Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
Tiga Belas : Kabar Anaya


__ADS_3

Ganis segera membuka lemari Saga dan menyiapkan setelan jas yang akan Saga gunakan untuk pergi ke kantor.


“Apa tadi malam dia lupa kalau melarangku untuk membuka lemarinya? Sekarang beda lagi permintaannya” gerutunya.


“Hey kamu, jangan bicara aneh-aneh!” teriak Saga dari dalam kamar mandi. Ganis kaget, bagaimana dia tahu jika dia sedang menggerutu?


Tanpa mempedulikan apa yang diucap Saga, Ganis segera mengambil setelan jas dan meletakkan di atas ranjang seperti kemarin. Kemudian dia menyisir rambut dan memakai riasan tipis, rambutnya dibiarkan terurai. Setelah selesai, Ganis turun untuk bersiap sarapan.


            Nyonya Rima sudah bersiap di meja makan berukuran besar, meja kayu jati yang sangat mewah. Ganis tidak melihat Tuan Candra pagi ini.


“Apakah ada yang ketakutan tadi malam?” tanya Nyonya Rima seketika melihat Ganis mendekati meja makan.


“Hah? Oh…iya Ma” Ganis segera menyadari arah pertanyaan Nyonya Rima, Nyonya Rima tertawa kecil. Ganis sekarang tahu bahwa ketakutan Saga akan gelap tidak dibuat-buat.


“Begitulah dia kalau mati lampu, bahkan biasanya dia tidak ingin tidur dan ingin terus ngobrol hingga lampu menyala kembali” Nyonya Rima menambahkan.


Untunglah tadi malam tidak ada drama ngobrol sampai larut, dan kalau saja Nyonya Rima tahu apa yang terjadi pagi tadi, pasti Nyonya akan semakin tertawa.


“Jangan berbisik-bisik” ujar suara Saga dari kejauhan, sambil membenahi kancing kemejanya, dia menuruni anak tangga dan hampir sampai di meja makan. Ganis dan Nyonya Rima menoleh ke arah yang sama, memperhatikan Saga.


“Papa mana?” tanya Saga melihattempat yang biasanya ditempati Papanya kosong.


“Papamu ingin sarapan di kamar”


“Ajaklah Ganis keluar, pasti dia ingin keluar” sahut Nyonya Rima.


“Ngapain sih Ma, kan aku kerja, masa iya ngajak dia ke kantor?”


“Ya nggak apa-apa, dia juga nggak bakalan ganggu kamu di kantor”


Tanpa perdebatan panjang, Saga meng”iya”kan ide dari Nyonya Rima, tanpa merias wajahnya lagi, Ganis bersiap dan ikut Saga keluar. Ada rasa senang, karena sebenarnya dia juga ingin keluar sekedar jalan-jalan.


            Saga mengendarai mobil sendirian ke kantor, tanpa sopir. Meskipun dia orang kaya, bos, tapi gaya hidupnya terlihat biasa saja. Ganis duduk di samping Saga.


“Heran, kenapa sih Mama sama Papa sepertinya suka sama kamu, harusnya Papa nggak suka sama kamu, tapi kenapa suka? Terus Mama, Mama yang tahu kamu sebenarnya bukan siapa-siapa, kenapa harus suka?”  Saga


membuka percakapan. Ganis menoleh dan menatap Saga. Dia sendiri juga bingung harus menjawab apa.


“Jangan-jangan kamu pakai pelet” urai Saga sembarangan, Ganis mendelik, bisa-bisanya Saga menuduhnya memakai pelet.

__ADS_1


“Sampai-sampai Anaya bisa takluk oleh kamu dan memilih mundur menikah dengan aku, jangan-jangan kamu yang meminta ini semua. Dari awal aku sudah curiga dengan keberadaan kamu di sisi dia” Saga menambahkan, matanya masih tertuju di jalan raya. Ganis mendengus, ingin rasanya dia memukul lengan Saga, tapi urung.


“Iya, apa kamu pakai pelet? Dukun mana?” tanya Saga lagi.


“Kalau iya kenapa?” Ganis balik bertanya, ekspresi wajahnya datar.


“Hiiiih…menyeramkan” Saga memasang wajah pura-pura takut. “Ingat ya, kamu pakai dukun manapun tidak


akan pernah bisa memelet aku dan aku nggak akan jatuh cinta sama kamu, jangan berhayal” Saga mengoceh.


“Ternyata anda cerewet sekali Tuan Saga!” Ganis menaikkan suaranya.


“Kamu juga ternyata menyebalkan, apa kamu memang seperti ini aslinya? Padahal aku kira kamu pendiam” ocehnya lagi, selama setahun dia melihat Ganis yang selalu bersama Anaya, Ganis terlihat sangat kalem dan jarang berbicara padanya.


