
Saga memainkan kunci motor yang dari tadi sudah dia pegang, setelah mempertimbangkan, Saga tidak jadi mengendarai motor untuk keluar sore ini. Dia kembali meletakkan kunci motor di tempatnya. Lalu mengambil kunci mobil.
“Kenapa naik mobil Mas?” tanya Ganis, helm sudah dia pakai. Saga mendekat ke arah Ganis, melepas tali pengaman helm dan melepaskan helm yang dipakai Ganis.
“Kamu ingat peristiwa kamu diuber-uber sama wartawan?” tanya Saga lekat. Ganis terdiam sejenak, kemudian dia mengangguk, peristiwa itu masih teringat jelas di benaknya. “Nah kan, mari kita naik mobil dan cari tempat yang tenang” Saga memegang pergelangan tangan Ganis dan memintanya segera naik ke mobil.
Ganis segera menuruti apa keinginan Saga, dia duduk di depan, di samping Saga.
“Kapan-kapan kalau situasi sudah memungkinkan, kita naik motor lagi” ujar Saga.
“Iya Mas, aku lupa kalau kasus ini masih panas-panasnya” Ganis mengetuk-ngetuk dahinya dengan telunjuknya. “Tapi kita mau kemana Mas?’ Ganis penasaran. Saga hanya mengulum senyum lalu kembali menatap jalan raya.
Mobil melaju ke arah jalur yang menanjak, Ganis merasa asing dengan jalanan yang dilaluinya. Sepanjang jalan hampir tidak ada gedung bertingkat, yang ada hanya pepohonan yang rapat.
“Katanya Mas lapar? Kita sudah hampir satu jam perjalanan” Ganis melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
“Kalau kamu ngantuk, kamu bisa tidur dulu” jawab Saga sejenak melihat ke arah istrinya. Ganis menggeleng.
“Aku penasaran, makanya aku tidak mau tidur”
“Baiklah, temani aku mengobrol” jawab Saga.
“Kita sudah ngobrol Mas” Ganis memukul lengan Saga pelan. “Eh, kenapa sih kamu suka sekali nyetir sendiri Mas?”
“Memangnya kenapa?”
“Ya tidak apa-apa, cuma kan secara Tuan Presdir tapi kemana-mana suka nyetir sendiri”
“Memangnya kenapa?” Saga tertawa kecil.
“Yaa gak aneh saja”
“Tidak lah, aku suka nyetir sendiri soalnya, kecuali kalau memang ada keperluan yang gimana gitu baru sama sopir, tapi jarang sih”
Selama ini memang begitu menurut pengamatan Ganis, hampir jarang Saga menggunakan sopir pribadi, terlebih jika bersama dirinya.
“Tidak enak juga kalau pakai sopir kalau lagi sama kamu, tidak bisa bermesraan” Saga menyentil hidung Ganis.
__ADS_1
“Aduh” Ganis mengaduh, pura-pura kesakitan.
“Nah kan, kalau sama sopir tidak bisa seperti ini”
“Apa tidak capek nyetir?”
“Tidak lah, apalagi kalau sama kamu” gombalnya, membuat senyum mengembang di bibir Ganis. Laki-laki kaku itu kini punya hobby merayu, bahkan lebih mahir sekarang.
Mobil melaju perlahan saat memasuki area parkir yang luas, sebuah tempat yang terbuka dengan pepohonan hijau menghampar di sekitarnya. Ada beberapa kendaraan yang terparkir di sana. Saga dengan hati-hati memarkir mobilnya, Ganis melihat ke arah sebuah tempat, sebuah tempat makan dengan konsep semi terbuka.
Setelah mobil terparkir, Saga turun dari mobil, Ganis mengikutinya. Saga berjalan ke arah Ganis, menggenggam tangan Ganis dan mengajaknya masuk ke dalam tempat tersebut. Karena semi terbuka, sehingga ketika duduk di tempat makan tersebut, dapat melihat pemandangan luar yang indah.
“Nah di sini biasanya aku makan bakso”
Ganis membulatkan matanya, hanya mau makan bakso saja di tempat yang sejauh ini. Saga tertawa melihat ekspresi Ganis.
“Enak kan tempatnya? Kamu bisa melihat pemandangan yang indah”
“Iya juga sih Mas, keren, makan bakso di atas awan ini mah” timpal Ganis. “Tapi jauh banget”
“Sekali-kali lah”
Seorang pelayanan membawa dua mangkok bakso pesanan Saga, bakso spesial di sana. Aromanya benar-benar menggoda, asap masih mengepul dari bakso tersebut.
