
Tanpa memberitahukan Ganis, Saga sudah menyiapkan tiket pesawat dan akomodasi lainnya. Mereka akan liburan. Dengan matang Saga sudah merencanakan ini semua, sekertaris Li dan Farel sudah siap dengan berbagai pekerjaan yang harus mereka ambil alih.
“Kenapa mendadak sih Mas?” Ganis duduk di tepi ranjang, saat Saga menyuruhnya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Padahal Ganis pikir mereka akan pulang ke rumah seusai pesta tadi malam.
“Namanya juga kejutan, aku sudah merencanakan sebelumnya, dengan matang, jadi…jangan protes” Saga menyemprotkan parfum di tubuhnya.
Ganis mengangguk, meskipun tanpa persiapan apapun.
“Tidak perlu khawatir, semua barang-barang yang kamu butuhkan sudah siap semua”
Ganis membuka lebar matanya, bukan Saga namanya jika tidak bisa melakukannya.
“Dan tenang, aku sudah tahu ukuranmu” Saga menekankan di kata “ukuranmu”.
Ganis tersenyum malu, masih saja mengingat akan hal itu.
“Bukannya Mas sibuk dengan pekerjaan di kantor?” Ganis mengkhawatirkan pekerjaan Saga.
“Kalau mikir kerjaan melulu, kapan berduaan dengan istriku, kapan bisa memberikan Mama kado tahun depan hayo….” Saga mendekat ke arah Ganis, memeluk Ganis dari samping. Ganis menoleh ke arah Saga lalu mengucek-ucek pipi Saga gemas.
“Terima kasih suamiku, sudah mengajakku liburan”
“Beluum…baru mau, ayok sekarang kita berangkat”
Ada beberapa koper yang dimuat di salah satu mobil di belakang mobil yang ditumpangi Saga dan Ganis. Sementara Saga dan Ganis menggunakan mobil yang berbeda.
“Mas, kita mau liburan berapa tahun sih? Kenapa banyak banget?” tanya Ganis saat tahu ada sekitar 3 koper ukuran jumbo yang masuk di salah satu mobil.
Saga tertawa mendengar pertanyaan konyol Ganis.
“Memangnya kita mau pindahan atau bagaimana?”
“Bukan gitu, kenapa banyak banget barangnya?”
“Aku takut kamu kehabisan baju” kelakarnya, itu jelas tidak mungkin, karena di manapun Saga berada, dia akan sangat mudah mendapatkan barang yang dia inginkan.
Nyonya Rima dan yang lainnya masih berada di villa saat Ganis dan Saga berpamitan untuk liburan. Selepas pamitan, Saga dan Ganis melambaikan tangan kepada mereka yang melambaikan tangan padanya.
__ADS_1
“Cepat pulang dengan bawa kabar baik ya Nona” bisik Dini sebelum Ganis masuk ke dalam mobil.
Ganis tertawa kecil mendengar ucapan Dini, Ganis memahami maksud ucapan Dini. “Mbak Dini ada-ada saja, iya…doanya ya…”
Mobil mulai menjauh, kini Saga dan Ganis diantar oleh sopir menuju bandara, mereka bersiap melakukan liburan berdua.
Sepanjang perjalanan, baik perjalanan udara maupun perjalanan darat menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi Ganis dan Saga. Mereka berdua nampak bahagia, sumringah dan tidak sabar menikmati waktu berdua yang sudah Saga susun sedemikian rupa. Meskipun tidak harus ke luar negeri, hal ini cukup untuk mereka berdua.
Mereka tiba di sebuah hotel mewah, Saga sudah memesan sebuah kamar ekslusif untuk mereka tinggali beberapa hari ke depan.
Seorang pelayan hotel membukakan pintu kamar mereka, dan yang lainnya membawakan barang-barang Saga dan Ganis yang terkemas ke dalam koper.
Sebelum mereka meninggalkan kamar Saga, tak lupa Saga memberikan uang tips kepada mereka.
Ganis meletakkan tas yang dari tadi dia bawa, tas yang berisi dompet dan HPnya. Ganis melihat ke segala penjuru kamar, kamar yang sangat luas dengan ornament klasik mewah. Ranjang ukuran king size, semuanya terlihat serba mewah.
Ganis membuka gorden jendela, dari bailknya dia bisa melihat indahnya laut berwarna biru yang terlihat mengkilat terkena sinar matahari.
Saga terlalu pandai menyenangkan hatinya.
“Bukannya ini terlalu mewah?” tanya Ganis masih terpaku melihat ke arah laut yang indah.
