Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 54 : Badai


__ADS_3

Nyonya Rima mondar mandir di depan ruang ICU, dokter sedang melakukan tindakan di dalam ruangan. Wanita itu terlihat cemas, beberapa kali dia duduk di bangku tunggu, lalu kembali lagi berdiri dan berjalan sambil sesekali mengintip di balik gorden jendela yang agak terbuka. Jaket rajut warna coklat tua itu dirapatkan ke tubuhnya, Dini datang dengan tergopoh-gopoh.


“Sebaiknya Nyonya istirahat dulu” Dini mengajak Nyonya Rima untuk duduk di bangku tunggu. Nyonya Rima menggeleng, wajahnya nampak sayu, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.


Nyonya Rima duduk, kedua tangannya menopang dagu, pikirannya kemana-mana, bagaimana  jika Tuan Candra tidak terselamatkan?


Beberapa hari ini Tuan Candra nampak sangat bahagia, bagaimana beliau dengan senang hati akan melakukan resepsi besar-besaran, kesehatannya semakin membaik, apalagi saat melihat Saga dan Ganis semakin hari semakin romantis.


Tapi tidak hari ini, sejak kemarin malam, Tuan Candra nampak murung, tidak banyak kalimat yang keluar dari laki-laki itu, hanya saja sering melamun. Makanan dan obat pun tidak disentuhnya.


Nyonya Rima kembali berdiri, mengintip di balik jendela ruang ICU. Dokter masih mengambil tindakan. Nyonya Rima menarik nafas dalam-dalam, menghempaskan rasa sesak di dadanya. Lalu dia menghembuskan perlahan, matanya masih melihat ke ruang dalam ICU.


            Ganis menghampiri Nyonya Rima dan Dini dengan nafas terengah, dia mendapatkan kabar jika Tuan Candra anfal dari Marni, salah satu asisten rumah tangga. Dini pun lupa mengabarinya karena sibuk menenangkan Nyonya Rima.


“Bagaimana keadaan Papa, Ma?” tanya Ganis khawatir, lalu dia memeluk Nyonya Rima. Nyonya Rima menggeleng.


“Maaf Ma, tadi aku baru diberitahu sama Mbak Marni perihal Papa” ucap Ganis merasa bersalah, dari tadi siang dia pamit untuk pergi sebentar. “Apa Mas Saga sudah tahu, Ma?” tanya Ganis, tangannya mengambil HP dari tasnya.


Nyonya Rima mengangguk.


Ganis mengajak Nyonya Rima untuk kembali duduk, tangan kanannya merangkul pundak Nyonya Rima, sedangkan tangan kirinya memegang erat jemari Nyonya Rima untuk menenangkan.


“Mama sebaiknya istirahat” ucap Ganis, Nyonya Rima nampak lelah. Nyonya Rima menggeleng, dilihatnya wajah Ganis.


“Din, bisa tinggalkan kami?” ujar Nyonya Rima pada Dini yang dari tadi duduk terdiam di ujung kursi tunggu.


“Iya Nyonya” jawab Dini sambil membungkukkan badan, kemudian dia pergi meninggalkan Ganis dan Nyonya Rima. Nyonya Rima mengeluarkan secarik kertas, matanya berair. Ganis melihat kertas tersebut, menerimanya lalu membacanya.


“Papa…” ujarnya terisak. Ganis menatap kertas tersebut nanar, menelan ludahnya.


“Ma…” Ganis merangkul Nyonya Rima, perasaan bersalah menghinggapinya.


 Ceklek…

__ADS_1


Suara pintu terbuka, beberapa perawat dan dokter keluar dari ruang ICU.


“Nyonya” sapa seorang dokter laki-laki paruh baya.


Nyonya Rima berdiri, Ganis ikut berdiri di samping Nyonya Rima, ingin mendengarkan penjelasan dokter.


“Bagaimana keadaan suami saya dokter?”


“Kami akan mengusahakan yang terbaik Nyonya, hanya saja sampai saat ini, kondisi Tuan Candra masih kritis” ujar dokter tersebut, Nyonya Rima mengelus dadanya, air matanya menetes di pipinya. Ganis merangkul wanita itu, lalu mengusap air matanya dengan tisu. Mengelus pundaknya dengan lembut.


            Nyonya rima menangkupkan kedua telapak tangannya di wajahnya, Ganis dengan sabar mengelus pundak wanita itu.


“Bicaralah dengan Papa, barangkali beliau ingin mendengar secara langsung darimu” ujar Nyonya Rima tenang, tanpa emosi. Ganis sedikit ragu, dia menatap Nyonya Rima.


Dengan izin dokter, Ganis memasuki ruang ICU dengan mengenakan pakaian khusus. Langkahnya terasa berat, terdengar bunyi dari alat yang terpasang di tubuh Tuan Candra. Ganis merasa iba dengan apa yang dilihatnya, berbagai alat dan selang tertempel di tubuh yang tidak berdaya itu. Ganis mendekat, memperhatikan wajah Tuan Candra yang nampak seperti orang tertidur pulas.


Baru kemarin mereka bercanda, hanya pagi tadi dia tidak bertemu dengan Papa mertuanya tersebut dengan alasan Tuan Candra ingin sarapan di kamar.


Ganis duduk di kursi sebelah ranjang Tuan Candra, perlahan Ganis memegang tangan Tuan Candra. Berharap laki-laki yang ada di dekatnya itu membuka matanya.


