
Ganis telah mengganti gaunnya dengan piyama, dia tidak menduga sebelumnya jika Saga akan mengajaknya makan malam romantis untuk pertama kalinya, apakah itu artinya Saga sudah menerimanya sebagai istri yang sebenarnya? Seringkali dia merasa bahwa ini bukan nyata.
Ganis melepaskan antingnya, dia mulai mengambil kapas dan membersihakan sisa make up nya di depan meja rias. Sementara Saga masih berada di luar kamar, berbincang dengan Nyonya Rima.
Ganis meletakkan buket bunga raksasa tersebut di sofa yang biasanya dia tempati untuk tidur, senyumnya mengembang. Saga mencoba untuk menjadi laki-laki romantis, tapi bukan itu yang dia inginkan, dia lebih menghargai Saga yang menjadi dirinya sendiri. Tapi tak bisa dipungkiri, dia menyukai sifat Saga.
“Dasar laki-laki itu, mencoba menjadi romantis, dan menanggalkan gelar kanebo kering” Ganis menyunggingkan senyum, tangannya melempar kapas bekas sisa make up ke dalam keranjang sampah yang ada di dekat meja rias.
Terdengar suara pintu terbuka, Saga memasuki kamar. Ganis memutar tubuhnya dan menghadap ke arah pintu.
“Mama bilang apa Mas?” dia penasaran dengan apa yang menjadi perbincangan Saga dan Nyonya Rima.
Saga menaikkan kedua alisnya, wajah itu, wajah kaku dan dingin itu memang sangatlah menarik, Ganis seakan terhipnotis melihatnya.
“Tidak ada, hanya membicarakan masalah resepsi”
“Oh” hanya itu yang keluar dari mulut Ganis.
“Besok-besok kita ke WO (Wedding Organizer) , kamu pilih sesukamu konsep-konsepnya mau seperti apa” Saga melepaskan bajunya, bersiap membersihkan diri ke dalam kamar mandi.
Membahas tentang WO, Pernikahan dan segala yang berkaitan membuat Ganis agak trauma, bagaimana tidak, sudah dua kali dia menyiapkan pernikahan. Tapi berujung sesuatu yang tidak menyenangkan. Meskipun kali ini menurutnya berbeda. Ganis menghela nafas panjang, tubuhnya direbahkan ke atas ranjang, tangannya meraih guling empuk yang ada di sampingnya.
Saga keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan piyama, lalu dia duduk di atas ranjang. Ganis sudah mulai memejamkan matanya sambil memunggungi Saga. Saga menyentuh Ganis dengan niat membangunkannya.
“Kenapa Mas?” tanya Ganis, dia belum sepenuhnya tertidur. Saga tersenyum nakal, Ganis membulatkan matanya.
Jangan-jangan…. Pikiran Ganis kemana-mana.
“Kenapa kamu tidur? Bukankah aku bilang…ehm…” Saga tidak melanjutkan kalimatnya.
“Mas capek? Mau dipijit?” Ganis menawarkan, dia mengubah posisinya menjadi duduk. Saga menggeleng, dilihatnya gadis itu, mengapa pertanyaannya melenceng dari apa yang ada di pikirannya.
“Biar kuambilkan balsam dulu” Ganis turun dari ranjang, berjalan mendekati laci kecil dan mencari balsam di sana. Saga hanya melihat saja.
“Mau dipijit sebelah mana?” Ganis membuka tutup balsam. Entah ide darimana tiba-tiba itu yang dilakukannya, padahal Saga tidak memberikan perintah. Saga menerima pijitan dari Ganis, dia tidur tengkurap. Ganis memijit punggungnya dengan balsam panas, sesekali dia meringis karena menahan rasa sakit.
“Dulu waktu kecil aku suka memijit punggung ayahku” Ganis membuka cerita.
__ADS_1
“Jadi siapa yang menaruh balsam di sini?” tanya Saga, karena sejak dulu dia tidak pernah menaruh balsem dari daftar obat yang ada di kamar.
“Aku” jawab Ganis enteng.
“Kenapa kamu hobby sekali membawa barang-barang aneh ke sini?” protes Saga. Ganis menghentikan aktivitasnya, lalu dia memiringkan wajahnya menatap wajah Saga yang terbenam di bantal.
“Ini berguna, kalau aku capek aku bisa menggunakannya, tidak ada yang aneh dengan barang ini” Ganis beralasan.
“Ya terserah kamu saja” Saga menyerah, tidak ingin berdebat dengan gadis itu, gadis yang suka membawa barang-barang ke kamarnya.
“Enak kan pijitanku?” Ganis bangga dengan hasil pijatannya, Saga terdiam, baru kali ini dia mendapatkan pijatan. Terasa geli dan terkadang sakit saat berada di titik tertentu.
