Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 120 : Hari Ini, Esok, Dan Seterusnya


__ADS_3

Bersamaan dengan menunggu kehadiran bayi dalam kehidupan rumah tangganya, banyak pekerjaan juga yang harus diselesaikannya di kantor. Hari ini bahkan dia tidak sempat sarapan, selepas mandi dan bersiap, Saga segera meminta izin pada Ganis untuk berangkat ke kantor.


Ganis yang memahami kesibukan suaminya dengan sigap meskipun agak payah dengan keadaan perutnya yang semakin membuncit tetap membuatkan bekal untuk sarapan di kantor.


"Baik-baik di rumah sayang, akalu ada apa-apa lekas telepon aku ya" pinta Saga setelah mengecup kening lalu mencium perut buncit Ganis.


"Iya Mas, hati-hati berangkatnya, jangan ngebut" pesan Ganis. Saga segera masuk ke dalam mobilnya dan melambaikan tangan pada Ganis, Ganis membalas lambaian tangan Saga, kemudian dia mengusap perut dengan tangan kirinya, bibirnya menyunggingkan senyum.


"Saga sudah berangkat?" tanya Nyonya Rima yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.


"Eh Mama...iya Ma, ada pekerjaan penting katanya, makanya buru-buru"


"Sudah sarapan?" tanya Nyonya Rima lagi.


"Belum Ma, tapi tadi sudah aku bawakan bekal kok" jawab Ganis.


"Oh ya sudah"


"Ma..." sergah Ganis, Nyonya Rima menghentikan langkahnya, dia akan menuju ke kebun bunga mawar yang ada di samping rumah.


"Iya kenapa Nis?" tanya Nyonya Rima melihat wajah Ganis yang seperti menahan sakit.


"Perut Ganis mules Ma, tapi masih jarang-jarang sih" ujarnya sambil menahan sakit, tangan kirinya memegang pinggang.


"Hah? yang benar?" Nyonya Rima mengajak Ganis duduk di kursi teras. "Mules ya? kamu hitung nggak berapa menit sekali munculnya?" tanya Nyonya Rima agak sedikit panik, ini adalah pengalaman pertama dia harus melihat orang lain lahiran.


"Mungkin setengah jam sekali Ma" jawab Ganis, dia sudah merasa sejak dinihari tadi, tapi dia tidak bilang pada Sga, takut jika suaminya khawatir.


"Kamu kok nggak bilang suamimu? sekarang dia malah berangkat ke kantor"


"Aku pikir ini masih belum Ma, jadi ya membiarkan Mas berangkat ke kantor.


"Ya sudah, Mama siap-siap dulu, eh barang-barang sudah siap kan?"


"Kita mau kemana Ma?" tanya Ganis, dia masih belum berpikiran pergi ke rumah sakit.


"Ke rumah sakit, Mama nggak mau terjadi apa-apa di rumah, karena di rumah tidak ada ahlinya" ujar Nyonya Rima. Akhirnya Ganis menurut apa yang dikatakan oleh Mama mertuanya, dia juga segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


 


***


Setelah memimpin rapat di pagi hari, Saga baru sempat membuka bekal sarapan yang dibawakan oleh Ganis, beberapa potong roti dengan selai kacang kesukaannya. Sesekali pandangannya melihat ke arah layar laptop yang menyala, terdengar suara pintu diketok.


"Masuk" ujarnya.


Sekertaris Li masuk ke dalam ruangan dengan membawa tumpukan berkas yang harus ditandatangai olehnya.


"Silahkan dilanjut Tuan" saat Sekertaris Li menyadari jika Saga sedang sarapan.


"Tidak apa Pak Li, sini aku tanda tangani jika memang perlu sekarang" Saga menutup kotak bekal dan menggesernya agak jauh dari tangannya. Sekertaris Lia mengangguk lalu meletakkan dokumen tersebut untuk segera ditanda tangani oleh Saga.


"Jam berapa kita ada meeting dengan klien dari perusahaan yang kemarin kesini?"


"Setelah ini Tuan, jam 9" jawab Sekertaris Li sambil mengambil lembaran berkas yang sudah ditanda tangani oleh Saga.

__ADS_1


"Lalu?" Saga menanyakan agenda setelah itu.


"Ada kunjungan yang harus Tuan lakukan setelahnya, di anak cabang perusahaan"


"Baik" Saga menuntaskan dokumen terakhir yang dia tanda tangani.


"Terima kasih Tuan" sekertaris Li mengucapkan terima kasih dan pamit undur diri dari ruangan.


HP Saga berdering,


Mama Calling.......


Segera Saga menggeser tombol hijau,


"Ya Ma?"


"Hah? di rumah sakit mana?" wajahnya seketika mendadak panik. "Iya Ma, aku segera kesana"


Saga kembali memanggil sekertaris Li untuk segera ke ruangannya.


Sekertaris Li dengan segera kesana.


"Pak Li, tunda semua agenda hari ini, saya mau ke rumah sakit, Ganis mau melahirkan" ucapnya terburu.


