Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Empat Puluh : Hangatnya Rumah Panggung


__ADS_3

Bik Janah menolak untuk naik mobil Saga saat menuju rumahnya dengan dalih kakinya kotor karena lumpur dan jarak yang ditempuh pun tidak jauh dari tempat mereka bertemu tadi. Ganis berjalan menemani Bik Janah


“Jadi dia itu suamimu?” bisik Bik Janah. Ganis mengangguk, dia tidak mau bercerita tentang kisah yang sebenarnya.


“Beruntungnya kamu mendapat suami yang begitu tampan” imbuh Bik Ganis sambil tertawa, dia ikut bahagia dengan apa yang dia lihat.


Rumah Bik Janah sudah kelihatan, mendung semakin pekat. Untuk sampai di rumah Bik Janah, mobil tidak bisa masuk tepat di halaman, mereka harus melewati jalan setapak kira-kira 50 meter. Dan yang lebih menjadi tantangan adalah jalanan tersebut itu berlumpur terkena hujan.


“Duh…gimana ini? Jalannya berlumpur, bagaimana artis tampan itu bisa berjalan apa tidak?” ujarnya disambut tawa Ganis. Dia sendiri tidak bisa membayangkan apakah Saga akan mau berjalan di atas lumpur. Saga memarkir mobilnya di lahan kosong, lalu membuka bagasi dan mengambil kopernya. Bik Janah sudah berjalan duluan menuju rumahnya, Ganis mendekati Saga yang sedang menurunkan kopernya.


“Apa Tuan yakin bisa jalan sampai sana?” Ganis menunjuk rumah Bik Janah, dan jalanan arah sana dipenuhi lumpur yang licin. Rumah itu benar-benar rumah panggung yang dikelilingi sawah hijau penuh dengan tanaman padi. Saga terdiam sesaat.


Pasti dia akan meminta pulang…Ganis menatap Saga.


Saga berjongkok dan membuka tali sepatunya perlahan, Ganis terkejut melihatnya, tidak percaya bahwa Saga melakukan itu. Saga melepas dan meletakkan sepatu itu di mobil bagian belakang, menaikkan celananya di bawah lutut. Ganis tersenyum, lalu dia mengikuti apa yang dilakukan Saga.


“Lets Go Tuan muda, mari kita berpetualang” ungkapnya.


Tak lupa Saga memanggul koper yang terasa berat karena muatan, Ganis tertawa melihat Saga terlihat seperti tukang panggul. Ini benar-benar menjadi pengalaman pertama Saga memangguk koper.


“Jangan tertawa”


“Hati-hati ya, jalanan licin!” teriak Bik Janah yang kini sudah ada di teras rumahnya.


Ganis berjalan dengan hati-hati, sesekali dia melihat ke arah belakang, memastikan jika Saga melewati rintangan jalan berlumpur. Kakinya yang selalu dimanjakan dengan alas kaki yang mahal itu kini harus menyatu dengan lumpur.


“Kapan lagi Tuan Muda menyatu dengan alam” ujar Ganis.


Setelah sampai di teras Bik Janah, Saga meletakkan koper tersebut di lantai kayu itu, meskipun jaraknya dekat, dia nampak ngos-ngosan. Gerimis mulai turun bertepatan mereka sampai di rumah Bik Janah.


Ganis dan Saga mencuci kaki di depan rumah Bik Janah, mereka mengenakan sandal jepit yang ada di sana, Ganis tertawa saat melihat kaki Saga terlalu besar sehingga sandalnya tidak muat.


“Kamu dari tadi ketawa terus” omel Saga.


“Ayo masuk-masuk, sudah mulai gerimis, di luar dingin. Ayok-ayok” Bik Janah memberikan isyarat dengan tangannya.


Rumah panggung itu terlihat tertata dengan rapi, mereka duduk di ruang tamu. Bik Janah ikut duduk menemani mereka.


“Bibik belum kenalan dengan suamimu Nis, siapa namanya?”


“Oh…Saga Bik, panggil saja Saga” sahut Saga.


“Oh Saga, iya nak Saga, duh gantengnya” ujarnya kembali memuji.


“Ya sudah, kalian ganti baju atau apa dulu sana, atau mandi” Bik Janah memperlihatkan kamar yang akan ditempati oleh mereka berdua. Kamar yang tertata sangat rapi, ada jendela yang langsung menghadap ke hijaunya persawahan. Hanya saja hanya ada satu ranjang, dan mereka akan tidur seranjang. Jika Ganis menolak, maka Bik Janah akan curiga dengan apa yang terjadi.


“Anggap saja rumah sendiri ya nak Saga, memang Bibik ini hanya tetangga Ganis, tapi Ganis sudah saya anggap anak sendiri, bukan begitu Nis?”

__ADS_1


“Iya Bik” Ganis merangkul Bik Janah. “Ya sudah, kita ke kamar dulu ya Bik”


“Iya iya…silahkan, maaf rumahnya seadaanya ya nak Saga”


“Terima kasih Bik” jawab Saga.


Ganis menyeret koper dan meletakkannya di pojok dekat lemari kayu, lalu dia mendekati jendela dan membukanya perlahan. Hawa segar menyeruak masuk ke dalam kamar. Hijaunya tanaman padi terlihat jelas. Saga merebahkan dirinya di ranjang, hingga akhirnya dia tertidur.


