Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Dua Puluh Lima : Apakah Kamu Mencintai Putra Saya?


__ADS_3

Ganis mematikan tayangan televisi, pemberitaan tentang  acara hari ini terkespos besar-besaran. Dia kaget saat Tuan Candra dengan bersemangat akan memperkenalkan istri Saga. Apakah benar apa yang diucapkan tempo hari oleh Saga, bahwa ini tidak akan mudah baginya. Dia yang dari kalangan biasa menjadi istri dari bos besar Arjuna


Group. Lalu apa kata orang-orang saat tahu kenyataan ini?.


“Harusnya Nona yang ada di samping Tuan Saga, bukan aku, ini terlalu sulit untukku” gumamnya. “Nona, apakah Nona baik-baik saja?”


Sudah beberapa lama Anaya tidak memberikan kabar atau sekedar menanyakan bagaimana rencananya berjalan.


“Maaf Nona, saya belum bisa membuat Tuan Saga mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa, aku harap Nona hadir untuknya” gumamnya lagi. Kegusarannya muncul, bagaimana Anaya meminta agar Saga mencintainya dalam waktu 6 bulan.


Ganis kembali menyalakan televisi, wajah Saga muncul kembali, diamati dengan seksama laki-laki itu, laki-laki yang hari ini nampak gagah dengan setelan jas yang dia pilihkan sedang menjawab pertanyaan dari wartawan. Ganis kaget ketika dia mendengar pertanyaan wartawan yang berkaitan dengan perjodohan.


“Perjodohan?” pekiknya. “Apakah sebenarnya Tuan Muda dijodohkan? Lalu mengapa tidak menikah saja dengan gadis itu?”


Tok…tok…tok


Terdengar pintu kamar diketuk, Ganis meraih remot dan mematikan televisi. Lalu mendekati pintu kamar dan membukanya. Seorang pelayan membungkukkan badannya saat melihat Ganis membuka pintu.


“Ada apa mbak?” tanya Ganis ramah pada pelayan wanita itu.


“Nyonya Rima menunggu di bawah Nona”


“Oh iya mbak, terima kasih”


Pelayan itu membungkukkan badannya, Ganis segera menutup pintu kamar dan mengekor ke pelayan itu. Dilihatnya Nyonya Rima sedang duduk di sofa ruang keluarga. Tidak nampak Tuan Candra di sana.


“Mama”


“Duduklah” Nyonya Rima menepuk sofa yang ada di sebelahnya, meminta Ganis duduk di sana.


“Ganis, saya tidak tahu perasaanmu hingga detik ini, di mana kamu terjebak dalam keluarga ini, tapi saya harap kamu bisa menyesuaikan diri” Nyonya Rima berkata dengan lembut.


“Iya Ma”


“Kamu sudah melihat berita hari ini?”

__ADS_1


“Sudah Ma”


“Setelah ini akan menjadi hari baru buat kamu, suatu saat nanti kamu akan menjadi sorotan, kamu harus bisa benar-benar menyesuaikan diri”


Ganis memahami apa yang tersirat dalam ucapan Nyonya Rima. Dia harus menjalankan dua misi sekaligus, satu sisi dia melaksanakan misi dari Anaya, dan satu sisi melakukan misi dari keluarga ini.


Apakah kehadiranku hanya untuk menjalankan misi? Aku merasa bersalah karena harus menjadi seorang yang jahat. Aku ingin terbebas dari ini semua Tuhan…tolong bantu aku…


“Ganis…bolehkah saya bertanya sesuatu yang agak pribadi?” suara Nyonya Rima tetap sama, lembut penuh rasa keibuan.


“Silahkan Ma”


Nyonya Rima menggeser duduknya, lebih dekat dengan Ganis. Tangannya memegang pundak Ganis.


“Apakah kamu mencintai putraku?” tatapan mata mereka beradu, senyum Nyonya Rima mengembang.


Apa yang harus aku katakan?


“Saya tahu, kalian menikah bukan karena cinta, tapi karena hal yang tidak kalian duga, tapi saya hanya ingin tahu, jujur, saya menyukai kamu Ganis, saya menyukai kamu berada di rumah ini”


Apa yang sebenarnya Nyonya Rima harapkan? Jawaban apa yang beliau inginkan dariku?


“Ganis…saya mengenal Saga lebih dari siapapun, dan saya merasa dia berubah akhir-akhir ini”


“Maksud Mama?”


