
Sarapan untuk pasien sudah siap di atas meja, Saga membantu Ganis untuk duduk, menaikkan bed tersebut agar posisinya bisa lebih tinggi.
“Tolong antarkan makanan itu kesini Tuan” Ganis menunjuk makanan yang ada di meja samping ranjangnya, dengan segera Saga mengambilnya dan meletakkan di atas ranjang.
“Terima kasih Tuan” tangan kiri Ganis meraih sendok dan bersiap untuk mengambil makanan. Namun Saga meraih sendok tersebut, dia duduk di atas ranjang yang sama, tangannya membuka plastik yang membungkus nasi dan sayur.
“Kamu pikir aku ini orang yang bagaimana? Hah?” ujarnya. Ganis menatap Saga. Saga mengambil nasi dan sayur, lalu mendekatkan ke arah mulut gadis yang ada di depannya. Bagaimanapun dia tak akan tega melihat gadis itu makan sendiri dengan posisi tangan kanannya digips dan harus kerepotan makan dengan tangan kiri yang ada selang infusnya.
“Aaaaaaa……” ucapnya, mulutnya ikut terbuka secara spontan. Ganis ingin tertawa, dia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Saga. “Kenapa kamu mirip bayi” celetuknya.
“Sini…aku makan sendiri saja” Ganis pura-pura merajuk.
“Dasar pemarah” imbuh Saga, tangannya menyuapkan suapan kedua.
Terdengar pintu terbuka, Ganis dan Saga melihat ke arah pintu bersamaan, Nyonya Rima dan Dini, salah satu pelayan di rumah memasuki kamar perawatan Ganis.
“Kok bisa sih?” belum juga Nyonya Rima mendekati Ganis, dia sangat khawatir saat sekertaris Li memberikan kabar subuh tadi.
“Mama” Ganis menyapa, bibirnya menyunggingkan senyum. Saga meletakkan piring makanan yang sudah kosong.
Nyonya Rima mengambilkan gelas berisi air dan membantu Ganis untuk minum.
“Ya Allah, kok bisa sih?” Nyonya Rima mengulang kalimatnya, melihat gadis itu penuh luka.
“Saya baik-baik saja Ma” Ganis menghibur mertuanya agar tidak terlalu khawatir.
“Kamu pulang sana Saga, mandi dan istirahat, biar Mama dan Dini yang di sini” Nyonya Rima memerintah, Saga menggaruk kepalanya, dia memang butuh istirahat karena semalaman dia tidak tidur, dan sekarang dia juga belum mandi, tampilannya agak berantakan, tapi tetap terlihat tampan. “Sudah, kamu pulang sana”
Saga mendekati Ganis, Ganis menatap laki-laki itu.
“Aku pulang dulu” Saga pamitan, ingin rasanya dia mengelus kepala Ganis, tapi tidak dilakukan, dia terlalu gengsi, apalagi ada Dini dan Nyonya Rima. Saga keluar dari kamar perawatan Ganis dan pulang untuk istirahat.
“Papa sangat mengkhawatirkanmu Ganis, tapi beliau tidak bisa kesini” Nyonya Rima membuka percakapan.
“Nggak apa-apa Ma”
“Apa ini sakit?” Nyonya Rima memegang pelipis Ganis yang terluka, lalu berpindah memegang tangan Ganis yang digips.
“Sedikit Ma, tapi sudah enakan kok” Ganis mengelus tangan kanannya.
“Duh bisa-bisanya Saga tidak menjaga kamu. Memangnya dia kemana?”
Ganis terdiam, jawaban apa yang harus dia ucapkan, dia sendiri tidak tahu Saga kemana pada saat hari naas itu.
“Ehm…mas Saga ada kerjaan Ma” jawab Ganis sekenanya.
“Harusnya kamu bawa sopir atau pengawal, kan jadinya tidak akan seperti ini”
“Iya Ma, maaf, lain kali aku nggak akan ceroboh”
mereka berbincang hingga siang.
__ADS_1
Tok…tok…tok….
Suara pintu rumah sakit diketok, Dini dengan sigap membuka pintu tersebut, terlihat Radian dan istrinya datang menjenguk. Terlihat istri Radian membawa buket bunga, sedangkan Radian membawa sekeranjang buah segar.
“Mas Radian” ucap Ganis sedkit terkejut dengan kedatangan Radian.
“Selamat siang Nyonya” Radian memberikan salam pada Nyonya Rima, disambut dengan senyum dan anggukan Nyonya Rima.
“Teman kamu Ganis?” tanya Nyonya Rima lembut.
“Iya Ma, dan ini istrinya”
“Oh…iya, ya sudah, kalian lanjutkan, kalau begitu Mama pulang dulu ya” Nyonya Rima
berdiri dari tempat duduknya.
“Iya Ma, Mama hati-hati ya, terima kasih, mbak Dini juga"
"Iya Nona, lekas sehat dan cepat kembali pulang ke rumah ya Nona"
"Siap Mbak Din"
"Oh ya, semua peralatan Nona sudah saya letakkan di laci"
"Iya Mbak"
“Hati-hati tante” Radian menambahkan.
