
Anaya sudah siap berada di mobil, Ganis tergesa-gesa menutup pintu kamarnya. Dilihatnya meja makan, kosong tidak ada Anaya di sana, padahal ini masih sangat pagi sekali. Diliriknya meja makan, hanya ada makanan yang belum tersentuh sama sekali, dipastikan Anaya belum sarapan.
Ganis berlari kecil mengintip
keluar, Pak Sabar memberikan kode dengan menganggukkan kepala di samping pintu
mobil jika Ganis harus segera masuk mobil. Tanpa menunggu dua kali, Ganis
segera menuju mobil dengan berlari kecil, Pak Sabar membukakan pintu mobil
untuk Ganis.
“Maaf Nona, saya terlambat” ujar Ganis dengan merasa bersalah, biarpun Anaya tak sekalipun marah padanya atau mempermasalahkan kesalahannya.
“Nggak apa-apa Ganis, mungkin aku yang terlalu bersemangat dengan kegiatan hari ini” Anaya tersenyum manis melirik Ganis. Ganis mengangguk, hari ini di mana Anaya akan memilih gaun serta hal-hal yang ada kaitannya dengan pernikahannya.
“Nona tidak sempat sarapan” ujar Ganis mengkhawatirkan Anaya.
“Nanti kita sarapan di luar, ke tempat biasa ya Pak…” pinta Anaya.
“Baik Nona” jawab Pak Sabar, mobil sudah melaju di jalan raya.
“Aku tahu selera fashion kamu tidak buruk, jadi tolong beri pertimbangan baju yang terbaik nanti” pinta Anaya sambil tersenyum, mimik wajahnya kali ini cerah dan bersemangat, setidaknya itu yang dilihat oleh Ganis. Ada kelegaan yang dia rasakan. Melihat Anaya Bahagia.
“Baik Nona” jawab Ganis singkat.
“Selain itu, cincin dan dandanan juga aku ingin kamu yang memilihkan”
“Apa?” tanya Ganis sedikit terkejut.
“Kenapa? Aku kan sudah bilang, selera kamu tidaklah buruk” Ganis masih tersenyum dengan
sumringahnya.
Ganis menatap Anaya, tidak ada jawaban lain kecuali, “Iya Nona”
“Nah gitu donk”
Sesaat setelah mereka sarapan, Pak Sabar mengantar Anaya dan Ganis menuju Butik Bridal yang ditunjuk oleh Anaya.
Ganis membuka pintu mobilnya, sementara Pak Sabar membukakan pintu mobil untuk Anaya.
__ADS_1
“Selamat datang Nona” ujar seorang karyawan butik menyambut kedatangan Ganis dan Anaya dengan sangat ramah, Anaya membuka kacamata hitamnya yang sedari tadi dia pakai. Ganis dengan sigapnya menyambut kacamata dan meraih tas yang ditenteng Anaya, kini, barang-barang tersebut sudah berpindah tangan ke tangan Ganis.
“Silahkan Nona, sebelah sini” ujar karyawan yang lain lagi mempersilahkan Anaya memasuki ruang VIP dan terpampang banyak gaun pengantin. Ganis mengekor di belakang.
“Ganis…” panggil Anaya sambil menghentikan langkahnya.
“Iya Nona” Ganis mendekat ke arah Anaya.
“Tolong pilihkan satu yang menurut kamu bagus”
“Baik Nona”
Anaya duduk di sofa sambil memainkan HPnya, sementara Ganis mengikuti karyawan butik tersebut sambil memperhatikan beberapa baju pengantin yang sangat cantik.
“Mau pilih gaun atau kebaya kak?” tanya karyawan butik dengan sangat ramah.
“Nah itu dia mbak, saya belum memastikan. Sebentar ya, saya tanya sama bos saya dulu”
“Baik kak”
Ganis melangkah mendekati Anaya yang masih asyik memainkan HPnya, sadar ada Langkah yang mendekat, Anaya mendongak lalu menghentikan jemarinya dari layar HPnya. Kedua alisnya terangkat, menandakan pertanyaan untuk Ganis.
“Ehm…Nona mau baju yang modern atau kebaya?” Ganis memastikan.
“Kalau saya suka kebaya Nona” Ganis tersenyum malu-malu.
“Ok, aku ikut, aku yakin pilihanmu akan bagus”
“Apa Nona yakin tidak akan memilih baju pengantin yang akan Nona kenakan di momen penting Nona?” Ganis memastikan, dia merasa ada yang aneh saat Anaya mulai menyerahkan semuanya padanya, bahkan saat memilih baju pengantin dan lain-lainnya.
