Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 104 : This is Life


__ADS_3

Saat Nyonya Rima tiba di rumah Budhe Sarah, sudah ada beberapa anggota arisan lain yang sudah tiba, mereka sedang duduk mengitari meja panjang yang berada di taman samping rumah. Menyadari saudaranya tiba, Budhe Sarah segera bangkit dan menyudahi obrolannya dengan Ibu-ibu lainnya.


"Eh dek, kamu sudah datang" Sapanya, lalu mencium pipi kanan dan kiri Nyonya Rima tersebut. "Sendirian saja?" tanyanya celingukan.


"Iya Mbak yu" balas Nyonya Rima.


"Ayo-ayo duduk" ucapnya mempersilahkan, Nyonya Rima berjalan ke arah kursi berwarna putih tersebut, dia menyapa Ibu-ibu yang sudah datang terlebih dahulu.


"Ih Jeng Rima semakin cantik aja lho..." ucap Ibu-ibu dengan riasan agak tebal.


"Ah bisa saja lho Jeng Mirna ini" Nyonya Rima mengibaskan tangannya. "Jeng Mirna itu yang semakin cantik" balasnya memuji, wanita yang disapa Mirna itu tertawa terbahak, merasa tersanjung.


"Sudah lama ya kita tdak ketemu"  balasnya lagi.


"Iya Jeng Mirna, sejak pesta pernikahan Tuan Mudanya Jeng Rima" sahut Ibu-ibu yang lain.


"Eh masa sih jeng?" tanya Nyonya Rima.


"Bener jeng"


Tidak banyak yang hadir, hanya beberapa orang saja. Mereka berteman sejak dulu, jadi arisan dibuat hanya sebagai ajang silaturahmi. Setelah beberapa jam acara usai, para Ibu-ibu pamit undur diri,  hanya Nyonya Rima yang masih tinggal


"Dek..." ucap Budhe Sarah menarik tangan Nyonya Rima, dia agak ragu mengucapkannya.


"Ada apa mbakyu? kok sepertinya ada yang penting?" Nyonya Rima yang sejak tadi melihat saudaranya itu tidak seceria biasanya. Nyonya Rima duduk di atas sofa ruang tamu.


Budhe Sarah nampak menghela nafas panjang.


"Carolina baik-baik saja kan Mbak Yu? sehat kan?" Nyonya Rima memastikan. Budhe Sarah menghela nafas panjang, Nyonya Rima semakin penasaran dibuatnya. Apa yang sebenarnya terjadi.


"Carolina dek..."


"Kenapa mbak?"


"Dia di rumah sekarang" ucapnya getir, sambil menggigit bibir bawahnya, putri semata wayangnya itu bak membawa luka di hidupnya.


Air mata Budhe Sarah lolos begitu saja, dia memeluk erat Nyonya Rima. Nyonya Rima yang meskipun kebingungan tetap berusaha menenangkan saudaranya. Beberapa lama Budhe Sarah mencurahkan kesedihannya.


"Carolina di rumah, dia pulang tadi malam, dan dia hamil dek" ucapnya setelah menarik diri dari bahu Nyonya Rima. Bak seperti disambar petir, berita itu juga membuatnya terkejut. Bagaimana bisa keponakannya itu hamil, menikah saja belum. Apa itu artinya Carolina...


"Mbak Yu jangan guyon ah" Nyonya Rima menganggap ini gurauan, meskipun jelas bukan gurauan, karena jelas-jelas Budhe Sarah benar-benar sedih.


Budhe Sarah menggeleng pelan, matanya sembab. Dia melihat Nyonya Rima dengan tatapan nanar.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana Dek?"


Nyonya Rima masih terdiam melihat Budhe Sarah kebingungan, dia sendiri belum pulih dari keterkejutannya.


"Apakah Mbak Yu tahu siapa ayahnya?" Nyonya Rima to the point menanyakannya secara langsung.


"Entahlah Dek, aku tidak pernah tahu pasti siapa kekasihnya, apalagi semenjak dia minta kuliah di luar negeri" desahnya.


Nyonya Rima melihat ini pelik, anak gadis semata wayang yang mestinya menjaga martabat keluarga kini seolah tengah mencoreng keluarga.


"Sabar Mbak Yu, setidaknya kita masih harus bersyukur Carolina mau pulang ke rumah" Nyonya Rima menghibur, benar adanya jika hal tersebut menjadi sebuah hal yang patut disyukuri. Jika saja Carolina menghilang malah akan menjadi lebih runyam.


Budhe Sarah sudah bisa mengendalikan emosinya, dia menggandeng tangan Nyonya Rima dan mengajaknya menuju depan pintu kamar Carolina yang nampak tertutup rapat. Budhe Sarah menghentikan langkahnya, dia juga melepas genggaman tangannya yang dari tadi memegang pergelangan tangan Nyonya Rima.


