Pernikahan Sandiwara

Pernikahan Sandiwara
PS 55 : Pekat


__ADS_3

Ganis masih menangis, benar-benar tidak tahu apa yang dia lakukan untuk menjelaskan kepada Saga perihal selembar kertas perjanjian yang dulu dia tanda tangani. Seakan masalah ini sudah runyam, rumit, dan tidak ada jalan keluar lagi.


“Mama salah langkah” ujar Nyonya Rima di hadapan Ganis. Saga berada di ruang ICU melihat Tuan Candra.


“Tidak Ma, Ganis yang salah, dari awal memang semua ini salahku” ujar Ganis serak. Nyonya Rima menggeleng pelan. Dia memang tidak tahu alasan apa yang melatar belakangi Ganis melakukan perjanjian itu, tapi wanita itu yakin jika Ganis memiliki alasan yang sangat kuat.


“Saya sendiri tidak tahu darimana suami saya mendapatkan lembaran itu” terawangnya. Ganis mengusap air matanya dengan tisu.


“Mas Saga sangat marah, mungkin tak akan ada lagi maaf buatku Ma” Ganis putus asa.


“Biarkan saja dulu, begitulah dia” ujar Nyonya Rima menenangkan. Dia sangat mengenal putranya. “Biarkan dia tenang”


Ganis mengangguk memahami.


“Sabar…” Nyonya Rima mengelus pundak Ganis.


“Aku hanya ingin menjelaskan duduk permasalahannya Ma”


“Mama paham”


            Malam itu, Ganis pulang ke rumah bersama dengan Nyonya Rima. Salah satu asisten rumah tangga berjaga di rumah sakit. Ganis membaringkan tubuhnya di ranjang, Saga masih berada di rumah sakit. Mungkin saja dia tidak akan pulang. Berulang kali Ganis memejamkan matanya, namun tidak berhasil.


Terdengar pintu terbuka, Ganis melihat ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Ganis mengucek matanya, kepalanya terasa berat, karena baru saja dia bisa memejamkan matanya.


“Baru pulang Mas? Aku hangatkan makanan di bawah ya?” tanya Ganis sambil mengubah posisinya menjadi duduk. Saga nampak berantakan, entah apa yang membuat laki-laki itu lusuh, apakah karena keadaan Tuan Candra atau karena memikirkan Ganis.


“Tidak perlu, harusnya kamu tidak berada di kamar ini. Masih berani kamu berada di ranjangku?” tanyanya dengan dingin tanpa melihat ke arah Ganis, dia melepas kemejanya dan berlalu menuju kamar mandi tanpa sepatah kata lagi.


Ganis berdiri, mematung.


Aku pantas dicaci, tapi tidak seharusnya Mas tidak memberikanku celah untuk menjelaskan duduk permasalahannya. Ganis membatin, dia memejamkan matanya.


Segera dia menuju kamar di lantai bawah, dia akan tidur di sana, setidaknya sampai Saga bisa tenang.

__ADS_1


***


Saga nampak berantakan, meskipun sudah mandi tapi tetap saja tidak membuat wajahnya terlihat segar. Auranya benar-benar gelap, mereka sedang berhadapan dengan makanan di meja makan untuk sarapan bersama. Seperti biasa, Ganis akan mengambilkan makanan untuk Saga. Namun Saga menyingkirkan piring yang akan diisi oleh Ganis.


Nyonya Rima menghela nafas melihat pemandangan tersebut. Lalu dia memandang Ganis, memberikan kode dengan menggelengkan kepala. Lalu Ganis duduk dan mengambil sarapan untuk dirinya sendiri, Nyonya Rima mengambil alih tugas Ganis, mengambilkan sarapan untuk Saga. Tidak ada percakapan di antara mereka di meja


makan. Selepas sarapa,, Saga lantas meninggalkan ruang makan dan segera bertolak untuk ke kantor.


Seperti hari-hari belakangan ini, Ganis selalu membuntuti Saga dan menunggunya di teras hinggal laki-laki berangkat ke kantor. Ganis berusaha untuk meraih tangan Saga untuk salim, tapi laki-laki itu berlalu begitu saja. Ganis masih membiarkan tangannya di udara.


“Semarah itukah Mas padaku?” gumamnya lirih.


            Ganis merapikan semua pakaiannya yang ada di kamar Saga, lalu dia memindahkan ke kamar bawah. Entah sampai kapan dia akan berada di kamar bawah, sekarang dia berada di kamar bawah, mungkin nanti atau esok dia tidak akan lagi berada di rumah tersebut. Ganis menghela nafas panjang.


Kalaupun aku harus pergi dari sini, aku harus menjelaskannya padamu, Mas…


Ganis selesai menata pakaiannya di kamar bawah, tidak banyak. Dia lebih banyak memasukkan gaun-gaun dan baju mewah yang sudah dibelikan oleh Saga. Sedangkan dia merapikan pakaiannya sendiri ke dalam koper yang dia letakkan di pojok ruangan dekat jendela.


Nyonya Rima nampak berdiri dengan wajah panik sambil memegang HP.


“Nis…, ayo ke rumah sakit, keadaan Papa memburuk” ujarnya, Ganis terkejut, tangan kanannya menutup mulutnya.


