Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 77 : Mencari Parasit


__ADS_3

Sejak pesta usai hampir tengah malam, Ganis nampak tidak tenang saat mendengar Disya tiba-tiba tumbang dan masuk rumah sakit. Saga berusaha menenangkan Ganis, dia memastikan jika Disya sudah mendapatkan penanganan di rumah sakit, dan keadaannya mulai membaik.


“Harusnya aku tidak memberinya minuman itu, Mas” keluhnya.


“Hehm…kamunya juga kan tidak tahu kalau minuman itu ada sesuatunya kan? Jadi jangan merasa bersalah” Saga kembali menenangkan.


Malam yang seharusnya menjadi rentetean malam bahagia setelah pesta pun berubah, seharusnya mereka akan menghabiskan waktu beberapa hari di hotel tersebut. Kini mereka memtuskan jika tidak akan berlama-lama berada di hotel.


Hampir semalaman Ganis tidak bisa memejamkan mata, padahal badannya sangat letih setelah seharian berada dalam persiapan pesta hingga perhelatannya.


            Saga membiarkan Ganis yang masih tertutup selimut, baru subuh tadi dia bisa tidur. Saga sudah bersiap bertemu dengan Attrich di lobi hotel untuk membicarakan masalah yang terjadi kemarin.


Saga keluar dari kamar perlahan, dilihatnya kembali Ganis dari pintu, istrinya nampak lelap. Dia menutup pintu dan berjalan ke arah lift untuk menuju lobby hotel.


“Selamat pagi, Tuan” Attrich berdiri dari kursinya saat melihat Saga datang ke arahnya. Saga menganggukkan kepalanya.


Saga duduk di salah satu kursi yang ada di lobby, Atrrich kembali duduk di kursinya, mereka berhadapan sekarang.


“Maafkan atas kelalaian kami” ujar Attrich, dia merasa tidak enak hati dan suap bertanggung jawab.


“Kami akan mengganti cincin Tuan dan Nona Ganis yang hilang” imbuhnya.


Saga mengangkat tangan kanannya, dia sedang tidak ingin membahas cincin yang hilang, baginya dia bisa membeli cincin tersebut ulang.


“Aku ingin tahu kronologi yang sebenarnya”


“Maafkan kami, kami sudah mengecek CCTV yang ada di beberapa titik, Tuan. Dalam rekaman CCTV yang kami dapatkan, seseorang sudah menyalahgunakan seragam dari manajemen kami” ungkapnya. Kedua tangan Saga bertaut dan menopang dagunya sambil mendengarkan Attrich.


“Jadi, kemarin itu salah satu karyawan kami sakit, sehingga dia izin tidak bisa berada di lokasi. Ada seragam yang tidak terpakai di ruangan kami, dan kemudian setelah dicek, seragam tersebut hilang. Kemungkinan dipakai oleh wanita yang memakai masker tersebut, Tuan”


Saga mengangguk, alasan yang masuk akal dijelaskan oleh Attrich.


“Kami akan membawa masalah ini ke polisi”


“Itu yang sedang aku pikirkan, bukan masalah cincin yang hilang, tapi nyawa anak asuhku”


“Sekali lagi kami minta maaf, Tuan” Attrich benar-benar menyesal.


            Setelah bertemu Attrich, Saga kembali ke kamarnya. Nampak Ganis sudah bangun dan baru saja selesai mandi. Dia masih mengenakan bathrobe.


“Mas dari mana?” tanya Ganis.


“Dari lobby, menemui Attrich” Saga mendekati Ganis, memeluk istrinya dari belakang, Ganis membiarkan Saga memeluknya.


“Lalu?”


“Ya…serahkan semua pada yang berwajib”

__ADS_1


“Kasihan Disya, kasihan juga WO nya sih Mas, nanti kalau berita ini mencuat, bisa menghancurkan usahanya”


“Makanya, semoga polisi bisa segera mengungkap fakta yang sebenarnya”


“Iya Mas” Ganis memutar tubuhnya, kini mereka saling berhadapan dari jarak dekat.


“Oya, nanti kita pesan cincin lagi”


“Tidak juga tidak apa-apa Mas, kan ini masih ada” Ganis mengangkat jarinya, menunjukkan cincin yang kala itu diberikan oleh Saga”


“Beda sayang, aku kan maunya couple” Saga cemberut, Ganis terkekeh melihat Saga bersikap seperti itu.


“Iya..iya…” Ganis mengalah. Dia melepaskan diri dari pelukan Saga.


