
Tinggal 3 hari lagi pernikahan Anaya dan Saga akan dihelat, semua persiapan sudah matang, terlebih di rumah Saga. Meskipun tidak mengundang banyak orang, namun dipersiapkan sebaik mungkin.
Sementara Anaya masih sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor, Ganis dengan sekuat tenaga membantu, bahkan dia bekerja lebih keras agar bisa menghandle pekerjaan Anaya, dia tidak mau Anaya kelelahan dan jatuh sakit saat pernikahan nanti.
“Maaf Nona, harusnya Nona sudah beristirahat di rumah menjelang pernikahan Nona, saya takut Nona kelelahan di
hari Bahagia Nona” urai Ganis, mereka berada di perjalanan pulang dari kantor, sudah lewat tengah malam saat ini.
“Saya bisa menghandle sementara waktu bersama Radian” tawar Ganis sesopan mungkin, dia tidak mau Anaya tersinggung.
“Terima kasih Ganis atas semua perhatian kamu, tapi sayangnya aku sendiri yang harus handle semua ini, dan…berita buruknya, aku harus ke Belanda mungkin.
“Nona?” Ganis terkejut dengan ucapan Anaya.
“Ok, kita sudah sampai, maaf kalau akhir-akhir ini mengajak kerja kamu selarut dan secapek ini, tapi ini memang yang harus kita lakukan. Istirahatlah, dan besok kita mulai lagi” Anaya turun dari mobil tanpa menunggu jawaban dari Ganis.
Dengan Langkah sedikit lunglai, Ganis meniti anak tangga sambil menenteng tas dan sepatunya. Dia bingung dengan apa yang ada yang ada di fikiran Anaya. Seingat dia, ada jadwal ke Belanda itu adalah tanggal di mana bertepatan dengan hari pernikahan Anaya dengan Tuan Saga.
“Apa Nona sedang benar-benar kelelahan hingga mengigau akan ke Belanda? Atau aku yang salah menulis jadwal
untuk Nona?” gumam Ganis pada dirinya sendiri, hampir sejam Ganis memikirkan kata-kata Anaya sebelum akhirnya dia benar-benar tertidur dengan lelapnya hingga pagi menyambutnya.
Ganis sudah bersiap dengan pakaian kerjanya dan tasnya, dia masih berdiri di samping kursi makannya sambil menunggu Anaya membuka pintu kamarnya dan sarapan bersama, hal ini yang selalu dia lakukan setiap harinya.
“Apa tidurmu nyenyak?” tanya Anaya, wajahnya ceria dan tidak terlihat kelelahan.
“Iya Nona” jawab Ganis.
“Bagus lah, karena nanti kita akan meeting dengan klien, setelahnya ada hal penting yang harus aku sampaikan ke
kamu, aku tahu kamu bisaaku andalkan, jadi jangan kecewakan aku”
“Siap Nona”
Setibanya di kantor, Ganis masuk ke dalam ruangan yang sama dengan ruangan Anaya, berbagai tumpukan berkas sudah berada di meja Anaya, Ganis membantu menyortir berkas mana yang harus dia bawa pada meeting siang nanti dengan klien.
Waktu 2 hari menuju pernikahan seolah terlupakan dengan kesibukan Anaya yang begitu luar biasa, gadis cantik dan pintar itu memang sangat mencintai karirnya. Bahkan akhir-akhir ini Anaya hampir tidak pernah bertemu dengan Saga.
“Kabar buruk…” bisik Radian saat mendekati meja Ganis, sementara Anaya sedang keluar sebentar, sehingga mereka hanya berdua di ruangan tersebut, Ganis dan Radian.
__ADS_1
“Apa mas?” tanya Ganis penasaran, tetapi tangannya masih sibuk memilih berkas.
“Bu Anaya akan pergi ke Belanda 2 hari lagi” bisik Radian.
“Hah? Mas jangan bercanda” kali ini tangan Ganis berhenti memilah berkas, matanya tajam menatap mata Radian, tidak ditemukan kebohongan di sana, Radian juga bingung.
“Aku sudah urus tiketnya, dia tadi malam kirim pesan ke aku buat urus semuanya”
“Tenang, mungkin saja Nona berangkat setelah acara ijab qobul” Ganis masih optimis.
“Jam berapa acaranya kalau boleh tahu?”
“Jam 9”
“Kamu serius?” Radian mengernyitkan dahinya.
Ganis mengangguk, bisa dipastikan jika acara pernikahan memang jam 9, sesuai dengan apa yang dia catat di buku agenda. Radian menepuk dahinya, seolah tidak percaya dan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kenapa?” Ganis semakin gugup dengan ekspresi yang ditujukan Radian, cowok yang selama ini akrab dengannya, tidak hanya dalam hal mengurus pekerjaan Nona Anaya. Saat senggang pun, Ganis dan Radian kerap menghabiskan waktu bersama. Bagi Ganis, Radian adalah teman sekantor yang banyak membantunya selama ini, karena memang dia tidak memiliki siapa-siapa.
Radian menarik pergelangan tangan Ganis, mereka kini terpaut jarak hanya satu meter. Tiba-tiba Ganis agak deg-degan dengan situasi yang dia hadapi, mata mereka beradu.
