
They are not submiss
They are not subsunk
They are on eternal patrol
Jika daratan tak juga menjadi tempatmu berpulang, maka surga yang akan menjadi tempatmu sekarang
Sejenak tundukkan kepala untuk KRI Nanggala 402, Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya...
Kau belahan jiwaku…
Penerang gelapku…
Kau penghibur laraku…
Di saat ku terjatuh…
Terima kasih….kau tlah mencintaiku
Terima kasih…kau tlah menyayangiku
Tetap di sini
Temani aku…sepanjang hidupku….
(Lyric: Tri Suaka)
Saga khusus memilih lagu tersebut dan diputar di dalam mobil, dia mencoba mencari tahu apa kesukaan Ganis. Perjalanan pulang mereka diiringi lagu kesukaan Ganis. Rona bahagia terpancar dari keduanya, sesekali Saga memegang tangan Ganis, mengenggamnya erat.
“Jangan pernah pergi” ucap Saga.
“Jangan membuat kepalaku terasa besar” canda Ganis.
Saga tersenyum, bukan ingin melontarkan gombalan, tapi ini memang isi hatinya pada Ganis. Perasaan lega menjalari hatinya, akhirnya dia bisa melihat gadis itu tetap berada di sisinya. Perjalanan yang sudah penuh dengan aral melintang.
“Terima kasih sudah menerimaku apa adanya, Mas” urai Ganis. Saga menoleh ke arah Ganis, tangan kirinya kembali turun dari kemudi, mencari tangan kanan Ganis, lalu menggenggamnya lagi.
“Ternyata cincin itu pas di tanganmu” Saga mengusap cincin yang ada di jari manis Ganis. “Aku mengira-ngira, takut salah ukuran, karena kamu tahu sendiri aku tidak jago menebak” jujurnya.
Membuat Ganis teringat pada saat di mana Saga menebak ukuran bra-nya kala itu.
“Sudah pas, tidak salah kali ini”
“Kita bisa merencanakan kehidupan kita selanjutnya” Saga kembali konsentrasi mengemudi.
Sesampainya di rumah, Saga memegang erat jemari Ganis masuk ke dalam rumah. Nampaknya sedang ada tamu, terdengar dari ruang tamu ada yang sedang bercakap di dalam.
__ADS_1
Budhe Sarah dan Nyonya Rima menoleh ke arah Ganis dan Saga yang baru saja tiba. Ganis melepaskan tangannya dari Saga, lalu mencium tangan Budhe Sarah dan Nyonya Rima. Carolina nampak di sana juga, hanya saja dia membuang muka saat melihat Ganis dan Saga tiba.
“Carolina…” senggol Budhe Sarah. Membuat Carolina harus menatap Ganis, dengan ogah dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ganis.
Ganis melihatnya dengan heran, demi apa Carolina mendadak minta maaf padanya. Saga menatap Ganis dan menganggukkan kepala memberikan kode.
“Maaf” ucap Carolina pelan.
“Iya sama-sama, aku juga minta maaf jika ada salah” meskipun Ganis tidak punya salah dengan gadis itu.
“Ma…Budhe, kami istirahat dulu ya, capek” pamit Saga.
“Oh ya, silahkan” ucap Budhe Sarah mempersilahkan.
Saga dengan segera menggamit lengan Ganis, sebenarnya Ganis ingin bergabung dengan Nyonya Rima dan Budhe Sarah, tapi Saga menariknya.
“Jangan lagi terlibat, mari kita tidur” bisik Saga sambil meniti anak tangga.
“Kamarku di bawah” ucap Ganis tak kalah berbisik.
“Kamu sedang tidak datang bulan kan?” bisiknya lagi.
Ganis tersenyum, tangan kirinya memukul dada Saga pelan.
“Loh aku serius” ucap Saga masih menggoda.
Ganis masuk ke dalam kamar Saga kembali, sudah lama dia tidak masuk kamar itu, bahkan untuk mengambil baju kotor milik Saga. Dilihatnya, masih sama, dan dia merindukan kamar itu, bukan karena kamar itu mewah. Dia sangat merindukan suasana di kamar itu bersama Saga. Bercanda atau sekedar nongkrong di balkon.
Saga memeluk Ganis dari belakang.
“Apakah kamu merindukan kebersamaan kita di sini?” tanyanya. Ganis mengangguk kecil. Ganis melihat kopernya di dekat lemari, tebakannya benar, Saga membawa koper Ganis ke kamarnya.
Ganis memutar tubuhnya, kini mereka berhadapan, dia agak mendongak agar bisa melihat wajah Saga.
“Begini kah?” wajah mereka sudah berjajar, Ganis mencoba melepaskan diri.
“Katanya ingin sejajar?” Saga masih belum melepaskan Ganis.
