Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Tiga Puluh Empat : Selamatkan dia, Tuhan…


__ADS_3

Sekertaris Li baru saja mengabarkan jika Ganis mengalami kecelakaan, ditemukan oleh para petani sayur tergeletak pingsan dengan beberapa luka di badannya, hingga kini gadis itu belum juga siuman. Mendengar kabar tersebut, Saga terhenyak dan ingin rasanya memaki dirinya, kini dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap segera sampai di rumah sakit yang dikatakan oleh sekeraris Li.


Dengan langkah cepat, Saga segera menuju ruang yang diinfokan oleh sekertaris Li, lorong rumah sakit yang tidak seberapa panjang terasa sangat panjang olehnya, dia ingin segera melihat Ganis secara langsung. Saga terhenti di depan sebuah ruangan, nampak tertulis ICU di sana. Saga menatap ruangan tersebut nanar, seolah tidak percaya. Apa yang terjadi dengan gadis itu?


Sekertaris Li dan 3 orang yang memakai jas membungkukkan badan memberikan salam saat melihat Saga tiba di tempat tersebut. Nafasnya memburu, rasa sesak memenuhi dadanya.


“Mengapa semua ini terjadi?” ujar Saga menahan amarah, dia melihat sekertaris Li dan pengawalnya bergantian. “Mengapa semua ini terjadi?” ulang Saga.


“Maafkan kami Tuan, tidak bisa menjaga Nona dengan baik” sekertaris Li membuka percakapan, mewakili ketiga orang yang ada di sampingnya. Raut wajahnya tak kalah sedih, begitu juga dengan 3 pengawal tersebut, nampak terus menunduk. Perasaan bersalah menyelimuti mereka.


“Mengapa kalian membiarkan dia pergi sendirian? Bukankah sudah aku katakan, antar dia kemanapun dia pergi!” ucap Saga masih dikuasai emosi, dia benar-benar frustasi dengan keadaan ini. Kedua tangannya mengepal menahan amarah.


“Maaf Tuan, Nona tidak mau dikawal, beliau ingin sendirian” imbuh sekertaris Li.


“Aku tidak mau tahu!” sergah Saga.


Pembicaraan mereka terhenti ketika dokter dan perawat menghampiri mereka. Saga dengan cepat mendekati dokter laki-laki tersebut.


“Bagaimana keadaan dia dokter?” suara Saga sedikit bergetar. Hatinya tak karuan.


“Tuan, istri Anda mengalami retak tulang tangan kanan, ada beberapa luka di tubuhnya, kami sudah melakukan tindakan awal untuk istri anda, karena ini rumah sakit kecil jadi anda bisa menentukan langkah selanjutnya untuk penanganan istri anda” dokter itu menjelaskan, karena ini memang rumah sakit yang tidak terlalu besar,


sehingga alat-alat yang ada di sana juga terbatas.


“Malam ini juga, akan saya bawa istri saya untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit yang lengkap peralatannya dokter”


“Silahkan Tuan”


“Pak Li, urus semua”


“Baik Tuan”


            Malam ini juga, Ganis dibawa dengan ambulans menuju rumah sakit besar untuk mendapatkan tindakan selanjutnya, dalam perjalanan, Saga terus menemani gadis itu terbaring di mobil ambulans. Tangannya tak henti menggenggam erat tangan Ganis. Sesekali dia merapikan rambut Ganis yang terlihat berantakan di dahi gadis itu, matanya terpejam, luka di pelipis kanannya nampak diperban, bekas jahitan dari rumah sakit sebelumnya.


“Bangunlah Ganis” ucap Saga lirih, ingin rasanya dia berteriak agar gadis itu segera tersadar.


             Mereka telah tiba di rumah sakit, para dokter dan perawat langsung tanggap memeriksa Ganis. Dokter

__ADS_1


mengkhawatirkan jika terjadi sesuatu di kepala Ganis, sehingga dia melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan. Saga duduk di kursi tunggu, menangkupkan kedua telapak tangannya di wajahnya. Sekertaris Li duduk di sebelahnya, menepuk pundak Saga pelan.


“Kalau terjadi sesuatu padanya, aku tidak bisa memaafkan diriku Pak Li” ujar Saga menatap sekertaris Li perlahan.


Dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi tangan kanan Ganis yang retak agar segera bisa pulih. Saga memasrahkan segalanya pada dokter, apapun agar Ganis bisa lekas pulih.


            Ganis sudah dipindah ke ruang perawatan, namun dia belum siuman. Dokter memberikan kabar baik, jika


pemeriksaan yang dilakukan secara menyeluruh menyatakan jika Ganis baik-baik saja. Tidak ada masalah yang serius di kepala Ganis. Saga bisa sedikit bernafas lega. Kini dia duduk di tepi ranjang, menunggu gadis itu, berharap akan segera siuman.


