Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 98 : Aku Curiga


__ADS_3

Saga membuka matanya perlahan, tangan kanan Ganis masih berada di atas tubuhnya, dia memegang tangan Ganis dan menurunkan perlahan. Dengan pelan pula Saga turun dari ranjang.


Terlihat wajah Ganis yang sedang nyaman tertidur, Saga menaikkan selimut agar Ganis semakin nyaman. Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Jika tidak ada halangan, dia akan mengajak Ganis ke suatu tempat hari ini.


Selepas mandi, Saga masih melihat Ganis tidur dengan posisi semula. Saga tersenyum mendekat, ingin rasanya dia mencium Ganis, hanya saja urung dilakukan, dia takut membangunkan Ganis.


Saga meraih HPnya, mengecek laporan yang masuk. Ada beberapa dari sekertaris Li dan juga Farel, dan ada juga pesan dari Salwa. Semua pesan mengabarkan jika pekerjaan berjalan dengan baik. Saga tersenyum lega, bahkan Salwa benar-benar bisa diandalkan dalam hal pekerjaan.


Saga meletakkan kembali HPnya di atas meja dekat sofa. Lalu dia berjalan mendekati gorden kamarnya, membuka perlahan, hari masih terlalu pagi, bahkan matahari belum muncul.


Saga menatap hamparan laut luas di seberang sana. Terasa sangat indah, tidak rugi rasanya dia merencanakan semua ini, liburan hangat bersama Ganis.


“Mas sudah bangun?” Ganis mengucek matanya, melihat Saga tengah berdiri di dekat jendela kamar. Saga menoleh, melihat Ganis yang kini sudah dengan posisi duduk bersila di atas ranjang.


“Kamu kok sudah bangun?” Saga balik bertanya. Dia berjalan ke arah ranjang.


“Iya Mas”


“Apa kamu merasa baik-baik saja?” Saga duduk di dekat Ganis, mengelus rambut Ganis yang terlihat berantakan. Ganis mengangguk.


“Cepatlah mandi, kita akan sarapan di bawah sana, selepas itu kita pergi”


“Kemana?” tanya Ganis cepat, dia merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan ototnya.


“Kita di sini liburan, jadi ya jalan-jalan sesuka kamu, semau kamu” imbuh Saga menguyek rambut Ganis, kini rambut itu semakin berantakan.


“Baik bos” Ganis beringsut, kakinya menjejak ke lantai, mencari sandal hotel dan bersiap mandi. Saga tersenyum membiarkan Ganis segera pergi untuk mandi. Lalu dia kembali berjalan ke arah gorden, membuka gorden dengan lebarnya.


Matahari mulai terlihat, nampak sangat besar dan warnanya indah. Matahari yang sedang terbit.


Ganis mengeringkan rambutnya dengan handuk sebelum mengeringkannya lagi dengan hairdryer. Dia masih mengenakan bathrobe. Saga menoleh ke arah Ganis sambil melambaikan tangan.


“Sini” ucap Saga, Ganis masih mengusap rambutnya dengan handuk, dia berjalan ke arah Saga.


“Apa Mas?”


“Lihat” Saga menunjuk matahari yang sedang terbit. “Indah bukan?”


Ganis mengangguk, dia menghentikan aktivitasnya, dia berdiri di dekat Saga. Saga merangkulkan kedua tangannya di perut Ganis dari belakang.


“Matahari terbit dan terbenam sama-sama indahnya” ucap Ganis. Saga setuju, dia mengangguk meskipun Ganis tidak melihatnya.

__ADS_1


            Ganis selesai berganti baju, memakai make up, dan membawa hal yang perlu dia bawa dalam perjalanan nanti. Tak lupa Saga membawa kamera yang akan dia gunakan untuk mengabadikan momen mereka berdua.


Mereka akan sarapan terlebih dahulu sebelum jalan-jalan berdua.


Sarapan di pinggir pantai yang indah, dengan hamparan pasir putih yang memukai, deburan ombak kecil sesekali datang berkejaran. Menambah suasana sarapan menjadi nikmat.


Ganis meneguk air putih di gelasnya, lalu membersihkan area bibirnya dengan tisu. Saga sudah selesai sarapan lebih dulu daripada Ganis.


“Hah…merasa benar-benar tenang di sini” ujar Ganis senang.


“Syukurlah kalau ternyata kamu senang”


“Iya lah Mas, seneng banget malahan”


          Selesai sarapan mereka bersiap pergi ke tempat wisata dengan mengendarai mobil, lagi-lagi Saga tidak mau menggunakan sopir. Dia sangat percaya diri untuk mengemudi sendiri, berbekal map online dia akan membawa Ganis menjelajah ke berbagai tempat.


“Mas yakin nggak pakai guide?” tanya Ganis merapatkan sabuk pengamannya.


“Yakin, sudah ayo jangan ragu sama Tuan tampan” kelakarnya.


“Baik Tuan tampan, mari kita jalan-jalan” Ganis tertawa, tangannya membuka tasnya dan mengambil kacamata hitamnya, lalu memakainya.


Saga mengangkat jempol tangan kanannya saat melihat Ganis memakai kacamata tersebut.


“Kita akan kemana pak?” tanya Ganis seolah sedang bertanya pada sopir yang mengantar.


