
Seolah dibuat jantungan, mengapa peristiwa tidak mengenakkan ini kembali terjadi. Dan lagi, Nyonya Rima harus tahu berita ini belakangan.
Dia berjalan tergesa masuk ke dalam ruangan Ganis, di sana sudah ada Saga yang memang sejak semalam tidak pulang ke rumah.
"Kamu ini...!" gerutu Nyonya Rima pada Saga, Ganis melihat kedatangan ibu mertuanya tersebut. Dia sedang duduk di atas ranjang.
Saga tersenyum melihat Mamanya mengomel padanya, Nyonya Rima berada di tepi ranjang Ganis.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya lembut, wajahnya nampak emas melihat Ganis untuk kesekian kalinya berada di rumah sakit.
"Ganis tidak apa-apa Ma..."
Nyonya Rima menghembuskan nafas lega, "Lalu...?" Dia menggantung pertanyaannya, seolah memahami terusan kalimat tersebut, Ganis tersenyum sambil memegang tangan Nyonya Rima.
"Baik-baik saja Ma..."
Kembali Nyonya Rima menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah" ujarnya. Saga mengambil kursi dan meminta Mamanya duduk. "Kamu pulanglah mandi ganti baju, Mama di sini dulu jaga Ganis" perintah Nyonya Rima.
Saga menggeleng, "Nanti saja sekalian bareng Mama, Dini ikut kan Ma?" tanya Saga.
"Iya, dia masih di luar"
"Ya sudah, nanti Ganis biar sama Dini di sini, Mama pulang bareng aku, nanti Pak Li juga kesini kok"
"Ya sudah. Kamu sudah sarapan belum?"
Saga menggeleng, "Belum lapar" jawabnya, rambutnya sedikit berantakan, dia masih mengenakan kemeja kantor sejak kemarin.
"Tapi nanti aku bisa pulang kan Mas?" tanya Ganis, dia berharap benar bisa pulang, karena dia merasa sudah tenang.
"Ya lihat nanti deh, apa kata dokter"
Ganis merengut, dia ingin pulang ke rumah hari ini juga.
***
Saga dan Nyonya Rima sudah pulang, Ganis teringat jika dia belum sama sekali menjenguk Salwa. Ganis turun dari ranjang.
"Nona mau kemana?" tanya Dini sambil membantu Ganis turu dari ranjang.
"Aku belum menjenguk Nona Salwa yang sudah menyelamatkan nyawaku" ujarnya.
"Oh...kamarnya di mana?" tanya Dini melepas tangannya dari Ganis, karena Ganis merasa baik-baik saja dan tidak perlu dipapah.
"Kita tanya Pak Li" ucapnya sambil mendekat ke arah pintu. Dini berjalan mendahului Ganis, dengan sigap dia membuka pintu tersebut.
Terlihat sekertaris Li melihat ke arah pintu saat pintu terbuka, segera dia berdiri dan membungkukkan badan memberikan hormat pada Ganis.
__ADS_1
"Nona mau kemana?" tanya Sekertaris Li ramah.
"Kamar Salwa di mana ya pak?" tanya Ganis.
"Oh...sini Nona" Sekertaris Li menunjuk sebuah ruangan yang ternyata hanya berjarak satu ruangan dari kamarnya.
"Oh...terima kasih Pak Li, saya mau jenguk Nona Salwa dulu"
"Silahkan Nona..."
Sekertaris Li berjalan di belakang Ganis, begitu juga Dini. Mereka berdua tidak ikut masuk dan memilih menunggu di depan ruangan.
Ganis mengetok pintu ruangan Salwa, tak menunggu lama, seseorang dengan wajah ramah membukakan pintu untuknya. Seorang laki-laki dengan tubuh gempal dan tinggi itu.
"Oh silahkan masuk" ujarnya, Ganis mengangguk sambil tersenyum.
Terlihat Salwa tersenyum dan mencoba untuk duduk saat melihat Ganis datang. Laki-laki tadi membantu Salwa duduk.
"Sudah nyaman?" tanya laki-laki itu lembut pada Salwa. Salwa mengangguk. "Aku keluar dulu ya" pamitnya.
"Iya" jawab Salwa.
Laki-laki itu pun keluar dari kamar Salwa, kini tinggal mereka berdua di dalam kamar.
"Nona....apa kabar?" tanya Salwa dengan wajah sedikit pucat.
"Nona Salwa yang apa kabar?" Ganis balik bertanya, dia merasa bersalah pada Salwa.
Ganis terdiam beberapa saat, lalu dia menatap Salwa tajam. Sorot matanya mendadak berkaca-kaca.
"Eh Nona kenapa?" tanya Salwa melihat ekspresi wajah Ganis yang sendu.