“Iya, sejak kecil dia itu pendiam dan jarang memiliki teman yang akrab, aktivitasnya juga terbatas, dia lebih suka menyendiri, dan cenderung kaku. Apakah kamu merasakannya?”


“Iya Ma” setahu Ganis, Saga memang kaku, sejak dia tahu Saga pacaran dengan Anaya


pun Saga terlihat sangat membatasi diri dengan orang lain.


“Saat ini naluri seorang Ibu merasa bahwa dia mulai menghangat, saya tidak tahu pengaruh apa, tapi saya rasa ada hubungannya dengan kamu”


Ganis tersenyum kecil, bagaimana bisa dikatakan bisa mempengaruhi Saga? Perasaannya masih bingung harus mengatakan apa.

__ADS_1


“Oh nampaknya kamu belum bisa menjawab pertanyaan Mama, dia memang kaku, mungkin kalian hanya berteman. Maafkan Mama yang bertanya demikian”


“Oh, tidak apa-apa Ma” jawab Ganis kikuk, ada rasa bersalah pada dirinya, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Nyonya Rima. Hatinya masih sibuk dengan luka hatinya, bagaimana dia harus mendeskripsikan perasaan pada Saga? Masih terlalu jauh.


“Lupakan, oh ya, mengenai resepsi, lambat laun ini harus terjadi kan? Jadi saya mohon kamu tetap bekerja sama dengan baik, karena Tuan Candra yang mengingkan resepsi ini. Kalau saya sendiri sebenarnya lebih ke bagaimana kalian nyaman”


“Tidak apa-apa Ma, saya siap” sudah kepalang basah, Ganis harus siap melakukan dan menghadapi apapun.


“Terima kasih Ganis, meskipun saya tidak tahu latar belakangmu, tapi saya yakin kamu berasal dari keluarga baik-baik yang mendidik kamu menjadi perempuan kuat” puji Nyonya Rima, Ganis menyunggingkan senyumnya, ingatannya kembali kepada wajah Ayah dan Ibunya.


“Ma, apakah….ehm….Ganis boleh menanyakan sesuatu?” Ganis agak ragu.


“Apapun” balas Nyonya Rima.


Ganis sibuk Menyusun kalimat agar tidak disalah artikan dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Sejak melihat berita di telivisi tadi, ada pernyataan yang menganggu pikirannya, mungkin saja Nyonya Rima mengetahuinya.


“Ma…mengenai perjodohan itu, ehm…”


“Ganis…tak usah kamu risaukan, mereka hanya menyebar gosip” wajah Nyonya Rima berubah mimiknya, ada sesuatu yang dia tutupi.


“Oh maaf Ma, saya hanya tidak enak hati, jika itu benar, saya takut pandangan orang-orang tentang…tentang kebaikan keluarga ini, jangan sampai tercoreng hanya karena keberadaan saya”


“Tidak usah kamu pikirkan”


Dia tahu cerita sebenarnya, saat Saga masih kecil, saat Tuan Candra masih merintis bisnisnya bersama sahabatnya yang bernama Raharja, keluarga Raharja memiliki putri kecil yang saat itu masih berumur sekitar 2 tahun. Mereka sepakat berbisnis bersama dan juga berjanji jika kelak anak mereka sudah dewasa, mereka akan menjodohkannya. Namun takdir berkata lain, Raharja meninggal beserta istrinya dalam kecelakaan maut. Sementara putri kecil mereka entah diasuh siapa, menghilang begitu saja tanpa bisa terlacak oleh keluarga Tuan Candra.


            Keluarga Tuan Candra sudah berusaha mencari putri kecil itu, namun hingga detik ini tidak ditemukan. Mereka berniat merawat gadis itu seperti keluarga sendiri. Betapa hancurnya Tuan Candra saat itu, sahabat yang menjadi partner dalam merintis perusahaan meninggal begitu mendadak. Saga masih terlalu kecil untuk mengetahui hal ini saat itu, hingga pada akhirnya cerita ini ditutup begitu saja.


Ada apa dengan keluarga ini sebenarnya? Apakah aku sedang terjebak untuk kedua kalinya? Tuhan lindungi aku….


Ganis tersenyum sambil menatap Nyonya Rima, mencoba menepis anggapan yang ada di kepalanya, semoga saja ini memang hanya rumor, dia sangat berharap ini tidak akan menjadi masalah kemudian hari nanti.


“Tetaplah di sini” Nyonya Rima memegang tangan Ganis erat, bibirnya merekah menyunggingkan senyum.


 

__ADS_1


 


__ADS_2