Ganis terkekeh mendengar percakapan mereka.


“Jadi aku akan mengajak kamu ke tempat-tempat bersejarah, tapi tenang saja, tempatnya indah kok, tidak seram atau kuno gitu tidak” Saga buru-buru menjelaskan agar Ganis tidak seram duluan. Ganis mengangguk, terserah mau diajak kemana, asal bersama Saga dia mah suka-suka saja.


            Mereka tiba di suatu tempat yang terdapat padang rumput yang luas, ada beberapa bangunan kuno namun nampak terawat dan bagus, ada banyak para wisatawan juga. Sepanjang perjalanan Saga selalu menggandeng tangan Ganis, kamera yang dia bawa dia sampirkan di bahunya.


Jika menemui spot tempat yang bagus, mereka berhenti untuk berfoto. Sesekali Saga memfoto Ganis secara diam-diam.


Ganis mengibaskan topi besarnya ke tubuhnya, peluh mengalir dari dahinya. Setelah mengambil gambar, Saga mendekat ke arah Ganis. Kembali menggandeng tangannya dan mengajaknya duduk di sebuah tempat.


Sebuah tempat yang menjual es kelapa muda segar. Saga memesan dua buah kelapa muda segar.


Sangat cocok dengan suasa siang yang panas ini, Ganis melepaskan topinya dan meletakkan di sampingnya. Begitu juga Saga, meletakkan kameranya di sampingnya. Mereka duduk di sebuah tempat lesehan, sepanjang pandangan, hanya pepohonan rindang, namun karena memang siang ini terik sekali, hingga peluh tak bisa begitu saja hilang karena sepoi angin.


“Silahkan” ucap seorang pelayan membawa 2 buah kelapa segar yang disuguhkan langsung ditempatnya.


“Terima kasih” ucap Ganis.

__ADS_1


Ganis dengan semangat menikmati kelapa muda segar tersebut.


“Mas, sudah pernah kesini ya?” tanya Ganis penasaran, tempat ini benar, tempat bersejarah namun tidak menyeramkan atau tidak terkesan kuno. Aneka bangunan lama dan juga ada museumnya. Dipadu dengan rindang pepohonan dan juga area rerumputan hijau yang luas.


“Belum sih” Saga menggeleng, dia kembali menikmati degan segarnya melalui sedotan.


“Hah masa? Kok tahu tempat ini?” Ganis masih saja penasaran, dia lupa jika jaman sudah sangat-sangat canggih.


“Kan bisa baca di internet sih sayang” ujar Saga.


“Oh iya” Ganis tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


“Kebetulan aku suka wisata di tempat seperti ini, sudah lama banget” Saga mencoba mengingat sudah berapa tahun lalu. Tidak ada waktu yang longgar yang bisa manfaatkan untuk liburan.


            Hampir seharian mereka berada di tempat tersebut, itupun tidak cukup untuk menjelajah tempat tersebut secara keseluruhan. Saga memutuskan untuk mengajak Ganis kembali ke hotel, dia takut Ganis kelelahan.


Hari sudah malam saat mereka tiba di hotel, mereka kembali memesan makan malam di hotel saja karena badan sudah lelah semua.


Ganis pamit mandi terlebih dahulu, Saga duduk di sofa, tangannya memeriksa hasil foto yang dia ambil seharian ini. Senyum sesekali tersungging di bibirnya saat melihat foto yang bagus.


Tiba-tiba Saga menghentikan aktivitasnya, ingatannya seolah tersentak oleh kejadian tadi malam. Saat dia menanyakan tanggal di mana biasanya Ganis menstruasi.


“Apa jangan-jangan dia…” Saga meletakkan kameranya di atas meja, melihat ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


Saga mendekat ke arah pintu kamar mandi, menunggu Ganis keluar, rasanya dia sudah tidak sabar menanyakannya pada Ganis.


Saga masih setia berada di depan pintu, saat Ganis membuka pintu, dia terkejut melihat Saga berdiri di depannya.


“Ada apa Mas? Mas mau pakai kamar mandinya? Mas kebelet?” tanya Ganis, namun yang ditanya malah senyum-senyum sendiri.


“Sayang…kamu hamil ya?” tanya Saga tanpa berbasa-basi. “Kan kamu telat”


Ganis tertawa mendengar pertanyaan Saga, kenapa suaminya seolah sangat teliti. Ganis mulai berpikir, apakah yang diucapkan Saga memang benar adanya, tidak biasanya dia telat menstruasi.


Ganis mengusap rambutnya dengan handuk, dia berjalan ke arah meja rias. Saga mengikutinya.


“Kamu hamil ya?” tanya Saga lagi.


“Tidak tahu Mas”


“Aku belikan testpack ya?” Saga menaik turunkan alisnya.


“Aku…aku takut kalau hasilnya tidak sesuai keinginan Mas”

__ADS_1


“Pikir belakangan” Saga mengibaskan tangannya.


Tidak sabar dengan apa yang akan dia lihat, Saga tidak menyuruh pegawai hotel melakukannya. Dia akan membeli sendiri alat tesnya, karena di sekitaran hotel tersebut juga ada sebuah apotek besar.


__ADS_2