Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 92 : (Masih) Edisi Cemburu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Ganis mendadak menjadi pendiam. Saga membiarkan Ganis bersikap begitu, mungkin saja Ganis sedang lelah karena seharian beraktivitas di luar rumah.


Dia melirik ke arah Ganis, istrinya itu sedang bersandar di dan memejamkan mata. Saga mengusap pipi Ganis perlahan.


Ganis memejamkan mata karena sengaja, bukan karena dia mengantuk atau lelah, dia hanya menghindari percakapan dengan Saga, hatinya dongkol sekali. Apalagi saat teringat pada wanita seksi yang tadi.


Sebenarnya dia juga heran dengan perasaannya, tidak biasanya dia menjadi uring-uringan dan cemburu seperti ini.


Saga membuka pintu mobilnya, mereka sudah tiba di rumah. Ganis tidak ada reaksi, Saga membuka perlahan pintu mobil sebelah kiri, Ganis masih terdiam. Istrinya benar-benar tertidur dengan lelap.


Saga membuka sabuk pengaman yang masih melindungi tubuh Ganis, melepas perlahan, lalu membopong Ganis. Dengan tanpa kesulitan dia membawa Ganis ke lantai 2 menuju kamarnya. Tidak ada reaksi apapun dari istrinya, benar-benar dia kelelahan.


Saga membaringkan Ganis di ranjang, lalu menyelimutinya dengan perlahan. Dilihatnya wajah istrinya yang sedang terlelap, sangat damai. Dia tersenyum sambil membenahi rambut Ganis yang Sebagian menutupi wajah Ganis.


Saga segera membuka baju kerjanya yang sedari tadi masih melekat di badannya, lalu dia segera masuk ke kamar mandi.


Setelah mandi, Saga masih melihat Ganis dengan posisi semula, tidak berubah sama sekali. Saga mendekati Ganis, kembali mengelus pipinya, dia berjongkok di pinggir ranjang, mendekatkan wajahnya ke arah Ganis lali mengecup kening Ganis dengan perlahan.


“Nampaknya wanita terbaikku sedang cemburu” gumamnya pelan, lalu tersenyum.


Saga berdiri lagi, berjalan mendekati pintu dan membukanya. Dia keluar dari kamar, lalu menuruni anak tangga.


Lampu masih menyala, Saga mengedarkan ke penjuru ruangan keluarga, namun tidak ada orang, lalu dia berjalan ke arah ruang tamu, lampu terang namun juga tidak ada orang. Saga keluar melewati pintu samping, nampak Nyonya Rima sedang berada di gazebo samping rumah, dekat kolam ikan.


Saga mendekat, Nyonya Rima menoleh ke arah sumber suara langkah kaki. Dilihatnya, Saga dengan wajah segarnya seusai mandi.


“Tumben jam segini Mama belum istirahat?” tanya Saga lalu duduk di samping Nyonya Rima.


“Mama tidak bisa tidur, jadi Mama kesini” Nyonya Rima mengelus pundak Saga. “Ganis sudah tidur?”


Saga mengangguk, lalu tersenyum.


“Bagaimana dengan orang baru di kantor?”


“Kita lihat saja nanti Ma, tapi aku menaruh harapan besar dia bisa. Dan lucunya Ma, Ganis sepertinya cemburu padanya” Saga menyunggingkan senyum.


Nyonya Rima melihat ke arah Saga dengan mengernyitkan dahinya.


“Masa?”


“Iya Ma” Saga terkekeh.


“Memangnya dia cantik? Atau ada kejadian apa?” Nyonya Rima penasaran.


“Cantik kan relatif Ma, bukan itu masalahnya Ma, Mama kan tahu sendiri, jika aku sudah satu maka ya satu”


“Mama mengerti, Mama kenal anak Mama”


“Melihatnya terluka saja sudah membuat nafasku seakan berhenti, bagaimana bisa aku harus melukainya” ujar Saga dengan nada serius, Nyonya Rima mengangguk, dia sangat hafal dengan sikap putranya itu. “Tapi aku senang akhirnya melihat dia cemburu” Saga berubah kembali tersenyum.

__ADS_1


“Kok bisa?”


“Iya, jarang banget dia cemburu Ma, dengan begini aku tahu bahwa dia mencintaiku”


“Ah kamu, bisa saja”


“Aku tidak peduli dengan siapa aku berhadapan, aku juga tidak pernah sekalipun terbersit menduakan dia”


“Buktikan itu padanya, jangan lukai dia”


“Iya Ma”


Hawa dingin mulai menusuk, bintang-bintang kemerlap di atas sana. Saga mengeratkan jaket yang digunakan oleh Nyonya Rima, agar wanita itu tidak kedinginan.


“Mama sebaiknya ke dalam, hari sudah malam, nanti Mama masuk angin” ajak Saga, Nyonya Rima mengangguk. Mereka berjalan kembali ke dalam rumah untuk beristirahat.


***


Ganis bangun pagi-pagi sekali, dia sudah mandi dan bersiap pergi. Saga mengulat, membuka matanya perlahan, dirabanya tempat Ganis, kosong. Saga membuka matanya, benar Ganis sudah tidak ada di tempatnya. Saga mengubah posisinya menjadi duduk, dia melihat Ganis sudah berada di balkon kamar, menghirup udara pagi.


“Pagi sekali dia bangun?” gumamnya, lalu beranjak ke kamar mandi.