"Maafkan aku Nona..." Ganis memeluk Salwa dengan pelan. Salwa yang awalnya kaget dengan apa yang dilakukan Ganis pun membalas pelukan Ganis. Dia mengelus punggung Ganis, bibirnya tersenyum.
Ganis melepas pelukannya, dia mengusap air mata yang mengalir di sudut matanya.
"Jika tidak ada Nona Salwa, aku nggak tahu apa yang akan terjadi" ujarnya sambil tersenyum getir.
"Ah...hanya kebetulan Nona" sahutnya merendah. Ganis menggeleng, dia benar-benar berhutang budi pada Salwa. Dia benar-benar merasa bersalah pada gadis yang selalu dia cemburui itu.
"Nona baik-baik saja kan?" Salwa memastikan kondisi Ganis. "Saya takutnya Nona kenapa-napa, apalagi saya dengar Nona sedang hamil" imbuhnya.
Ganis duduk di tepi ranjang, dia mengangguk. "Iya, Alhamdulillah kata dokter semua baik-baik saja.
"Syukurlah" ucap Salwa tulus. "Akhirnya saya bisa bertemu dan ngobrol langsung dengan Nona"
"Eh..."
"Oh ya...nanti Nona bisa datang kan ya di acara tunanganku?" tanya Salwa.
__ADS_1
"Tunangan?" tanya Ganis agak terkejut, matanya membulat. Salwa mengangguk.
"Semoga aku sudah pulih"
"Oh kapan itu?"
"Dua minggu lagi, kemarin saya juga sudah memberikan undangan untuk Tuan Saga" cakapnya.
Obrolan Salwa dengannya membuat Ganis semakin merasa bersalah, selama ini Salwa sudah memiliki kekasih, angan-angan jahatnya tentang Salwa benar-benar Salwa.
"Maafkan aku Salwa...." pekiknya dalam hati.
"Jadi...?" Ganis menunjuk ke arah pintu.
"Iya...dia calonku" ucap Salwa malu-malu.
Ganis menutup mulutnya, dia benar-benar merasa tertampar dengan semua ini. Sudah memupuk cemburu yang tidak beralasan. Dugaan yang salah selama ini, yang membuatnya membenci Salwa.
"Semoga kamu sudah sehat, dan aku pastikan aku sama Mas Saga akan datang" Ganis berucap yakin, matanya berbinar.
"Terima kasih Nona"
Ganis memegang tangan Salwa erat."Jangan panggil aku Nona, aku merasa tidak pantas, karena Nona Salwa lebih cocok aku panggil itu"
"Ah tidak mau, meskipun Nona lebih muda dariku, aku menghargai Nona karena istri bos saya, tidak enak jika memanggil sembarangan" Salwa menolak.
"Apa tubuh Nona Salwa sakit sekali?" tanya Ganis.
Salwa menggeleng, "Sedikit, tapi sekarang sudah baikan kok, Nona jangan khawatir, saya mah kebal" gelak Salwa.
Ganis mengerutkan kening.
"Oh ya dulu saat SMA saya itu ikut kegiatan bela diri gitu, sama Tuan Saga juga"
"Oh?" Ganis semakin mengerutkan kening.
"Apa Tuan Saga belum pernah cerita jika dulu kita satu sekolah? dia kakak kelas saya dulu, hanya saja Tuan Saga nampaknya lupa"
Ganis mengangguk-angguk.
"Jadi memang kita sudah saling kenal sejak lama Nona, tapi tenang saja, kita murni berteman, tidak ada perasaan apa-apa" Salwa menjelaskan, seolah menjawab pertanyaan yang dia pendam di hatinya.
Ganis tidak tahu harus berkata apa, Salwa yang selama ini dia cemburui, ternyata orang yang baik hati, orang yang rela mengorbankan diri untuk menyelamatkannya. Malu rasanya, Ganis menunduk, ingin rasanya dia menangis.
Kini dia menyadari bahwa selama ini yang dia lihat dari Salwa adalah memang gaya Salwa, yang mudah akrab dengan orang. Yang berpakaian juga menurt style dia. Ganis menggelengkan kepalanya, lalu dia menatap Salwa sambil menyunggingkan senyum.
Ganis kembali memeluk Salwa.
"Sekali lagi terima kasih Nona....dan aku sangat-sangat minta maaf pada Nona" ucap Ganis bergetar. Salwa yang bingung kenapa Ganis harus melakukan hal tersebut padanya lagi.
__ADS_1
"Sama-sama Nona..maaf juga jika tanpa saya sadari saya menyakiti hati Nona Ganis"
Berasa ada beban yang hilang dari lubuk hatinya yang terdalam, rasa lega dalam hati begitu terasa. Bahwa selama ini dia telah salah duga.