
Saga sudah berangkat ke kantor, seperti hari-hari biasa, Ganis berjalan-jalan di sekitar taman rumah yang sangat luas. Tidak perlu harus menuju taman kota, halaman belakang rumah Saga cukup untuk sekedar cuci mata tipis-tipis. Udaranya juga segar dengan banyaknya pohon rindang yang tidka begitu besar.
Nampak dari kejauhan, Dini sedang menunjuk ke arahnya. Nampak seorang perempuan dengan rambut panjang sedang berjalan ke arahnya setelah berbicara dengan Dini.
Ganis duduk di sebuah kursi taman sambil meluruskan kakinya, perempuan itu nampak mendekat. Tidak ada senyum, dia mendekat dan duduk di samping Ganis.
"Apa kabar Carolina?" tanya Ganis ramaah, sesaat dia menyadari jika perempuan tersebut adalah Carolina. Hening, tak ada suara selama beberapa detik. Carolina nampak menatap daun-daun kering yang jatuh di hadapannya.
Entah apa yang membuatnya datang kesini dan menemui Ganis, perempuan yang pernah dia caci maki dan benci. Bahkan rasanya dia belum berdamai dengan itu semua.
"Kamu pasti tertawa mendengar ceritaku kan?" Carolina tersenyum sinis. Ganis tersenyum, memahami ucapan
Carolina. Namun tidak sama sekali, dia merasa tidak pantas menertawakan musibah seseorang.
Ganis menggeleng sambil menatap Carolina. Carolina kembali menyunggingkan senyum hambarnya.
"Dulu aku suka menghinamu jika kamu tak layak berada di samping Saga, karena kamu miskin dan tidak jelas"
ucapnya datar. Ganis tersenyum kembali.
"Kini aku merasakan, aku harus mendapatkan pertanggungjawaban dari orang yang stratanya berbeda" Carolina
menghela nafas panjang.
"Carolina....aku tidak marah dengan apa yang terjadi terhadapku dulu, kini aku hanya bisa mendoakan agar
kamu dan bayimu baik-baik saja" ucapnya. Ganis menocba memegang erat kedua tangan Carolina.
Segan, itu yang sedang dia rasakan. Ganis tak pernah marah dengan apa yang dia perbuat dulu. Rasa malu menderanya.
"Aku malu dengan yang terjadi saat ini, seolah aku benar-benar berada pada mimpi buruk"
"Percayalah, ada orang-orang yang menyayangi kamu" Ganis masih memegang erat tangan Carolina.
"Entahlah, aku menjadi perempuan tidak guna, semua ini salahku" sesalnya.
"Tidak akan ada masalah yang tidak da penyelesaiannya, semua ada hikmahnya" Ganis masih mencoba menenangkan Carolina yang sedari tadi nampak putus asa.
"Terima kasih sudah menguatkan, aku hanya malu terhadapmu, terhadap perlakuan yang dulu aku perbuat ke
kamu"
"Tidak usah kamu pikirkan, aku sudah memaafkan kamu jauh-jauh hari"
__ADS_1
Carolina bangkit dari tempat duduknya, dia berdiri mematung. Rambutnya mengibas diterpa angin. Ganis ikut berdiri. Lalu mereka berjalan perlahan meninggalkan taman belakang.
"Aku sedang menertawakan hidupku sendiri, terlalu menyebalkan" ungkapnya.
Ganis tersenyum menyeringai, hidup memang tidak bisa ditebak. Terkadang kita di atas dan terkadang kita di bawah, inilah keruntuhan sifat kurang baik Carolina. Kembali lagi, ada hikmah di balik musibah.
"Sehat-sehat ya Carolina" Ganis melambaikan tangan pada Carolina yang sudah berada di balik jendela mobil. Tidak ada balasan, hanya saja dia mengangguk kecil. Masih terlalu aneh bagunya jiga harus terlihat akrab dengan Ganis.
***
Sekertaris Li sedang sibuk mengemudi, Saga berada di deretan kursi kedua. Dia sedang sibuk berbalas pesan dengan Ganis. Di mana istrinya menceritakan jika baru saja bertemu dengan Carolina.
Saga menyempatkan diri untuk berkunjung di salah satu anak perusahaan, guna membantu Budhe Sarah. Mobil perlahan memasuki area perusahaan tersebut. Saga keluar dari mobil, kacamata hitamnya masih dia kenakan. Setelah sampai di depan resepsionis Saga menghentikan langkahnya. Sementara sekertaris Li berada di sampingnya.
"Oh selamat siang Tuan" Sapa resepsionis perempuan tersebut sambil berdiri ketika menyadari jika Saga lah yang ada di sana. Tak lupa dia menunduk memberikan hormat.
"Apakah Pak Haidar ada?" tanya Sekertaris Li, menanyakan sosok yang akan ditemui oleh Saga.
