
Dini mengepak barang-barang yang ada di lemari rumah sakit, hari ini Ganis sudah diperbolehkan pulang. Rasa senang terpancar dari Ganis dan Dini.
“Akhirnya Nona pulang” ujar Dini memasukkan barang terakhir ke dalam tas.
“Iya Mbak, senang rasanya, hah sudah bosan berada di rumah sakit” Ganis turun dari ranjangnya, plester masih menempel di punggung tangannya bekas jarum infus.
“Isnan menunggu di bawah” ujar Dini.
Seorang perawat datang memasuki kamar mendorong kursi roda kosong, siap mengantarkan Ganis hingga ke depan.
“Silahkan Nona” ujar perawat dengan ramah.
“Terima kasih suster” ujar Ganis tak kalah ramah.
Tak berapa lama, mereka tiba di depan. Isnan sudah bersiap di dekat pintu mobil, membukakan pintu agar Ganis segera masuk ke dalam mobil. Sementara Dini memasukkan tas ke dalam mobil bagian belakang. Lalu dia masuk dan duduk di samping Ganis.
Mobil melaju perlahan meninggalkan rumah sakit, Ganis bersyukur bisa pulang ke rumah dalam keadaan sehat. Mobil melaju perlahan di jalan raya karena frekuensi kendaraan yang padat.
“Apakah Tuan sudah pulang?” pertanyaan Ganis membuat Dini tersadar dari lamunannya.
“Oh Tuan, su..sudah” jawab Dini gugup, kali ini dia tidak bisa mengelak.
Bagaimana bisa dia sama sekali tidak menghiraukanku?. Batin Ganis, tangannya membuka tas dan mencari HPnya, sama sekali tidak ada pesan dari Saga. Apakah ini benar-benar suatu pertanda untuknya agar membulatkan tekad untuk mengambil keputusan?
“Tuan sibuk sekali akhir-akhir ini, Nona” Dini mencoba menenangkan, serasa dia mengetahui apa yang ada di dalam hati Ganis.
Ganis menghela nafas panjang, memaklumi apa yang terjadi. Tapi, kali ini berbeda, dia sudah mengambil keputusan. Perpisahan adalah jalan terbaik yang harus dia ambil. Dia akan berbicara dengan Saga bagaimanapun caranya. Dia harus mengutarakan semua yang ingin dia utarakan.
Semarah apapun dan seburuk apapun keadaan Saga nantinya, Ganis akan tetap melakukannya.
Jika jalanan lancar, maka tidak butuh waktu yang lama untuk sampai di rumah. Kali ini perjalanan menuju rumah memakan waktu hampir satu jam lamanya.
Dini membuka pintu mobil, Marni sudah menunggu di teras depan. Dia berlari mendekati mobil yang terhenti tepat di depan teras. Ganis turun dari mobil.
“Selamat datang kembali Nona” ujar Marni ramah.
“Terima kasih Mbak Marni”
Dini tengah membawa tas dibantu oleh Marni. Ganis segera menuju kamarnya, hari sudah menjelang sore. Selepas mencuci muka, Ganis beristirahat sambil menunggu kedatangan Saga. Dia akan mengatakan secepatnya pada Saga.
Sore yang agak mendung menyambut kedatangannya kembali ke rumah mewah itu.
***
Saga membuka layar HPnya, baru saja dia mendapatkan informasi dari Dini jika mereka telah sampai di rumah. Rasa lega memenuhi hatinya, dia sangat bersyukur Ganis kembali sehat dan pulang ke rumah. Sebenarnya dia ingin segera pulang dan bertemu dengan Ganis, tapi ada hal yang harus benar-benar dia selesaikan hari ini juga.
Sejak kunjungan gagal pada beberapa hari lalu, dia sengaja tidak menjenguk Ganis secara langsung. Diam-diam dia melihat gadis itu di balik kaca pintu, melihatnya baik-baik saja cukup. Membiarkan gadis itu merindukannya, setidaknya itulah harapannya.
__ADS_1
“Tuan, mobil sudah siap” ucapan sekertaris Li membuyarkan lamunannya, dia memutar kursinya yang tadi menghadap ke kaca lebar jendela ruangannya. Kini dia menghadap ke arah sekertaris Li.
“Iya, tunggu di bawah, sebentar lagi saya turun Pak Li”
“Baik Tuan” sekertaris Li segera meninggalkan ruangan.
Saga memasukkan HP ke dalam saku celananya, kemudian keluar ruangan untuk menyusul sekertaris Li.
Sore yang mendung mengiringi perjalanannya, beberapa kali Saga memainkan jemari tangannya.
“Kita ke tempat Budhe Sarah dulu, pak Li” pinta Saga.
“Baik Tuan”
Mobil melaju perlahan karena jalanan ramai lalu lalang kendaraan. Saga memeriksa pesan yang masuk dalam HPnya, namun bukan dari yang dia inginkan.