“Mau kemana? Aku masih mau peluk, gara-gara tadi malam tidak dapat apa-apa” Saga kembali mencebikkan bibirnya, Ganis semakin keras tertawa. Harusnya menjadi malam yang panjang dan indah, namun Ganis panik saat mendengar Disya masuk rumah sakit karena dicelakai orang, sehingga semalaman Saga hanya bertugas menenangkan Ganis.


“Mau ganti baju Mas, sekalian kita check out ya?” tanya Ganis. Saga mengangguk. “Jadi langsung ke rumah sakit kan?”


“Iya, nanti barang-barang biar dibawa sopir ke rumah”


“Iya Mas”


            Setelah siap, mereka menuju rumah sakit untuk menjenguk Disya, tak lupa Ganis meminta mampir terlebih dahulu ke toko boneka untuk membelikan boneka beruang jumbo untuk Disya.


Mereka tiba di rumah sakit di mana Disya dirawat, Saga mengeluarkan boneka beruang jumbo dari bangku kedua mobilnya, menggendongnya gemas.


Ganis tersenyum saat melihat Saga membawa boneka tersebut.


“Kamu lucu”


“Apanya?” bisik Saga, beberapa orang yang berpapasan dengan mereka ikut tertawa melihat Saga yang biasanya tegas, dingin, datar sedang membawa boneka imut raksasa.


“Tuan kulkas membawa boneka imut” Ganis terkikik.


“Sssstttt”


Mereka keluar dari lift, dan mencari kamar perawatan Disya. Ganis mengetok pintu perlahan setelah memastikan nomor kamar tersebut sama dengan apa yang dikatakan oleh Bu Fatimah tadi malam.


Bu Fatimah membuka pintu, senyumnya mengembang saat melihat Saga dan Ganis di depan pintu.


“Ayo masuk” ajak Bu Fatimah.


“Disya…siapa ini yang datang” Bu Fatimah berbicara ke arah Disya yang sedang menonton televisi.


“Kak Ganiiis….kak Saga” serunya, nampak wajahnya girang meskipun masih terlihat pucat.


Ganis dan Saga mendekati Saga, Ganis memeluk gadis kecil itu, lalu mengelus rambutnya perlahan.

__ADS_1


“Kamu baik-baik saja kan sayang?” Ganis benar-benar mengkhawatirkan gadis itu.


Disya mengangguk, bibirnya masih mengembangkan senyum. Saga meletakkan boneka beruang besar


tersebut di samping Disya.


“Ini buat Disya?” tanya Disya berbinar. Saga mengangguk.


“Kamu suka?” tanya Ganis.


“Iya…suka…gemeees” Disya memeluk boneka tersebut. “Terima kasih ya kak” ujarnya.


“Sama-sama, makanya kamu cepat sembuh ya…”


“Iya kak”


Ganis duduk di kursi samping ranjang, sementara Saga memilih duduk di sofa dekat Bu Fatimah.


“Kak Ganis…” ujar Disya lirih.


“Iya…” sahut Ganis.


“Maaf ya, cincinnya kakak jadi hilang gara-gara aku” sesal Disya, Ganis tersenyum sambil mengusap punggung tangan Disya.


“Bukan salah kamu sayang, Kakak juga minta maaf karena kakak, kamu jadi minum air itu”


“Bukan salah kakak juga” Disya menyeringai.


“Jadi kita sama-sama memafkan ya kak?” ucap Disya polos.


“Iya…”


“Kamu tidak perlu memikirkan apapun Disya, masalah cincin, nanti Kak Saga bisa beli lagi, biar Kak Ganis nanti aku belikan cincin yang guedeee” canda Saga.


“Segede apa kak?” Disya girang.


“Ehm….segede apa ya? Segede ban mobil bisa”


Disya nampak tertawa mendengar candaan Saga, rasa tenang setelah semalaman tidak bisa tidur nyenyak sirna sudah di hati Ganis saat melihat Disya kembali ceria.


“Bu Fatimah tidak pulang dulu? Biar kita yang menjaga Disya seharian ini, iya kan Mas?”


“Iya Bu, pulanglah dulu, tidak apa-apa”


Bu Fatimah mengikuti saran dari Saga dan Ganis, dia pulang ke panti asuhan untuk mengambil bajunya dan juga baju Disya.


Seharian Ganis dan Saga menjaga Disya di rumah sakit, canda tawa terdengar di kamar tersebut hingga petang menjelang dan mereka pamit untuk pulang setelah Bu Fatimah kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


*Untung bukan sate sianida yang dipake. eh...


Terima kasih atas semua supportnya para readers untuk Author, maaf tidak bisa membalas satu-satu. lov lov kalian. terima kasih juga yang memberikan vote dan like, tetap membaca ya...hehe makasiiih....


__ADS_2