
"Abaaaaaaanggg balikin mainanku" seru seorang gadis kecil berumur 4 tahun pada anak laki-laki berumur 7 tahun itu.
"Enggak mau" teriaknya mengejek, lalu dia berlari ke arah belakang sofa.
"Bundaaaaaaaa" teriak gadis kecil itu lagi. "Abang Kawa nakal, mainan Biru diambil" ujarnya sambil merengek, tak lama kemudian terdengar suara tangisan dari bibirnya.
Ganis segera mendekat ke kedua anaknya, "Kenapa?" tanyanya sambil berjongkok di depan putri kecilnya.
"Boneka beruangku di bawa abang" ujarnya terisak, telunjuk tangan kanannya menunjuk ke arah anak laki-laki yang disapa Abang itu.
"Kawa....ayo balikin mainan adiknya" pinta Ganis sambil melihat ke arah Kawa.
"Tapi Bun...Biru juga mengambil mainanku lho..." sungutnya.
"Iya kah Biru? ayo mainan abang yang kamu ambil apa?" tanya Ganis dengan suara tenang.
"Mobil Bun, mobil remot kontrol" jawab Kawa sambil mendekat ke arah Biri, dia mengulurkan boneka beruang yang dia rebut dari Biru. Biru menerima uluran boneka dari abangnya.
"Aku nggak bawa Bun, abang itu yang lupa mungkin"
"Kamu yang ambil tadi" ujar Kawa tak kalah ngotot.
"Sudah-sudah, jangan bertengkar lagi, ayo kita cari bareng-bareng mainannya" Ganis segera berdiri dan menggandeng kedua anaknya ke tempat bermain. Nampak sangat berantakan, semua mainan berserakan keluar dari tempat penyimpanannya.
"Nah bukannya ini bang mobilnya?" Ganis mengangkat sebuah mobil warna biru lengkap dengan remot kontrolnya.
Anak laki-laki itu mengangguk,
"Nah kan, bukan Biru yang ambil" ucap Biru sambil mengusap air matanya.
"Maafin abang ya dek" anak laki-laki itu mengulurkan tangannya, meminta maaf dengan tulus. Biri cemberut dan masih menggantungkan tangannya di udara.
"Ayo...itu abang sudah minta maaf" seru Ganis menengahi.
"Iya deh, Biru maafin, jangan diulangi ya Bang...." ujarnya, jawaban dari Biru membuat Ganis menahan tawa.
Begitulah rutinitas dia sehari-hari bersama dua anaknya, tiada hari tanpa pemandangan yang ramai. Hampir setiap hari teriakan mereka, entah sedang tertawa atau sedang bertengkar, namun selepasnya, mereka akan kembali akur dan saling menyayangi.
Ganis tersenyum senang melihat kedua anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang sehat, dan menjadi anak yang membahagiakan semua penghuni rumah.
Tak berapa lama Nyonya Rima menyusul kedua cucunya, dia ikut nimbrung bermain bersama Kawa dan Biru.
"Oma...oma....besok kita beli mainan lagi ya?" pinta Biru bersemangat.
__ADS_1
"Oh...mainan? apa lagi ya?" tanya Nyonya Rima sambil melihat Biru.
"Boneka"
"Boneka lagi?"
"Iya"
"Aku juga mau Oma" seru Kawa tak mau kalah.
"Abang Kawa mau apa?"
"Robot Oma, robot keluaran terbaru"
"Ha...ha...ha...ya lah lain kali kalau kita pergi jalan-jalan, kita beli mainan yang sesuai permintaan kalian"
"Horeeeeeeee!" teriak mereka berdua bahagia.
Ganis geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua yang begitu dekat dengan Omanya, yang merasa sangat senang karena selalu dituruti keinginannya oleh Omanya.
Saga memasuki rumah, dia melihat Kawa dna Biru serta Nyonya Rima berada di tempat bermain, sementara Ganis sedang berada di kamar.
"Papa pulang.....!" teriak Biru sambil menghambur memeluk Saga erat, Saga yang mendapat perlakuan tersebut lalu berjongkok dan mengangkat tubuh mungil putrinya.
"Eh Biru...bau asem, pasti belum mandi" goda Saga.
"Setelah ini Biru mandi Pa" jawabnya, Saga lalu menurunkan Biru.
"Ayo Abang mandi juga ya" Saga melihat anak laki-lakinya itu berdiri, dia mendekatinya lalu mengelus rambutnya, kemudian menciumnya.
