Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 58 : Mencoba Bertahan


__ADS_3

Sekertaris Li menjemput Saga saat matahari belum terbit, mereka akan melakukan perjalanan dinas ke luar kota hingga 3 hari ke depan.


Saga memijit-mijit kepalanya saat berada di dalam mobil, sekertaris Li mengamatinya dari kaca depan.


“Apakah Tuan sedang tidak enak badan?”


“Ehm…aku hanya sedikit pusing Pak Li” jawabnya, lalu mengedarkan pandangan ke luar mobil, jalanan masih lengang dan bebas dari macet.


“Perlukah kita ke dokter, Tuan?” tanya sekertaris Li sedikit khawatir, dia memperhatikan beberapa hari terakhir, Saga nampak berbeda, raut wajahnya menampilkan kemuraman. Entah karena meninggalnya Tuan Candra atau yang lain.


Sepagi ini, tidak ada niatan Saga untuk menemui dokter. Dia bukan sakit, hanya saja masih memikirkan apa yang sedang dirasakan oleh gadis itu, lebih tepatnya perasaannya.


“Tidak perlu” ucapnya datar.


Sekertaris Li mengangguk.


Tidak ada lagi percakapan di antara mereka, mobil melaju menuju bandara untuk mengejar penerbangan pagi.


***


Ganis membuka matanya perlahan, kepalanya terasa sangat berat, kejadian tadi malam seolah menghantam mental dan fisiknya. Benarkah Saga menginginkan dia pergi? Ganis mencoba duduk, digelengkannya kepalanya ke kanan dan ke kiri, tangannya meraba leher dan memijatnya lembut, berharap rasa pusing di kepalanya berkurang.


Ganis mengerjabkan matanya, perlahan dia berdiri, pusing yang dirasakannya semakin menjadi-jadi. Ganis berjalan dengan memegang tembok menuju jendela, tangannya meraba kunci dan membuka jendela perlahan. Dihirupnya perlahan hawa yang masuk, terasa menyegarkan. Dia melongok ke luar jendela. Dilihatnya bunga mawar bermekaran, bunga kesayangan Nyonya Rima.


Ganis berjalan melewati depan cermin, langkahnya terhenti saat melihat wajahnya terlihat berbeda. Dirasakannya demam menjalar ke seluruh tubuhnya. Ganis membersihkan diri ke kamar mandi sebelum keluar kamar untuk sarapan.


“Sepi sekali, Tuan sudah sarapan?” tanya Ganis pada Dini.


“Tuan sedang pergi, Nona”


“Pergi?” Ganis mengangkat alisnya, dia berjalan pelan, sambil menahan pusing yang merajai kepalanya.


“Iya, sejak pagi tadi Nona, dijemput oleh Pak Li, sepertinya tidak hanya sehari”

__ADS_1


“Oh ya?”


“Iya Nona. Maaf Nona, mengapa Nona sangat pucat? Apa Nona sakit?” Dini mendekati Ganis yang sedang duduk di kursi meja makan. Ganis mengernyitkan dahinya, tidak menjawab secara gamblang. Saga tidak ada di rumah, Nyonya Rima tadi malam juga pamit untuk pergi ke villa, Nyonya Rima ingin menenangkan sejenak pikirannya.


“Saya suruh sopir mengantar Nona ke dokter ya?” Dini menawarkan, dia khawatir jika terjadi apa-apa dengan Ganis.


“Tidak usah mbak Din, nanti minum obat penurun panas, pasti juga sembuh” Ganis menolak.


Terdengar langkah kaki dari suara hak sepatu tinggi, Dini dan Ganis menoleh bersamaan. Carolina masuk ke dalam rumah tanpa permisi, wajahnya yang angkuh seolah sedang menguliti bagi yang melihatnya.


“Nona Carolina” Dini membungkukkan badannya memberikan salam, Carolina mengibaskan rambutnya, melihat Dini dan Ganis bergantian. Ganis melihatnya dan mencoba tersenyum. Namun Carolina tak menggubris, dia berlalu begitu saja.


Carolina menuju kamar yang digunakan menginap kemarin untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan, tak butuh waktu lama, dia kembali lagi setelah mengambil sesuatu dari kamar tersebut. Dia menghentikan langkahnya dan kembali menatap Ganis dan Dini bergantian.