“Mas Radian kok tahu kalau aku di sini?” Ganis mengerutkan dahinya. Radian tertawa kecil.
“Bukannya sudah go public? Jadi semua akan tahu berita tentang kamu”
“Masa sih?” Ganis tidak percaya.
“Iya Ganis, jadi langsung deh minta Mas Radian kesini, mumpung masih cuti kerja juga" suara istri Radian terdengar menyahut.
“Oh ya, ini istriku, kan kemarin kalian belum sempat kenalan”
“Aku Aziza”
“Ganis” Ganis memperkenalkan diri sambil menyunggingkan senyum.
“Mas, aku keluar dulu ya, ada panggilan masuk dari Papa” Pamit Aziza.
“Iya”
Radian duduk di kursi tepi ranjang, prihatin melihat gadis itu penuh dengan luka. Tapi dia bersyukur Ganis masih selamat.
“Kamu berhutang cerita padaku Ganis” Radian membuka percakapan empat mata.
“Hem?”
__ADS_1
“Iya, jangan pura-pura nggak tahu”
“Haruskah aku klarifikasi?” tanya Ganis. Radian mengangguk, mimik wajahnya serius menatap Ganis.
“Aku sangat terkejut saat kamu datang ke pernikahanku bersama dengan Tuan Saga, apakah kamu sedang bercanda?”
“Apakah aku orang yang selalu bercanda mas? Bahkan untuk sesuatu yang serius?”
“Jadi beneran kamu sudah menikah dengan Tuan Saga? Kok bisa? Jadi Nona Ann pergi karena….”
“Mas Radian jangan salah paham, bukan seperti itu, jadi aku…ehm…” Ganis tidak melanjutkan kalimatnya, apa yang harus dikatakan pada Radian, ini adalah perjanjiannya dengan Anaya, bahkan tidak ada orang lain yang tahu. “Ini terlalu rumit untuk diceritakan Mas” Ganis mengambil nafas dalam.
“Ok, maaf, aku tidak bisa memahami keadaan kamu, suatu saat nanti aku pasti tahu kenapa semua ini terjadi”.
Ruangan mendadak hening, tidak ada percakapan di antara mereka. Radian sibuk menebak apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan Ganis juga tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, terlalu rumit baginya.
Tiba-tiba Saga memasuki kamar perawatan, Radian terkejut, lalu dia berdiri menganggukkan badan memberi hormat.
“Apa kamu baik-baik saja?” Saga mendekati Ganis dan mengelus pipi Ganis. Ganis terkejut, lalu melihat Saga. Ganis mengangguk dan melemparkan senyum. “Kamu harus banyak istirahat”
“Ganis, aku pulang dulu ya, semoga kamu lekas sembuh. Tuan saya pamit undur diri” Radian berpamitan.
“Hem” Saga hanya berdehem.
“Terima kasih Mas, salam untuk Aziza”
“Iya nanti aku sampaikan” Radian segera beralu dan meninggalkan ruangan.
“Ngapain dia?” tanya Saga sinis. Ganis tidak menyahut, dia memejamkan mata. Saga menutup gorden jendela, lalu duduk di tepi ranjang Ganis.
“Kamu mau buah?” tanya Saga. Ganis membuka matanya, lalu mengangguk pelan. Saga mengambil sebuah apel dan mengupasnya untuk Ganis.
“Tuan…terima kasih”
“Untuk apa?” tanya Saga datar.
“Sudah mengkhawatirkanku” ucap Ganis polos. Saga tersenyum seolah mengejek.
“Jangan GR, aku hanya…hanya….”
“Aduh…” Ganis mengaduh, dia berusaha mengubah posisinya, dia ingin duduk. Saga meletakkan apel dan pisau di atas meja, lalu membantu Ganis duduk.
“Tuan kenapa selalu bohong?”
“Kenapa? Aku nggak bohong, aku tidak khawatir…aku hanya”
“Cepetan kupas apelnya…!” teriak Ganis sebal.
“Iya…iya”
Saga memotong apel menjadi bagian-bagian kecil, tangan kanannya bersiap menyuapkan apel ke mulut Ganis, tapi Ganis menolak, dan meminta potongan apel tersebut untuk dimakan sendiri tanpa disuapi. Saga menatap Ganis lekat, posisi mereka saling berhadapan, Ganis memperhatikan tatapan Saga yang tidak biasa, mereka semakin dekat. Jantung Ganis mendadak berdetak kencang, sekendang badai. Mata itu, mata itu menatapnya dengan sendu, Ganis menghentikan aktivitasnya, tangan kirinya meletakkan potongan apel yang dipegangnya, wajah mereka semakin dekat, bahkan Ganis bisa merasakan hembusan nafas Saga. Ganis memejamkan mata ketika bibir Saga hendak singgah di bibirnya.
__ADS_1
Tuhan…tolong, mengapa aku tidak bisa bergerak… Ganis berteriak dalam hati.