"Ayo mandi, Biru sama Mbak Dini, Kawa sudah pintar mandi sendiri"
"Iya Pa" jawab mereka berdua kompak.
***
16 Tahun Kemudian
"Abaaaaaang" teriak Biru begitu membuka pintu kamar Kawa, pemuda itu melihat apa yang terjadi. Adiknya masuk dengan wajah sembab, bahkan masih berlinang air mata di kedua pipinya.
Kawa tidak segera bertanya, dia kembali menutup pintu kamar dan membiarkan Biru untuk menuntaskan tangisannya. Biri memilih menelungkupkan tubuhnya di atas kasur empuk kamar Kawa, begitulah hal yang selalu dia lakukan pada saat suasana hatinya tidak menyenangkan.
Tak berapa lama, tangisannya terhenti. Lalu dia duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Dengan wajah dinginnya, Kawa melihat ke wajah Biru adiknya dengan tatapan dingin.
"Bang...aku dikhianatin lagi" ucap Biru.
"Sama yang kemarin lagi?" tanya Kawa tidak heran.
Biru mengangguk sambil manyun.
Kawa menghela nafas, mengapa adiknya masih saja memelihara cowok bego yang menyia-nyiakan dia.
"Kamu masih ingin mempertahankan dia?" tanya Kawa dingin.
Biru mengangkat kedua bahunya, "Entah"
"Jangan bodoh"
"Abaaaang"
"Abang bilang jangan bodoh, kamu terlalu baik jika terus dikhianati" ucapnya datar, begitulah Kawa, dia menuruni sifat Saga yang dingin dan datar.
Biru melihat abangnya dengan tatapan sebal, tapi apa yang diucapkan oleh Kawa ada benarnya juga. Bahwa apa yang dia lakukan sekarang adalah hal bodoh yang membuang waktu saja, tapi...
"Tapi...."
"Kamu masih cinta?" Kawa memotong perkataan Biru. "Itu bukan cinta, tapi itu menyiksa dirimu" ucapnya lagi.
Biru terdiam, Kawa itu jarang-jarang bicara, tapi kalau bicara benar juga.
"Lalu bagaimana kisah cinta Abang dengan Kakak-kakak yang kemarin itu? mengapa abang masih bertahan?" salak Biru, mendengar pertanyaan Biru yang tiba-tiba tersebut, membuat Kawa menyipitkan matanya melihat adiknya. Mengapa adiknya tiba-tiba mengingatkan pada seseorang yang sudah bertahta di hatinya sekian lama yang tanpa kejelasan itu.
Kawa menghela nafas, tidak ada jawaban yang terlontar.
"Cie...abang lagi galau juga" goda Biru. Berbeda dari Kawa yang cenderung dingin, Biru adalah sosok periang yang ramai, dia bisa memberikan kebahagian bagi orang-orang di sekitarnya karena sifatnya yang ceria tersebut.
"Sudah ceritanya? keluar dari kamar abang, dan ingat...jangan nangis lagi gegara cowok yang namanya Mario itu lagi!" ancamnya.
Biru menurut dan keluar kamar Kawa dengan keadaan patah hati, tapi dia sudah merasa baik-baik saja.
Setelah Biru keluar dari kamarnya, Kawa kembali duduk di depan mejanya, memandang layar laptop dan sebuah foto yang ada di layar laptop.
"Entah...berapa lama lagi aku akan bertahan?" pekiknya dalam hati.
Akhirnya, usai sudah kisah Saga dan Ganis, novel pertama Author yang apa adanya, ah sudahlah. Terima kasih buat para readers yang sudah membaca dari awal hingga akhir, yang sudah memberikan beragam komentar, memberikan like, vote, dan rate juga. Author ucapkan banyak-banyak terima kasih, tidak ada kalimat yang bisa menggambarkan.
__ADS_1
Author ingin melanjutkan cerita ini, namun dengan judul yang berbeda, dengan tokoh dari Kawa dan Biru, tapi Author juga ragu apakah kalian para readers masih mau membacanya (Author suka nggak percaya diri) wkwkwk. Semoga Author segera mendapatkan wangsit untuk melanjutkan cerita ini. Sehat-sehat buat kalian ya para readers yang baik hati....
Author harap, jika suatu saat nanti Author membuat cerita yang baru, kalian berkenan membacanya. Nanti Author share di sini....^^