Ganis mengambil tas dan bersiap pergi, namun dia menunggu Saga terlebih dahulu keluar dari kamar mandi.


15 menit dia menunggu, dan akhirnya Saga keluar dari kamar mandi. Ganis sudah menyiapkan setelan jas yang akan digunakan Saga untuk pergi ke kantor.


“Mau ikut kamu ke kantor” jawab Ganis enteng. Saga menghentikan aktivitas jemarinya yang dari tadi mengancingkan kancing kemeja, dia melihat ke arah Ganis.


“Mau ikut” imbuh Ganis. Saga tertawa kecil, lalu melanjutkan aktivitasnya.


“Iya, boleh” jawabnya tenang. Ganis semakin gusar dengan jawaban enteng Saga, kenapa suaminya itu nampak santai saat dia ingin ikut ke kantor. Kenapa tidak melarang?


“Harusnya dia melarang kalau memang dia punya niat tidak baik dengan wanita itu” ujarnya dalam hati, bibirnya nampak mengerucut, manyun.


Saga mendekati istrinya, lalu menunduk, memberikan dasi warna hitam itu pada istrinya. Ganis berdiri dan memasangkan dasi untuk Saga.


“Kenapa aku boleh ikut?” tanya Ganis polos.


“Apa sih yang tidak boleh buat kamu?” jawab Saga enteng, “Aku akan semakin bersemangat jika istriku ikut” Saga menyentil hidung Ganis. Ganis tersenyum dengan kalimat yang keluar dari mulut Saga.


“Serius aku boleh ikut?”


“Iya” jawab Saga memakai setelan jasnya. “Ayo kita sarapan dulu” Saga menggandengan tangan Ganis.


“Eh bentar Mas”


“Kenapa?”


“Tasku”

__ADS_1


Ganis melepas gandengan tangan Saga, berjalan mendekati lemari dan mengambil sebuah tas.


“Yuk, sudah”


Mereka keluar kamar, meniti anak tangga menuju lantai 1 untuk sarapan bersama.


Nyonya Rima sudah menunggu di ruang makan, dia tersenyum melihat putra dan menantunya berjalan mendekatinya.


“Selamat pagi Ma” sapa Ganis dan Saga hampir bersamaan.


“Pagi anak-anak Mama”


Ganis dengan cekatan mengambilkan sarapan untuk Saga, sementara Nyonya Rima sudah meladeni dirinya sendiri beberapa menit yang lalu.


“Mau kemana?” tanya Nyonya Rima saat melihat Ganis sudah siap pergi. Saga tersenyum ke arah Nyonya Rima.


Ganis tidak segera menjawab, apa yang akan dipikirkan oleh Mama mertuanya jika tahu dia akan menguntit Saga ke kantor.


“Ehm…aku ingin mengajaknya ke kantor Ma, sekalian nanti kita jalan-jalan, iya kan sayang?”


“Ehm…iya Ma, begitu” jawab Ganis sekenanya, pintar juga Saga melindungi dirinya dari kejadian yang mungkin saja akan terdengar memalukan.


            Ganis sudah bersiap duduk di samping Saga, Saga siap mengemudikan mobilnya.


“Sudah siap menemani suami kerja?” tanya Saga, Ganis mengangguk lalu tertawa. Mengapa dia bersikap konyol akhir-akhir ini. Dia sendirpun tidak tahu mengapa harus begitu.


“Aku harap nanti kamu tidak bosan dengan keadaan di kantor” ucap Saga.


“Aku akan mengawasimu, agar kamu tidak nakal” ucapnya blak-blakan. Saga tertawa mendengarnya, benar saja apa yang dia pikirkan semalam, bahwa istrinya sedang cemburu.


“Kenapa sayang? Kamu sedang cemburu pada suamimu yang tampan ini?” goda Saga, Ganis meliriknya. Saga semakin tertawa melihat isrinya bereaksi begitu.


“Awas saja ya kalau sampai kamu nakal” Ganis mengangkat telunjuknya.


“Ya Ampun..istriku benar-benar cemburu padaku…” Saga mengusap kepala Ganis lembut. “Terima kasih sudah cemburu padaku, itu artinya kamu mencintaiku” bisik Saga.


“Huh…GR..tapi aku kalah seksi sama dia” Ganis memanyunkan bibirnya.


Saga semakin tertawa melihat ekspresi Ganis yang tidak biasa.


“Dengar ya…Aku Saga, Saga Arjuna Putra Candra sangat sangat sangat mencintai istrikuuu, tak akan ada yang bisa membuatku berpaling, entah seseksi apapun. Sudah? Atau ada yang kurang?”


Ganis memukul lengan Saga pelan, lalu dia tersenyum. Harusnya dia tak harus mengikuti Saga kemanapun dia berada, hanya saja mengapa dia bersikap seperti ini, dan anehnya lagi Saga sama sekali tidak keberatan.


 


 


Terima kasih banyak buat para readers yang sudah setia membaca dari awal hingga chapter ini, hingga akhirnya tembus 1 juta pembaca...Author sama sekali tidak menyangka. hihihihi. Novel abal-abal yang tidak jelas ini, banyak typo sana sini, banyak kekurangan lah intinya. terima kasih banyak ya....tetap ikuti kelanjutannya, jangan lupa like, vote, rate, gift, share, komen, apapun itu...thank you.....

__ADS_1


__ADS_2