
Yang ada di benak Barata, dia hanya ingin setidaknya Alex tidak bertindak lebih jauh lagi. Dia ingin merebut pistol tersebut dengan sisa tenaga yang dia miliki, namun apalah daya. Alex yang beringas merangsek mencoba merebut pistol tersebut. Barata yang tengah berdiri sambil membawa pistol dengan tangan kanannya, Alex merangsek dan menghentikan Barata, kini dia memeluk Barata dari depan, tangannya mencoba merebut pistol yang Barata pegang.
"Lepaskan Pa, berikan padaku!" seru Alex.
"Kamu jangan gila Lex!" Barata tak kalah berseru.
Alex masih saja berusaha merebut, Barata agak kewalahan, pistol itu sekarang berada di posisi tangan depan. Alex merasa mudah untuk merebutnya. Terjadilah tarik menarik, Mulut pistol itu menghadap tepat di perut Barata, Alex yang kalap kekeh merebut pistol tersebut tanpa sengaja menarik pelatuknya, tak ayal peluru menembus tubuh Barata.
"Doooooorrrrrr!" sekali, namun keras. Barata awalnya kaget, terasa ada sesuatu yang masuk dalam tubuhynya. Dia melihat ke arah perutnya, bajunya mulai dipenuhi dengan noda darah yang mengalir. Kini pistol itu sudah berada di tangan Alex.
Barata memegang lukanya, tangannya yang mencoba membekap lukanya tak sanggup menghentikan darah yang mengalir.
Alex yang masih berada di posisi depan Barata nampak bengong, tangannya terasa lemas. Hampir saja pistol tersebut jatuh dari tangannya. Dia melihat begitu banyak darah yang mengalir sebelum tubuh Barata roboh tepat di hadapannya.
"Pa....Papa...!" teriaknya, dia menangkap tubuh Barata yang terhuyung ke depan, kini tubuhnya memegang tubuh Barata. Pistol masih berada di tangannya.
Alex menggelengkan kepalanya, lalu melepas tubuh Barata sehingga terjatuh ke lantai. Alex mematung sambil melihat tubuh Barata nanar.
Mendengar suara tembakan, perawat serta para asisten rumah tangga keluar, perawat yang akhir-akhir ini bertugas menjaga Barata berteriak kencang saat melihat banyak darah yang bercecer di lantai, dan melihat Barata telungkup di lantai sudah dalam keadaan tidak sadar.
Sedangkan Alex berdiri mematung tanpa melakukan apapun.
"Tuaaaannnn...Tuan Barata....!" teriaknya sambil mencoba menolong tuannya. "Ayo bantu" ujarnya kepada dua asisten yang lain. Mereka segera menggotong Barata ke dalam mobil.
Alex masih bengong seperti tidak bersalah, saat mobil mulai meninggalkan pekarangan rumah. Alex baru merasa ketakutan.
"Tidakkk....aku tidak membunuh Papa, dia sendiri yang mencelakai dirinya" serunya sambil bersiap masuk ke dalam mobil.
Belum sempat masuk ke dalam mobil, Saga dengan berjalan kaki mendekatinya. Alex membulatkan mata saat melihat sosok Saga.
Saga semakin mendekat, Alex menatap Saga dengan bengisnya, merasa umpannya sedang siap dia terkam. Saga menatap Alex tajam, Alex bersiap dengan pistolnya, siap menodong dan menarik pelatuknya.
Namun dengan sigap, Saga menendang tangan kanan Alex yang tengah bersiap dengan pistolnya. Alex gelapan saat Saga berhasil menjatuhkan pistolnya. Pistol itu jatuh ke tanah, agak jauh dari jangkauannya.
Alex gelagapan, dia mengepalkan tangan dan melayangkan satu pukulan ke wajah Saga. Tepat mengenai rahang Saga. Saga mengeratkan giginya dan bersiap memberikan balasan. Dia merangsek maju dan memukul Alex, mengenai wajahnya juga. Alex terhuyung dan terjengkang ke belakang.
Saga bersiap kembali jika Alex bangun dan menyerangnya. lex meraba saku celananya dan mengeluarkan pisau lipatnya. Dia perlahan berdiri dan bersiap menyerang Saga dengan pisau tersebut.
__ADS_1
Saga yang hanya dengan tangan kosong bersiap menghadapi Alex. Alex merangsek maju dan berhasil menggoreskan pisau tersebut ke lengan Saga.
