Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Dua Puluh : Mau Dilamar?


__ADS_3

“Aku sudah merencanakan hari ini jauh-jauh hari, terima kasih kamu sudah mau menemani” Radian tersenyum lebar. Ganis duduk di samping kirinya, dia sendiri yang mengemudikan mobilnya.


“Oh ya, kamu sudah tahu belum kalau Bu Ann mau pulang?”


“Hah? Benarkah?” tanya Ganis terkejut.


Radian mengangguk, “Kenapa kamu kaget?”


“Enggak, aku senang mendengarnya, barangkali setelah ini Nona bisa merencanakan kembali apa-apa yang kemarin sempat tertunda”


“Pernikahan maksudmu?”


Ganis tidak menjawab, dia bingung apa yang sebenarnya Anaya inginkan, mengapa dia menghilang dan merencanakan semua ini.


“Jadi selama ini Bu Ann ternyata tidak keluar negeri, dia menenangkan diri di suatu tempat” imbuh Radian lagi. Ganis semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya Anaya rencanakan.


“Ah sudahlah, mengapa kita jadi membahas Bu Ann” Radian tersenyum manis, kini pandangannya menuju arah jalan raya.


“Iya” Ganis mencoba tersenyum.


             Mobil telah terparkir di suatu tempat, Radian tidak menjawab sedari tadi tujuan mereka kemana. Hanya dia mengatakan meminta Ganis untuk pergi bersamanya.


Ganis membuka pintu mobil, Radian juga sudah turun dari mobil. Ganis mengamati bangunan yang ada di depannya, tidak salah lagi jika itu adalah sebuah butik.


“Butik?” tanya Ganis, Radian menggandeng tangan Ganis. Ada rasa berbeda yang dia rasakan, jantungnya berdetak lebih cepat. Laki-laki yang selama ini dia kagumi sedang menggandeng tangannya.


“Aku tahu kamu adalah stylish yang kece, pilihlah, maka aku akan menyukai semua pilihanmu” Radian mengajak Ganis memasuki tempat tersebut. Berjejer gaun dan kebaya pernikahan yang manis dan cantik, hampir didominasi warna putih.


            Tidak seperti saat memilih baju pernikahan Anaya waktu itu, Ganis tidak sendirian melihat gaun itu, kini Radian dengan setia mendampingi Ganis.


Apakah mas Radian sedang mempersiapkan semua ini untukku? Apakah setelah ini mas Radian akan…..


Lamunan Ganis terhenti saat karyawan butik mengajaknya berbicara, “Bagaimana dengan yang ini mbak dan mas?” karyawan butik itu menenteng gaun kebaya modern yang sangat indah, sederhana tapi sangat elegan. Ganis menyentuh kebaya tersebut, senyumnya merekah.


“Kamu suka?” tanya Radian.


“Bagus kan?” Ganis balik bertanya.


“Yang ini mbak”


“Apakah tidak dicoba pak?” tanya karyawan itu.

__ADS_1


            Tanpa menunggu perintah, karyawan itu menggandeng tangan Ganis untuk mencobanya. Ganis kebingungan dan mencoba menolak, tapi Radian mengangguk. Setelah beberapa menit, Ganis keluar dari kamar ganti dengan mengenakan pakaian pengantin. Radian terpukau dengan apa yang dilihatnya, matanya hampir tidak berkedip melihat Ganis. Radian mengangkat dua jempolnya ke arah Ganis, membuat Ganis tersipu malu.


            Setelah dari butik, mereka menuju sebuah toko perhiasan untuk membeli cincin. Ganis seolah sedang menjadi seorang calon mempelai yang sesungguhnya. Mereka melangkah dan sedang memilah milah


cincin yang dirasa cocok. Di dalam etalase tersebut terdapat bermacam-macam perhiasan, mereka berada di depan etalase yang memajang beraneka macam model cincin.


“Silahkan Pak, ingin memilih model cincin yang seperti apa?” tanya karyawan laki-laki tersebut dengan ramah.


Ganis memperhatikan ke dalam etalase, terdapat salah satu cincin yang menarik perhatiannya, namun dia diam saja. Dia tidak mau percaya diri jika Radian membeli cincin tersebut untuknya.


“Yang itu” Radian menunjuk cincin yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hati Ganis.


“Ini pak” karyawan tersebut mengulurkan cincin itu, Radian mencobanya.


“Maaf pak, kalau boleh tahu ini untuk pertunangan atau pernikahan?”


“Ehm..pernikahan” jawab Radian mantap. Ganis menatap Radian, laki-laki itu tengah sibuk dengan pilihan cincin sehingga tidak merasa jika Ganis sedang memperhatikannya.