“Aku mengambil ini” Carolina menunjukkan sebuah cincin berlian. “Aku takut dengan kalian, tidak ada jaminan kalian tidak tergoda untuk mengambil barang ini” ejeknya. Dini menghela nafas panjang, sudah beberapa tahun dia bekerja untuk keluarga ini, tapi tidak sekalipun terbersit niat untuk mengambil barang berharga dari keluarga ini, dan tentunya barang-barang yang dimiliki keluarga ini lebih mewah daripada apa yang ada di hadapan mereka saat ini.


“Sudah, syukurlah kalau sudah ketemu” Ganis tersenyum. Dia berdiri, hendak kembali ke kamar, dia berjalan pelan karena merassakan tubuhnya yang terasa sakit semua.


“Nonaaa” Dini berlari menolong Ganis yang tidak menunjukkan reaksi. “Nona bangun Nona…Mbak…mbak Marni, tolong…” Dini mencoba meraih badan Ganis dan memangku kepalanya di pangkuannya, sambil menepuk pipi Ganis pelan.


Marni datang dengan wajah panik, dia membantu untuk memindahkan tubuh Ganis ke sofa.


Dini mengambil minyak kayu putih agar Ganis segera tersadar, disentuhnya dahi Ganis.


“Ya Allah…mbak Marni, Nona demamnya tinggi banget ini, kita bawa ke rumah sakit saja ya” Dini panik. Marni mengangguk menyetujui, di saat tidak ada Nyonya Rima dan Saga, ini adalah keputusan yang tepat.


“Ini kepala belakang juga benjol karena jatuh tadi, ya Allah…kenapa sih Nona Carolina jahat sekali sama Nona” Dini mengeluh.


            Akhirnya Dini dan salah satu sopir rumah membawa Ganis ke rumah sakit, setelah mengurus administrasi dan lain sebagainya, Ganis dipindahkan dari UGD ke ruang perawatan.


“Nona…” Dini masih menampakkan wajah khawatirnya meskipun sudah melihat Ganis siuman.


“Kenapa aku di sini mbak Din?” tanya Ganis, dia sudah berada di sebuah kamar yang dia yakini adalah rumah sakit. Selang infus berada di punggung tangan kirinya.

__ADS_1


“Saya panik Nona, selain pingsan, Nona juga demam, jadi ya sudah saya bawa ke sini sama Isnan” Isnan adalah nama salah satu sopir keluarga Saga.


“Malah merepotkan kalian semua”


“Tidak sama sekali Nona, saya harap Nona lekas sehat ya, jangan sakit, apalagi Nyonya dan Tuan muda sedang tidak ada di rumah” ucapan Dini serasa menampar hatinya, bagaimana Dini sangat mengkhawatirkan dirinya, apa kabar dengan Saga jika dia tahu kalau Ganis sedang sakit dan berada di rumah sakit.


“Apalagi itu, Nona jahat, huh sebel saya Nona” Dini meremas tangannya gemas, yang dibicarakan adalah Carolina.


“Tidak apa-apa, jangan ceritakan pada Nyonya ataupun Tuan Saga ya perihal tadi, mungkin dia tidak sengaja” Ganis mencoba berbaik hati.


“Nonaaa….mengapa Nona baik sekali, sudah jelas dia sengaja menabrak Nona” Dini nampak kesal, Ganis


tersenyum melihat ekspresi Dini yang tidak terima.


“Yang penting aku baik-baik saja mbak”


“Ya Allah….beruntungnya Tuan Muda punya istri yang baaaaik seperti Nona” ujar Dini memuji, demi apapun dia sangat menyukai kepribadian Ganis.


Ganis tersenyum hambar, andai saja itu benar. Tapi Saga kini jauh, mungkin benar adanya jika Saga hanya menjadikannya selingan yang hadir sesaat.


“Nona, nanti saya pulang dulu ya…mengambil barang Nona, setelahnya saya bisa menemani Nona menginap”


“Kalau memang repot tidak apa-apa saya di sini sendirian mbak Din..kan ada suster juga kan, tidak perlu khawatir”


“Tidak Nona, saya akan menemani Nona di sini” ujarnya yakin.


“Terima kasih mbak Dini”


“Sama-sama Nona” Dini tersenyum manis ke arah wajah Ganis yang nampak pucat, teringat perkataan Saga sesaat sebelum dia berangkat.


“Pastikan dia baik-baik saja, jaga dia” ujar Saga pada Dini.


 Like dan Vote sebanyak-banyaknya ya....biar semakin semangat mengarang indah dan berhalunya. hehe

__ADS_1


__ADS_2