“Tuan silahkan beristirahat, biar saya yang menjaga Nona” sekertaris Li masuk ke dalam ruangan, namun Saga tidak memberikan jawaban. Dia masih duduk di kursi sebelah ranjang Ganis.


“Saya mau tetap di sini Pak Li, Pak Li pulanglah dan juga handle urusan di kantor nanti” dia tahu jika sekertaris Li juga belum istirahat sama sekali.


“Baik Tuan” sekertaris Li pamit undur diri meninggalkan ruang perawatan Ganis.


Saga menatap gadis itu seolah tanpa berkedip, meskipun rasa kantuk dan lelah tengah dirasakannya, namun sama sekali tidak membuatnya ingin tidur.


“Tu…an…tolong aku” rintih Ganis, jemarinya mulai bergerak, kelopak matanya mencoba membuka. Saga segera mendekatkan tubuhnya ke arah Ganis. Nampak Gadis itu belum tersadar seutuhnya, di pikirannya, dia merasa masih berada di tempat dia mengalami kecelakaan.


“Kamu sudah sadar?” Saga menatap Ganis, mata gadis itu terbuka sempurnya, sesekali dia memicingkan matanya, agak samar dia melihat apa yang ada di sekelilingnya, kepalanya terasa berat karena pengaruh bius masih menjalari tubuhnya.


“Syukurlah Nona Ganis sudah sadar, keadaannya baik Tuan, perlahan kesadarannya akan pulih, Nona masih agak bingung karena masih terkena pengaruh bius” ucap perawat itu diikuti rasa syukur Saga. Ganis menatap Saga dan perawat itu bergantian.


“Saya keluar dulu Tuan, nanti dokter akan kesini, mohon ditunggu”


“Terima kasih suster” balas Saga, kini dia duduk kembali di kursi samping ranjang Ganis.


Setelah beberapa lama, Ganis baru menyadari dia sekarang berada di kamar sebuah rumah sakit, selang infus menancap di tangan sebelah kiri, sedangan tangan sebelah kanannya dipasang gips. Hal terakhir yang dia ingat adalah saat kakinya terpeleset dan dia jatuh terguling, selebihnya gelap. Badannya terasa sakit, kepalanya juga nyeri. Ganis mencoba bangun.


“Jangan bangun dulu” sergah Saga.


“Apa ini sakit?” Saga menatap gadis itu, wajahnya tetap sama, datar.


Ya iyalah, secara Lukaku sampai begini masih ditanya pula….


“Tidak seberapa Tuan” jawab Ganis, kalimat itulah yang meluncur dari bibirnya.

__ADS_1


Jawaban bodoh macam apa pula ini yang meluncur dari mulutku, sudah jelas-jelas ini sakit, kenapa aku bilang tidak seberapa. Aku hampir mati.


Ganis merutuki dirinya, nampaknya dalam hati kecilnya dia tidak ingin membuat Saga khawatir dengan keadaannya. Sehingga jawaban itulah yang keluar.


“Kamu…masih ingat aku?” Saga menunjuk dirinya. Ganis mencelos, ingin rasanya dia mencubit laki-laki yang ada di sampingnya, seolah sedang mengajaknya bercanda. Jelas-jelas dia Saga, Si Tuan muda yang payah dan kaku seperti kanebo kering.


“Oh, dari ekspresimu itu, aku percaya bahwa kamu memang baik-baik saja” imbuhnya, Ganis menahan tawanya.


“Bukankah ini sudah pagi Tuan?” Ganis melirik ke arah gorden jendela kamar di mana dia dirawat, terlihat terang. Saga mengangguk, pandangannya mengikuti arah yang dilihat Ganis. Saga berdiri dan membuka gorden tersebut.


“Tuan harus kerja” Ganis mengingatkan.


“Jadi kamu mengusirku?” Saga kembali duduk, kali ini dia berbaring di atas sofa yang tidak jauh dari ranjang.


“Tuan…”Ganis membuka suara.


“Hem” Saga membuka matanya, melirik gadis itu, lalu berjalan mendekatinya.


“Aku haus”


Saga segera berdiri dan mengambilkan air yang ada di pojok ruangan, dan membantu Ganis minum dengan menggunakan sedotan.


“Apa kamu juga lapar?” tanyanya, Ganis mengangguk.


“Sudah aku duga, wajahmu sudah kelihatan” Saga mengejek. Ganis menyunggingkan senyumnya.


“Apa kamu mau makan mie?” tanya Saga menggoda, Ganis merekahkan senyumnya, pertanda dia tidak menolak.


“Jangan harap! Kamu lagi sakit!” Saga terkekeh, senyum yang menyungging di bibir Ganis sirna begitu saja saat mendengarnya.


Perasaan lega menjalari hatinya, kini dia bisa melihat Ganis siuman dan bercanda dengannya, setidaknya dia masih akan bisa bersama dengan gadis itu.


Tuhan, terima kasih…


 


 

__ADS_1


Terima kasih yang sudah menunggu kelanjutannya, Happy Reading...^^


 


__ADS_2