
“Terima kasih Tuan”
“Hem” balas Saga singkat. Tidak diketahui mengapa dia nekat sejauh ini, rela menjadwal ulang meeting penting dengan klien hanya demi bisa datang ke kondangan bareng dengan Ganis. Harus repot-repot memesan salon untuk mendandani Ganis. Dan bersikap manis pada Ganis di depan umum, dan itu artinya Saga benar-benar sudah go public atas pernikahannya.
“Jangan merasa aku sedang menyelamatmu, atau aku sedang jatuh cinta padamu” balasnya dingin. Ganis tersenyum kecut, tentu saja, tentu saja. Dia yakin jika misinya akan gagal, misi yang selalu menggaung di telinganya, “Buat dia jatuh cinta padamu” dari Anaya. Mana mungkin seorang Saga mencintai dirinya? Dia bukanlah
siapa-siapa. Dia hanya orang yang tiba-tiba hadir dalam hidup Saga.
“Atau jangan-jangan kamu sudah terpesona denganku?” ejek Saga dengan senyuman kecil menyungging di bibirnya, Ganis menoleh sejenak. Kegilaan manusia kulkas kumat lagi.
“Aku baru tahu jika Tuan bisa bermain piano dan bernyanyi” sebenarnya dia ingin memuji.
“Jangan merasa juga jika lagu itu benar-benar untukmu”
“Ya Tuan” jawab Ganis singkat, berasa ada yang mengganjal di hatinya. Apakah dia kecewa saat Saga mengungkapkan kalimat itu?. Entahlah, Ganis menarik nafas panjang. Diakuinya, apa yang dilakukan Saga hari ini lagi-lagi menyelamatkannya. Detak jantung yang tidak karuan saat melihat Radian bersanding di pelaminan mendadak hilang karena lengan Saga yang senantiasa menjadikan dia kuat menghadapi kenyataan. Perlakuan manis Saga yang tidak dia duga sebelumnya, dan bahkan Saga sedang mengadakan konser tunggal untuknya.
“Untuk menguatkan hatimu, kamu harus tampil sebaik mungkin, setelah ini tak akan ada rasa sakit dalam hatimu untuknya, jangan menjadi pelangi buat orang yang buta akan keindahan warna” Saga berbicara serius, Ganis hanya terdiam mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Saga.
Saga, laki-laki yang sama sekali tidak bisa dia tebak, kadang dia ramah, kadang dingin, dan kadang perhatian. Laki-laki yang sama sekali tidak dia sangka dalam hidupnya.
“Apa Tuan tidak memikirkan diri Tuan?” Ganis bertanya tanpa menatap, Saga masih diam, pandanganya menuju jalan raya. Dia paham arah pertanyaan yang dilontarkan Ganis.
“Memangnya kenapa?” ujar Saga balik bertanya.
“Aku tidak mau Tuan kerepotan karena kejadian tadi, semua orang akan tahu istri Tuan”
“Memangnya kenapa?” ujar Saga dengan pertanyaan yang sama.
Ganis heran, mengapa dia masih bertanya “memangnya kenapa?”. Apa Saga tidak malu jika memiliki istri seperti dirinya yang bukan siapa-siapa, dan ingatannya kembali ke perjodohan itu.
“Jika jodoh Tuan yang sebenarnya datang bagaimana?”
Saga menoleh ke arah Ganis dengan tatapan dingin, dia meyakini jika Ganis menyimak berita akhir-akhir ini.
“Kamu cerewet sekali” ekspresi wajah Saga nampak kesal mendapat pertanyaan itu.
Ganis terdiam, dia tidak berani untuk bertanya lagi. Mobil melaju kencang di jalanan yang asing bagi Ganis. Hanya pepohonan rindang yang ada di kiri kanan jalan, meskipun gelap dia masih bisa melihatnya dengan adanya lampu penerangan di kanan kiri jalan. Hampir tengah malam, mobil itu tiba di sebuah tempat parkir yang sangat luas, ada beberapa mobil yang terparkir di sana. Seorang laki-laki berlari menuju mobil yang dikendarai Saga. Ganis memperhatikan laki-laki itu. Laki-laki itu membantu membukakan pintu mobil Saga. Saga keluar dari mobilnya.
“Keluarkan semua yang ada di bagasi dan letakkan di kamar”
__ADS_1
“Baik Tuan” laki-laki itu membukakan pintu juga untuk Ganis. Sementara Saga sudah memasuki salah satu kamar di resort tersebut.
Mereka berada di sebuah resort yang berada di daerah puncak, kamar resort di sini seperti rumah-rumah yang berjarak agak jauh, namun ukurannya tidak besar. Saga membuka pintu kamar, sedangkan Ganis masih mematung di depan pintu kamar tersebut. Saga menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ganis. Ganis sudah hafal perlakuan Saga, itu adalah kode, di mana Ganis harus mengikuti langkahnya.
Ganis memasuki kamar tersebut, dilihatnya isi rumah mungil itu, hanya ada ranjang, kamar mandi dan juga lemari, serta sofa berukuran mini. Hanya saja bangunannya sangat nyaman dan mewah. Laki-laki tadi menyusul ke dalam rumah tersebut dengan membawa koper berukuran sedang.
“Ini Tuan”
“Terima kasih”
“Iya Tuan, saya permisi dulu” pamitnya lalu meninggalkan rumah itu.
“Kamu pernah bilang, salah satu hal yang kamu sukai dari Radian adalah liburan, jadi tidak ada salahnya kamu liburan di sini”
“Tapi Tuan…”
“Kenapa? Karena bukan sama Radian jadi kamu menolak?” Saga bertanya dengan ketus. “Sudah, aku capek, mau tidur” Saga melepaskan baju batiknya lalu berganti dengan kaos dan tertidur dengan pulas.