Ganis membuka koper dan bersiap untuk mandi, jika semakin sore dia mandi, maka akan terasa semakin kedinginan. Dilihatnya sekilas Saga yang tengah tertidur pulas, Ganis tersenyum tipis sebelum meninggalkan kamar menuju kamar mandi di belakang.


Bik Janah tengah sibuk memasak di dapur, selepas mandi Ganis ikut ke dapur untuk membantu Bik Janah memasak.


“Eh nggak usah, kamu istirahat saja Nis” Bik Janah sedang menggoreng ikan.


“Nggak apa-apa Bik, sini” Ganis mengambil alih menggoreng ikan. Bik Janah lalu membuat sambal.


“Sudah bangun atau belum suami kamu?”


“Ehm…belum Bik, kecapekan mungkin Bik”


“Iya kasihan, berapa lama perjalanan kamu tadi?”


“Kurang lebih lima jam Bik, eh lebih sih Bik”


“Oh makanya”


“Kamar mandi sebelah mana?” tanya Saga.


“Itu” Ganis menunjuk arah pintu belakang, kamar mandi tepat berada di samping kiri pintu tersebut. Saga mengangguk, handuk ditaruh di bahunya.


“Hoooohhh…!” teriak Saga, dia kembali keluar dari kamar mandi, wajahnya nampak ketakutan. Bik Janah dan Ganis ikut kaget melihat Saga berteriak.


“Ada apa?” tanya Bik Janah, Ganis mendekati Saga.


“Itu” Saga menunjuk ke dalam kamar mandi.


“Oh itu lintah” Bik Janah mengambil sapu dan membuangnya. “Biasa ini mah, sudah nggak ada, silahkan mandi” ujar Bik Janah. Saga perlahan kembali masuk ke kamar mandi, melihat sekeliling, jangan-jangan ada lintah lagi di dalamnya.


Ganis tertawa kecil saat melihat tingkah Saga yang ketakutan melihat lintah.


“Eh…malah ketawa” Bik Janah menyenggol lengan Ganis.


            Setelah maghrib mereka berkumpul di ruang tengah untuk makan malam bersama, dengan beralaskan karpet hijau, mereka duduk menghadap nasi dan lauk-pauknya.


“Maaf ya nak Saga, menunya sederhana” Bik Janah malu-malu.


“Ah enggak kok Bik, maaf kita ngrepoti di sini”

__ADS_1


"Tidak sama sekali, Bibik malah senang kalian mau menginap di sini"


Terdapat nasi liwet yang masih hangat di sana, sambal, aneka sayur lalapan, dan ikan gurami goreng, Ganis berbinar, sudah sangat lama dia tidak menikmati menu semacam ini. Ganis mengambil piring untuk Bik Janah dan Saga.


“Sudah, itu suamimu dilayani dulu, Bibik mah gampang”


Ganis mengambilkan nasi dan lauk untuk Saga, ini adalah pertama kalinya Saga makan dengan lauk sederhana yang terlihat sangat menggoda. Benar saja, dengan cepat Saga menghabiskan nasi dan lauk yang ada di piringnya. Makan di tempat ini benar-benar nikmat.


            Selepas makan malam, mereka berkumpul di tempat yang sama.


“Jadi karena Bibik sendirian di rumah, biasanya kalau habis isya gitu Bibik langsung tidur” ujarnya mengawali cerita.


“Bibik nggak pernah nonton TV? Kan bisa buat hiburan Bik” ucap Ganis sambil menunjuk televisi yang ada di atas meja di dekatnya.


“Ah..itu rusak, kapan itu Bibik lupa, sudah lama, tersambar petir”


“Ya begini nak Saga kehidupan di kampung, serba sederhana, tapi menyenangkan, Bibik mau diajak anak Bibik yang tinggal di kota nggak mau, karena Bibik sudah terlanjur cinta tempat ini” ungkapnya.


“Oh iya Bik, di sini menyenangkan, apa ada lowongan pekerjaan Bik?” goda Saga, Ganis melirik ke arah Saga lalu tertawa.


“Serius?” tanya Ganis. “Tuh ada gantiin sapi bajak sawah” goda Ganis, Bik Janah tertawa.


“Eh jangan, ganteng-ganteng suruh gantiin sapi bajak sawah sih, nak Saga itu cocoknya jadi artis, ganteng banget, apa jangan-jangan nak Saga itu artis?” Bik Janah terkekeh, Saga ikut tertawa.


“Bukan Bik, aku karyawan biasa Bik” Saga merendah.


“Oh ya? Nggak apa-apa, yang penting kalian bahagia, berkecukupan, sehat-sehat ya buat kalian, dan segera punya anak nanti” doa Bik Janah.


“A..Amin…” ucap Ganis ragu.


“Amin Bik” timpal Saga.


“Duh mimpi apa ya aku bisa didatangi sama kalian, seneng banget Bibik”


“Bibik kalau ke kota kita, jangan lupa mampir ya Bik” sahut Saga.


“Oh pasti nak, nanti Bibik pasti mampir” jawabnya bersemangat.


Hingga larut malam mereka ngobrol dan diselingi gelak tawa, akhirnya Bik Janah pamit untuk istirahat.


 


 


Jangan lupa like dan vote ya...


Hari senin nih, jika kalian pakai aplikasi noveltoon versi terbaru, maka kalian akan dapat 1 vote rekomendasi. Author akan senang sekali jika dapat vote rekomendasi dari para readers...hehe thanks you...

__ADS_1


__ADS_2