“Iya Ma,” Ganis segera kembali ke kamar, mengambil tas dan HP lalu menyusul Nyonya Rima yang sudah berada di mobil.


            Mereka sampai di rumah sakit, Saga sudah berada di sana, selain Saga, sekertaris Li juga berada di sana, dia berdiri di samping Saga.


“Nyonya” sapa Sekertaris Li membungkukkan badan.  “Nona” imbuhnya. Ganis membalas anggukan kepala sekertaris Li.


Tidak ada kata yang terucap dari Saga, dia nampak frustasi dengan keadaan ini. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dia rasakan, bahkan dia sendiri tidak bisa menjabarkan isi hatinya.


Dokter keluar dari ICU, Nyonya Rima bergegas menemui dokter tersebut.


“Nyonya, yang bisa kita lakukan hanya berdoa” ujar dokter memberikan penguatan, “Tuan Candra semakin memburuk, dan hanya dengan alat-alat tersebut beliau masih bertahan, tanpa alat-alat…” dokter tersebut tidak melanjutkan kalimatnya, dia menggeleng pelan, wajahnya nampak menyiratkan mimik wajah putus asa.

__ADS_1


Nyonya Rima nampak tegar, kini dia siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi. “Baik dokter, bisakah saya menemui suami saya?” tanyanya tegar.


“Silahkan Nyonya” dokter mempersilahkan.


Nyonya Rima masuk ke dalam ICU, sementara Saga berdiri mematung sambil menyandarkan tubuhnya di tembok depan ruangan ICU. Sekertaris Li masih berdiri di samping Saga, sementara Ganis terdiam duduk di bangku. Dia sama sekali tidak ingin membuat suasana kembali runyam, dia membiarkan Saga sibuk dengan perasaannya.


Tangannya terasa dingin, sesekali dia meremas tangannya sendiri agar dia lebih tenang. Rasa bersalah berkecamuk di dadanya. Dia meyakini jika Tuan Candra anfal gara-gara melihat surat perjanjiannya dengan Anaya.


Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika hal itu benar adanya… Ganis mengela nafas panjang, hal yang sama sekali tidak dia duga. Jika dari awal dia memasuki kehidupan keluarga Saga tanpa tahu maksudnya, kini dia seolah benar-benar menjadi penghancur keluarga Saga. Ganis menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah, rasa putus asa dan frustasi benar-benar merajai sekarang.


Sekertaris Li memperhatikan Ganis dan Saga bergantian, semua nampak buruk.


Nyonya Rima keluar dari ruangan, wajahnya yang sembab masih terlihat jelas, akan tetapi wanita itu cukup kuat dan tegar. Nyonya Rima memegang pundak Saga, mempersilahkan Saga segera masuk ke dalam.


“Masuklah” ujarnya, tanpa berkata apapun, Saga menuruti permintaan Nyonya Rima.


            Semua bertahan di rumah sakit, sibuk dengan perasaannya masing-masing. Saga duduk di lantai sambil menunduk, sekertaris Li duduk di samping Saga. Sementara Nyonya Rima duduk di bangku bersama Ganis.


Dokter dan perawat tengah memasuki ruangan untuk melakukan penanganan, keadaan Tuan Candra sudah benar-benar menurun. Ganis memegang tangan Nyonya Rima, mereka saling menguatkan.


“Keluarga silahkan memasuki ruangan” ujar perawat di depan pintu. Mereka saling berpandangan, Saga bangkit dari duduknya dan segera memasuki ruangan, diikuti oleh Nyonya Rima, Ganis, dan sekertaris Li. Garis jantung di monitor sudah nampak lemah, bahkan cenderung datar.


“Pa…maafkan Saga, jika Papa lelah pergilah Pa…Saga minta maaf belum bisa membahagiakan Papa” ujar Saga lirih di samping Tuan Candra. Nyonya Rima menangis, pertahanan yang dia bangun runtuh, tak sanggup dia mengucapkan kata perpisahan kepada orang yang sudah menemaninya selama 30 tahun itu. Ganis mengusap punggung Nyonya Rima, air matanya ikut meleleh.


Ganis memberanikan diri mendekat ke Tuan Candra.


"Papa…maafkan Ganis, Ganis bukan orang yang baik, tapi Papa selalu baik kepadaku, maaf Pa, aku akan membawa Papa dalam doa-doa Ganis” ujarnya terisak.


Tuuuutttt…


Suara monitor terdengar, garisnya terlihat datar, dokter memeriksa Tuan Candra untuk memastikan. Mengupayakan dengan berbagai alat agar kembali terlihat garis di monitor. Namun takdir berbicara lain, Dokter menyuruh perawat untuk melepas semua alat yang ada di tubuh Tuan Candra.


Nyonya Rima tergugu, belahan jiwanya telah pergi untuk selamanya. Saga menahan air matanya, tak sanggup mengucapkan apapun. Sekertaris Li mengajaknya keluar ruangan. Ganis meraih lengan Nyonya Rima dan mengikuti langkah sekertaris Li dan Saga keluar ruangan.

__ADS_1


__ADS_2