"Dek...kali aja dia bisa terbuka, tolong bicaralah dengannya" ucapnya memohon. Nyonya Rima terdiam, sorot mata Budhe Sarah berharap banyak terhadapnya.


Akhirnya Nyonya Rima mengetuk pintu Carolina, sekali, dua kali tidak ada jawaban dari dalam. Nyonya Rima mencoba menekan gagang pintu ke arah bawah, namun tidak bisa. Carolina menguncinya dari dalam.


"Carolina...ini tante...buka pintunya" ujarnya lembut, meskipun tidak berteriak, namun suaranya akan cukup terdengar dari dalam.


Agak lama, pintu terbuka perlahan. Nyonya Rima tersenyum melihat Carolina membuka pintunya, suatu hal baik, semoga dia bisa berbicara dari hati ke hati dengan keponakannya tersebut.


Nampak berantakan rambut Carolina, tapi wajahnya masih terlihat datar.


"Sudah lama kita tidak bertemu, tante kangen" Nyonya Rima membuka percakapan.


Masih hening, Carolina belum mau buka suara, tidak ada basa bsai.


"Tante sudah tahu kan? makanya tante kesini" Carolina mengubah posisinya, dia kini bersila di atas ranjang, masih memeluk boneka besarnya.


Nyonya Rima tersenyum menatap Carolina, "Apa yang bisa tante dengar dari kamu?" tanyanya lembut.


"Pasti tante akan marah-marah seperti Mama marah padaku" Carolina sudah membentengi dirinya. Nyonya Rima menggeleng pelan.


"Tante ingin mendengar kamu bercerita" tukasnya.


Carolina nampak melunak, wajahnya tidak sekaku yang tadi, ada rasa nyaman saat tantenya tersebut memastikan jika dia tak akan marah terhadapnya.


Carolina menerawang, mengingat kejadian yang dia alami. Kejadian yang tentunya akan membuat malu keluarga. Bagaimana dia bisa kebablasan.


Perlahan dia mulai menceritakan perihal kejadian yang menimpanya, cerita yang mengalir begitu lancar. Terkadang terlihat Carolina begitu emosional, terkadang terlihat penyesalannya yang mendalam. Nyonya Rima mendengarkan dengan seksama, tanpa menghakimi, lebih ke perlindungan yang dia berikan.


"Jadi dia bukan orang luar negeri?" tanya Nyonya Rima memastikan, Carolina menggeleng pelan. Ada jalan, setidaknya itu yang ada di benak Nyonya Rima. Apalagi Carolina juga bercerita jika laki-laki itu siap bertanggung jawab.

__ADS_1


***


Saga meletakkan undangan yang diberikan oleh Salwa di atas meja yang dekat dengan sofa, dia belum sempat membacanya. Dia kembali berkutat pada lembaran-lembaran yang dibawa oleh Salwa tadi. Membacanya dengan teliti dan seksama sebelum dia memastikan untuk menandatanganinya.


Sebuah pesan masuk di HPnya.


Mas jangan lupa makan.


Begitu tertulis pesan tersebut, Saga tersenyum pesan singkat tersebut. Tangannya dengan cekatan membalas pesan tersebut.


Bumil juga jangan lupa makan, makan yang banyaaaak. Tulisnya sambil membubuhkan emoji love


Bumil sudah makan banyak sekali. Balas pesan tersebut lagi


Ok bagus. balas Saga


Setelahnya tidak ada balasan lagi dari Ganis. Ganis meletakkan HPnya di ranjang, dia merapatkan selimutnya dan memejamkan mata, ingin segera menikmati tidur siangnya.


Saga meletakkan HPnya kembali, dia meregangkan otot-otot tangannya dengan merentangkannya.


tok...tok...tok...


"Masuk" ucap Saga lalu menggelengkan kepala miring ke kiri dan ke kanan.


"Selamat siang Tuan" Sapa sekertaris Li.


"Iya Pak Li, ada apa?"


"Maaf Tuan, ada undangan beberapa hari lalu, tepatnya saat Tuan sedang liburan"


"Undangan?" Saga menaikkan kedua alisnya.


"Iya Tuan" ada undangan dari rekanan perusahaan yang akan menikahkan putrinya" Sekertaris Li menyerahkan undangan berwarna meas tersebut. Saga menerimanya, dan membaca sekilas nama yang tertera di undangan tersebut.


"Kapan?" Saga tak membaca tanggal pelaksanaannya.


"Besok malam Tuan"


"Oh...iya Pak Li, terima kasih"


"Iya Tuan, sama-sama" Sekertaris Li segera kembali keluar.


Seperti biasa, Saga memilih memesan makanan dari OB. Pesan dari istrinya untuk makan tidak dia abaikan begitu saja, sambil menunggu makanan datang, Saga merebahkan dirinya di sofa, istirahat sejenak.

__ADS_1


__ADS_2