“Yang mewah itu kamu” jawabnya singkat tanpa menoleh ke wajah Ganis, Ganis menoleh singkat ke wajah Saga, lalu dia kembali melihat ke arah yang sama. “Aku tahu kamu menyukai laut, sehingga aku memilih tempat ini, semoga suka”
“Indah sekali, aku suka Mas”
“Syukurlah, kita akan tinggal beberapa hari di sini, semoga kamu tidak bosan”
Ganis menggeleng, “Selama bersamamu, Mas”
Saga menyunggingkan senyum khasnya, senyum dingin bagi setiap orang, tapi tidak kini bagi Ganis, hampir selalu senyum itu mengembang untuknya.
“Istirahatlah, nanti sore kita jalan-jalan”
“Iya Mas”
Berkali-kali HPnya Saga berdering, panggilan masuk dengan nomer yang sama.
__ADS_1
Salwa Calling
Saga sedang berada di kamar mandi, Ganis melongok melihat nama yang tertera di layar HP. Dia hanya menatapnya tanpa ingin mengangkat panggilan tersebut. Tak berapa lama Saga keluar dari kamar mandi, HP sudah berhenti berdering. Menyadari Saga sudah keluar kamar mandi, Ganis membuang muka meninggalkan layar HP yang dari tadi dia pantengi.
“Siapa?” tanya Saga. “Aku sudah bilang tak ingin ada yang mengangguku untuk urusan pekerjaan saat-saat ini” kesalnya.
Ganis mengangkat alisnya, mimik wajahnya berubah, dari semula sumringah penuh senyum. Kini datar.
Saga memeriksa Riwayat daftar panggilan, nama Salwa tertera di sana, sudah ada lebih dari 3 panggilan yang dilakukannya. Saga mengernyitkan dahi, mungkin ada hal yang sangat penting sehingga Salwa melakukannya.
Saga berdiri di dekat jendela kamar hotel, sambil melihat ke pemandangan di luar, Saga melakukan panggilan balik pada Salwa. Ganis duduk di tepi ranjang memperhatikan, sesekali dia mencerna kalimat demi kalimat yang diucapkan Saga pada Salwa, murni hanya membahas masalah pekerjaan. Dan nampaknya sangat penting.
Ganis segera beringsut, melihat Saga sudah selesai mandi, dia segera mandi, karena Saga mengajaknya jalan-jalan sore ini.
Dengan perasaan yang berbeda, Saga segera mengguyur tubuhnya, mengapa tiba-tiba nama Salwa menganggu kesenangannya. Tidak ada bukti yang mengarah jika wanita itu punya hal negative dalam kehidupan rumah tangganya.
Ganis menghela nafas, menikmati setiap tetesan air yang mengucur dari atas. Hampir setengah jam dia berada di kamar mandi.
Selepas memutuskan sambungan teleponnya, Saga melihat ke segala sudut kamar, tidak dilihatnya Ganis. Dia terlalu sibuk berbicara di HP.
Saga melemparkan HPnya begitu saja di ranjang, lalu mendekat ke arah pintu kamar mandi. Mengetoknya perlahan, memastikan jika Ganis baik-baik saja di dalam.
“Sayang….” Saga kembali mengetok pintu kamar mandi.
Mendengar Saga memanggilnya, Ganis menoleh ke arah pintu yang tertutup namun belum juga dia menyahut.
“Sayang…kamu tak apa kan?” Saga kembali mengetuk. Setelah berpakaian, Ganis membuka pintu kamar mandi.
Saga tersenyum lega, Ganis baik-baik saja.
“Aku sedang menikmati guyuran air Mas. Kenapa?” Ganis mencoba bersikap biasa saja, dalam hati dia merasa galau.
“Entahlah…aku cemburu padamu Mas” gumamnya dalam hati.
“Ayo bersiaplah, kita menikmati perjalanan sore ini”
“Iya Mas, sebentar, aku bersiap dulu”
__ADS_1
Hatinya mendadak tidak enak, ada rasa tidak suka yang dia rasakan, tapi Ganis mencoba menetralkan, dia tidak mau membuat liburan yang sudah Saga persiapkan tidak sesuai dengan rencana.
Bukan laut jika dia selalu tenang, karena pasti akan ada pasang dan surut, begitu pula perasaan manusia. eeh sudah senin lagi, ayo donk vote rekomendasinya diklik buat karya Author....Terima kasih...dan ikuti terus kelanjutan cerita ini.