“Sejak kapan kamu jadi tukang pijit?” Saga mencoba menikmati pijitan di punggungnya.
Ganis diam, sengaja tidak menjawabnya, dia tahu jika Saga sedang bertanya hal konyol padanya. Dia masih sibuk mengoleskan balsam dan memijitnya.
“Aku hampir tertidur karena pijitan ini, kamu tidak capek?” Saga memutar badannya, merangkul Ganis yang kini tidur sejajar, Ganis menatap mata Saga yang berjarak begitu dekat. Meskipun bau balsem memenuhi badan Saga, tidak menyurutkan pesona roti sobek laki-laki itu.
“Aku belum selesai mas” Ganis mencoba menghindar, lebih tepatnya dia tidak kuat jika harus seintim ini. Saga benar-benar menggodanya. Saga tidak peduli, Ganis terbaring di sebelah kanannya, dia menggunakan lengan kanannya sebagai bantal untuk leher Ganis.
“Jangan mencari alasan lagi” Saga memejamkan matanya, pura-pura tertidur, tangan kirinya berada di atas perut Ganis, melingkar dengan sempurna memeluk gadis itu. Ganis tidak bisa berkutik, tenaganya mendadak hilang.
“Mas…ma..mau apa?” tanyanya gugup.
Saga tersenyum nakal, matanya masih terpejam. Ganis semakin deg-degan dibuatnya.
“Kenapa aku mendengar degup jantungmu begitu kencang?” bual Saga, kali ini senyumnya semakin mengembang. Ganis mendengus, mencoba mendengarkan degup jantungnya sendiri. Tidak terdengar, hanya bisa dirasakan memang berdetak tak karuan.
Ganis memukul dada Saga pelan, laki-laki itu begitu iseng.
Saga membuka matanya, kembali menatap Ganis begitu lekat, tidak ada kalimat yang terlontar di antara keduanya, Saga mengusap perut Ganis lembut. Sementara lengan kanannya masih digunakan bantal Ganis.
“Kamu tahu, kalau aku suamimu?” tanya Saga.
Pertanyaan macam apa itu? batin Ganis.
“Dan apa kamu tahu aku ini adalah laki-laki?”
__ADS_1
Semakin ngaco…
“Dan kamu tahu jika laki-laki menginginkan…”
Sebentar-sebentar, jadi benar adanya jika Tu..eh bukan, Mas Saga mengingkan haknya padaku?
“Kita kan sudah sah menjadi suami istri, jadi..ehm…” Saga memang konyol, bahkan merangkai kata yang pas saja tidak bisa. Beberapa kali dia berdehem tidak jelas, sedangkan Ganis masih sibuk dengan perasaannya.
Jemari Saga mencoba membuka kancing baju Ganis, seperti biasa, Ganis tidak bisa bergerak dengan keadaan yang sedang dia hadapi sekarang. Terasa kaku, jantungnya ingin melompat dari tempatnya.
Saga sudah dikuasai dengan nafsunya, gadis yang ada di depannya benar-benar telah membuatnya bertekuk lutut. Bukan hanya ingin karena untuk memenuhi nafsunya saja, hanya saja karena dia sudah jatuh cinta pada gadis itu.
Satu per satu kancing piyama warna biru muda itu terlepas, Ganis memejamkan matanya lebih rapat. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Saga.
Saga mengubah posisinya, menarik lengan kanan tangannya dari leher Ganis, dan kini dia berada di posisi duduk, sementara Ganis masih terbaring dengan memejamkan matanya, Saga tersenyum melihat tingkah gadis di depannya, apakah dirinya begitu menakutkan di hadapan gadis itu. dia tidak peduli. Tugas tangannya hampir selesai melepas semua kancing piyama Ganis.
Ganis membuka matanya, dan segera mengubah posisinya menjadi duduk. Saga terkejut melihat Ganis duduk.
“Mas…” ujar Ganis menggigit bibir bawahnya.
“Apa?” suara Saga terdengar serak karena sudah dikuasai nafsunya.
“Aku…aku lupa, kalau aku sedang libur Mas” ujar Ganis lirih, matanya menatap Saga, berharap laki-laki yang ada di depannya tidak kecewa.
Saga membulatkan matanya, berharap apa yang dia dengar hanyalah prank. Ganis mengangguk memastikan jika itulah kenyataan yang sebenarnya.
Saga menepuk dahinya dengan telapak tangan kanannya, Ganis menahan senyumnya. Saga menghamburkan tubuhnya ke tubuh Ganis karena gemas.
“Awas nanti ya…tunggu tanggal mainnya” Saga menggelitik perut Ganis.
“Ampun Mas” Ganis tertawa terbahak.
Malam yang seharusnya sakral pun berubah menjadi canda tawa hingga larut bagi Saga dan Ganis.
like dan vote ya...thanks you....
__ADS_1