuk Ganis.
"Terima kasih Mbak Din" Ganis menerima gelas tersebut dan meneguk airnya.
"He...he...lucu Nona, beneran" Dini mengacungkan kedua jempolnya.
Saga berdiri meninggalkan Mamanya setelah kiranya percakapan usai, Saga menghampiri istrinya. Dini segera pamit untuk ke belakang begitu melihat Saga menghampiri Ganis.
"Sudah selesai?" tanya Ganis. Saga mengangguk.
"Masih mau di sini atau ke kamar?"
Ganis berdiri, nampak dia sudah mengantuk dan ingin segera ke kamar untuk istirahat. Saga menarik kedua tangan Ganis. Ganis berdiri dan bersiap menuju kamar.
Tak langsung merebahkan diri di atas ranjang, Ganis ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Saga duduk di tepi ranjang, membayangkan kondisi Budhe Sarah saat ini.
Ganis mengibaskan tangan di depan wajah Saga, Saga tergagap sadar.
"Mas kenapa bengong? mikir apa?" Ganis berjalan menuju meja rias, menarik kursi mungil lalu dia duduk menghadap cermin, tangannya dengan cekatan mengambil kapas dan pembersih wajah. Nampak Saga mengusap wajahnya.
"Budhe Sarah"
Ganis menoleh ke arah Saga dengan memutar tubuhnya, tanganya masih memegang kapas.
"Kenapa Mas? sakit? kok Mama tidak cerita?" Ganis memberondong. Saga menggeleng.
"Bukan sakit fisiknya, tapi ini" Saga menepuk dadanya.
"Hah? maksudnya?" Ganis penasaran.
"Carolina hamil" ceplosnya.
"Jangan bercanda Mas" Ganis menepis, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Wajahku serius sayang...aku mikirnya malah Budhe Sarah, takutnya kenapa-napa, kalau Carolina mah bodoh amat, mau ngapain terserah" kesalnya.
"Jangan gitu Mas, bagaimanapun dia tetap saudara lho" ucapan Ganis hampir mirip dengan Nyonya Rima.
"Ya...ya..." Saga mengangguk.
__ADS_1
"Kan Papanya juga sudah nggak ada, Budhe Sarah pasti ceritanya ke Mama"
"Iya, mau nggak mau aku juga bantu mikir nanti" Saga menggaruk kepalanya.
"Nah gitu donk" Ganis tersenyum menyeringai.
Ganis kembali membersihkan wajahnya, Saga nampak berjalan menuju kamar mandi. Ganis mulai merebahkan dirinya di atas ranjang, memeluk guling lalu memejamkan matanya.
***
Sementara itu rasa malu, rasa kesal tengah dirasakan oleh Carolina. Ingatannya kembali pada peristiwa malam itu, di mana sejak dia kuliah di luar negeri, dia merasa senang dengan kebebasan yang dia peroleh. Tak ada lagi omelan bawel dari Mamanya setiap saat. Apa yang ingin dia lakukan bisa dia lakukan dengan sesuka hatinya.
Club malam dan minuman keras menjadi temannya hampir setiap malam, benar-benar merasa bebas dan sungguh menyenangkan baginya.
Hingga dia berkenalan dengan seorang pemuda yang ternyata berasal dari negara yang sama, mereka dekat, mereka memiliki kesenangan yang sama yaitu hang out di club malam.
"Siapa namamu?" tanya pemuda itu sambil membawa segelas wine.
"Caroline" jawabnya setengah mabuk.
"Nama yang cantik" pujinya sambil mengangkat gelas.
"Andrew" ucapnya memperkenalkan diri. Carolina mengangkat gelasnya lalu meneguk minuman tersebut.
Sejak saat itu mereka berteman, baik saat di kampus atau sekedar hang out berdua. Sejak saat itu juga dia merasa memiliki teman yang bisa mendengarkan keluh kesahnya. Bagaimana Budhe Sarah suka mengatur hidupnya, dan dia merasa selalu dibanding-bandingkan dengan anak dari sahabat-sahabatnya.
Rasa frustasi dia rasakan, akhirnya dia memiliki teman bicara. Tak hanya bisa mendengarkan keluh kesahnya, Andrew juga tampan, membuatnya jatuh hati untuk pertama kalinya.
Carolina kembali pada kenyataan, dia menggelengkan kepalanya. Mencoba menepis ingatan peristiwa malam itu, di mana dia dan Andrew melakukannya hingga dia kini hamil.
Awalnya Andrew tidak mau tahu dan memilih menghindar, akan tetap[i Carolina tak mau diam, jika Andrew tidak mau tanggung jawab, maka dia akan menghancurkan perusahaan Papa Andrew yang ternyata berada pada garis anak cabang perusahaan yang dulu dipimpin oleh Papanya. Yang kini sedang dijalankan oleh Arjuna Group.
Andrew ciut nyali, dalam hati kecil dia ketakutan, takut jika akan ditolak oleh keluarga Carolina yang terkenal konglomerat.
"Bagaimana kalau kamu gugurkan saja" ucapnya enteng. Carolina yang keras langsung menampar pipi Andrew.
Tidak ada tawar menawar, Carolina langsung menyeret laki-laki itu untuk kembali pulang ke tanah air, begitu juga dengan dirinya. Mau tidak mau dia pulang dan mengatakannya pada Mamanya.
Kepalang basah, namun tidaklah bijak jika dia harus membunuh bayinya.
Jantung Nyonya Sarah hampir berhenti berdetak saat mendengar berita yang menyakitkan itu, segala sumpah serapah keluar dari mulutnya. Tak ada tangisan yang keluar dari mata Carolina saat mendengarnya, dia sudah cukup tegar dan berani.
Akhirnya Nyonya Sarah marah pada keadaan dan keluarlah kalimat yang membuat Carolina harus memutar otak.
"Tidak perlu bajingan itu menikahimu, cukup lahirkan dan besarkan sendiri!" putusnya sembari meninggalkan Carolina yang tengah duduk bersila di sofa ruang tengah.
__ADS_1