Mobil memasuki gerbang berwarna putih, rumah yang tak kalah mewah dari rumahnya itu cukup lengang. Saga membuka pintu mobil dan turun.
Dilihatnya rumah tersebut, sudah sangat lama dia tidak berkunjung kesana. Saat kecil, dia sangat suka bermain di sini bersama Carolina.
Seorang asisten rumah tangga mempersilahkan Saga masuk ke dalam rumah, sementara sekertaris Li menunggu di mobil.
“Saga…” sapa Budhe Sarah, dia mendekat ke arah Saga, lalu mengajaknya duduk di kursi ruang tamu. “Kok mendadak, ada apa?” tanya wanita itu.
“Iya Budhe"
“Bukan Budhe, aku hanya ingin bertemu dengan Carolina”
“Oh…kemana tadi ya anak itu” Budhe Sarah menyapu pandangan ke segala arah.
“Apakah dia tidak ada di rumah?” tanyanya tenang.
“Ada…ada kok, tadi ada, sebentar”
“San….Santiii” teriaknya pada salah satu asisten rumah tangganya.
“Ya Nyonya…” jawab asisten rumah tangga yang bernama Santi mendekat.
“Kemana Carolina?”
“Di belakang Nyonya, tadi berenang”
“Di belakang, biar dipanggil ya” tawar Budhe Sarah.
“Biar aku yang kesana Budhe” Saga bangkit dari duduknya dan menuju kolam renang di belakang. Dia sudah snagat hafal rumah itu.
“Ada apa ya kok nyari Carolina?” gumam Budhe Sarah.
__ADS_1
Carolina tengah duduk di salah satu kursi malas dekat kolam, dia sudah selesai berenang dan sudah memakai bathrobe.
Saga berdiri di samping Carolina yang tengah bersantai, butuh waktu beberapa detik untuk menyadari kehadiran seseorang di sana.
“Saga!” ujarnya terkejut. “Sejak kapan kamu di sini?” Carolina menurunkan kakinya, kini dia berdiri di dekat Saga.
Saga menatap Carolina dingin, berbagai umpatan ingin dia ungkapkan, tapi dia menahannya.
“Dengar ya, jika kamu tidak minta maaf padanya, maka aku akan menyeretmu ka kantor polisi” ancamnya.
“Maksud kamu apa? Kamu kenapa datang-datang mengancamku?” Carolina mencak-mencak.
Diam-diam Saga melihat rekaman CCTV, dia melihat bagaimana Carolina sengaja mencederai Ganis saat itu hingga pingsan. Rasa marah menguasai dirinya saat melihat hal tersebut, demi apapun dia tidak akan tinggal diam melihat seseorang yang paling dia cintai disakiti oleh orang lain, meskipun itu adalah sepupunya sendiri. Dia tidak akan segan membuat perhitungan, jika perlu dia akan menyeretnya ka kantor polisi.
“Ck…jangan mengelak, ingat pesanku, sekali lagi kamu menyentuh atau menyakitinya, kamu akan berurusan denganku” ucap Saga lalu pergi. Carolina melongo, bagaimana bisa laki-laki itu mengancamnya hanya karena dia bermain-main dengan Ganis. "Dan aku tunggu permintaan maafmu!"
“Hah?” Carolina tersenyum sinis.
Saga berlalu meninggalkan Carolina yang masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Saga padanya. Teman bermain saat kecil, sepupunya yang saat kecil dulu akrab dengannya dan sudah seperti saudara kandungnya itu benar-benar berubah, hanya karena Ganis.
“Sudah berbicangnya?” Budhe Sarah yang duduk di teras sambil menikmati teh hangat terperanjat melihat Saga sudah keluar rumahnya.
“Sudah Budhe”
“Sudah selesai bertemu dengan Carolina?”
“Sudah Budhe, terima kasih” ucapnya sambil membungkukkan badan memberikan salam.
“Oh…apa kamu tidak mau minum dulu?”
“Terima kasih Budhe, lain waktu saja, aku masih ada kerjaan” Saga melepaskan senyum kecilnya.
“Oh baiklah, hati-hati, dan salam buat Mama dan istrimu ya”
“Iya Budhe”
Saga masuk ke dalam mobilnya seusai pamit dengan Budhe Sarah, wajahnya tetap tenang dan tidak menampakkan kemarahan sama sekali.
“Jalan Pak Li” titahnya.
“Iya Tuan”
Mobil melaju ke arah tujuan selanjutnya, misinya belum berakhir, dan dia akan menuntaskan semua sebelum pulang dan memperbaiki semua dengan Ganis.
__ADS_1
Cintanya orang pendiam itu terkadang lebih dari ekspektasimu, bahkan lebih. iya nggak sih? hehe