Ganis membuka kopernya, ada beberapa baju yang ada di koper tersebut.
“Siapa yang menyiapkan semua ini?” bisiknya lirih. Bahkan semuanya lengkap, dimulai dari baju tidur, baju piknik, jaket, bahkan dalaman semua lengkap. Ganis mengangkat bra warna pink muda. Matanya mendelik, bibirnya menahan tawa.
***
Ganis terbangun dari tidurnya, badannya terasa pegal-pegal karena tidak bisa tidur dengan nyaman, serasa encoknya kumat. Dilihatnya Saga sudah bangun dan berada di halaman penginapan, nampak dia sedang berbincang dengan seseorang. Ganis memijat pinggangnya pelan, dengan harapan rasa pegalnya hilang seketika.
Dret...dret….
HP Ganis bergetar, ada pesan masuk.
Ganis, benarkah kalian sudah menikah? -Radian
Ganis hanya membaca pesan yang masuk tanpa ingin menjawabnya, pasti yang ada di pikiran Radian, Ganis adalah orang yang menyebabkan Anaya berpisah dengan Saga. Bagaimana dia menjelaskannya pada Radian. Ganis duduk terpaku di atas sofa, tampilannya masih berantakan karena belum mandi.
Saga masuk ke dalam penginapan mereka, pelayan datang memberitahukan jika sarapan sudah siap berada di sebuah tempat yang tidak jauh dari mereka tinggal.
“Ayo sarapan” ajak Saga, mata Ganis berbinar, akhirnya perutnya yang sudah protes sejak tadi akan segera terisi. Tadi malam mereka benar-benar tidak makan, dan itu membuat perut Ganis berontak sepanjang malam. Ganis mengekor di belakang Saga, tangannya merapikan rambutnya. Melihat sekeliling, tempat ini sangat indah, lebih ke daerah pegunungan, hawanya sangat sejuk dan memanjakan mata. Tibalah mereka di sebuah tempat dengan lantai 2, jika mereka berada di lantai 2, maka mereka dapat melihat langit dengan leluasa, mereka juga dapat melihat pegunungan yang ada di sekitar tempat tersebut. Matahari pagi baru saja keluar, sinarnya nampak sangat indah di tempat kini mereka berada.
Saga sudah memilih menu sarapan, sedangkan Ganis masih berada di tepi pembatas tempat tersebut sambil menikmati indahnya matahari yang bersinar. Saga mengoleskan selai kacang di rotinya, tak lupa segelas susu ada di dekat sarapannya. Ganis tersadar jika Saga sudah menunggunya untuk sarapan bersama. Dia segera duduk di meja sarapan yang sama, Ganis memilih sarapan dengan nasi goreng.
__ADS_1
Setelah sarapan mereka kembali ke kamar, Saga mempersiapkan diri untuk segera meeting, sedangkan Ganis akan jalan-jalan di sekitar resort.
“Bolehkah aku bertanya Tuan?” tanya Ganis sambil membenahi sepatunya, sepatu kets warna putih dengan ukuran yang benar-benar pas untuk kaki mungilnya.
“Hem” balas Saga, dia sudah bersiap dengan setelan jasnya.
“Siapa yang memilihkan semua ini?” Ganis menunjuk koper yang berisi bajunya, semua baru karena masih ada labelnya.
“Penting?” Saga balik bertanya dengan nada datarnya. Ganis mengangguk.
“Karena ada yang tidak sesuai ukuranku Tu..an” balas Ganis. Saga menatap gadis itu, merasa apakah observasinya selama ini salah?
“Apa?” tanya Saga cuek, tangannya membenahi kancing kemejanya.
“Ini” Ganis mengangkat bra warna pink muda, wajahnya cemberut.
“Apa itu?” ucap Saga masih dengan suara datar.
“Ini” Ganis berjalan mendekat ke arah Saga dan menenteng barang tersebut tepat berada di depan wajah Saga. Saga menghindar dari barang tersebut.
“Semua pas Tuan di badan aku, kaos, celana kulot, bahkan sepatu juga pas, tapi ini” Ganis protes.
“Heh dengar ya, aku bisa mengira-ngira ukuran baju karena melihat kamu dari luaran sudah kelihatan, sepatu ada contoh di rak sepatu, nah itu…” Saga tidak melanjutkan kalimatnya, Ganis menyimpan kembali barang tersebut di kopernya, benar juga apa yang diucapkan Saga.
“Lagian, sudah untung ya aku berbaik hati padamu membelikan itu” protesnya.
“Tuan kenapa tidak bilang kalau kita akan menginap di sini?” Ganis tak mau kalah.
“Kamu mau pulang? Pulang sana” ujarnya.
“he..he..he…belum Tuan, tidak tidak…aku akan ikut, aku senang berada di tempat ini” Ganis meringis. “Baik Tuan Saga, aku akan memakainya” Ganis menyunggingkan senyumnya.
“Lagian, segitu masih juga kebesaran” gerutu Saga.
“Apa kata Tuan?” Ganis mendengar suara Saga meskipun lirih.
“Lupakan!” Saga segera meninggalkan Ganis dan bersiap menuju aula meeting bersama para investor.
Ganis mencoba menjelajah tempat tersebut dengan berjalan kaki, karena di area tersebut juga ada kolam pemancingan, ada kebun buah petik sendiri, dan juga kebun bunga beraneka ragam.
__ADS_1
Terima kasih sudah setia membaca ^^