
Habibimembawa sebuah gelas yang berisi air putih, dia menuju sebuah ruangan yang ditunjukkan oleh seseorang yang menyuruhnya, tertulis “Pengantin Wanita” di pintu tersebut. Awalnya nampak ragu, namun dia memberanikan diri mengetok pintu sebelum masuk.
Seseorang dari Attrich’s WO membukakan pintu, seragam serba hitam sama dengan yang dipakai oleh seseorang yang menyuruhnya tadi hanya saja tadi memakai masker.
“Ada apa dek?” tanya seseorang tersebut sambil membungkuk di depan Habibi.
“Ini kak, tadi ada yang nyuruh saya membawakan air untuk Kak Ganis, katanya Kak Ganis haus”
Karyawan tersebut nampak tertegun sesaat, melihat ke arah Ganis. Lalu mempersilahkan Habibi masuk.
“Habibi…” seru Ganis.
“Ini kak” Habibi mengulurkan gelas yang berisi air tersebut.
“Eh..”
“Biar hausnya Kak Ganis hilang” Habibi tersenyum, Ganis menerima gelas tersebut.
“Terima kasih ya Habibi, nanti kakak minum”
“Iya Kak, sama-sama” setelah memastikan air tersebut diterima Ganis, Habibi kembali ke ruangannya.
Disya nampak gelisah, dia sedang duduk di kursi semula, dia memainkan jarinya sambil menunduk. Ibu Fatimah kembali masuk ke dalam ruangan, seisi ruangan masih sama, penuh dengan gurauan anak-anak.
Pandangan Bu Fatimah tertuju pada Disya, dia mendekati Disya.
“Kenapa anak Ibu?” tanya Bu Fatimah lembut. Disya mendongak melihat Bu Fatimah, wajahnya nampak sedih.
“Ibu…Kak Ganis dan Kak Saga tidak menginginkan Disya jadi pembawa cincinnya ya?”
“Loh kenapa?” Bu Fatimah nampak kebingungan dengan apa yang dipertanyakan Disya.
“Tadi ada kakak-kakak yang bilang kalau cincinnya nggak jadi Disya bawa” ujarnya jujur.
Bu Fatimah melihat ke arah tangan Disya, box cincin sudah tidak ada di tangannya.
“Cincinnya dibawa?” tanya Bu Fatimah dengan nada lembut.
Disya mengangguk lemah, wajahnya nampak sangat kecewa. Bu Fatimah menenangkan Disya, agar gadis cilik itu tidak menangis.
“Tenang ya…, coba nanti Ibu tanya ke kakaknya. Kakaknya pakai baju apa? Laki-laki atau perempuan?”
“Pakai baju hitam Bu, pakai masker” suara Disya serak, matanya berair. Dia mulai menangis. Bu Fatimah memeluknya agar dia tenang.
Bu Fatimah mengajak Disya ke ruangan Ganis, untuk memberitahukan keadaan yang sedang terjadi. Bahwa cincin tersebut diambil orang, ingin memastikan jika memang itu yang diinginkan Ganis.
__ADS_1
“Ada apa Bu?” Ganis tengah bersiap untuk menuju lokasi acara resepsi. Ganis melihat Disya yang sedang menangis berada di gandengan Bu Fatimah.
“Nak Ganis, apakah benar cincin pernikahannya diminta?”
“Maksudnya gimana Bu?”
“Ini tadi ada orang yang masuk ke dalam ruangan Disya, minta cincinnya katanya sih disuruh sama pengantinnya” Bu Fatimah menjelaskan. Ganis mengerutkan dahi.
“Siapa ya Bu? Aku tidak menyuruh siapa-siapa”
Mendengar jawaban Ganis, tangis Disya semakin pecah. Melihat Disya menangis tergugu, membuat Ganis iba.
“Halo sayang…jangan menangis, tidak apa-apa, Kakak tidak marah” ucap Ganis lembut, berharap tangisan Disya segera mereda.
Disya sesenggukan, “Maafkan Disya Kak” ucapnya sambil tergugu.
“Tidak apa-apa” Ganis mengambil air yang ada di meja untuk diberikan pada Disya, agar gadis kecil itu tenang. Disya meminumnya, dan beberapa detik kemudian bisa mengendalikan tangisannya. Ganis dan Bu Fatimah tersenyum melihat Disya tenang.
“Maaf ya Ganis” imbuh Bu Fatimah.
“Tidak apa-apa Bu”
Resepsi pun dimulai, Ganis dan Saga berada di tempatnya, hanya mereka berdua, sementara Nyonya Rima memilih untuk tidak duduk di depan bersama pengantin.satu per satu tamu undangan datang, mereka memberikan ucapan selamat kepada Saga dan Ganis.
Acara semat cincin pun dibatalkan karena raibnya cincin secara misterius. Saga pun tidak mempermasalahkan. Hanya saja setelahnya dia harus bertanya lebih serius kepada WO nya.
“Selamat ya” ucapnya.
