Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Tiga Puluh Sembilan : Kembali Ke Kampung


__ADS_3

Matahari masih belum terlihat, keadaan masih gelap di luar. Ganis membuka matanya, lalu menuju kamar mandi, dia terlalu bersemangat untuk pergi ke kampung halamannya. Sementara Saga membuka matanya perlahan saat mendengar alarm HPnya berbunyi, dia melihat arah sofa, Ganis sudah tidak ada di tempatnya.


“Gadis itu terlalu bersemangat” gumamnya, dia bangkit dari ranjangnya dan meregangkan tubuhnya, dia berjalan ke arah tempat air, mengisi gelas dengan air putih lalu meminumnya. Terdengar gemricik orang mandi dari dalam kamar mandi. Saga membuka jendela kamarnya, berjalan menuju balkon. Keadaan masih benar-benar gelap di luar, lampu taman di kediaamannya masih menyala dengan indahnya.


Ganis keluar dari kamar mandi, dan melihat seisi kamar, Saga sudah tidak ada di tempat tidurnya. Dia melirik ke arah balkon, dilihatnya Saga sedang menatap arah langit.


“Aku terlalu bersemangat” ujar Ganis sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Saga kembali masuk ke dalam kamar, lalu duduk di atas ranjang.


“Segeralah berkemas, bawa baju-bajumu” perintah Saga, Ganis menghentikan aktivitasnya, matanya membulat, dia curiga Saga akan mengusirnya.


“Tuan…mengu-sirku?” Ganis bertanya polos.


“Kamu kenapa selalu berpikir aku ini orang jahat!” Saga menatapnya sebal.


“Kan cuma sehari Tuan, nanti malam juga sudah sampai di rumah lagi”


“Kita liburan”


Kita? Dia menyebut kita? Ganis girang mendengar kata itu, hanya saja dia tidak memperlihatkannya.


“Tidak ada penginapan di sana Tuan” Ganis mencoba menerangkan.


“Kita buat kemah nanti, kita akan romantis di sana” ucap Saga bercanda.


“Oh” hanya kata itu yang keluar dari mulut Ganis.


“Jangan lupa bawa bra yang sesuai ukuranmu” Saga kembali berulah. Ganis menyilangkan kedua tangannya di dada. Saga tertawa kecil, gadis itu kembali kegeeran hanya dengan kalimat itu.


“Tuan jangan macam-macam ya, di sana tempatnya memang sangat indah, tapi jangan aneh-aneh ya” Ganis menatap Saga masih dengan posisi tangan yang sama.


Terdengar suara Saga terkekeh hingga menutup pintu kamar mandi.


Ganis kembali mengeringkan rambutnya, dia sudah berganti baju dari dalam kamar mandi. Kini dia membuka lemari dan memilih baju yang akan dia bawa, tidak hanya bajunya, dia juga menyiapkan baju Saga. Setelahnya Ganis duduk di depan cermin, merias wajahnya tipis-tipis agar terlihat segar.


Ganis selesai berkemas dan siap untuk berangkat, Saga keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya, Ganis melihat Saga sehabis mandi dengan seksama, nampak sangat segar dan wajahnya terlihat keren dengan tatanan rambut basah nan acak-acakan itu.


“Jangan melihatku seperti itu hei, apa kamu tidak pernah melihat orang setampan aku?” Saga meletakkan handuknya sembarangan di atas ranjang.


“Hiiiiisss” Ganis membuang pandangan, kemudian dia mengambil handuk saga dan meletakkan di tempatnya.


“Mantramu tidak mempan untuk memeletku” ujar Saga lagi, kini dia menyisir rambutnya, seperti biasa, kaos dan celana jeans menjadi andalannya saat santai. Sentuhan terakhir, Saga menyemprotkan parfum ke tubuhnya, salah satu hal yang paling disukai Ganis, yaitu aroma parfum yang dipakai Saga.

__ADS_1


“Apa sudah siap semua?” tanya Saga memastikan, Ganis mengangguk.


            Tuan Candra dan Nyonya Rima melambaikan tangannya, melepas Saga dan Ganis pulang ke kampung Ganis.


“Hati-hati ya” Nyonya Rima melambai hingga mobil sudah menghilang dari pandangan.


Sudah setahun lebih Ganis tidak berziarah ke makam Ibunya, dia sudah sangat rindu, selain itu dia juga sangat merindukan suasana yang ada di kampung halamannya. Bayangannya adalah rumah panggung yang dekat dengan persawahan yang hijau, suara burung, hujan, dan air di sungai. Benar-benar suasana yang sangat dia rindukan. Sepanjang perjalanan Ganis tak henti menyiratkan kebahagiaan.


“Berapa jam kira-kira kita akan sampai?”


“Uh? Apa Tuan lelah menyetir mobil?” tanya Ganis menoleh ke kanan. “Sekitar 4-5 jam Tuan” jawab Ganis kemudian.


Jalan yang dilalui untuk sampai di kampung halaman Ganis tidak hanya membutuhkan waktu yang agak lama, tetapi juga harus melewati jalanan yang lumayan menantang dengan kelokan-kelokan yang lumayan tajam, jalanan juga tidak selalu mulus, karena aspal mulai rusak. Tapi mobil Saga terlalu nyaman, sehingga Ganis dengan santainya tidur dan menyandarkan kepalanya di sandaran. Map dari HP menjadi pemandu jalan buat Saga.


Mobil sudah memasuki kampung halaman Ganis, Ganis membuka matanya, begitu terkejut saat dia mengenal daerah yang sedang dilaluinya sekarang. Ganis melihat ke samping. Benar, dia sudah berada di kampung halamannya. Sawah-sawah yang menghijau dengan tanaman padi yang sangat subur, para petani sedang sibuk


di sawah, jalan yang dilalui juga tidak terlalu bagus.