“Kirain mau bilang apa?” teriak Ganis dalam hati, lalu dia memejamkan mata beberapa detik sebelum kemudian Kembali menatap Radian, masih dengan rasa penasarannya tentang rencana kepergian Anaya ke Belanda.
“Setelah ini nggak bisa mas, aku sama Nona mau persiapan meeting di luar”
“Jadwal keberangkatan Nona jam 6 pagi, entahlah apa yang terjadi” ujar Radian sambil menghela nafas panjang. Ganis tercekat.
“Mas Radian yakin?” Ganis memastikan, kini dia sudah lupa jika harus mengemasi berkas. Radian mengangguk. Berbagai pertanyaan memenuhi dua manusia itu, sebelum akhirnya terdengar pintu terbuka. Langkah Anaya mendekat. Ganis segera menguasai keadaan, begitu juga Radian.
“Sudah saya siapkan Bu, segala keperluan nanti sore, berkas-berkasnya ada di map warna biru” ujar Radian.
“Terima kasih Radian, oh ya…mungkin nanti sore saya nggak bisa ikut meeting di kantor, wakilkan saja pada Pak Wawan, aku ada acara penting sore ini”
“Baik Bu”
“Kamu sudah siap Ganis?”
“Oh…siap Nona”
__ADS_1
“Bawa semua berkasnya, kita berangkat sekarang”
“Baik Nona” Ganis membawa semua berkas yang sudah dipilihnya. Anaya meninggalkan ruangannya terlebih dahulu, Radian memperhatikan Ganis memilih berkas yang belum sempat dia pilah tadi.
“Ok, semoga semua berjalan lancar” harap Radian, Ganis mengangguk.
Meeting berjalan sudah hampir 3 jam lamanya, dan akhirnya menemukan kesepakatan. Anaya tersenyum Bahagia karena meeting berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan, dan perusahaannya mendapatkan investasi besar dari perusahaan asing yang ada di Belanda.
“Aku senang sekali, akhirnya” Anaya nampak Bahagia, mereka kini masih berada di ruangan meeting yang tadi. Sementara para tamu sudah meninggalkan ruangan tersebut, kini hanya ada Anaya dan Ganis.
“Kita berpindah tempat, aku ingin bicara penting sama kamu”
“Baik Nona”
Anaya melangkahkan kakinya menuju ruang tertutup yang ada di restoran tersebut, ruang VVIP yang dikhususkan untuk pelanggan khusus di sana. Baru pertama kali ini Ganis diajak oleh Anaya berada di tempat khusus seperti ini. Ada apa gerangan yang ingin disampaikan oleh Anaya padanya? Apakah dia akan dipecat. Berbagai dugaan berkecamuk di dalam otaknya.
Anaya mengeluarkan selembar kertas lengkap dengan matrai di atasnya. Anaya menatap Ganis tajam, sorot matanya seolah menghujam Ganis.
“Nona?” ujar Ganis, dia tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi.
“Ganis, jangan bertanya apa, aku tidak akan memberikan pilihan, dan kamu harus melakukannya” Anaya menyodorkan selembar kertas tersebut, Ganis menerimanya dan mulai membacanya.
Kontrak perjanjian yang membuat Ganis benar-benar merasa sangat terkejut. Kontrak yang harus dilakukan oleh Ganis.
Seolah teka-teki kepergian Anaya ke Belanda sudah terang, bahwa Anaya tidak akan pernah menikah dengan Saga.
“Kenapa saya Nona?” tanya Ganis sesaat setelah membaca kontrak tersebut.
“Karena kamu memang orang yang sudah aku persiapkan, sekarang yang harus kamu lakukan adalah menikah dengan Saga lusa”
“Nona…saya tidak bisa”
“Kamu kan sudah membaca kontraknya kan, kalau kamu tidak bisa, berarti kamu harus mengembalikan uang 500 juta itu segera”
Ganis tercekat, dia berada situasi yang sama sekali tidak mengenakkan. Bagaimana bisa dia harus menikah dengan Saga, kekasih dari bosnya, pasangan idaman yang dia dambakan untuk menikah? Pasangan yang sangat serasi? Bagaimana bisa? Apakah Ganis sedang bermimpi.
“Ini perintah yang harus kamu lakukan, jika dalam waktu 6 bulan selesai, maka terserah kamu mau apa, aku akan membayar kamu, hutang kamu aku anggap lunas, dan kamu terserah mau kemana, aku rasa uang yang akan kuberikan padamu akan lebih dari cukup untuk kehidupan barumu nanti” ujar Anaya enteng, Ganis tidak bisa
berkata apa-apa mendengar dan melihat Anaya dengan pribadi yang seperti ini.
__ADS_1
Seperti yang aku tulis kemarin, Insyaallah setelah ini akan rajin up, karena "Tugas negara" sudah rampung. Jadi, tetap nikmati karya ini ya teman-teman, para readers, duh..ini banyak yang silent readers ya? hehe. yuk ah, kalian bisa like, komen, kasih kritik, apalah....biar aku tambah semangat nulisnya. love kalian semua......^^