“Terima kasih Nona” jawab Ganis manis, Anaya mengangkat kedua alisnya, lalu berlalu meninggalkan kedua pengantin. Sementara Saga nampak biasa saja dengan kehadiran Anaya, sudah benar-benar menganggap dia teman, tidak ada perasaan lain.
“Tunggu saja” gumam Anaya sesaat setelah turun dari panggung pengantin. “Pasti akan kacau setelah ini”
Lagu-lagu romantis sudah didendangkan, baik dari pengisi acara ataupun dari para tamu undangan yang menyumbangkan suara emasnya.
“Maukah berdansa denganku?” tanya Saga kepada Ganis. Ganis menggeleng.
“Aku tidak bisa berdansa Mas, yang ada nanti malah nginjak kaki mas terus” tolaknya.
“Cuma geser-geser doang, ayoklah sekali seumur hidup, buat kenang-kenangan anak cucu” Saga merayu.
Akhirnya Ganis luluh, dia berjalan digandeng Saga menuju tengah ruangan yang longgar.
Anaya sedang duduk menikmati minuman, Alex berada di dekatnya.
“Kamu tidak aneh-aneh kan, Ann?” Alex melipat tangannya di dada. Anaya nampak tersenyum sinis.
__ADS_1
“Hanya sedikit bermain-main, tenang saja, sebentar lagi pasti heboh” imbuhnya. Alex menggeleng-gelengkan kepalanya, heran dengan Anaya yang berubah menjadi monster mengerikan.
“Ann…”
Anaya mengangkat tangan kanannya, “Aku sedang tidak ingin mendengar apapun” ujarnya. “Aku hanya ingin bermain-main sedikit”
Saga menatap Ganis, memandang wajah istrinya penuh cinta, tangannya melingkar di pinggang Ganis, agak menunduk agar bisa melihat wajah Ganis dengan sempurna.
“Kamu cantik”
“Ah gombal” Ganis tersenyum lebar, sesekali kakinya benar-benar kesulitan untuk bergerak karena sama sekali tidak pernah berdansa.
“Serius” ujar Saga serius, Ganis menghipnotisnya. Benar-benar berbeda hari ini.
“Jadi biasanya tidak cantik?” Ganis pura-pura merajuk.
“Cantik juga” Saga tidak mau kalah. “Bagaimanapun kamu, aku akan tetap mencintaimu, menjagamu, memperjuangkanmu, dan semua muanya” imbuhnya.
Ganis terkekeh, Saga yang pendiam sedang keluar dari zonanya, mengeluarkan semua gombalannya.
“Terima kasih, suamiku” imbuhnya.
Anaya melihat ke arah Ganis dan Saga dengan tatapan sebal, dia melirik jam tangannya, sedikit kecewa dengan reaksi yang diperlihatkan Ganis. Ganis terlihat baik-baik saja.
Alex menikmati minumannya dan terdiam melihat Anaya, dia yakin Anaya sedang melakukan sesuatu untuk membuat keruwetan di tengah acara. Anaya nampak gelisah, berkali-kali melihat jam tangannya. Sesekali melihat ke arah Ganis, benar-benar tidak ada reaksi.
Bu Fatimah nampak panik melihat Disya beberapa kali keluar masuk kamar mandi.
“Perut Disya sakit Bu” rintihnya sambil memegang perutnya. “Disya juga mual”.
Sudah berkali-kali gadis kecil itu masuk ke toilet, tak berapa lama Disya izin ke toilet lagi. Wajahnya kini pucat.
“Kita pulang saja ya Disya, kita ke dokter” pinta Bu Fatimah.
“Disya lemas Bu” ujarnya ketika keluar dari toilet. Tak berapa lama, tubuh gadis itu ambruk.
“Disya…Disya…” Bu Fatimah menepuk pipi gadis itu perlahan agar segera tersadar. Namun tidak ada reaksi.
“Tolong…” pekiknya, ada salah satu petugas kebersihan datang membantu, membopong gadis kecil itu dan membawanya ke bagian Kesehatan yang memang disiapkan juga di acara tersebut.
Setelah dilakukan pengecekan, dokter dan perawat yang berjaga menyarankan agar gadis kecil itu dibawa ke rumah sakit saja. Akhirnya mereka pergi ke rumah sakit.
Pesta pernikahan yang begitu mewah dan diidamkan berjalan lancar itu benar-benar berjalan dengan lancar sesuai harapan. Ganis dan Saga sangat bahagia malam ini.
“Sial!" Anaya meremas tangannya dan meninggalkan pesta tersebut dengan hati dongkol.
__ADS_1
*Sedikit cerita ya, hehe. dari awal buat cerita ini, outline dan bahkan ending sudah ada di benak Author mau gimana nantinya. Tinggal menuangkan dalam tulisan, tapi begitu melihat jumlah like turun padahal pembaca terlihat stabil, itu kek buat semangat Author down. wkwkwk sampai mikir ini mau hiatus apa berhenti nulis aja. hihihi. Terima kasih buat readers yang masih setia membaca cerita ini. Jangan lupa kasih like lah ya....dan ini adalah hari senin, saatnya kalian para readers punya vote rekomendasi, Author akan senang sekali jika di vote oleh kalian para readers yang baik hati. thank you....