            Setelah kepergian Ibunya setahun lalu, Ganis menjadi pribadi yang sedikit berbeda dari karakternya yang ceria dan menyenangkan, dan semenjak ikut dengan Anaya, Ganis juga menjadi gadis yang hanya punya kata “iya” untuk semua orang. Pertanyaan Saga seolah menyadarkan dirinya bahwa selama ini dia sudah kehilangan dirinya yang sebenarnya. Bukan menyebalkan sebenarnya, dia gadis periang dan menyenangkan bagi siapa saja lawan bicaranya jika sudah kenal.


“Sudah, kamu jangan ikut aku ke kantor, kamu bisa pergi kemanapun kamu mau” Saga mengeluarkan kartu dari dompetnya.


“Apa ini?” tanya Ganis.


“Kamu ini, itu kartu kredit, silahkan kalau mau pergi belanja, makan, terserah, yang penting jangan ikut ke kantor”


 “Dasar, nggak usah gengsi, aku tahu kamu nggak punya uang. Lagian apa kata orang-orang kalau kamu pergi shopping terus nggak punya uang, kamu istri Tuan Muda Saga” ujarnya berapi-api.


Ganis memejamkan matanya sambil mendengarkan ocehan Saga yang mirip tukang jamu sedang promosi. Sebenarnya dia tidak punya uang banyak, hanya ada beberapa sisa tabungannya.


“Sudah ambil” Saga meletakkan kartu kredit tersebut di pangkuan Ganis.


            Ganis turun dari mobil Saga di dekat sebuah halte, Saga melanjutkan perjalanannya menuju kantor.


“Istri Tuan Muda tapi diturunkan sembarangan di tepi jalan, apa-apaan ini?” gerutu Ganis, dia mengambil tempat duduk di halte sambil menunggu bus lewat.


Dreet dreeet…..HP Ganis bergetar, segera dia membuka tasnya dan mencari HPnya, dilihatnya nomer tidak di kenal di layar HP.


“Hallo” sapa Ganis.


“Selamat pagi Nyonya Saga” ujar seseorang di balik telepon. Mata Ganis membulat, dia sangat kenal dengan suara itu.


“Nona?” Ganis terkejut.

__ADS_1


“Tidak perlu kaget, bagaimana rasanya menjadi Nyonya Saga? Apakah kamu senang?” pertanyaan Anaya dengan nada mengejek, terdengar suara tertawa sinis di sana.


“Nona di mana?” tanya Ganis. “Nona…”


“Kamu tidak perlu tahu di mana aku, jangan lupa laksanakan tugasmu, aku menelpon hanya memaastikan kamu tidak lupa”


“Iya Nona” jawab Ganis lemas.


“Bagaimana kabar Tuan Candra?”


“Masih sama Nona”


“Aku harap setelah ini tak lagi sama” ujarnya sambil tertawa kecil.


“Maksud Nona?”


“Sudahlah, jangan bilang ke siapapun aku menghubungi kamu, dan jangan lupa tugasmu”


Tuuuut…tuuuut…….sambungan terputus.


“Nonaa….hallo Nona….” Ganis mencoba memanggil, percuma karena sambungan sudah terputus, Ganis mencoba menghubungi nomer tersebut, namun sudah tidak aktif.


Orang-orang yang kebetulan sedang menunggu bus di halte memandang Ganis dengan tatapan heran, karena Ganis sedikit berteriak. Ganis memasukkan HPnya ke dalam tas dan masuk ke dalam bus bersama orang-orang yang memang menunggu kedatangan bus tersebut.


            Ganis memilih pergi berjalan-jalan ke mall, dia ingin memanjakan mata dan sekedar mencari baju. Selepas membeli apa yang dia butuhkan, Ganis mencari restoran karena perutnya terasa lapar. Dia duduk di kursi kosong dan memesan makan. Sambil menunggu makanan datang, Ganis mengecek belanjaannya tadi.


            Seseorang memegang pundaknya dari belakang, Ganis menoleh ke arah belakang. Wajahnya berseri melihat orang itu, jantungnya terasa berdebar. Tidak menyangka akan bertemu dengan orang itu di sini.


“Ganis? Benar ini kamu?” ujar laki-laki itu memastikan.


Wajah Ganis tersenyum senang sambil mengangguk.


 


 


 


Terima kasih buat para readers, jangan lupa like, vote, rate, dan love_nya ya.....

__ADS_1


Jika kalian suka, share ke teman-teman kalian. Author sangat berterima kasih....love kalian ^^


__ADS_2