“Kesana sedikit lagi, nanti ada belokan ke kiri, nah di sana makam Ibu” Ganis menunjuk jalan di depannya, Saga tidak menjawab, dia mengikuti arahan Ganis. Dan tibalah mereka di area makam tersebut. Ganis turun dari mobil, begitu juga Saga.


“Sebentar, aku beli bunga dulu” Ganis berjalan menuju sebuah warung kecil yang menjual bunga di dekat makam. Setelahnya dia kembali dan mengajak Saga menuju makam Ibunya.


Ganis berjongkok di sebuah makam yang terlihat tidak terawat, banyak rumput liar yang tumbuh di sana, terang saja, karena sejak beberapa hari kepergian Ibunya, dia sudah meninggalkan kampung ini. Sebelum menaburkan bunga, Ganis mencabuti rumput yang tumbuh di atas makam Ibunya, Saga yang berjongkok ikut mencabuti rumput yang tumbuh.


“Ibu, aku menantumu datang, tapi anak Ibu sangat cerewet” ucap Saga seakan sedang berbincang dengan Ibunya. "Salam kenal Bu" imbuhnya.


“Ibu, ini Tuan Saga, Bu…ehm…Mama dan Papanya sangat baik sama Ganis, Ibu tidak usah khawatir”


Saga melirik ke Ganis.


“Dan dia juga lumayan baik Bu” imbuh Ganis, Saga tersenyum kecil mendengarnya.


“Bu, maaf kalau lama tidak mengunjungi Ibu, tapi doaku tak pernah terputus untuk Ibu, aku rindu Ibu” imbuh Ganis sambil mengusap pusara Ibunya.


Selesai sudah mereka mencabuti rumput liar yang tumbuh, kini mereka berdoa dan menaburkan bunga ke makam Ibunya.


“Makam ayahmu di mana?”


“Oh..Ayah? makamnya nggak di sini, dulu waktu Ayah meninggal, beliau berada di kampung halaman pak de, jauh di luar pulau” jawab Ganis.


“Oh”

__ADS_1


Mereka berdiri, Ganis berpamitan dengan Ibunya. Lalu mereka kembali menuju mobilnya, hari sudah siang, bahkan menjelang sore, tapi matahari sama sekali tidak terlihat, karena mendung pekat sedang menutupinya.


“Mungkin sebentar lagi akan turun hujan, di sini memang curah hujannya tinggi. Lalu mau kemana sekarang? Di sini tidak ada penginapan, apalagi hotel” jawab Ganis sambil membuka pintu mobil.


“Kita buat kemah, bagaimana kalau di sekitar sini saja?” ujar Saga sambil tertawa jahil.


“Ternyata kamu sangat jahil Tuan” Ganis memakai sabuk pengaman, mobil perlahan meninggalkan area makam.


“Apa kamu tidak punya saudara di sini?” tanya Saga penasaran. Ganis menggeleng. Dia memang tidak punya saudara satu pun di kampung halamannya.


Mobil berjalan perlahan karena jalanan sempit dan rusak, Ganis mengamati apa yang ada di depannya. Nampak seorang perempuan yang sedang berjalan menggendong bakul yang terbuat dari anyaman bambu.


“Sebentar Tuan, berhenti sebentar”


Saga menghentikan laju mobilnya, Ganis membuka sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil, dia turun dan berjalan mendekati perempuan yang dilihatnya.


“Bik Janaaah” Ganis berteriak girang. Bik Janah adalah tetangganya yang sangat baik padanya, wanita dengan tubuh subur itu menoleh dan terdiam sejenak, sedang menebak siapa orang yang ada di depannya itu.


“Ganis Bik, Ganis” Ganis menunjuk dirinya sendiri.


“Masyaalah…Ganis, apa kabar? Sama siapa kesini? Aduh Bibik sampai pangling”


“Itu” Ganis menunjuk arah mobil yang terparkir di pinggir jalan yang sempit itu, untungnya tidak ada mobil lain yang melintas. Saga masih duduk di kursi kemudi, sambil mengamati Ganis dan perempuan itu ngobrol.


“Siapa?” Bik Janah penasaran.


Sadar jika dirinya menjadi orang yang diperbincangkan, Saga turun dari mobilnya dan menghampiri wanita itu. Bik Janah melongi saat melihat Saga mendekatinya.


“Masyaallah ada artis masuk desa ini mah” Bik Janah tersenyum melihat Saga mendekatinya. Ganis tertawa.


“Tampan sekali, aduh…perlu diumumkan satu kampung ini kalau ada artis masuk desa” imbuh Bik Janah lagi, Saga tertawa kecil. Mengulurkan tangannya menyalami Bik Janah.


“Sopan lagi, haduh…” Bik Janah tak henti memuji, dia benar-benar kagum saat melihat Saga. Ganis semakin tertawa melihat tingkah Bik Janah.


“Ayo ke rumah Bibik, lihat awan sudah sangat gelap, ini sudah pasti akan hujan dengan lebatnya, kalian jangan pulang dulu, menginaplah” Bik janah meminta mereka menginap di rumahnya. Ganis melirik ke arah Saga, dia ragu apakah laki-laki itu akan mau menginap di rumah panggung yang sederhana? Kalau dia tentu mau, karena itu adalah salah satu hal yang dia rindukan. Tapi entah Saga.


“Di mana rumah Bibik?” tanya Saga, Ganis terkejut mendengar pertanyaan Saga, kode jika dia menerima tawaran Bik Janah.


 


 

__ADS_1


Jika ini tembus 15 like, besok Author up 2 episode...


Happy Reading ^^


__ADS_2