Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 61 : Teka Teki


__ADS_3

Ganis masih berada di rumah sakit, dengan setia Dini menemani gadis itu. Nyonya Rima masih belum bisa pulang, sesekali dia mengabarkan keadaan Ganis melalui sambungan telepon. Berharap menantunya itu segera sehat dan  pulang.


“Aku sudah mulai membaik mbak Din, kalau mau pulang tidak apa-apa kok” ujar Ganis dengan posisi duduk di atas ranjang, kepalanya mulai terasa ringan.


“Tidak Nona, saya akan di sini menunggu Nona” jawaban Dini sama seperti kemarin, dia kekeh tidak beranjak dari ruang perawatan Ganis. “Em…apa Nona ingin makan sesuatu yang tidak ada di kamar ini?” tawar Dini.


Ganis menggelengkan kepalanya.


“Apakah Tuan sudah pulang?” tanya Ganis tiba-tiba, Dini terkejut mendapatkan pertanyaan tersebut.


“Ehm…Tuan…” otak Dini sedang berjuang mencari jawaban, karena sesungguhnya Saga sudah berada di rumah sekarang begitu mendengar Ganis harus dirawat di rumah sakit. Tapi dia juga heran mengapa Saga tidak juga menjenguk Ganis. Apalah dia yang tidak berani bertanya, takut Saga akan memarahinya untuk kesekian kalinya gegara situasi rumit ini.


“Selamat pagi” sapa seorang perawat setelah memasuki pintu, perawat datang bersama seorang dokter perempuan yang merawat Ganis.


Dini menghembuskan nafas lega saat pikirannya sedang tidak mendapatkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ganis.


“Selamat pagi dokter dan suster” Ganis membalas sapaan dokter dan perawat tersebut. Dini bergeser mempersilahkan dokter dan suster memeriksa keadaan Ganis.


“Apakah masih pusing?” tanya dokter ramah.


“Tidak begitu parah dok”


“Ok berarti ada kemajuan ya Nona Ganis, dan…ehm…masih harus istirahat di sini dulu ya” imbuhnya ramah disambut dengan cemberut di bibir Ganis, dia sudah merasa bosan berada di rumah sakit.


“Sabar ya Nona” imbuh perawat tersebut setelah mengganti cairan infus.


“Iya dok, sus” Ganis membalas.


“Banyak-banyak istirahat dan jangan lupa, pikirannya harus rileks, tidak boleh stress, ini berdasarkan hasil lab, Hb-nya juga sudah mulai naik lagi kok”


“Terima kasih dokter, iya saya akan mematuhi semua nasehat dokter dan suster agar saya lekas pulang” sahut Ganis.


“Baiklah, selamat istirahat ya…saya keluar dulu”


“Baik dok”


Dini menganggukkan kepalanya kepada dokter dan perawat yang meninggalkan ruang tersebut.

__ADS_1


Ganis sudah lupa dengan pertanyaannya yang tadi kepada Dini.


***


Baru kali ini urusan cinta membuat Saga benar-benar menggila, jawaban Anaya sama sekali tidak membantunya untuk memecahkan teka-teki. Apakah benar jika Ganis hadir di hidupnya hanya untuk sengaja menghancurkannya?


Selepas dari kantor, Saga memasuki kamar Tuan Candra. menyapu segala sudut ruang kamar tersebut, memorinya masih dipenuhi dengan kenangan tentang Papanya. Saga mendekat ke arah lemari kayu jati yang berukuran besar di dekat ranjang. Dibukanya perlahan, di dalam lemari ada sebuah laci. Di sana Saga menemukan buku agenda berwarna coklat.


Tuan Candra terbiasa menuliskan hal-hal yang serasa sulit dia ungkapkan pada siapapun di sana. Saga sangat mengenalnya. Dengan segera dia mengeluarkan apa yang ada di dalam laci tersebut. Kemudian dia membawa buku agenda ke kamarnya.


Dibukanya perlahan, berisi catatan yang berkaitan dengan pekerjaan, ada pula yang berisi tentang menantunya. Saga menyunggingkan senyumnya saat Tuan Candra menyayangi menantunya itu dan berharap segera mendapatkan cucu dari Ganis dan Saga.


Dan di lembar terakhir yang terlihat baru ditulis itu, Saga membaca tentang gundah yang Tuan Candra rasakan. Bukan sebuah catatan dirinya sendiri, melainkan sebuah wasiat yang tidak Tuan Candra utarakan secara langsung pada Saga.


Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah tidak bisa lagi berbicara secara langsung kepada Papa.


Ternyata…dia datang dengan kebohongan, tapi sayangnya Papamu ini sudah terlanjur menyukainya


sebagai menantu Papa.