“Bagaimana menurut kamu Ganis?” pertanyaan tiba-tiba mengagetkan Ganis, lalu dia menoleh ke arah cincin yang ditunjukkan oleh Radian.


“Ehm…bagus mas”


“Lalu bagaimana dengan ukurannya pak?” tanya karyawan tersebut sambil mengeluarkan sepasang cincin yang dimaksud. Radian mengambil cincin yang diperuntukkan untuk mempelai perempuan, lalu dia raih tangan Ganis, mencari jari manisnya, lalu disusupkannya cincin tersebut di jari manis tersebut.


“Pas, saya rasa pas. Yang ini saja”


“Baik pak, lalu apa lagi pak?”


“Sudah itu saja”


“Baik, silahkan bapak menunggu di ruang tunggu, saya buatkan pesanannya dan surat-suratnya pak”


Mereka duduk di sofa yang dikhususkan pelanggan untuk menunggu, Ganis meneguk ludahnya, tidak bisa mengontrol detak jantungnya. Apalah benar Radian akan  melamarnya? Lalu nasib pernikahannya bagaimana? Haruskah dia jujur saja jika ingin melakukan pernikahan lebih baik menunggu enam bulan lagi setelah dia bercerai dengan Saga?


“Kamu kenapa Ganis?” tanya Radian.


“Ehm…nggak apa-apa mas, em…lapar…iya lapar”


“Oh, aku kira kenapa, setelah ini kita makan”


            Sesuai yang dikatakan Radian, kini mereka sudah ada di restoran yang tidak jauh dari tempat mereka membeli cincin tadi. Ganis memesan steak dan juga jus jeruk, sebenarnya dia begitu lapar seperti apa yang tadi diucapkannya pada Radian, dia benar-benar bingung dengan apa yang dilakukan Radian. Apakah dia akan menikah atau bagaimana?

__ADS_1


“Mas….ehm…”


“Oh ya, ada film yang baru rilis, sepertinya di sini ada bioskopnya, mau nggak nonton bareng?”


Belum selesai Ganis ingin bertanya, Radian dengan sangat bersemangat ingin menonton dengannya.


Kamu ingin menonton mas? Apakah ini bagian dari rencana kamu ingin memberikan kejutan untukku? Di bioskop hanya ada kita berdua lalu…..


“Bagaimana?” tanya Radian lagi, membuyarkan lamunan Ganis.


“Boleh mas” balas Ganis, dia masih tersenyum-senyum sendiri dengan hayalannya. Lalu jika benar yang terjadi, jawaban apa yang harus dia ucapkan nantinya.


            Saat mereka memasuki bioskop, ternyata hampir semua kursi terisi oleh penonton lainnya. Berarti ini bukan


bagian dari rencana Radian, ini hanya murni keinginan Radion ingin menonton di bisokop. Mereka berada di barisan tengah, mereka duduk berdampingan. Kali ini mereka menonton film romantis terbaru karya sutradara terkenal di negeri ini. Pikiran Ganis kemana-mana, tidak tertuju pada film yang sedang dia tonton. Sementara Radian fokus menonton film tersebut tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ganis.


“Akhirnya selesai juga, bagus sih filmnya, bagaimana menurut kamu?”


Mereka berada di barisan orang-orang menuju pintu keluar bioskop.


“Ehm..iya mas, bagus” Ganis menjawab asal, sebenarnya dia tidak menikmati tontonan yang dia lihat.


Karena sudah sore, mereka memutuskan untuk pulang saja setelah dari bioskop, kini mereka sudah ada di dekat mobil Radian.


“Tahu nggak kenapa aku mengajak kamu nonton film tadi?” mereka berdiri saling berdekatan, mereka masih berada di luar mobil. Radian menyender di pintu mobilnya.


Mungkin ini waktunya, lanjutkan mas. Ganis menyiapkan hatinya.


“Tentang taaruf….kini aku juga ingin taaruf dengan seseorang”


Deeg….


jantung Ganis benar-benar berdebar kencang, bodo amat jika Radian menembaknya di tempat yang nggak ada romantis-romantisnya juga nggak apa-apa. Ganis mendengarkan dengan seksama, matanya beradu pandang dengan Radian. Ini seperti mimpinya sejak lama, perasaannya pada Radian yang dia pendam sejak lama akhirnya akan menemukan jawabannya. Dan mungkin inilah waktunya.


 


 


Nah, sudah update ini kelanjutannya. Terima kasih sudah menunggu kelanjutan cerita ini, jangan lupa like, vote, dan rate ya....terima kasih yang sudah memberikan hadiah juga. hehe


dan jangan lupa, follow akun author ya, klik profil author lalu klik "ikuti" terima kasih. Happu Reading ^^

__ADS_1


__ADS_2