Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Dua Puluh Delapan : Mendadak Romantis


__ADS_3

Mobil memasuki pelataran parkir yang sangat luas, hiasan janur melengkung terlihat dari area parkir. Ganis menoleh ke jendela kiri, lalu beralih ke arah Saga.


Ini kan lokasi pernikahan mas Radian, serius dia mau ikut kesini? Atau jangan-jangan dia juga mendapatkan undangan dari Mas Radian? Ah nggak mungkin.


Saga turun dari mobilnya tanpa masker ataupun topi, yaiya lah ya, masa mau kondangan kok pakai topi penyamaran. Ganis membuka pintu mobil, lalu turun perlahan. Saga berdiri tidak jauh darinya. Tangan Saga menggandeng tangan kiri Ganis.


Waktu seakan tengah berhenti sekarang, Ganis menatap Saga, laki-laki itu berada di sebelah kirinya, tidak ada jarak di antara mereka. Ganis bisa mencium aroma parfum Saga sedekat ini.


“Berdirilah tegak, ikuti aku, jangan terlihat wajahmu terlalu bahagia karena mendapatkan gandengan dari tanganku” ucap Saga. Bibir Ganis tidak jadi tersenyum saat mendengar kalimat Saga.


“Jangan norak, tetaplah terlihat berwibawa” imbuhnya lagi, ingin rasanya Ganis menginjak kaki Saga dengan hak lancip di kakinya, kedatangannya dengan Saga malah membuatnya ribet.


“Kamu juga jangan terlalu terpesona dengan pesonaku” imbuh Saga lagi, Ganis berhenti sejenak, ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangan Saga, tapi Saga memegangnya dengan erat.


“Kenapa Tuan menyebalkan sekali?” gerutu Ganis, Saga tertawa melihat gadis itu marah.


“Sudah ayo, pangeranmu sudah menunggu” Saga menarik tangan Ganis.


“Tuuuuuaaaan” Ganis berteriak, Saga sedang menggoda, pangeran yang dimaksud adalah Radian.


“Jangan berteriak, nanti semua tamu melihat ke arah kita, kamu nanti yang malu, aku enggak” baru saja usai ucapan itu, benar saja, dimulai dari penerima tamu yang ada di lorong depan Gedung itu menatap kedatangan mereka. Saga nampak memamerkan senyumnya, jarang-jarang senyumannya bisa muncul di depan banyak orang, karena bagi Ganis senyuman Saga itu mahaaaal.


“Apakah dia benar-benar Saga si manusia kulkas?” bisik Ganis, pandangannya mengamati orang-orang yang ada di lorong itu. Ganis melepaskan genggaman tangan Saga, dia menulis nama di daftar hadir tamu, beberapa orang berbisik-bisik menatap Ganis dan Saga.


“Ayo sayang” Saga kembali menggenggam tangan Ganis.


Glek…


Ganis merasa sedang menelan biji salak, apakah telinganya sedang rusak atau Saga tengah mengigau dengan memanggilnya sayang?


“Ayo, kita harus segera memberikan ucapan selamat kepada mempelai” Saga menarik tangan Ganis memasuki Gedung.


Ada apa dengan dia? Apa kepalanya terantuk sesuatu? Sehingga dia menjadi error?


Ganis menghentikan sangkaan kepada Saga, kini jantungnya mulai berdegup. Kakinya melangkah menginjak karpet merah yang terhampar menuju kursi pelaminan. Lagu-lagu romatis mengalun dari grup musik yang ada di sebelah kanan pelaminan. Ganis melingkarkan tangannya di lengan Saga tanpa aba-aba, kini lebih erat, berjaga-jaga jika dia pingsan tiba-tiba.

__ADS_1


“Kenapa? Kamu takut?” bisik Saga di telinga Ganis. Ganis terhenyak, ingin rasanya dia memukul lengan Saga.


Ganis dan Saga berdiri menunggu antrian untuk bersalaman dengan pengantin. Baru kali ini Saga kondangan harus mengantri, biasanya dia akan mendapatkan jalur cepat untuk bersalaman dengan mempelai.


Perlahan, Ganis mulai mendapatkan visual mempelai, Radian masih dengan kacamatanya nampak gagah dengan setelan jas warna gold, begitu juga wanita yang ada di sampingnya, nampak sangat anggun dengan warna senada, kepalanya berhias hijab yang ditata dengan anggun, mahkota tersemat di atas kepalanya. Perlahan, tamu yang antri di depan Ganis sudah selesai mengucapkan selamat dan berfoto dengan mempelai.


“Ganis…Tu..tuan Saga” Radian kaget melihat Ganis menggamit lengan Saga. Ganis menyunggingkan senyum terbaiknya. Sedangkan Saga hanya sedikit sekali menyunggingkan senyumnya.


Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja.


Ganis melepasnya tangannya dari lengan Saga, dia menatap istri Radian dan menyalami wanita itu, sangat cantik, lalu dia memeluk gadis itu.


“Selamat ya”


“Terima kasih, mas Radian sering bercerita tentang kamu, terima kasih ya” ah, bahkan suara gadis itu sangat lembut dan sopan masuk telinga. Kini giliran Ganis yang berjabat tangan dengan Radian, jantungnya berdetak kecang.


Ok, cemburu…pergilah sekarang juga, aku benci ini, aku baik-baik saja.


