
“Tetap di sini jangan kemana-mana” sergah Saga, tangannya refleks menarik pergelangan tangan Ganis yang hendak turun ke lantai bawah.
Deegg….jantung ganis berdetak lebih kencang saat tangannya ditahan oleh Saga, hanya beberapa detik lalu Saga melepaskan. Ganis tidak jadi turun, dia Kembali duduk di sofanya, Saga mengikutinya.
“Aku tidak suka gelap, ini membuatku seolah tidak bisa bernafas” Saga membuka cerita.
“Sepertinya Papa mulai bisa menerima kamu berada di sini, jadi bersikap baiklah”
“Iya Tuan”
“Dan lagi, jangan panggil aku Tuan jika ada Papa atau Mama…tapi jika berhadapan denganku, kamu harus mengerti posisimu” pintanya.
“Iya Tuan, tapi...saya harus panggil apa?”
“Panggil seperti kamu memanggil orang yang kamu sayangi biar kita seperti sepasang pengantin yang saling mencintai”
“Maksudnya?” Ganis bingung.
“Kamu pernah punya pacar nggak sih? Terus ada panggilan sayang gitu” Saga menjelaskan secara gamblang.
“Ouh”
“Iya, paham kan?”
Ganis menggeleng, dia belum pernah berpacaran sekalipun. Saga seolah tidak percaya melihat Ganis menggeleng. Saga tersenyum heran, apakah gadis yang ada di depannya itu hanya pura-pura polos atau memang benar-benar belum pernah pacaran.
“Kamu belum pernah pacaran?” Saga menegaskan, Ganis Kembali menggeleng. Saga tertawa kecil, baru kali ini Ganis melihat tampang manis Saga tertawa. Meskipun hanya dengan penerangan satu lilin, senyum itu sungguh tulus di wajah Saga.
“Umur kamu berapa sih?”
“21” jawab Ganis.
“Belum pernah pacaran?” Saga mengulang pertanyaan itu Kembali, lagi-lagi Ganis menggeleng.
“Hampir pernah jatuh cinta, tapi keburu ada tragedi”ujar Ganis dalam hatinya, dia tidak berani mengutarakan lewat suara.
“Ya sudah, kamu panggil saja mas seperti yang kamu tunjukkan tadi, terdengar sangat standar, tapi sudahlah, dan jangan pakai kata “saya” itu terlalu formal di depan orang tuaku, nanti Papa malah curiga dengan sandiwara ini” Saga tertawa renyah.
“Kesambet apa ini orang” Ganis berbicara lirih.
__ADS_1
“Apa?” tanya Saga.
“Enggak kok. Iya, nanti aku melakukan apa yang Tuan katakan”. Ganis tersenyum, akhirnya ketegangan ini berangsur mencair. Ternyata Saga tidak sedingin apa yang dia anggap selama ini.
“Bagus, dan lagi…kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan baju-bajuku, aku tidak suka ada orang lain yang membuka lemari bajuku kecuali atas perintahku”
“Maaf Tuan, aku tidak tahu, sebenarnya aku hanya ingin membantu”
“Kamu pernah patah hati nggak sih?”
Ganis terdiam mendengar pertanyaan retoris itu, Ganis menunduk, menyesal dengan apa yang dia lakukan, ternyata Saga tidak menyukai apa yang dia lakukan, padahal dia tidak sedang mencari perhatian Saga, baginya menyiapkan baju adalah kegiatan yang biasa dia lakukan dalam melayani Anaya dulu.
“Oh ya aku lupa, pacaran saja belum pernah, bagaimana kamu bisa patah hati”
“Nah kan paham juga” lirihnya.
“Aku sedang patah hati gara-gara bosmu, seharusnya dia yang ada di sini sekarang, harusnya dia yang menghuni kamar ini, harusnya dia yang menyiapkan segala macam buat aku, jadi aku merasa aneh saja jika semua ini bukan dia, kamu paham kan?”
“Paham” jawab Ganis, dia berjanji mulai besok dia tidak akan lagi melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh Saga.
“Terserah kamu mau ngapain, tapi jangan sentuh barang-barangku”
“Iya Tuan, maaf” ulang Ganis meminta maaf.
“Maaf Tuan, sudah malam, aku mau tidur, silahkan Tuan pindah ke ranjang”
“Apa? Kamu mengusirku?” Saga melotot.
“Bukan begitu, kan aku tidur di sini, Tuan di ranjang” Ganis protes.
“Tapi…tapi…ehm…kita tidur di ranjang saja”
“Apa?” Ganis terkejut, apa telinganya sedang tidak salah dengar? Atau jangan-jangan Saga sedang terbawa suasana dan menginginkan dirinya?. Ganis menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Heh…apa-apaan kamu, jangan sok PD, jangan berfikir yang aneh-aneh, mana mungkin aku menyentuh kamu, aku hanya….hanya tidak bisa tertidur jika mati lampu” Saga manyun.