Melihat ada noda darah di kemejanya, Saga merasa tertantang untuk menuntaskan hasrat ingin melumpuhkan Alex. Dia menendang tangan Alex dan melancarkan pukulan beberapa kali, hingga Alex kembali terjatuh dan merasa berat untuk berdiri seketika.
Menyadari jika Saga tak juga kembali, sekertaris Li diam-diam menghubungi polisi. Dia segera menyusul Saga yang tengah baku hantam dengan Alex.
Dia melihat ada luka di lengan kiri Saga.
"Tuan...Tuan...berhenti, jangan sampai Tuan terluka" sekertaris Li mencoba menghalangi Saga, dia tidak ingin Saga semakin terluka.
Alex masih tergeletak di tanah, Saga kembali mendekat dan menendang Alex.
"Tuan cukup...cukup...!" sekertaris Li memegang Saga.
Bersamaan dengan itu, polisi datang ke lokasi. Alex yang tanpa perlawanan harus menyerah dan bersiap di bawa ke kantor polisi.
***
Alex yang nampak berantakan, bajunya juga dipenuhi dengan noda darah sudah berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan.
"Saya tidak melakukan apapun!" teriaknya.
"Dan baru saja kita mendapat kabar dari rumah sakit jika Tuan Barata meninggal, tidak lain adalah Papamu" ujar salah satu penyidik.
Mendengar hal demikian, Alex mendongak. Apakah yang dia dengar itu kenyataan? "Apa?" serunya.
"Iya, Tuan Barata meninggal" jelas penyidik itu lagi.
Alex kembali menunduk, tidak ada lagi orang terdekat di dunia ini untuknya, setelah Mamanya yang sekian lama sudah meninggal, kini Papanya meninggal karena ulahnya.
Alex tergugu, seperti anak kecil yang kehilangan barang kesayangan. Jika sudah tidak ada baru terasa.
Saga yang mendengar jika Barata meninggal hanya bisa menghembuskan nafas. Dia masih berdiri sambil memperhatikan Alex dengan kedua tangan terborgol, tangannya berada di atas meja penyidikan, kini dia meletakkan kepalanya di atas tangannya, menunduk.
***
Setelah memberikan keterangan hampir seharian, Saga pulang ke rumah. Mendapati noda darah di kemeja suaminya, Ganis panik, terlebih saat Saga melepas kemejanya, terdapat sebuah perban yang membalut luka lengan kiri Saga.
__ADS_1
"Apakah ini sakit?" tanya Ganis. Akhirnya dia juga menyadari jika rahang Saga juga terlihat memar. Dia mengelus rahang Saga.
Saga memegang tangan Ganis yang berada di wajahnya, lalu dia menggeleng.
"Tak terasa sakit, asal melihat kamu baik-baik saja" ucapnya sambil tersenyum.
"Ini kenapa Mas? kenapa bisa begini?" Ganis masih mencoba Saga memberikan jawaban.
"Alex"
"Hah?" Ganis terkejut menengar nama itu.
"Kamu berkelahi dengan Alex?" tanyanya.
Saga tersenyum, tangannya memainkan anak rambut Ganis, dia melihat pancaran wajah istrinya yang sangat mengkhawatirkannya.
"Sekarang sudah selesai, baik-baik saja"
"Maksudnya?"
"Iya, dia sudah berada di kantor polisi"
"Iya kah Mas? beneran dia yang mau mencelakai aku kemarin?"
Saga mengangguk, dan hari ini dia juga melakukan kesalahan fatal"
"Apa itu?"
"Saling berebut senjata dengan Papanya, Papanya tertembak dan meninggal dunia"
Ganis menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, sama sekali tidak mengira akan seperti ini.
"Sungguh...ini seperti sebuah film" Ganis menggelengkan kepalanya.
"Sudah usai, semoga tak ada lagi yang usil terhadap keluarga kita setelah ini"
"Amiiiin....oh ya Mas, tunggu ya...aku kompres pakai air hangat dulu ini memarnya, pasti sakit" Ganis meninggalkan Saga dan mengambil kompres.
__ADS_1
Saga duduk di kursi balkon dengan bertelanjang dada, menunggu Ganis datang dan mengompresnya. Jika ada kesalahan sedikit saja tadi, bisa-bisa nyawanya juga melayang di tangan Alex. Ehntah kekuatan apa yang membuatnya melawan Alex tanpa rasa takut sedikitpun.