“Ganis, postur tubuh kita hampir sama, percayalah aku percaya kamu. Atau gini deh, kamu coba saja dulu setelah kamu memilih, nanti mendekati hari H, aku akan melakukan fitting sendiri” Anaya tersenyum manis, matanya Kembali ke layar HPnya dan jemarinya mulai mengusap layarnya.
“Baik Nona” Ganis menjawab, membungkukkan tubuhnya lalu Kembali menuju ruang gaun pengantin. Pandangannya sibuk memperhatikan begitu banyak kebaya yang sangat cantik, hampir semuanya berwarna putih.
“Bagaimana kak?” tanya karyawan yang tadi.
“Aku tertarik dengan ini kak” Ganis menunjuk kebaya putih panjang, yang jika dipakai bisa sampai menutupi bawahannya, namun sangat anggun menurutnya.
“Baik kak, mau dicoba sekarang?” tanya karyawan tersebut, Ganis mengangguk. Beberapa menit Ganis berada di ruang ganti, dia berusaha mencoba kebaya tersebut, karyawan yang tadi membantunya.
“Cantik sekali kak” karyawan tersebut memujinya, Ganis memperhatikan tubuhnya yang sudah terbalut dengan kebaya tadi, nampak pas di badannya.
__ADS_1
“Ini untuk bosku” jawab Ganis.
“Tapi ini juga sangat manis untuk Kakak” puji karyawan tersebut.
“Ah…mbaknya berlebihan, apalah saya mbak yang hanya memilihkan untuk bos saya, dan semoga nanti Nona suka. Oh ya mbak, ini nanti bisa kan ditambah aksesoris gitu, karena kan meskipun acaranya nanti sederhana, tapi saya ingin kebaya yang mewah untuk bos saya”
“Oh bisa kak, nanti kalau menurut kakak kurang atau ingin ditambah aksesoris bisa kok, dan kami akan mengerjakan sesuai dengan pesanan kakak” jawab karyawan tersebut.
“Sebentar ya mbak, saya tunjukkan pada bos saya dulu sebelum kebaya ini saya lepas”
“Oh ya, silahkan kak”
“Tidak perlu jalan, di situ saja, aku sudah lihat betapa pasnya kebaya itu di badan kamu, dan….kamu sangat cantik Ganis, tidak salah aku meminta kamu” ujar Anaya senang denga napa yang dilihatnya.
“Nona…apa Nona tidak ingin mencobanya?” tanya Ganis gugup, ternyata Anaya sudah ada di dekatnya.
“Oh tidak, sudah cocok ini, aku suka dengan pilihan kamu, aku bilang apa, selera kamu tidaklah buruk”
“Baik” ujar Ganis sambil melepas kebaya tersebut dengan hati-hati, dia tahu harga kebaya ini lebih mahal berlipat-lipat dari gaji bulanannya beberapa kali. Jika ada yang rusak atau kenapa-kenapa, tamatlah riwayatnya.
Seharian yang seharusnya menjadi hari libur bagi Ganis, menjadi hari yang melelahkan. Tapi Ganis merasa senang karena bisa menemani Anaya memilihkan baju pernikahan untuk bosnya tersebut.
“Terima kasih Ganis, kamu sudah melakukan yang terbaik”
“Sama-sama Nona, saya senang jika Nona Bahagia”
“Benarkah?” tanya Anaya menggoda. Ganis mengangguk mantap, mana mungkin dia akan membiarkan malaikat yang telah berbaik hati dalam hidupnya itu untuk bersedih, dia berjanji akan melakukan apapun asalkan Anaya Bahagia.
“Ganis, mulai besok pekerjaan kita banyak dan kita sangat sibuk, aku harap kamu siap dengan segala keperluan kantor”
“Iya Nona, tapi…bagaimana dengan pernikahan Nona yang akan berlangsung sebentar lagi?”
“Nanti kita bahas lagi di saat waktu yang tepat, aku ingin bicara hal penting ini dengan kamu” ujar Anaya dengan mimik wajah serius.
“Baik Nona”
Ganis merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, badannya terasa Lelah setelah seharian menemani Anaya, kini dia telah mandi dan badannya terasa segar, mata ngantuknya masih enggan terpejam, dia masih merasa sangat senang melihat Anaya akan segera menikah dengan Saga. Diam-diam dia mengidolakan Saga dan Anaya, dia amat Bahagia dengan rencana pernikahan dua sejoli yang amat sangat serasi itu. Ganis tersenyum simpul.
Well, akhirnya bisa up lagi...enjoy ^^
__ADS_1
Setelah ini bakalan rajin up, semoga suka. silahkan tinggalkan like dan komen, kritik dan saran kalian aku tunggu....^^