“Pa…” ujarnya pelan, air matanya sudah mengalir membasahi pipinya. “Maafkan Ganis, Pa…bahkan aku tidak tahu, apakah aku pantas memanggil Anda dengan sebutan Papa” ujar Ganis sambil mengelus punggung tangan Tuan Candra lembut.


“Papa…aku bukan siapa-siapa yang datang di kehidupan putra anda, bahkan di kehidupan Anda dan Nyonya Rima yang sangat baik hati, terutama padaku”


Ganis mulai terisak, ingatannya kembali pada situasi di mana Tuan Candra dengan tangan terbuka menerimanya sebagai istri Saga, padahal waktu itu Ganis hadir dengan status pacar simpanan Saga (menurut Tuan Candra).


“Bahkan Papa tidak pernah mempermasalahkan statusku” imbuh Ganis, tangan kanannya mengusap air mata yang berderai.


“Maaf jika selama ini aku bohong dengan statusku, Pa…aku…aku tidak bermaksud demikian…dan…” Ganis tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, suaranya tercekat, tangisnya kembali terisak.


Ganis menarik nafas panjang, berusaha menguasai emosinya, “Dan…surat perjanjian itu, aku terpaksa melakukannya, karena…karena” kalimat Ganis kembali terputus, rasa penyesalan dan luka di hatinya membuatnya tak berdaya. Bagaimana bisa Tuan Candra bisa menemukan surat perjanjiannya dengan Anaya itu.


“Pa…aku sangat terpaksa karena aku terpojok dengan keadaanku, bukan maksud lain Tuan”

__ADS_1


“Aku minta maaf jika melukai hati dan perasaan Papa sekeluarga, tapi bukan itu maksudku Pa…”


Meskipun tanpa respon, Ganis tetap melanjutkan pembicaraan dengan Tuan Candra.


Saga menghentikan langkahnya di depan ruang ICU, dilihatnya Nyonya Rima sedang duduk di bangku depan ICU. Saga melihat ke arah dalam, dilihatnya Ganis sedang di dalam, terlihat sedang bercakap sendirian.


Nyonya Rima berdiri dan memeluk putra semata wayangnya, air matanya meleleh. Saga memberikan pelukan balik untuk wanita itu, agar wanita yang ada di depannya tenang.


“Kenapa bisa begini Ma?” tanya Saga selepas Nyonya Rima merenggangkan pelukannya. Nyonya Rima menarik nafas perlahan, lalu duduk di bangkunya kembali. Saga jongkok di depan Nyonya Rima.


Nyonya Rima mengeluarkan secarik kertas yang sama, Saga menerima kertas tersebut dengan wajah heran. Dibukanya lipatan kertas tersebut, membacanya dengan seksama. Kilatan marah seketika memenuhi bola matanya. Saga meremas kertas tersebut dengan kasar. Saga berdiri, matanya melihat ke arah ruang ICU. Nyonya


Rima berdiri, berjalan mendekati Saga, tangannya memegang lengan kanan Saga. Kepalanya menggeleng pelan, mengisyaratkan Saga jangan bertindak gegabah.


Ganis keluar dari ruang ICU, matanya masih sembab, dia mendongak sekembalinya menutup pintu dengan perlahan. Saga dan Nyonya Rima berdiri tidak jauh dari pintu.


“Mas…” Ganis menyapa Saga, laki-laki itu menatapnya tajam, tidak ada pandangan mesra seperti kemarin-kemarin. Nyonya Rima menggigit bibirnya, merasa jika keputusannya salah kali ini.


“Saga…” Nyonya Rima masih memegang lengan Saga. Saga melepaskan tangan Nyonya Rima dari lengannya, dia mendekati Ganis, lalu menarik pergelangan tangan gadis itu dengan kasar, membawanya menjauh dari tempat itu.


Saga membawa Ganis di ujung ruang dekat toilet, suasana sepi dari lalu lalang orang. Kini dia berhadapan dengan Ganis, Saga menatap mata Ganis dengan tajam.


“Mas…aku bisa menjelaskan” dengan melihat sikap Saga, tentu Ganis sudah sangat memahami apa yang terjadi, Saga sudah mengetahui isi dari kertas itu.


“Apa yang akan kamu jelaskan padaku sekarang?” kilatan kemarahan begitu memenuhi matanya. Baru kali ini Ganis melihat Saga semarah itu. “Aku paling tidak suka jika ada orang yang berbohong kepadaku” imbuhnya, kedua tangannya mencengkeram kedua lengan Ganis.


“Jangan pernah main-main denganku…” geramnya.


“Itu tidak seperti apa yang Mas pikirkan” Ganis mencoba berdiplomasi.


“Sejak awal melihatmu di samping Anaya, aku merasa ada yang aneh, dan ternyata kamu…” Saga melepaskan cengkraman tangannya, kini dia berbalik memunggungi Ganis. Tangan kanannya mengepal, lalu menghantam tembok yang ada di depannya. Ganis terkejut, mendongakkan wajahnya.


“Jangan Mas” Ganis meraih tangan Saga.

__ADS_1


“Apa pedulimu?” tanya Saga dengan penuh amarah. Ganis masih mencoba menghalangi Saga untuk kembali memukul tembok. Air mata gadis itu telah turun membasahi pipinya. Seolah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk menjelaskan duduk permasalahannya.


__ADS_2