“ha..ha…ha, Tuan takut gelap?” Ganis tertawa, kali ini benar-benar terasa lucu baginya, Saga yang dia kenal sejak setahun lalu, yang jarang tersenyum, yang angkuh, yang baginya seperti manusia kulkas, ternyata takut gelap.
“Kamu…kamu jangan sok ya…cepat tidur di ranjang sampai lampunya menyala, lagian kapan lagi kamu bisa merasakan tidur di ranjangku yang empuk” Saga berbicara sekenanya. Ganis semakin menahan tawa. Meskipun tidak ada Saga di rumah, Ganis belum pernah tidur di atas ranjang Saga, dia hanya rebahan di sofa.
__ADS_1
“Ayo…aku sudah mengantuk, Saga menarik pergelangan tangan Ganis hingga sampai di tepi ranjang, dia merebahkan diri ke atas ranjang. Ganis melihat Saga beberapa saat lalu berbaring di samping Saga. Ada rasa aneh, aneh karena harus satu ranjang dengan Saga. Saga sudah menutup matanya, dia sengaja menghadap Ganis agar merasa tidak sendirian di saat gelap. Ganis masih membuka matanya, menatap wajah Saga yang nampaknya sudah terlelap. Ganis mengambil guling yang ada di dekatnya dan meletakkan di antara dia dan Saga.
“Konyol sekali” ucap Ganis lirih.
“Kata Mama kamu sakit, jangan banyak bicara, istirahatlah” mata Saga membuka, Ganis terkejut, ternyata Saga belum tertidur seperti apa yang dia duga.
Lampu menyala setelah satu jam kemudian, saat mereka berdua terlelap tidur. Tidak ada satupun yang menyadarinya. Mereka terlelap hingga pagi. Ganis membuka matanya, badannya terasa berat, ada yang menimpanya. Ganis mnegucek matanya untuk memastikan benda apakah yang sedang menimpanya. Benar saja, tangan kiri Saga berada tepat di atas dadanya, guling yang menjadi pembatas tidur antara mereka telah hilang entah kemana. Kaki Saga sebelah kiri juga sudah mendarat dengan bebasnya di paha Ganis. Ganis berusaha meloloskan dirinya dari tangan dan kaki Saga.
“Apa-apaan ini?” Ganis masih shock dengan apa yang terjadi. Saga perlahan membuka matanya. Kini Ganis sudah berdiri di tepian ranjang.
“Tuan sengaja memelukku ya?” Ganis bersungut-sungut.
Saga membuka matanya dan masih dalam keadaan rebahan di ranjang. “Jangan sok cantik, mana mungkin aku dengan sengaja melakukannya, itu hanya refleks” akunya membela diri.
“Hiiisss” Ganis segera meninggalkan Saga dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Hah…mana mungkin aku tertarik sama gadis itu, dia tidak sekelas Anaya” urainya, lalu Kembali menutup matanya.
Ganis mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang mengalir di shower, menikmati mandi paginya. Terasa geli memikirkan kejadian yang baru saja menimpanya.
“Apa-apaan sih itu orang? Main peluk segala, pasti dia modus melakukan itu, pasti dia juga modus bilang takut gelap. Kucing mana sih yang nggak tertarik kalau lihat ikan?” gerutunya. Dia mengibaratkan dirinya adalah ikan, sedangkan Saga adalah kucing.
“Buat dia jatuh cinta sama kamu” tiba-tiba kalimat itu terngiang di telinganya, kalimat dari Anaya yang melekat. Ganis memejamkan matanya sambil menikmati guyuran air. Diresapinya kalimat itu. Harus mulai dari mana dia membuat Saga jatuh cinta?
“Hei buruan, aku mau mandi, lagian ngapain sih di kamar mandi lama banget, tetep saja kamu nggak akan berubah menjadi dia” teriak Saga dari luar kamar mandi.
“Sangat menyebalkan” ujar Ganis menyudahi kegiatan mandinya, segera dia mengambil handuk dan memakai pakaiannya. Tak berapa lama dia keluar kamar mandi.
Kedua tangan Saga menghalangi, Ganis berada di depan pintu kamar mandi hendak melangkah, wajah Saga yang baru bangun nampak acak-acakan, namun ketampanannya tidak pudar sedikitpun. Kedua tangan Saga membentuk pagar di sekitar leher Ganis, sehingga gadis itu tidak bisa beranjak.
“Apa lagi sekarang?” Ganis protes ingin meloloskan diri.
“Siapkan baju!”
“Kan…” belum selesai Ganis meneruskan kalimatnya.
“Jangan protes!” Saga melepaskan kungkungan tangannya lalu menarik Ganis menjauh dari pintu, kemudian dia beranjak masuk kamar mandi.
__ADS_1
*Terima kasih untuk kamu\, iya kamu yang mau membaca ceritaku\, memberikanku like\, menjadikan cerita ini favorit kalian dengan meng "klik" tombol love\, mungkin terdengar lebay\, tapi semua itu jadi penyemangat author untuk selalu bisa menulis kelanjutannya.... love you guys :*