“Terima kasih mbak” ucap Ganis pada pelayanan tersebut.
“Silahkan coba, kapan-kapan kalau mau lagi, aku siap membawamu kesini” Saga tengah mengaduk bakso yang ada di depannya.
Ganis melakukan hal yang sama, mengaduk bakso setelah memberinya kecap dan sambal. Saga tidak salah memilih tempat, selain baksonya sangat enak, tempat tersebut sangat indah.
“Selain makan bakso enak, di sini kamu bisa melihat senja yang indah saat sore seperti ini” seusai makan bakso, Saga mengajak Ganis untuk duduk di area tempat tersebut, sebuah bangku kayu yang menghadap ke arah bukit. Ada beberapa wisatawan juga berada di sana untuk melakukan hal yang sama.
“Iya, senja sebentar lagi turun” Ganis melihat ke arah perbukitan, dia melipat kedua tangannya, hawa dingin semakin menyeruak.
Saga melihat ke arah Ganis sejenak, lalu dia bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke arah mobil yang tidak jauh terparkir. Saga membuka pintu mobil belakang, mengambil sesuatu dari sana, lalu kembali menghampiri Ganis.
Sebuah sweater warna hitam dia tangkupkan di tubuh Ganis, agar bisa melindungi hawa dingin yang dirasakan istrinya.
__ADS_1
“Kok bawa sweater segala?” tanya Ganis heran, tangannya membenahi sweater tersebut ke tubuhnya.
“Iya lah, aku kan sigap, tahu mau membawamu ke tempat seperti ini, aku sudah harus menyiapkan semuanya” gumamnya sambil mengulum senyum, dia kembali duduk di samping Ganis, tangan kanannya berada di pundak Wanita itu.
“Terima kasih suami sigapku” Ganis melihat ke arah Saga, lalu meletakkan kepalanya di bahu Saga.
Matahari terlihat berwarna jingga, siap kembali ke peraduannya, hal itu terlihat jelas di depan para penikmat senja sore itu, tanpa mendung yang menghalangi. Tanpa rencana Saga membawa Ganis kesini, tapi Ganis terlihat sangat senang.
“Kapan-kapan kita kesini lagi ya Mas”
“Siap, kapanpun kamu mau”
Jawaban Saga yang seolah apa-apa hanya untuk Ganis membuat Ganis tak henti tersenyum, tak henti bersyukur, bagaimana dia mendapatkan suami yang begitu menyayanginya.
Ganis melingkarkan kedua tangannya di tubuh Saga, merasakan bagaimana aroma laki-laki yang ada di sampingnya, merasakan bagaimana hangatnya hati laki-laki itu. Bagaimana bersyukurnya dia mendapatkan seorang suami seperti Saga.
Tanpa terasa, air mata keluar dari sudut matanya, terasa hangat. Ganis membiarkan air mata tersebut membasahi sudut matanya. Bukan air mata karena dia terluka, tapi air mata bahagia.
Saga mengecup rambut kepala Ganis dengan lembut, betapa bersyukurnya dia dikirimi wanita baik seperti Ganis, meskipun kata banyak orang bukan dari kalangan atas sepertinya, tapi Ganis melebihi ekspektasinya. Ganis benar-benar bisa mengerti dirinya.
“Aku benar-benar bahagia, Mas” ucap Ganis, dia masih mengeratkan tangannya di tubuh Saga.
“Aku juga bahagia jika kamu bahagia, tetaplah seperti ini sampai nanti, sampai kita punya anak cucu” Saga tertawa kecil. Ganis mengangguk.
“Terima kasih sudah sudi menjadikanku sebagai istrimu, Mas”
“Terima kasih juga sudah menjadikanku sebagai suamimu”
Ganis melihat Saga, walau hari sudah gelap, wajah tampan itu tetap terlihat jelas.
“Kenapa? Terpesona dengan wajahku?” Saga menggoda, Ganis tertawa kecil. Saga mendekatkan wajahnya, mencium kening Ganis dengan mesra. Senja dan tempat ini menjadi salah satu saksi, bagaimana dua insan itu benar-benar saling mengisi dan jatuh hati.
__ADS_1
Hari senin, saatnya vote rekomendasi, jangan lupa vote sebanyak-banyaknya ya...terima kasih...^^