"Baim Tuan" sahut sekertaris Li. "Semoga persalinan Nyonya berjalan dengan lancar"


"Terima kasih Pak Li"


***


Wajahnya yang tegang agak mencair saat melihat putranya datang,


"Kamu sudah datang? ayo lekaslah masuk, temani istri kamu di dalam" pintanya pada Saga. Tidak menunggu lama, Saga segera masuk ke dalam ruang bersalin.


Dilihatnya Ganis tengah berjuang melahirkan normal, perasaannya campur aduk melihat Ganis yang penuh dengan peluh sedang mengerang kesakitan. Saga mendekat, mengusap pelih istrinya, dia genggam erat tangan istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu bisa sayang" ucapnya memberikan semangat.


Ganis tidak memberikan balasan apa-apa, dia kembali berjuang melahirkan anak pertamanya, digenggam erat tangan Saga untuk mendapatkan kekuatan agar bayinya segera lahir ke dunia.


Melihat Ganis berjuang begitu beratnya, membuat Saga tidak tega.


"Bagaimana? apakah kamu masih kuat sayang? jika tidak, kita bisa operasi saja" ucapnya seolah berputus asa.


"Tidak Mas, semoga masih bisa"


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? apakah dia baik-baik saja?" seru Saga pada Dokter Lucy.


"Tidak apa-apa Tuan, Nyonya Ganis dalam keadaan baik-baik saja, dan kemungkinan besar bisa normal"


Saga agak lega mendapat penuturan dari Dokter Lucy, dia kembali memberikan semangat pada Ganis.


Selang 2 jam, putra pertama mereka akhirnya lahir ke dunia, terdengar suara tangisan yang keras. Saga menangis sesenggukan mendengar suara tangisan putranya, dia lalu mengecup kening Ganis.


 

__ADS_1


"Terima kasih sayang....terima kasih sudah berjuang" ujarnya parau, Ganis hanya mengangguk. Air matanya meleleh, air mata haru akhirnya dia menjadi seorang Ibu.


Para perawat sedang memebersihkan bayi mereka dan mengurus Ganis. Saga pamit pada Ganis untuk keluar sebentar dan memberitahukan berita bahagia tersebut pada Nyonya Rima.


Nyonya Rima lantas berdiri dari kursi tunggu saat melihat Saga keluar dari ruang bersalin, wajah putranya nampak sumringah.


"Bagaimana?" tanya Nyonya Rima tidak sabar.


"Sudah lahir Ma, cowok" jawab Saga lalu memeluk Mamanya erat.


"Alhamdulillah...Mama jadi Oma" serunya girang, tetapi air matanya menetes.


"Iya Ma"


"Ganis bagaimana? dia baik-baik saja kan?" Nyonya Rima memastikan.


"Dia baik-baik saja Ma, sedang mendapatkan perawatan dari dokter, nanti kalau sudah beres semua, akan dipindah ke ruang perawatan"


"Syukurlah....tak sabar rasanya Mama ingin melihat cucu Mama"


"Iya Ma"


    Kebahagiaan sedang menyelimuti keluarga Saga, mereka berkumpul di ruangan VVIP yang dipesan oleh Saga. Nyonya Rima dengan setia menunggu Ganis di kamar perawatan, begitu juga Saga.


Nyonya Rima menggendong cucunya tersebut, dilihatnya paras cucunya, hampir sama dengan Saga saat bayi dulu.


"Mirip sekali dengan kamu saat bayi" ujar Nyonya Rima melihat paras cucunya, hidungnya yang mancung dan kulitnya yang sangat bersih.


"Masa sih Ma?" tanya Saga ikut mendekat.


"Iya"


"Iya nih Ma, padahal Bundanya yang mengandung 9 bulan, malah wajah plek ketiplek dengan Papanya" seru Ganis, disambut tawa oleh Nyonya Rima dan Saga.


"Nanti kalau mau yang mirip kamu, kita proses lagi ya" goda Saga, candaan Saga sontak membuat Ganis pura-pura cemberut. Membayangkan lahiran yang membutuhkan proses lama dan menegangkan cukup membuatnya trauma.


"Iya kan Ma?" goda Saga lagi.


"Kamu ini, sana temani istrimu, dipijiti atau apa gitu"


"Iya iya Ma..." Saga nurut, dia memandang bayi mungil yang ada digendongan Mamanya, lalu dia berjalan ke arah Ganis, dan duduk di sebelah istrinya.


"Mana yang lelah? sini aku pijitin" urainya sambil tersenyum bahagia.


"Semuanya" ujar Ganis.


"Semua? baiklah, dimulai dari kaki dulu" Saga memijat kaki Ganis perlahan.


Sementara Nyonya Rima masih sibuk menina bobokan cucunya.


 


Maafkan Author ya lambat banget updatenya, lagi sakit. hehe


Sehat-sehat ya kalian semua......

__ADS_1


__ADS_2