Papa salah, salah karena menjodohkanmu dengan dia yang ternyata mantan tunanganmu. Ternyata dia anak Raharja yang selama ini Papa cari.


Sesalah apapun Ganis datang padamu, dia adalah korban. Sudah, jangan hiraukan perjodohan itu, istrimu tetap istrimu.


Tidak banyak yang Tuan Candra tuangkan dari tulisan tersebut, hanya itu. Saga mencoba mencerna, bahkan Tuan Candra tidak marah sama sekali dengan surat perjanjian yang memojokkan Ganis. Laki-laki itu sangat bijak menanggapi apa yang sebenarnya terjadi. Saga menutup buku agenda tersebut, pandangannya nanar mengarah ke luar jendela balkon.


Jika Tuan Candra saja tidak percaya dengan apa yang dibicarakan Anaya, lantas apakah dia harus percaya dengan apa yang Anaya katakan kemarin?


Saga memegang kepalanya, andai saja Tuan Candra mau menceritakan saat masih hidup, semua tidak akan serumit ini.


            Dengan segera sekertaris Li menuju rumah Saga memenuhi perintah Saga yang tiba-tiba.


“Saya tidak mengerti Pak Li, saya tidak bisa memikirkan ini sendirian” Saga meletakkan agenda berwarna coklat ke atas meja. Sekertaris Li meraihnya dan membaca tulisan tangan Tuan Candra.


“Maaf Tuan, apa mungkin dalam waktu dekat kemarin Tuan Candra bertemu dengan Nona Anaya?”


“Kemungkinan iya, sebelum Papa meninggal”

__ADS_1


“Maaf Tuan, berarti dugaan saya dulu benar mengenai putri Tuan Raharja yang ternyata masih hidup”


Saga mengangguk, mengingat kembali percakapan dengan sekertaris Li kala itu.


“Apa mungkin…” sekertaris Li tidak melanjutkan kalimatnya, dia nampak ragu mengutarakan kalimatnya.


Saga menatap sekertaris Li penuh tanda tanya, di saat seperti ini, dia memang butuh seseorang untuk diajak diskusi.


“Bertemu dengannya pun percuma, saya tidak mendapatkan jawaban apapun” ujar Saga.


“Maaf Tuan, saya rasa di sini Nona Ganis dijadikan alat” ujar sekertaris Li berhati-hati.


“Apa maksudnya Pak Li?” mata Saga membulat.


“Kemungkinan, dengan berita yang dulu keluar, ehm…saat Tuan Candra dituduh menjadi biang keladi meninggalnya kedua orang tua Nona Anaya, maka saya rasa Nona Anaya ada dendam” sekertaris Li mencoba mengutarakan analisisnya.


“Apakah sejauh itu?” Saga masih belum bisa mencerna kemungkinan itu.


“Itu hanya dugaan saja Tuan, maaf”


Saga memejamkan matanya, sebenarnya apa yang diucapkan sekertaris Li masuk akal. Ganis tiba-tiba masuk dalam kehidupannya, Ganis yang polos dan tidak tahu apa-apa pun tidak mengerti mengapa dia harus berada di sini.


“Saya rasa, dengan adanya perjanjian pernikahan dengan Tuan itu, mungkin Nona Anaya menyelipkan misi, tapi maaf saya tidak bisa menerka”


“Apakah Ganis tahu?”


“Maaf Tuan, saya tidak bisa menerka” sekertaris Li menganggukkan kepala meminta maaf.


“Mengapa jadi serumit ini?” gumam Saga.


Saga mengingat-ingat kejadian yang lalu, pada saat tiba-tiba Anaya mengutarakan memiliki asisten pribadi yang sudah dia anggap sebagai saudara, Anaya yang dulu selalu menolak diajak menikah, tapi saat dia tiba-tiba melamarnya, Anaya menyanggupinya. Ganis selalu diajaknya kemana-mana.


“Apakah itu bagian dari rencananya?” Saga masih berpikir dengan tenang, kalaupun iya, berarti dugaan tentang balas dendam itu benar adanya. “Tapi mengapa dia tiba-tiba ingin kembali padanya dan dengan segala upaya ingin menyingkirkan Ganis?”


Saga harus menemukan jawabannya, hanya ingin memastikan, jika rasa cintanya pada Ganis tidaklah salah.


 

__ADS_1


 


Menepati janji, hehe terima kasih pada readers tersayang yang sudah membaca, memberikan like, vote, dan juga hadiah. jangan lupa yang ini juga di like dan vote ya... dan eh...apa tidak ada yang pengen follow Author gitu?? hehe, klik profil Author dan klik ikuti. thanks you...Happy Reading


__ADS_2