“Atau kamu mau aku buatkan kursi khusus agar bisa berdiri sejajar denganku? Hem?” goda Saga.
Saga mengangkat lebih tinggi dari tinggi badannya, kini wajah Ganis berada di atasnya. Membuat Ganis ketakutan.
“Turun Mas, aku takut”
Saga memeluk Ganis erat. Lalu berjalan mendekati ranjang.
“Mas turuuun” pinta Ganis.
Perlahan dia membaringkan Ganis ke atas ranjang, sedangkan Saga berada di pinggir ranjang.
“Aku mau cuci muka” pamit Ganis bangkit setelah dibaringkan ke ranjang. Saga membuka gorden balkon, lalu dia duduk di sana. Sedangkan Ganis sudah berada di kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Setelahnya dia menyusul Saga yang dari tadi seolah menunggunya di balkon.
“Langit cerah” ujar Saga sesaat menyadari Ganis sudah duduk di sebelah kirinya.
“Iya”
“Mengerti perasaanku” imbuhnya lalu tersenyum.
__ADS_1
“Sejak kapan kamu suka ngegombal Tuan Muda?” ujar Ganis sambil tersenyum pula.
Mereka tertawa berdua, tangan Saga meraih kepala Ganis dan menyenderkan di bahunya.
“Tetap seperti ini, maka duniaku akan baik-baik saja”
“Nah kan gombal lagi”
“Serius aku ini” Saga protes, Ganis mengulum senyum melihat Saga ngambek.
“Kenapa Carolina tiba-tiba datang minta maaf?” tanya Ganis tiba-tiba.
“Orang salah ya harus minta maaf” jawab Saga enteng.
“Tapi…”
“Hehm…kita di sini bukan untuk membahas dia yang kekanak-kanakan” Saga kembali protes.
Ganis menegakkan kepalanya, lalu melihat Saga dari samping. Rambut laki-laki itu sedikit berantakan diterpa angin.
“Rambut kamu sudah panjang”
“Besok ke salon, temani” ucapnya manja tanpa menoleh ke arah Ganis.
Hidung laki-laki yang ada di sampingnya itu nampak sangat mancung, sampai detik ini dia merasa ini bukan hal nyata.
“Mengapa aku merasa ini seperti mimpi”
Saga mencubit pipi Ganis pelan.
“Aduuuuh” jerit Ganis.
“Sakit?” Saga mengubah posisinya, duduk menghadap Ganis. Ganis mengangguk.
“Berarti ini tidak mimpi, baik kalau kamu merasa ini mimpi, mari kita wujudkan resepsi pernikahan kita yang akan selalu dikenang orang”
“Hah?” Ganis bengong.
“Ayo, kita tidur, sudah malam, sudah lama aku tidak tidur berdua dengan orang di kamarku” Saga berdiri dan meninggalkan Ganis.
Setelah membersihkan diri dan berganti piyama, Saga berbaring di atas ranjang, sedangkan Ganis sedang menyisir rambutnya.
Setelah mendapatkan protes berkali-kali dari Saga karena dia terlalu lama berada di depan cermin, Ganis akhirnya ikut merebahkan diri ke atas ranjang.
Saga mengubah posisinya menjadi miring, menghadap Ganis. Ganis pura-pura tidak melihat Saga. Dia memejamkan mata.
“Jangan tidur dulu” Saga menyentil hidung mancung Ganis, spontan Ganis membuka matanya.
“Katanya ngantuk?”
“he..he..he” Saga tersenyum jahil. Ganis ikut mengubah posisinya, miring juga. Mereka berhadapan.
“Setelah di ranjang jadi tidak ngantuk” Saga mengedipkan matanya.
“Bagaimana kalau kita nonton sponge bob?” tawar Ganis, pasti di TV kabel ada, meskipun dia sendiri tidak pernah menonton sebelumnya, tapi dia sudah terlanjur yakin.
“Tidak mau, aku maunya nonton kamu” Saga kembali melontarkan gombalan mautnya, membuat pipi Ganis memerah.
Wajah mereka saling mendekat, nafas mereka saling beradu, terasa hangat. Ganis memejamkan mata, menikmati setiap hal yang dia dapatkan dari Saga. Rindu yang kemarin terbang bebas, kini sudah menemukan ruangnya. Saling melepas kerinduan dengan perasaan yang sama.
__ADS_1
Tidak ada perasaan canggung di antara keduanya, dengan berbagai hal yang sudah mereka alami sebelumnya. Jemari mereka saling bertaut, seiring dengan perasaan mereka yang semakin menguat.
Sudah senin lagi, saatnya vote rekomendasi ada di aplikasi para readers semua. Jangan lupa Vote_nya buat Author ya...hihihihi. thank you.....