"Oh ada, silahkan Tuan" resepsionis mempersilahkan Saga dan sekertaris Li segera ke ruangan yang dimaksud. Nampak teman dari resepsionis tersebut pun penasaran.
"Ada apa bos besar berkunjung ke sini?" tanyanya sambil berbisik.
"Entahlah, kalau tidak ada yang penting nggak mungkin. Apalagi mendadak begitu, semoga tidak ada apa-apa" ujarnya.
"Oh...Tuan Saga, Pak Li...sangat mendadak, silahkan masuk" ujarnya seraya meninggalkan kursinya dan segera berjalan menyambut kedatangan Saga dan sekertaris Li di dekat pintu.
Sekertaris Li dan Saga dipersilahkan duduk di sofa, nampak wajah orang yang dipanggil Pak Haidar itu terlihat senang dengan kedatangan Saga.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan? atau ada sesuatu yang sangat mendesak sehingga Tuan repot-repot harus datang kemari?"
Pak Haidar nampak santai namun sangat menghormati kedatangan Saga, karena memang selama ini kinerjanya sangat bagus di sini, sehingga dia yakin kedatangan Saga bukan untuk sesuatu hal yang jelek yang berkaitan dengan pekerjaan.
"Begini Pak Haidar" Saga menggantung kalimatnya, dia tidak ingin berbasa-basi dengan hal yang akan dia bahas.
"Silahkan Tuan"
"Saya ingin memastikan, apakah Andrew Sasmita itu putra Bapak?" tanyanya.
Pak Haidar agak terhenyak saat nama anaknya disebut, apa yang sedang terjadi.
"Be..benar Tuan, ada apakah Tuan? dia baru saja pulang dari luar negeri, ingin pindah kuliah kesini" jelasnya.
"Maaf sebelumnya jika saya lancang, tidak mengurangi rasa hormat saya kepada anda yang berdedikasi pada perusahaan ini, hanya saja ini masalah yang menyangkut keluarga"
__ADS_1
"Oh..." Pak Haidar semakin khawatir apa yang sebenarnya terjadi.
"Putra Bapak menghamili sepupu saya, apakah dia sudah bercerita pada anda?" ceplos Saga tak ingin berlama-lama.
"Apa? apakah ini serius Tuan? apa saya tidak salah dengar?" wajah pak Haidar mendadak pucat, putra bungsunya seolah sedang melemparkan kotoran di wajahnya.
Beberapa detik ruangan menjadi hening, Saga memberikan waktu buat Pak Haidar untuk mencerna dan menerima kabar tersebut. Benar, Pak Haidar benar-benar terkejut.
"Maaf jika saya harus mengabarkan ini, agar masalah ini lebih jernih alangkah baiknya silahkan bertemu dengan saudara saya, atau anda menanyakan langsung pada putra anda" Saga segera memaparkan tujuannya. "Saya kesini membantu saudara saya, karena dia perempuan, saya tidak rela jika laki-laki yang merupakan putra anda lari dari tanggung jawab.
"Baik...Tuan"
"Jika putra anda mencoba kabur atau macam-macam, maka akan saya pastikan dia akan berhadapan dengan saya"
"Baik Tuan, maafkan keluarga kami, akan segera saya selesaikan masalah ini.
Tidak perlu waktu lama, tidak ada satu jam Saga dan sekertaris Li meninggalkan ruangan tersebut. Sementara Pak Haidar nampak mengelus dadanya, serasa hancur dengan apa yang dia dengar barusan.
Saga kembali memakai kacamata hitamnya, melewati ruangan-ruangan sebelum kembali ke lift, hampir semua pegawai yang dilewatinya berbisik saling bertanya ada apakah gerangan bos besar singgah di anak perusahaan tersebut.
Saga keluar dar lift, kembali berjalan melewati resepsionis. Mereka memberikan salam hormat hingga Saga benar-benar keluar dari pintu.
"Ada agenda kemana setelah ini Pak Li?" tanya Saga sambil memainkan HPnya.
"Ada rapat mendadak dengan salah satu rekanan, Tuan"
Saga mengangguk, selain rapat, ada undangan yang harus dia datangi malam ini. Tidak ada waktu untuk pulang ke rumah terlebih dahulu.
"Hallo....sayang, aku masih ada kerjaan di kantor, untuk kondangannya gimana? aku jemput telat nggak apa-apa ya?" tanya Saga pada Ganis di balik telpon.
"Eh...nggak usah Mas, nanti aku nyusul sama Isnan saja ya"
"Nggak apa-apa kah?" tanya Saga agak khawatir.
"Nggak apa-apa, Mas kerjain aja kerjaannya sampe beres, nanti aku langsung ke kantor saja"
"Ok kalau begitu, hati-hati ya...love you" ucapnya sambil tertawa.
"Iya Mas...love you too..." balas Ganis.
__ADS_1