“Selamat ya mas, semoga Bahagia sampai nanti” ucap Ganis setenang mungkin, jangan sampai dia terlihat sedang tidak rela dengan semua ini.


“Tuan” Radian membungkukkan badannya memberikan hormat.


“Selamat” ucap Saga singkat, datar tanpa ekspresi.


“Suatu kehormatan Tuan datang ke acara ini”


“Baik silahkan berfoto” ucap seorang photographer dari depan. Ganis beralih posisi, kini dia berada di samping mempelai wanita, dia sengaja mengambil posisi di samping mempelai wanita, sedangkan Saga berada di samping Radian.


Ganis dan Saga menuruni panggung pelaminan, masih dengan gandengan tangan yang sama. Radian memperhatikan mereka berdua, apakah ini benar? Tuan Candra sendiri yang mengumumkan jika Saga Sudah menikah? Apakah Ganis…?


Saga melepas tangan Ganis yang melingkar di lengannya, lalu berjalan menuju area pengiring lagu.


“Mau apa lagi dia?” bisik Ganis, kini dia berjalan menepi agar tidak mengganggu orang-orang yang sedang berjalan. “Jangan-jangan dia akan meminta penyanyinya untuk bernyanti lagu-lagu pilihannya seperti waktu di joglo itu. Mengapa dia sangat aneh hari ini? Tolong Tuan, jangan buat ulah” Ganis menarik kursi dan duduk di tepi sambil menghela nafas melihat yang dilakukan Saga. Saga tengah berdiskusi dengan pemain musik, entah apa yang sedang dibicarakan.


Berbagai hidangan telah tersedia di meja hidangan, para tamu sibuk memilih makanan yang akan dimakan, Ganis menelan ludahnya, rasa lapar yang mendera perutnya tiba-tiba hilang begitu saja.

__ADS_1


Saga duduk di depan sebuah piano, semua pemain musik menghentikan aktivitasnya. Begitu juga penyanyinya, kembali duduk di kursinya.


“Apa sih orang itu?” Ganis menatap Saga dari kejauhan.


“Lagu ini tidak hanya kuperuntukkan untuk mempelai, tetapi juga untuk istriku yang ada di sana” tutur Saga membuka “pertunjukannya”, para tamu undangan seolah tertarik dengan “konsernya”, sekejap mereka mencari siapa istri yang dimaksud. Tidak sedikit mereka melihat ke arah Ganis. Ganis tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. Berharap bahwa orang-orang yang hadir tidak mengenal Saga.


“Bukankah itu Tuan muda Saga?” bisik seorang Ibu-ibu yang sedang membawa piring di dekat Ganis.


“Iya” timpal lainnya.


“Hah, jadi itu istri tuan muda?” Ibu-Ibu muda bersanggul segede gaban tidak mau ketinggalan.


“Cantik sih” puji Ibu-Ibu bergaun biru, mendengar ini Ganis tersenyum, kalau saja bisa terlihat, mungkin bunga-bunga akan berterbangan dari kepalanya.


“Biasa saja” Imbuh ibu-ibu  bersanggul tadi. Bunga-bunga yang ada di kepala Ganis pun lenyap seketika. Banyak tamu undangan yang mengambil potret Saga, ada pula yang diam-diam memotret Ganis. sebentar lagi, media sosial akan heboh pastinya.


Jemari Saga memainkan tuts piano, nada yang terdengar sungguh indah, suasana menjadi semakin romantis. Saga memainkan piano sambil bernyanyi, lagu yang dinyanyikan pun lagu yang romantis. Banyak wanita-wanita yang histeris saat melihat Saga tampil. Dan mereka akhirnya menyadari jika yang sedang “konser” adalah Saga


Arjuna Putra Candra.


Sejenak, Ganis merasa terhipnotis dengan apa yang dia lihat, laki-laki gagah dengan kemeja batik warna coklat itu, suaranya, mengapa dia baru tahu jika Saga memiliki suara semerdu itu. Lagu yang dinyanyikan juga sangat romantis. Ganis menepuk pipinya, menyadarkan dirinya bahwa semua yang dilakukan ini hanyalah sandiwara. Ada rasa haru yang dia rasakan, mengapa Saga melakukan ini semua?


Saga turun dari panggung, pandangan banyak orang sedang tertuju padanya, seolah ingin memeluk Saga. Saga menuju tempat duduk Ganis, membimbingnya berdiri, tangan kanannya melingkar di pinggang Ganis dengan nyaman. Ganis tidak menolak itu, beberapa orang mengabadikan momen itu.


“Ayo” Saga menarik tangan Ganis, semua mata benar-benar tertuju pada mereka berdua, seolah jawaban itu terpampang nyata, bahwa istri tuan muda Saga adalah Ganis. Bodo amat dengan apa yang akan terjadi esok, Saga tidak peduli, kini mereka berdua melangkah meninggalkan gedung tersebut menuju mobil tanpa mencicipi hidangan terlebih dahulu.


Tidak menunggu lama, tanpa sepengetahuan mereka, media sosial sudah heboh dengan potret mereka berdua, berbagai komentar pun mewarnai kemunculan publikasi hubungan mereka.


 


 


Hoooh....Author pen pingsan, readers ratusan tapi like cuma bijian. Semangat Author pudar, seperti pudarnya cinta Saga pada mantannya.....


Lanjut apa enggak kalau begini? >.<

__ADS_1


__ADS_2